The Battle Heart

The Battle Heart
undangan pesta


__ADS_3

faira yg tengah berada di busnya menyandarkan kepalanya pada kaca bus dan menatap jalanan yg ia lewati, meski di dalam bus itu sangat berisik faira seperti tidak menyadarinya ia tenggelam dalam bunyi kesepian yg melandanya.


saat di pameran faira menyadari bahwa laki laki yg menatapnya adalah jeon, bagaimana tidak dia mengenal pria itu, dia sudah bersama jeon selama setahun meski tidak punya hubungan yg nyata faira merasakan kontak batin itu, mengingat bagaimana perlakuan jeon terakhir kalinya yg menuduhnya bermain gila dengan jimmy dan mengatakan dia gadis yg sama dengan perempuan ****** lainnya benar2 membuat faira benar benar tersakiti.


di tengah lamunannya faira terkejut dengan sebuah mobil yg menyalip bus faira hingga busnya mengerem mendadak membuat semua orang dalam bus berteriak.


"kenapa orang itu mengemudi seperti itu" salah satu penumpang yg terkejut berteriak dan di jawab seluruh penumpang lainnya terkecuali faira yg fokus pada mobil yg baru saja menyalip mereka.


yah, tentu saja itu adalah mobil jeon jika pria itu marah ia selalu melaju sangat kencang mengemudikan mobilnya.


"kenapa dia melaju seperti itu, biasanya karna dia marah, apa dia marah karna melihatku hari ini?" batin faira


"kenapa aku harus memikirkannya" batinnya lagi sambil mengetuk kepalanya


faira dan rombongannya pun berhenti di sebuah taman kota terlihat dari salah satu bangku yg ada di taman seorang pria dengan kemeja putih sedang duduk dan langsung berdiri menghampiri bus faira yg baru saja berhenti.


/pria itu adalah jimmy, mereka janjian bertemu di taman sebentar/


faira yg baru turun dari bus langsung menghampiri jimmy dengan senyum tipis sambil menggenggam tali tas yg menyilang di badannya.


jimmy yg tanpa mengucap apapun langsung menarik faira duduk di bangku tempatnya tadi duduk.


"wah apa ini" tanya faira sambil menunjuk sebuah keranjang yg tertutup kain putih polos yg berada tepat di samping jimmy duduk.


jimmy hanya tersenyum dan membuka keranjang itu ia mengeluarkan beberapa kotak makanan dan membukanya.


"aku memasaknya tadi pagi, aku ingin kau mencobanya''


"kau memasak sebanyak ini" ucap faira terkejut


jimmy tersenyum mengangguk dan menyuapi faira dengan salah satu masakannya.


"wahhh" ucap faira sambil melotot menatap jimmy


"enak" dengan antusias jimmy bertanya


faira yg mulutnya penuh dengan makanan tidak bisa berucap hanya memberikan jempolnya untuk jimmy, merekapun tersenyum bersama dan menghabiskan makanan yg di bawa jimmy itu, faira seakan akan lupa dengan rombongannya dan tidak menghiraukannya.


seseorang dari rombongan faira memanggilnya untuk makan cemilan.


"itu kamu di panggil tuh" colek jimmy menyadari faira


"oh iya bentar dulu" teriak faira


faira terlihat senang bertemu jimmy, mereka yg duduk di bangku tidak henti hentinya melempar senyum dan bercanda, di tengah canda mereka jimmy terdiam dan memainkan jari jemarinya ia seperti ingin mengatakan sesuatu pada faira.


"kamu kenapa" tanya faira yg peka terhadap jimmy


"aku bakalan ke london minggu depan" ucap jimmy


"liburan ya" tanya faira dengan memiringkan badannya agar lebih nyaman menatap jimmy


"bukan"

__ADS_1


"kerjaan ya" tanya faira sambil membuka botol minuman


"bertemu calon tunanganku" ucap jimmy singkat sambil tetap menatap faira dengan wajah yg serius


"uhuuukkkkk"


faira yg tengah minum terkejut, membuat jimmy spontan mengelus punggung faira


"pelan pelan" ucap jimmy


"tunangan? kau akan tunangan?"


"belum, aku di jodohkan ayahku, jadi kami harus bertemu dahulu" ucap jimmy sambil mengalihkan pandangannya, sesekali ia tertunduk menandakan bahwasannya ia juga ragu


"pasti dia gadis yg smart dan cantik" tanya faira


"yah ayahku juga bilang begitu" jawab jimmy


fairapun bergeser mendekati jimmy dan menggenggam tangan jimmy sambil menatap jimmy "aku selalu berdoa agar kau mendapatkan yg terbaik dalam hidupmu baik dari pasangan maupun karirmu, jadi jangan ragu"


jimmy menatap faira dengan wajah sedikit sendu "aku harap dia punya hati yg baik seperti dirimu fay"


"orang baik sepertimu akan dapat yg terbaik dari versi yg terbaik, itu pasti" ucap faira


jimmy hanya mengelus rambut faira tersenyum tipis dan tak lama jimmy pun pergi.


faira melambaikan tangannya pada mobil jimmy yg mulai menjauh, dengan rasa senang karna jimmy mau membuka hatinya untuk orang lain dan sedih karna mereka mungkin akan saling jauh setelah jimmy punya pasangan. karna faira tau setiap wanita bisa selalu cemburu jadi pasti mereka akan menjaga jarak.


