
plaaaaakkkk
tiba tiba sebuah tangan melayang dan menampar keras pipi faira, faira memegang pipinya sontak menatap ibu jeon yg terlihat terengah engah dalam amarah.
"dasar gadis tidak tau malu" dengan berteriak ibu jeon ingin melayangkan tamparan keduanya namun di tahan oleh jimmy.
"hentikan bi, ini salah paham" ucap jimmy yg saat itu tengah memegang tangan bibinya, namun sang bibi justru berbalik dan menampar jimmy. plaaaakkkk suara pukulan itu begitu nyaring hingga membuat faira dan ayah jeon terkejut.
"inikah gadis yg kamu sukai" tanya ibu jeon sambil melototi jimmy yg saat itu tertunduk, ia mungkin bisa mengelak tentang tuduhan yg akan di lontarkan, tapi ia tidak bisa berbohong tentang siapa gadis yg ia sukai.
"ma jimmy tadi malam mabuk......"dengan suara tersendat ingin menangis
"jangan memanggilku mama" ucap ibu jeon yg memotong penjelasan faira.
"benar saja kecurigaanku selama ini jika hubunganmu dan jeon tidak baik2 saja, ternyata rumor yg sempat menyebar itu benar adanya" ternyata selama ini ibu jeon sudah curiga tapi namun dia tidak memiliki bukti.
"pantas saja berita seperti kemarin tersebar, tidak mungkin ada asap tanpa ada api" ucap ibu jeon dengan intonasi yg sangat tinggi.
"tapi aku dan jimmy benar2 tidak ada apa apa" faira sambil menangis sesegukan, ia tidak mampu menjelaskan apa apa pada orang yg sangat marah, orang yg sedang marah tidak akan mendengarkan apapun.
"benar bi kami tidak ada hubungan apa pun" ucap jimmy sambil berjongkok dan memegang tangan bibinya.
"lantas bagaimana kau menjelaskan apa yang aku lihat sekarang" ucap ibu jeon meminta bukti.
"kami sepertinya di jebak" ucap jimmy sambil memegang tangan ibu jeon
"alasan yg benar benar seperti drama, aku tidak ingin mempercayai kalian lagi" ibu jeon langsung menangkis tangan jimmy dan menarik suaminya keluar dari apartemen faira.
faira yg hanya terduduk lemas menangis sejadi jadinya, ia benar benar tidak percaya keadaan menjadi sangat buruk baginya. di tengah pecahnya tangisan jimmy memeluk faira dan mencoba menenangkannya
"tenanglah kita akan bicara dengannya setelah dia tenang" ucap jimmy yg memeluk faira sambil mengelus rambut faira dengan lembut. faira tidak mengatakan apa pun ia terus menangis tersedu sedu.
jeon yg sedang menunggu lift terkejut melihat orang tuanya keluar dari lift.
"ibu ayah kenapa kalian pagi pagi sudah disini" tanya jeon yg tangannya memegang tas besar, ibu jeon langsung menarik jeon dan menjelaskan pada jeon tentang apa yg terjadi.
"kau harus menceraikannya" ibu jeon menjelaskan tentang apa yg ia lihat dengan sangat marah. jeon yg belum sempat selesai mendengar ibunya langsung pergi ingin menemui faira dan jimmy.
jeon masuk dan melihat jimmy tengah mengelus punggung faira yg sedang duduk di sofa di tambah jimmy duduk sangat dekat dengan faira membuatnya semakin marah dan melangkah lebih cepat jeon saat mencengkram kerah baju jimmy dan menampar jimmy dengan berulang kali ia membuat jimmy terkapar di lantai dan menamparnya terus menerus faira yg berusaha meleraipun di dorong jeon hingga terjatuh, faira terus2 berteriak meminta tolong hingga ayah jeon yg ikut kembali ke apartemen melerai perkelahian mereka.
ayah jeon menarik jeon dan meminta faira menenangkannya faira yg tidak tau harus berbuat apa memeluk jeon yg berusaha terus ingin menampar jimmy.
