The Battle Heart

The Battle Heart
kehidupan baru di vietnam


__ADS_3

di tengah tengah aula jimmy mondar mandir seperti kebingungan sambil memainkan ponselnya, sesekali ia berjalan ke kiri beberapa detik diam ia kembali berjalan ke kanan, sambil memijat jidatnya semua orang pasti tau betul jika ia tengah pusing.


"kenapa dia terlihat sibuk seperti itu di hari pertunangannya,?" tanya seseorang pelayan yg sedang menyiapkan beberapa makanan.


jimmypun duduk di kursi tamu yg masih kosong, belum ada siapapun di sana kecuali para pelayan.


"ngapain di situ??? sini dulu" ucap seorang mua yg merias jimmy dan calon tunangannya.


"ahhh baiklah" sedikit terkejut jimmypun memasuki ruangan khusus untuk bersiap. di ruangan itu nadine calon tunangan jimmy sedang di dandani. nadine memperhatikan jimmy dari pantulan cermin yg ada di depannya.


"apa yg kau pikirkan?" tanya nya dengan lembut


''bukan apa apa sayang" sahut jimmy dan langsung menaruh ponselnya di atas meja rias lalu menatap nadin dari cermin yg tepat di depan mereka berdua.


"apa nomornya masih tidak bisa di hubungi?" tanya nadine yg tau jika jimmy sedari tadi memegang ponsel mencoba menghubungi faira yg tiba tiba tidak aktif.


"ya begitulah" sahut jimmy lemas seperti berusaha terlihat tidak perduli


"kalau dia tidak datang ke pertunangan kita hari ini bagaimana dengan rencana jeon?" tanya nadine dengan wajah yg juga bingung


"entahlah, tidak ada yg bisa aku hubungi lagi sekarang, aku bahkan tidak tau dimana dia tinggal" sahut jimmy membalik badan dan kembali duduk di sofa tepat di belakang nadine.


"kenapa kau bisa tidak tau, bukankah kalian dekat"


"dia tidak ingin aku tau, dia bilang sudah cukup hanya mendengar kabar tanpa tau tempat tinggalnya sekarang" jimmy menaruh sikutnya di lutut sembari mengelus jidatnya menandakan ia tengah pusing.


"mungkin ia hanya ingin ketenangan, jadi sebaiknya kau bersabar ia pasti akan menghubungimu lagi nanti" ucap nadine tanpa cemburu dan penuh perhatian.


mendengar ucapan nadine jimmy pun menghampirinya dan memeluknya dari belakang, "maafkan aku masih memikirkan faira bahkan di acara pertunangan kita" sambil mencium tekuk nadine.


"tidak masalah, aku tau kau pria yg menepati janji dan pria penuh komitmen, aku tau kau akan benar benar mencintaiku kemudian hari nanti" berbalik menatap jimmy dan melingkarkan tangannya di leher jimmy sambil tersenyum.


"jangan salah paham nad, aku mencintaimu, tapi aku hanya ingin faira dan jeon bahagia, karna mereka saling mencintai" sesekali jimmy mengecup bibir nadine yg sudah terbalut lipstik merah muda yg cantik.


nadine hanya mengangguk paham "kalau begitu beritahu jeon sekarang jika faira tidak akan hadir, ia harus berjuang demi cintanya sendiri, jika tidak acara kita kacau nanti" ucap nadin yg masih lekat menatap jimmy.


masih saling pandang mereka di kejutkan dengan suara pintu yg terbuka.

__ADS_1


"ahh jeonn kebetulan kau ada di sini,,,," ucap jimmy lalu mulai mendekati jeon yg masih berada di ambang pintu


"bagaimana,,??" tanya jeon dengan rencana jimmy


"aku tidak tau jeon, sepertinya kita harus membatalkan urutan acara yg ke 5" membahas tentang jeon yg akan meminta maaf pada faira dan melamarnya lagi.


"kenapa? aku sudah siap dengan apa yg akan terjadi nanti" sahut jeon dengan mata melotot terkejut mendengar jimmy menyuruh membatalkan rencananya.


"dia tidak akan hadir"


"kenapa, kau bilang aku harus percaya padamu kalau faira akan hadir dan semua akan berjalan lancar" ucap jeon kecewa padahal jeon sudah memberanikan dirinya untuk melamar faira meski ia juga masih mempercayai bahwa kemungkinan besar ia akan di tolak.


"aku tidak tau alasan yg tepat, terakhir ia mengirim pesan padaku kemarin dan sekarang ponselnya tidak bisa di hubungi" sambil memperlihatkan pesan terakhir faira /aku harap acaranya lancar kau bahagia tanpa kekurangan apapun, kehadiranku bukan sesuatu yg istimewa juga, jadi bersenang senanglah, maaf aku tidak bisa datang aku harap kau mengerti mengapa aku tidak bisa datang/ isi pesan singkat faira dan serta ia tidak mengaktifkan ponselnya berhasil membuat jeon kecewa, jeon hanya memandang cincin yg tadi ia kantongi, air matanya hampir menetes namun ia langsung berbalik badan membelakangi jeon dengan tangan mengibas rambutnya kasar.


"jeon tenanglah, ini bukan akhir kau bisa bertemu dengannya lain waktu" jimmy menepuk pundak jeon berusaha menenangkan jeon yg tengah gundah. belum sempat jeon mengatakan apapun seseorang memanggil jimmy dan nadine karna acara pertunangan sudah mau di mulai.


