The Battle Heart

The Battle Heart
bahagia dan sedih


__ADS_3

Pagi yg cerah membuat suasana hati damai bangun lebih dulu sebelum matahari terbit adalah awal bagus untuk memulai hari. Faira langsung bergegas untuk membereskan apa saja yg ia lihat berantakan, meski perutnya sangat besar ia tetap bergerak sesuai saran dokter, meski sangat cepat lelah ia masih tersenyum dan tidak mengeluh, karna tidak ada yg bisa dia eluhkan.


Matahari sudah menampakkan wujudnya fairapun bergegas membuka tokonya dan menaruh beberapa vas beserta bunga di depan toko untuk di pajang, tidak lama chi pun datang dan langsung menaruh tas nya bergegas membantu faira.


"sini aku aja yg mindahin barangnya" dengan sigap chi mengambil vas bunga yg faira berusaha angkat.


untuk hari biasa seperti ini toko faira cukup ramai di kunjungi, faira dan chi duduk di belakang kasir untuk bersantai karna memang sedang tidak ada pembeli, mereka hanya menonton tv tanpa mereka sadari angin kencang beserta hujan dengan cepat menerpa kota itu, faira dan chi terkejut lantas bergegas keluar untuk memasukkan kembali beberapa bunga yg masih di luar, namun kali ini anginnya sangat kuat, hingga faira sedikit kesusahan untuk membuka pintu yg terbuka keluar itu.


crakkkkkk


satu vas bunga pecah terjatuh akibat angin, faira dan chi dengan sigap mengumpulkan pecahan vas agar tidak melukai orang yg lewat, tapi angin membuat aktifitas mereka terbatas.


"masuklah!!! aku akan menyelesaikan semuanya" ucap chi yg hampir tidak terdengar karena gemuruh angin beserta hujan meminta faira masuk ke toko.


"tidak ayo cepat selesaikan saja" bantah faira


saat mereka tengah kerepotan jeon tiba dan dengan sigap membantu, setelah selesai mereka bergegas masuk ke toko mereka masing masing mengelap tubuhnya yg basah akibat air hujan.


"astaga, untung saja hanya satu vas bunga yg pecah" ucap chi sambil memegang pinggangnya dan menatap keluar toko yg masih di serang angin kuat.


" segeralah ganti baju dan keringkan rambutmu" ucap jeon pada faira yg hanya diam memegang perutnya.


"aku akan mengeringkan rambutmu" jeon langsung mengelap rambut faira tapi tangannya langsung di tangkis oleh faira


"aku akan ke kamar, berteduhlah sementara hujan" ucap faira lalu beranjak pergi.


hari semakin malam hujan belum juga reda untung saja sudah tidak ada angin kencang lagi, chi dan jeon duduk di sofa yg berada di ruang tengah sedangkan faira tengah di dapur yg tidak jauh dari ruang tengah membuatkan minuman hangat.


"aku ingin coklat panas" suara kecil serta hembusan nafas yg mengenai leher faira membuatnya terkejut.


"astagaaa,," berputar melihat jeon yg sudah sangat dekat di belakangnya.


"kau terkejut?" tanya jeon


faira hanya diam membuatkan minuman susu ibu hamil dan 2 susu biasa untuk chi dan jeon.


jeon masih diam di tempat ia masih berada sangat dekat di belakang faira melihat faira melakukan pekerjaannya


"kenapa kau masih disini?" tanya faira tanpa menghentikan aktifitasnya.


"bukannya kau mengijinkanku untuk berteduh menunggu hujan reda"

__ADS_1


"bukan itu maksudkuu,,,,"


"aaa, aku tidak akan pulang jika tidak denganmu" mengerti maksud pertanyaan faira


"disini tempatku sekarang, aku tidak punya tempat untuk di sebut pulang" faira mengangkat nampan berisi 3 gelas minuman dan melewati jeon yg berdiri di dekatnya.


"kau punya rumah dan keluarga di sana fay, kau bisa pulang, ibu dan ayahku menunggumu" sambil berjalan mengikuti faira


faira menaruh minumannya di atas meja dan berbalik menatap jeon "dari awal kita tidak pernah membentuk keluarga jeon, ingat itu"


"kalau begitu mau kah kamu membangun satu keluarga nyata denganku"


"kenapa aku?"


"karna aku mencintaimu aku membutuhkanmu dan hanya ingin kamu"


faira terdiam mendengar ucapan jeon dan duduk di dekat chi " kau bisa menginap disini jika hujannya tidak reda chi" ucapnya mengalihkan pembicaraannya dengan jeon.