"aku mohon hentikan jeon, lihatlah dia sudah terluka parah" ucap faira sambil menangis.
__ADS_1
ayah jeon pun memutuskan membawa jimmy pulang dan meninggalkan jeon dan faira di apartemen.
mereka mencoba untuk diam beberapa saat. untuk meredakan api yg sedang membara terkadang kita memang tidak bisa melakukan apapun jika sebuah api sudah sangat besar.
saat itu jeon berdiri menghadap jendela dengan melipat kedua tangannya dan faira hanya duduk termenung di kursi.
"kenapa kau memukul jimmy seperti itu" tanya faira yg tidak menatap jeon sama sekali
"bukankah memang pantas? dia tidur di rumah wanita yg sudah bersuami, bagaimana kau bisa bertanya kenapa?" tanya jeon sinis yg juga tidak melepaskan pandangannya melihat keluar jendela
"apa kau cemburu?" faira menatap jeon yg sedari tadi membelakanginya.
jeon pun berbalik dan melihat faira "bukan karna kau, tapi karna dia tidak bertingkah layaknya saudara denganku" jeon pun mulai mendekati faira dan menatap faira dengan menaruh tangannya di atas meja sembari menopang badannya dan mendekatkan wajahnya pada faira
"apa kalian benar2 berhubungan" jeon mengangkat dagu faira dan menatapnya.
"aku tidak punya hubungan spesial dengannya" jawab faira tegas sembari membalas tatapan jeon dan menangkis tangan jeon dari wajahnya.
"lantas bagaimana kau menggambarkan hubunganmu dengannya" jeon menatap tajam faira dan menunggu jawaban faira.
"hanya teman" tegas faira yg berusaha berdiri meninggalkan jeon namun jeon menariknya hingga tubuh mereka menempel dan jeon melingkarkan tangannya di pinggang faira, faira berusaha mendorong jeon namun jeon dengan kuat memegang pinggang faira.
"apa kau menyukainya" tanya jeon yg masih memeluk faira
"kau tidak menyangkalnya" dengan suara kecil dan nafasnya yg terasa di wajah faira membuat faira takut dengan tingkahnya kali ini.
"kenapa harus di sangkal, status suami istri kita hanya di atas kertas, kau sendiri tau itu" ucap faira yg tangannya berusaha melepaskan pelukan jeon. jeon yg mendengar ucapan fairapun melepaskan pelukannya "kau benar" jeon tersenyum entah apa maksud senyumnya, senyum malu atau senyum sadar diri atau senyum kemenanganaqqqqqqqqqqqqqq ah entahlah faira tidak ingin memikirkannya.
jimmy yg saat itu sedang di rumah sakit ia sedang duduk di kasur pasien membiarkan seorang perawat tengah mengobati luka di wajahnya akibat pukulan jeon.
"bapak bertengkar dengan siapa" tanya seorang perawat yg mengenal jimmy karna jimmy juga dokter di rumah sakit tersebut.
"bukan siapa2 ini hanya salah paham" ucap jimmy sambil tersenyum
"salah paham sampai babak belur" ucap perawat itu yg masih memegang kapas untuk membersihkan darah di wajah jimmy.
jimmy hanya tersenyum tidak ingin mengatakan apa pun.
jimmy kembali mengingat kenapa dia bisa pulang ke rumah faira, dia hanya mengingat ia sangat mabuk dan seorang wanita memesankan taksi untuknya, "siapa wanita itu, kenapa dia memberikan alamat faira bukan alamatku" ucap jimmy sembari mengingat tapi dia benar benar tidak bisa mengingat wajah. wanita itu.
jimmy pun tidak mau pusing dengan itu, ia lebih memikirkan faira selama di rumah sakit ia hanya memperhatikan ponselnya menunggu pesan dari faira, namun hingga jimmy di bolehkan pulang pun faira tidak menjenguknya mau pun menelponnya.
jimmy yg tengah berjalan di lorong rumah sakit ingin keluar ia melihat ibu jeon yg sedang duduk di bangku rumah sakit mengantri untuk membayar, jimmy pun memberanikan dirinya untuk menyapa bibinya itu meski ia tau saat ini bibinya tengah marah dengannya.