"kamu gak tidur fay" ucap supir bus yg merupakan tetangga faira di kampung itu juga yaitu pak yusin


"gak ngantuk pak,mau nemenin bapak biar bapak gak ngantuk" ucap faira tersenyum lalu kembali memperhatikan jalanan yg lumayan gelap karna minimnya pencahayaan. karna sudah malam terlebih beberapa km jalan tidak di beri lampu, membuat supir bus harus ekstra konsentrasi.


"cowok yg di taman tadi siapa kamu fay'' tanya pak yusin


"temen aja pak"


"kok kayak pacar, orangnya perhatian banget sama kamu kayaknya''


"bukan pak, dia gak lama lagi bakalan tunangan kok'' sahut faira


"ohh, lah kamu gak kepengen kawin lagi" tanya pak yusin yg sambil memperhatikan jalan


"gak pengen masih pak"


"apa kamu belum lupa ya sama mantan suamimu yg tampan itu" ledek pak yusin


"kita gak mungkin lupa total pak sama orang"


"ya maksud bapak bukan gitu, maksud bapak kamu masih sayang gak sama dia" tanya pak yusin, sesekali iya menoleh menatap faira.


"gak tau pak, gelap" ucap faira sambil menunjuk jalanan yg gelap


"ya emang gelap" ucap pak yusin sambil tertawa.

__ADS_1


tidak terasa pada pukul 11 malam faira dan rombongannya pun sampai di kampungnya faira yg baru sampai di rumahnya hendak melepas pakaiannya namun di kejutkan dengan dering ponselnya.


/zzzzz zzzz zzz/


tidak lain adalah jimmy menelpon, tidak butuh waktu lama faira langsung mengangkatnya.


"iya jim"


"kamu udah nyampe" tanya jimmy


"udah, baru aja" sahut faira


"aku cuma mau mastiin kamu sampai dengan selamat aja, ya udah kamu istirahat aja"


"iya" sahut faira dan langsung mematikan telponnya.


"ah kenapa badanku terasa sangat lelah" ucapnya sesaat setelah bangun pagi sambil memijat mijat tekuknya sendiri.


"aku perlu olahraga" ucapnya lagi dan bersiap


faira yg sedang libur memilih untuk lari pagi, ia berlari menuju danau yg tidak jauh dari desanya, ia berlari di jalanan yg sepanjang jalan memberikan pemandangan sawah dan bukit hijau yg sangat asri, udaranya sangat segar hingga faira merasa bersemangat, dengan earphone yg menempel pada telinganya faira terus semangat berlari hingga ia sampai di danau yg cukup luas itu, dengan suara terengah engah faira memegang lututnya, danau itu sangat cantik dengan bukit bukit tinggi yg berada di belakang danau menambah keindahan alam sekitar.


saat tengah berjalan perlahan menikmati pemandangan ponsel faira berdering ia segera mengambil ponselnya dan langsung mengangkatnya.


"hallo" ucap faira


"ini faira ya" tanya seseorang di telpon sana.


"iya ini siapa"


"ini saya rama, masih ingat"


"oh iya tentu saja ingat pak" ucap faira bersemangat


rama adalah donatur tetap pada yayasan yg sering faira kunjungi, jadi mereka sering berinteraksi dan bertemu pada setiap ada kunjungan dan acara, pria itu juga sering jadi pembicara dalam acara amal yg di faira ikuti dulu.


"kau sekarang dimana sekarang?" tanya rama terkesan dekat padahal dulu mereka hanya bicara hanya sebatas bekerja.


"saya sedang pulang ke desa saya"


"wahh, begitu yaa" sejenak terdiam namun rama tetap melanjutkan pembicaraannya


"bisakah kamu hadir dalam acara saya pada akhir pekan"


"acara apa ya pak" tanya faira sambil pelan pelan duduk di batu besar yg berada tidak jauh dari jalanan


"orang tua saya mengadakan ulang tahun pernikahan, semua orang akan datang termasuk kamu" tegasnya sedikit memaksa.


"oh baiklah saya akan datang, terima kasih undangannya pak" dengan sedikit ragu faira menyetujui untuk hadir di acara tersebut, meski dia sedikit aneh karna ia dan rama sebenarnya tidak terlalu dekat, tapi rama mengundangnya dalam pesta pribadi seperti ini.


"ah, apa yg ku pikirkan, dia sudah mengundang secara sopan, bagaimana bisa di tolak" batin faira sambil mengetuk pelan kepalanya. tiba tiba saat ingin berjalan pulang faira merasa pusing, tiba tiba ia merasa alam sekitar memutarinya, ia meremas kepalanya berharap pusingnya menghilang, dengan sedikit sempoyongan ia bersandar pada pohon yg ada di sebelahnya.


"kenapa pusing banget, apa karna belum sarapan?" batinnya bertanya pada diri sendiri.

__ADS_1


__ADS_2