"aku harus tetap pulang, besok ada acara di rumah, jadi pagi2 sekali aku harus membantu ibu memasak" tolak chi sambil menyeruput susu hangat yg faira suguhkan


"kalo gitu tunggu aja hujannya reda"


"ada banyak hotel di sekitar sini kenapa kau ingin menginap di sini" ketus faira


"aku seharusnya sudah cek out sore ini tapi karna hujan jadi tidak bisa, pelayan hotel pasti sudah mengemas barangku"


" kau tinggal cek in saja lagi, disini sudah tidak ada tempat untukmu, kasurnya hanya satu" tegas faira


"satu kasur berbagi bukan masalah kan" ucap jeon sambil tersenyum.


malam itu jeon menginap di tempat faira sedangkan chi terpaksa pulang kehujanan karna hujan tidak kunjung reda, jeon tertidur pulas di sofa sedangkan faira tidur di lantai atas.


di lantai atas pada pukul 5 pagi faira terbangun karna merasakan sakit perut ia berusaha bangun dan duduk di tepian kasur memegang perutnya "ahhh kenapa sakit banget" nafasnya terpenggal penggal menahan rasa sakit di perutnya "apa aku akan melahirkan?" batinnya sambil berusaha bangun dan berpegangan pada dinding.


" aw iss" ia berusaha mengatur nafasnya dan berjalan pelan menuju pintu kamarnya.


dengan pelan faira menuruni tangga berjalan beberapa langkah ia terhenti karna sakit yg luar biasa ia rasakan.


"jeonnnn" memanggil jeon yg masih tertidur pulas di sofa yg berada di samping tangga


jeon terbangun dan menggosok pelipis matanya setelah mendengar faira memanggilnya

__ADS_1


"jeon tolong aku,,,isss sakit" rintih faira yg masih berdiri di tangga bercengkram kuat pada pengaman tangga.


jeon yg terkejut dengan cepat bangkit mendekati faira "apa yg sakit?" tanya jeon namun faira tidak menjawab apapun karna kesakitan ia hanya meringis dan berkeringat menahan sakit di perutnya.


jeon tanpa banyak bicara langsung membopong faira keluar dan menuju rumah sakit,. setibanya di rumah sakit dokter kandungan yg biasanya menangani faira dengan sigap membantu faira "ini sudah bukaan 5 kita tidak bisa mengoperasinya, ini sudah dekat keluar bayinya" ucap sang dokter pada perawat yg lainnya


jeon yg berada di samping faira terus menerus menggenggam tangan faira dan mengelap keringat yg mengalir membasahi wajah dan rambut faira.


"sakit jeon" ringis faira sambil tersendat sendat seperti tak mampu mengucapkan meski hanya sebuah kata.


"tidak apa semuanya akan berlalu, kau akan baik baik saja" jeon berusaha menenangkan faira sambil mencium keningnya. jeon kemudian mendekati perut faira dan mengelusnya "cepatlah keluar sayang, ayah di sini jangan biarkan ibumu terlalu lama menunggumu" ucap jeon seraya mencium dan mengelus perut faira.


"jeon,,,,,, anak kita kembar" ucap faira dengan lemah sambil terengah engah. mendengar ucapan faira jeon terkejut dan tidak menyangka, ia berasa mendapatkan dua undian sekaligus ia sangat bahagia sampai2 meneteskan air mata, namun ia berusaha tetap fokus pada faira yg tengah berjuang.


"tidak apa mengejanlah yg kuat" ucap seorang perawat, faira kemudian mengejan sekuat tenaganya dan berhasil melahirkan anak kembarnya secara normal dan di temani jeon.


"anaknya kembar laki laki semua'' ucap sang dokter membuat jeon tersenyum bahagia sekaligus lega.


"faira anak kita gemuk dan sehat" ucap jeon sambil mengelus wajah faira yg berkeringat namun wajah bahagia jeon berubah saat faira tidak mengucapkan sepatah katapun, faira terdiam dengan mata yg hampir terpejam.


"faira ???" jeon menepuk wajah faira.


"faira faira" jeon mulai panik karna faira tidak merespon apaapun. mendengar kepanikan jeon dokter dengan cepat memeriksa faira, kesibukan dokter dan perawat membuat jeon melemah, ia terduduk di lantai dengan lemah, "fairaa, tolong jangan lagi" ucap jeon sambil menangis panik.


karna tidak kunjung memberikan respon faira di pindahkan keruangan lain untuk mendapatkan perawatan lebih intensif, jeon berusaha mengejar namun dokter menyuruhnya untuk menunggu di luar.


setelah satu jam menunggu dengan panik dokter pun keluar, dengan sigap jeon menghampiri dokter itu "apa yg terjadi dok,, tolong beri aku kabar baik" ucap jeon dengan wajah sembab.


"kabar baiknya syukurlah kami sempat menanganinya, jantung dan paru parunya sempat terhenti karena air ketuban yg bermasalah"


"aku tidak ingin mendengar kabar buruknya" jeon menggeleng, namun dokter dengan pelan memegang bahu jeon menenangkannya


"tapi dia koma" ucapan dokter membuat jeon kembali melemah.


"koma, kenapa bisa begini, dia sangat sehat sebelumnya" menutup wajahnya sambil terisak isak


"bu faira memang tidak kontrol 1 bulan ini, seharusnya dia kontrol 1 minggu sekali ketika menjelang kelahiran jadi karna itulah kita tidak bisa mendeteksinya"


"berapa lama dia akan seperti ini dok?"


"berdoalah nak" ucap dokter itu lalu beranjak pergi meninggalkan jeon sendirian.

__ADS_1


__ADS_2