"kita akan pikirkan lagi cara lain nanti" ucap jimny seraya melangkah keluar ruangan meninggalkan jeon yg masih pada posisi berdiri dan mengacak pinggangnya.


di tempat lain


karna ingin menyembunyikan kehamilannya faira berinisiatif untuk pergi ke vietnam, entah apa yg ada di pikirannya, ia tidak ingin menjawab beberapa pertanyaan tentang kehamilannya jika tetap berada di indonesia, orang pasti terus bertanya siapa ayah anaknya, meski jeon adalah ayahnya dan mantan suaminya kemungkinan besar banyak yg tidak akan percaya karna perceraian dan kehamilannya di waktu berdekatan. empat bulan yg lalu ia bercerai, namun sekarang ia juga tengah hamil usia empat bulan, faira memang terlalu over dalam berpikiran, ia merasa orang orang akan meragukan kehamilannya itu adalah anak jeon, lagi pula ia merasa tidak ada gunanya jika ia memberitahu jeon, "tidak akan ada yg berubah meski ia mengetahuinya, dan aku juga tidak ingin mengubah sesuatu yg sudah terjadi, biarkan saja kedepannya hanya ada aku dan anak anakku" ucapnya sambil melangkah pasti untuk segera pergi sambil menarik kopernya.


sesampainya di vietnam faira sudah menyewa sebuah toko sekaligus tempat tinggal untuknya, ia berencana menjual bunga di toko tersebut, entah apa yg ada di pikirannya karna suka melihat bunga ia berinisiatif menjual bunga dari pada yg lain, faira memulai pekerjaan awalnya sendiri langkah demi langkah ia lakoni, beruntung dalam sekali percobaan usahanya berjalan lumayan lancar, dengan perut yg semakin membesar faira memutuskan mencari karyawan untuk membantunya di toko.


seorang gadis vietnam remaja usia 18 tahun melamar di toko faira.


"apa kau bisa bahasa inggris?" tanya faira yg duduk berhadapan dengannya


"aku bisa" jawabnya singkat dengan wajah manis tersenyum


"siapa namamu?" tanya faira


"chi,,"


"hanya chi" faira sedikit mengerutkan dahinya mendengar namanya


gadis itu hanya mengangguk

__ADS_1


"ah tentu saja nama itu sudah cukup baik, aku tidak meminta lebih, aku hanya ingin kau membantu beberapa pekerjaan di tokoku saja dan melayani pembeli, perutku sudah mulai besar jadi aku tidak cekatan"


chi mengangguk tersenyum karna sudah di terima bekerja di toko faira.


"kapan aku mulai bekerja" tanya chi sambil memilin jari jemarinya


"besok, kau boleh mulai bekerja besok" ucap faira sedikit tinggi karna ia juga terkejut belum menjelaskan kapan gadis itu bekerja.


"terimakasih, aku akan bersemangat" ucap chi sambil mengepalkan tangannya memberi semangat entah untuk faira atau untuk dirinya semangat yg ia tunjukkan.


faira tersenyum tipis sedikit menggeleng melihat chi pergi dan menghilang di balik pintu toko, "usia remaja memang sesemangat itu'' ucap faira yg dengan pelan menyusun beberapa bunga dan merakitnya dalam satu tumpukan cantik.


keesokan paginya karna menjelang valentine toko faira lumayan ramai untung kali ini ada chi yg sudah membantunya dan chi cukup tau dengan jenis jenis bunga bahkan ia memahami bahwa setiap bunga memiliki arti.


"sebenarnya arti tidaklah penting bunga sangat indah kau tidak perlu mengartikannya, mereka tetap yg terindah" ucap chi di tengah keheningan saat toko sedang sepi, faira yg berdiri di sampingnya menatap chi yg masih sibuk merakit beberapa bunga mawar tangannya.


"kau benar chi, mereka selalu indah, artinya akan sesuai dengan yg kita inginkan sendiri"


chi pun kembali tersenyum pada faira dan di balas senyum juga oleh faira.


"kalau kau lelah beristirahatlah" ucap chi


"iya, aku sangat lelah dengan perut besarku ini" sambil mengelus perutnya beranjak ke sofa yg tepat di belakang kasir untuk duduk, tidak lama chi pun menyusul untuk bersantai karna memang tidak ada pembeli. chi sangat santai dengan faira ia bisa menghormati faira tapi kadang ia juga bersikap seperti teman dan faira pun tidak keberatan dengan sikap chi itu karna ia memang butuh teman juga bukan hanya butuh karyawan.


"berapa usia kandunganmu" ucap chi dengan sopan


"tujuh bulan"


"benarkah? perutmu besar sekali aku pikir sudah dekat persalinan" sambil melotot terkejut karna perut faira sangat besar di usia kandungan tujuh bulan


"twins" faira hanya menjawab singkat sambil menyandarkan badannya di sofa.


" hahaaa jadi kembar?? pantas besarr banget" seru chi sambil mengelus perut faira


"dimana ayahnya" tiba tiba chi bertanya membuat faira berhenti tertawa, chi juga terkejut dengan pertanyaan yg keluar dari mulutnya, chi sebenarnya tidak ingin mengulik kehidupan pribadi orang, namun sayang ia terlanjur mengajukkan pertanyaan yg ia sadari pertanyaan itu sepertinya susah di jawab faira bosnya sendiri.


chi pun memposisikan duduknnya dengan tegak, canggung karna pertanyaan yg chi lontarkan membuat mereka sama sama diam. namun keheningan mereka di pecahkan oleh bunyi lonceng yg berada di atas pintu berbunyi menandakan ada pelanggan yg masuk ke toko. chi pun langsung bangkit menghampiri pelanggan tersebut dan melayaninya, sedangkan faira hanya memantaunya dari belakang kasir.

__ADS_1


__ADS_2