The Battle Heart

The Battle Heart
jangan berusaha menghancurkan seseorang karna kau juga perlahan akan hancur


__ADS_3

faira saat itu tengah mengetuk pintu rumah jeon ia ingin bertemu keluarga jeon ia berharap saat ini mereka sudah sedikit tenang agar dapat mendengarkan penjelasan faira. namun beberapa kali mengetuk tetap tidak ada jawaban.


"kenapa sepi banget ya?" faira yg kebingungan mengambil ponsel di tas nya, baru saja dia mengecek ponselnya jimmy sudah menelponnya.


"hay jim"


"nenek di rumah sakit fay"


"hahh, bagaimana bisaa,,, ahh aku kesana sekarang" .ucapnya terkejut dan panik


fairapun langsung bergegas ke rumah sakit. karna sangking terburu burunya ia tersungkur karna jalannya licin akibat hujan.


faira yg tengah menaiki taksi selalu menggerakkan kakinya terkadang ia juga menggigit jarinya ia nampak panik sampai akhirnya ia tiba di rumah sakit dan bertemu jimmy.


"ayo jim, antar aku ke ruangannya" faira menarik tangan jimmy, namun jimmy tidak bergerak sedikitpun.


"kenapa, ayoo" faira kemudian berhenti memaksa jimmy karna ia terkejut melihat wajah jimmy bekas pukulan jeon waktu itu masih terlihat di wajah.


meski jimmy sudah membaik faira memegang wajah jimmy dengan lembut ia pun menatap jimmy


"kenapa kau tidak membalasnya,? kenapa kau membiarkannya memukul wajahmu" tanya faira dengan suara lirih dan wajah sedih


"karna aku memang salah" ucap jimmy sambil menahan tangan faira agar tetap di pipinya.


"maafkan aku keadaan terasa sangat kacau sampai aku tidak bisa bertanya apa kau baik baik saja" faira yg menyesal karna tidak menghubungi jimmy tertunduk dan menangis menyesal.


jimmy menarik tangan faira dan langsung membawanya masuk menemui neneknya, faira yg melihat nenek tua itu nampak kurus di atas ranjang dengan berbagai alat yg di pasang di badannya


"kita akan memperbaiki semuanya" ucap jimmy sambil mengelus punggung faira yg saat itu hanya diam berdiri di samping neneknya. tak lama jeon pun datang menghampiri mereka dan juga ikut melihat neneknya.


mereka bertiga berdiri berdekatan, namun tak berselang lama sang nenek justru menghembuskan nafas terakhirnya tepat setelah ketiga cucunya berkumpul. dokter datang dan memeriksanya namun dokter telah mengkonfirmasikan kematian sang nenek. mereka sangat terpukul terlebih lagi nenek itu terkejut karna kejadian tentang mereka.


mereka akhirnya mengurus pemakaman neneknya tanpa membicarakan apa pun mereka hanya diam sampai pemakaman selesai.


saat masih dalam kesedihan faira menemui jeon yg saat itu duduk bersama kedua orang tuanya di ruang tengah ruangan berkumpulnya keluarga, jimmy pun ikut mendekat.


"mari kita berpisah" ucap faira sambil berdiri dengan mata sembabnya, jeon dan kedua orang tuanya sontak menoleh ke arah faira


"kenapa mengatakan ini sekarang" jeon langsung berdiri mendekati faira dan mengajaknya menjauh, namun faira menolak.


"ini yg ingin ku bicarakan padamu waktu itu, sekarang aku akan membicarakannya di depan ayah dan ibu" sambil menatap jeon mengisyaratkan untuk tetap pada tempatnya.


faira menjelaskan tentang semuanya dan ia juga ingin jeon jujur agar tidak ada kesalah pahaman lagi setelah ini.


"mari berpisah aku akan dengan sukarela pergi, ini adalah harapan terakhir nenek padaku agar kita tidak saling menyakiti" penjelasan faira membuat orang tuanya menatap jeon. faira pun berpamitan dan langsung pulang. ayah dan ibu jeon terus terusan menatap jeon hingga jeon pun menunduk seperti mengakuinya, ibu jeon terdiam dia tidak menyangka anaknya selama ini berbohong.


"hanya demi clara kau melakukannya sampai sejauh ini" tanya ibu jeon yg saat itu mencengkram kedua bahu anaknya, belum menerima kenyataan pahit tentang kepergian sang ibu, justru iya mendapatkan kenyataan lain yg sama pahitnya, sudah menuduh menantu dan keponakannya tapi ternyata anaknya yg salah dan bertanggung jawab atas semua kejadian itu.

__ADS_1


"lihat ibu jeon" ibunya histeris sambil memukul dada jeon


"kita baru saja kehilangan nenekmu, sekarang faira juga akan pergi karna ulahmu" ibu jeon menangis sambil memegang kerah baju anaknya itu. ayah jeon pun menarik istrinya itu dan membopongnya ke kamar untuk menenangkan diri.


tanpa jeon sadari ia menjatuhkan air matanya beberapa kali, jeon juga sangat bingung dengan perasaannya ia menutupi matanya dengan satu tangan dan terduduk lemas, jimmy yg melihat kejadian itu memutuskan untuk pergi tanpa mengucapkan sepatah katapun.


beberapa hari faira hanya diam di apartemennya, ia tidak lagi mengikuti kegiatan yg biasanya ia lakukan, ia memilih diam di apartemennya untuk sementara. sementara jeon masih sibuk dengan kegiatannya. ketika ia sedang break syuting seseorang mengantarkan sebuah paket untuk jeon, jeon yg sedang terlentang pun langsung bangun dan membuka paket itu yg berisikan surat cerai yg sudah di tanda tangani oleh faira.


