
pagi2 sekali faira bangun wajahnya terlihat sembab dia pasti sedih semalaman memikirkan apa yg jeon bicarakan tadi malam, ketika dia menuju dapur ingin memasak dia melihat jeon tertidur di sofa dengan beberapa bottol minuman keras "apa dia begitu stres dengan traumanya hingga minum sebanyak itu, rasanya tidak mungkin seorang laki laki trauma sampai tidak ingin menyentuh seorang wanita" gumam faira tanpa mempedulikan jeon.
faira pun memasak dan menyibukkan dirinya, dia merasa jika dia sibuk dia akan sedikit tenang dengan perasaannya, selesai membuat sarapan fairapun makan sendiri di meja makan, jeon ternyata sudah bangun dan berjalan sempoyongan.
"kau duduklah" ucap faira yg langsung memopong jeon yg sempoyongan untuk duduk di meja makan
"kau mau apa biar ku ambilkan" ucap faira dengan pelan.
"aku haus" ucap jeon yg langsung menunduk karena pusing
"ini minumlah susu ini dan rotinya" ucap faira sambil memberikan sarapan yg sudah di sediakannya.
merekapun di situ sarapan tanpa berbicara apapun, jeon yg mulai sadarpun bangun dan berolahraga,. sementara faira sedari tadi hanya di kamar membaca buku,.
jeon menghampiri faira di kamar "aku akan keluar sebentar apa kau ingin ingin sesuatu" tanya jeon yg berdiri di belakang faira. faira tidak menjawab apapun. jeonpun mengeluarkan sebuah card dari dompetnya dan memberikannya pada faira "aku rasa kau bisa membeli sesuatu sendiri" ucap jeon yg langsung menaruh kartu itu di atas buku yg di baca faira, dan langsung meninggalkannya.
"apa dia memang terlahir seperti itu" gumam faira.
"sebaiknya aku jalan2 saja, aku tidak akan pulang hingga malam" ucap faira merasa bosan dan langsung bersiap.
"kenapa bapak terlihat murung?" tanya asisten jeon yg duduk di sampingnya.
"sial ini semua idemu" jeon tiba tiba mengumpat menyalahkann asistennya
"kenapa saya pak" jawab bingung si asisten.
"seharusnya aku memberitaunya dan membuat perjanjian dengannya dari awal, tidak harus berbohong seperti ini" ucap jeon sambil memegang dagunya
"oh ini tentang faira, saya pikir bapak tidak akan menikahinya makanya saya usulkan seperti itu, jika sudah menikah seperti ini pasti sangat susah menyelesaikannya" ucap asistennya yg sedikit meledek.
"apa yg harus saya lakukan" tanya jeon meminta pendapatnya
"bapak mulai cinta ya sama dia" tanya asistennya dengan tertawa
jeon mengelak dan terdiam terlihat dia menyadari beberapa hal tapi dia benar2 menutup matanya untuk itu, dia selalu memikirkan clara seperti orang kecanduan.
di tempat lain faira menemui livy dan nedim yg baru pulang bekerja, "hay fay masuk yuk" semangat livy menarik tangan faira
"kamu dari mana" tanya livy pada faira yg baru saja duduk
"aku beli beberapa buku ni" ucap faira sambil menunjukkan beberapa belanjaannya.
"apa pikir kau sekarang sedang honey moon ke luar negeri". ucap nedim di tengah pembicaraannya livy dan faira
"masih belum ada waktu luang, jeon masih sangat sibuk" ucap faira yg tidak ingin sahabatnya tau.
"benarkah?" ucap nedim dengan wajah smrik
"kenapa wajahmu begitu" tanya livy marah pada nedim
nedim terdiam sebentar "fay, sebenarnya aku ragu membicarakan ini tapi aku berharap ini tidak terjadi di kamu" ucap nedim yg membuat faira dan livy mendadak penasaran
__ADS_1
"ada apa"ucap livy dan faira bersamaan
nedim menjelaskan pada faira jika dia sempat mendengar percakapan clara dan asisten jeon pov :( "kau ya yg menyarankan gadis itu" tanya clara pada asisten jeon.
"iya, memang kenapa kau merasa insecure" jawab asisten jeon
"aaahh, dia tidak sebanding denganku, jeon tidak mungkin jatuh cinta dengannya, ini hanya permainan" ucap clara penuh percaya diri.)
"awalnya aku tidak perduli dengan percakapan itu fay tapi ketika kau mengirim undangan pada kami aku jadi memikirkan kembali maksud dari pembicaraan mereka" ucap nedim yg khawatir pada faira.
faira yg mendengar penjelasan nedim langsung terdiam seperti sedang memikirkan banyak teka teki di kepalanya, "mungkin bukan aku yg di maksud" ucap faira berusaha menenangkan dirinya sendiri.
"mungkin saja, tapi sebaiknya kau mencari tau" ucap nedim.
faira lagi lagi terdiam.
faira yg baru tiba di apartemen langsung merebahkan badannya di ranjang tiba2 dia terbangun dan membuka media sosialnya, dan membuka akun clara dia berusaha mencari sesuatu sebagai petunjuk, tapi tiba2 jeon masuk ke kamarnya membuatnya terkejut dan langsung menutup komputernya.