__ADS_1
"kenapa bibi di sini, siapa yg sakit,?"
"nenek yaa?" tanya jimmy lagi karna bibinya itu terus diam seperti tidak mendengar apapun padahal jimmy tepat di sampingnya dengan luka di wajah akibat pukulan sepupunya itu.
jimmy tetap menunggu bibinya mengantri sampai selesai, ia mengikuti langkah bibinya itu melewati lorong rumah sakit bibinya pun mengetahui jimmy mengikutinya namun ia membiarkannya. hingga mereka sampai di satu ruangan.
ketika memasuki ruangan itu mata jimmy hanya terpaku pada orang yg tengah berada di kasur pasien ia tetap melangkah dengan tetap. fokus melihat pasien yg tengah terbaring tak berdaya dengan banyak alat menancap di badannya.
"dia sangat terkejut mendengar perkelahian kau dan jeon kemarin sampai2 jatuh pingsan" ucap ayah jeon sembari memegang bahu jimmy.
"kenapa kau harus menceritakannya paman" dengan mata yg berkaca kaca tangisan jimmy pun pecah melihat nenek kesayangannya terbaring tak berdaya karna ulahnya.
"dia akan sembuh" ucap ayah jeon sambil memeluk jimmy sesekali tangannya menepuk punggung jimmy.
ayah jeon sangat mengerti bahwa saat ini bukan yg tepat untuk membahas hal yg kemarin, mereka lebih fokus untuk menjaga neneknya ketimbang membahas kejadian waktu itu, tentu saja hal itu jadi suatu kecanggungan antara mereka.
ibu jeon yg hanya berdiri melihat mereka pun membalik badannya menangis perlahan lahan membelakangi mereka.
jimmy pun bangun dan pelan pelan mencium neneknya "aku tidak salah nek, ini hanya salah paham, aku dan jeon akan akur kembali jadi bangunlah" sembari memegang tangan neneknya jimmy tidak henti hentinya mendoakan neneknya agar cepat pulih. melihat sikap jimmy itu ayah jeon memanggilnya
"mari kita bicara nak, kita jelaskan kesalah pahaman kemarin"
jimmy yg mendengar permintaan pamannya beranjak dari kursi dan mulai mendekati paman dan bibinya yg tengah duduk agak jauh dari neneknya.
"kenapa kau bisa ada disana kemarin malam, jelaskan! paman dan bibimu akan mendengarkan" sembari duduk mereka menatap jimmy yg tengah berdiri di depan mereka.
"aku mabuk setelah malam pesta, seseorang mengantarku menaiki taksi aku tidak tau kenapa orang itu memberi alamat faira kepada supir faksi"
"hanya itu"
ibu jeon masih tidak percaya dengan alasan jimmy langsung ingin pergi namun di tahan ayah jeon
"kau mungkin tidak mempercayaiku lagi, tapi kau bisa tanyakan pada jeon apa yg benar2 terjadi antara jeon dan faira"
"memangnya ada apa jim" ayah jeon penasaran ia memegang tangan jimmy yg saat itu mengepal.
"ini bukan hak ku untuk menceritakannya paman, mintalah jeon untuk mengatakan yg sejujurnya" jimmy yg tidak ingin membahas apapun langsung pergi meninggalkan ruangan tersebut.
ayah dan ibu jeon yg di buat penasaran berusaha menahan jimmy namun jimmy sudah pergi dengan cepat.
"apa maksudnya". ucap ibu jeon yg menghampiri suaminya.
"kita akan tanya jeon langsung" ucap ayah jeon.
__ADS_1
ayah jeon sudah mempersiapkan hatinya tentang rahasia atau keadaan buruk yg akan terjadi, ia paham betul jika anaknya sering membuat ulah, bukanlah tidak mungkin jika ada fakta yg mungkin mengejutkan antara faira dan jeon yg belum di ketahui mereka