"kenapa dia selalu mengambil keputusan sendiri" ucap jeon kesal sambil melemparkan surat itu ke atas meja. seketika mood jeon berubah ia menjadi terlihat sangat kesal hingga pekerjaannya tidak cepat selesai.


ttiiiiiinnnnggg


"siapa yg datang?" gumam faira sambil berjalan menuju pintu.


"jimmy!"


jimmy dengan senyum manisnya mengangkat sebuah bingkisan di tangan kirinya


"aku membeli makanan, bolehkah aku masuk"


faira yg melihat jimmy ikut tersenyum dan hanya mengangguk memberi ijin jimmy masuk. jimmy pun langsung menuju meja makan dan membuka bungkus makanan dengan antusias, "ini masih panas, ayo kita makan" jimmy menarik tangan faira yg tengah berdiri tidak jauh menyuruh faira duduk.


mereka makan dengan senang mereka tidak membahas apa pun selain makanan, mereka berusaha tetap happy.


"apakau mau berlibur" tanya jimmy yg saat itu pipinya bulat karna masih mengunyah makanan


"kemana?"


"ya"


"kalau begitu bersiaplah besok pagi aku akan menjemputmu" seru jimmy


"baiklah" faira menyetujuinya karna memang ia butuh liburan sejenak setelah melewati hari hari yg menyedihkan.


selesai makan jimmy langsung pamit pulang karna ada janji bertemu seseorang.


"dia benar2 tau bagaimana harus bersikap" ucap faira tersenyum sambil melihat jimmy memasuki lift.


"mari tidur, berhentilah memikirkan sesuatu yg menyakitkan" gumam faira sambil membaringkan badannya dan menyetel alarm pukul 06 pagi.


krrriiinngggg


tangan faira merayap meja mencari jam weker yg tidak henti hentinya berbunyi itu dan mematikannya, ia bangun dengan wajah sembab sedikit sempoyongan ke kamar mandi dan bersiap, faira pun selesai bersiap ia menaruh koper dekat pintu supaya ia mudah nantinya membawanya.


faira pun duduk sarapan tangan kirinya memegang ponselnya ia membaca pesan jimmy jika jimmy akan sampai 30 menit lagi.


tiiiinnnnnnggggg

__ADS_1


"owh, dia bilang masih 30 menit lagi"


faira mengira yg membunyikan bell adalah jimmy.


saat faira membuka pintu sepasang mata tajam menatapnya,


"oh tuhan" faira sontak terkejut dan memegang dadanya melihat jeon berdiri seperti seorang rentenir.


"kenapa kau mengganti sandinya" ucap jeon sambil melangkah masuk.


"kita kan sudah berpisah, bukan kan apartemen ini sudah jadi hak tunjangan untukku" jawab faira sambil melangkah melewati jeon menuju ke meja makannya lagi. jeon terdiam dengan satu tangannya masuk ke saku celana, ia menatap koper yg faira taruh dekat pintu tadi.


"apa kau mau pergi"


"ya, ku rasa kau saja cukup yg mengkonfirmasikan berita perceraian kita" ucap faira sambil melanjutkan sarapannya.


"kita tidak akan bercerai sampai aku yg memutuskannya" jeon mendekati faira


"bukan kah aku sudah mempermudah segalanya, kenapa aku harus menunggu keputusanmu" ucap faira marah dan memukul meja seraya berdiri ingin meninggalkan jeon. namun jeon menghalanginya dengan badannya.


"kenapa kau tiba tiba berubah pikiran seperti ini, bukankah kau bilang kau akan menghancurkanku?''


"aku sadar selama ini aku hanya membuang waktu ku, jadi bisa kah kau pergi sekarang" jawab faira sembari menunjuk ke pintu menyuruh jeon keluar.


"apa kah ini karna jimmy, kau ingin segera mengakhirinya denganku dan memulai dengannya haaahhh" ucap jeon dengan lantang


"kau sudah gila, apa yg di akhiri? pernahkah kita mulai? hahhh" jawab faira dengan lantang.


faira memunggungi jeon dan melihat keluar jendela tak lama ia menarik nafasnya panjang.


"huuuuuuuffff"


jeon pun mendekati faira dan berdiri di sampingnya ikut menatap pemandangan kota dari jendela.


"aku tidak punya alasan lagi untuk menahanmu sekarang, semakin aku berusaha menghancurkanmu tanpa ku sadari aku juga hancur"


ucapan faira membuat jeon menoleh ke arah faira.


"setelah aku tau kau hanya memanfaatkanku aku sudah memikirkan perceraian, tapi aku baru saja merasakan kasih sayang keluargamu padaku, aku benar2 tidak ingin kehilangan itu, makanya aku berusaha semampuku menahanmu" faira yg menceritakan itu meneteskan air matanya menjelaskan betapa tulusnya dia.


"tapi sekarang ibu dan ayahmu pasti masih membenciku, dan nenek sudah pergi, membuatku berpikir tidak ada yg bisa ku genggam setelah ini"


penjelasan faira membuat jeon terdiam ia menyadari alasan kenapa selama ini faira tidak pernah menceritakan apapun tentang dirinya kepada orang tuanya.


"itukah alasanmu selalu mengunjungi keluargaku setiap minggunya" tanya jeon sambil menatap faira dari samping.


faira hanya mengangguk mengisyaratkannya, tiba tiba faira menerima pesan dari jimmy jika jimmy sudah menunggunya di bawah. faira pun bergegas dan meninggalkan jeon sendiri.

__ADS_1


"aku akan pergi, tolong kunci pintunya nanti" tanpa menoleh faira menarik kopernya dan pergi, jeon tidak bisa melarang faira, ia hanyaa melihat langkah demi langkah faira keluar.


hingga akhirnya bayangan faira hilang saat langkahnya menjauh.


__ADS_2