"kenapa kau kesini" tanya faira pada jeon
"aku ingin tidur denganmu malam ini" ucap jeon singkat
"kau tidak perlu memaksakan dirimu, aku akan menunggu sampai rasa traumamu benar2 hilang" ucap faira yg sudah malas dengan ke plin planan jeon.
jeon yg hanya diam langsung merebahkan badannya di atas kasur faira, faira pun ikut tidur di sebelahnya, faira menatap jeon "apa kah kau jujur denganku" gumam faira dalam hatinya sambil menatap jeon yg tertidur di sampingnya.
ke esokkan paginya faira diam diam masuk ke apartemen jeon, mencari beberapa petunjuk, di apartemen seorang pelayan datang "ibu kalo butuh sesuatu panggil saja saya" ucap pelayan itu.
"haaahhh, pak jeon?, psikiater?" jawab bibi itu heran.
"oh bukan ya " faira berpura pura
"ini bekas tamu teman kerjanya pak jeon tadi malam" ucap bibi itu yg bergegas membersihkan meja.
faira semakin menyadari memang ada sesuatu yg disembunyikan darinya, ia mengamati beberapa sudut ruangan, dia mencari sesuatu yg bisa memberinya petunjuk tapi dia tidak menemukan sesuatu yg mencurigakan, dia memutuskan untuk pergi mengunjungi keluarga jeon.
"mungkin aku akan mendapatkan beberapa petunjuk di sana" gumam faira dalam hati sambil mencegah taksi.
sesampai di rumah jeon faira di sambut hangat oleh keluarga jeon, " kenapa tidak minta jemput" ucap nenek jeon.
"kebetulan aku sedang di sekitar sini jadi aku sekalian mengejutkan kalian" ucap faira sambil tertawa.
"kapan kalian akan berlibur, seharusnya jeon jangan langsung bekerja,". ucap ibu jeon sambil memasak
"itu tidak masalah bu"jawab faira yg langsung membantu ibu mertuanya memasak.
"apa ibu akan memasak banyak" tanya faira melihat bahan masakan yg banyak
"oh iya jimmy akan datang hari ini, dia mungkin menginap di sini beberapa hari" jawab ibu jeon
"kau harus memberitau jeon untuk datang makan malam bersama" ucap nenek jeon pada ibu jeon
__ADS_1
"iya nanti akan ku telpon" sahut ibu jeon sambil mengangguk.
jimmy pun datang dan langsung memeluk nenek dan bibinya,
"maaf faira aku tidak bisa memelukmu nanti jeon marah" ucap jimmy sambil tertawa.
"apa yg kau bicarakan, mandi lah agar cepat makan" ucap faira sambil berbalik badan dan menyiapkan makanan.
ayah jeon pun datang di ikuti oleh jeon, jeon dengan wajah lelah langsung duduk di sofa.
"jeon ayo makan bersama" ucap neneknya
"masakanmu benar benar enak bi" ucap jimmy yg tengah memakan semur telur puyuh.
"itu faira yg memasaknya" ucap ibu jeon
"wah kau benar2 pandai memasak ya" puji jimmy membuat faira malu.
"apa kau sudah menemukan apartemen untukmu tinggal" tanya ayah jeon pada jimmy
"apa kau akan menetap disini" tanya jeon pada jimmy sedikit dingin,
"iya pekerjaanku memindahkanku kesini" ucap jimmy sambil makan.
"aku pikir kau tidak suka di sini" sindir jeon
jimmy hanya diam daan melanjutkan makannya, terlihat jeon seperti kurang nyaman dengan kehadiran jimmy
"ayo pulang!" ucap jeon mengajak faira
"baiklah" ucap faira dan mereka langsung pulang setelah makan malam.
di mobil faira mencoba mengulik kebenaran, "kapan kau akan bertemu dokter" ucap faira mendadak.
"dokter?, .....oh mungkin lusa" jeon hampir saja ketahuan.
"aku akan ikut menemanimu" ucap faira sambil melihat wajah jeon
"tidak perlu, kau di rumah saja" tolak jeon yg membuat faira yakin kalau jeon sedang berbohong.
di tempat lain clara sedang adu mulut dengan suaminya "kenapa kau begitu plin plan, aku sudah menunggumu untuk tanda tangan perceraian tapi kau selalu menundanya dengan banyak alasan" ucap suami faira yg sangat marah.
"aku mencintaimu, maaf aku baru menyadari perasaanmu" ucap clara merengek sambil memeluk suaminya
"kau benar2 punya kepribadian ganda, kau kembali ragu bercerai denganku setelah mendengar jeon sudah menikah" ucap suaminya dengan melepas pelukan clara.
"jangan begitu aku bersalah" ucap clara sembari memohon.
"aku bisa saja memaafkan, tapi itu tidak akan membuatku percaya kau tidak akan melakukannya lagi, satu2 hal yg membuatku diam adalah karna aku menjaga perasaan orang tuamu." ucap suami clara yg benar2 kecewa, dan pergi.
clara yg melihat suaminya pergi langsung berdiri dan mengelap air matanya sangat berbeda dengan ekspresinya beberapa detik lalu.
__ADS_1