The Battle Heart

The Battle Heart
kehidupan baru


__ADS_3

sudah hampir satu bulan faira berada di kampung halamannya ia menyibukkan dirinya setiap hari, ia bekerja di kantor desa tempatnya tinggal, ia selalu mengikuti berbagai kegiatan di kampungnya agar ia sibuk.


sore harinyaa saat faira pulang bekerja ia baru sajaa sampai di rumahnya di kejutkan dengan teriakan seseorang memanggil namanya


"faira!!!!"


faira menoleh mencari sumber suara, di seberang jalan rumah faira seseorang dengan tas besar di belakangnya melambaikan tangannya pada faira. faira pun menyadari siapa orang itu dan dengan tersenyum sembari melambaikan tangannya mengisyaratkan orang itu untuk mendekat. itu adalah teman masa kecil faira ia bernama rina mereka jarang komunikasi setelah lulus SMA karna kuliah di tempat berbeda.


"rinaaa!!" ucap faira sambil merentangkan tangannya minta di peluk rina


rinaa pun menghampiri faira dan saling berpelukan dengan meloncat loncat kegirangan.


"aku buru buru nyempetin pulang denger kabar kamu di sini" ucap rina dengan sedikit manja


faira hanya diam menatap rina dengan tangannya memegang kedua tangan rina seakan tidak mau berpisah.


"kamu sekarang kerja di kantor desa ya" tanya rina


"iya biar ada pemasukan" ucap faira sambil merangkul rina dan berjalan masuk ke rumahnya.


"ciiihhhh, ngapain kerja kamu pasti banyak duit kan terima tunjangan cerai kemaren" ledek rina yg orangnya memang sedikit ceplas ceplos dan sedikit lemot.


faira yg mendengarnya pun hanya memanyunkan bibirnya karna baru pertama bertemu temen udah bikin mood hancur aja.


"baru juga ketemu udah bikin kesel aja" sahut faira sambil melepas rangkulannya dan mendorong rina hingga sedikit menjauh darinya.


"heheee,, maaf maaf" ucap rina yg tersadar jika dia menyinggung perasaan temannya itu.


faira dan rina mengobrol di rumah faira tanpa henti suara tawa mereka terdengar sampai sebrang jalan..


pembicaraan yg hampir tidak berakhir itu di kejutkan dengan gelapnya malam.


"aku pulang dulu ya udah malam nih belum mandi lagi" rina berdiri mengambil tasnya .


"iya, pulang sana pasti udah di tungguin sama ibumu, bukannya langsung ke rumah malah mampir disini sampe malam" ledek faira


"kan kamu dari tadi ngajak ngobrol sampai gak ingat pulang" jawab rina membuat faira hanya tersenyum.


faira menatap jam yg ada di dinding rumahnya, jam itu menunjukkan pukul 9 malam faira mencuci wajahnya dan bergegas untuk tidur, faira yg tengah berbaring di kasurnya seperti memikirkan sesuatu ia lalu bangun dan membuka laci yg berada tepat di samping kasurnya, faira mengambil ponselnya yg menyatu dengan beberapa barang lain, ponsel itu terasa dingin karna tidak pernah di nyalakan oleh faira.


faira termenung menatap ponselnya, sesekali ia menarik nafasnya berat.

__ADS_1


"apa perlu ku nyalakan sekarang" batin faira yg ragu ragu ingin menyalakan ponselnya.


dengan sedikit ragu faira akhirnya menyalakan ponselnya detik detik pertama ponselnya menyala hati faira jadi tidak karuan, benar saja ada banyak pesan terutama pesan dari jimmy yg terbaca bahwa ia sangat marah /'cepatlah balas pesanku, katakan dimana kamu berada'/ itu adalah pesan terakhir yg di kirimkan jimmy.


baru saja faira membaca pesan jimmy tiba tiba ponselnya berbunyi tepat di saat faira ingin kembali mematikan ponselnya


"astaga jimmy menelpon, dia pasti tau jika aku baru saja membuka pesannya" ucap faira panik sambil berjalan ke kanan dan ke kiri mau di angkat atau tidak.


"angkat aja lah, biar selesai" ucap faira sambil menarik nafasnya dalam dalam dan mengangkat telpon jimmy


"hallo" ucap faira


"kamu dimana" ucap suara jimmy di telepon yg terdengar lirih


"aku......."


dengan gugup faira tidak melanjutkan bicaranya


"iyaa kamu dimana sekarang" ucap jimmy tegas.


sambil mengelus jidatnya faira tidak mau memberitahukan keberadaannya pada jimmy


"aku baik baik aja kok, kamu gak usah khawatir ya" ucap faira


"maaf aku bener2 minta maaf, banyak wartawan selalu nelpon aku jadi aku gak bisa ngaktifin ponselku, aku butuh ketenangan sebentar jim" ucap faira dengan nada sendu menyesal telah membuat jimmy khawatir


"apa aku juga orang yg mengganggumu sampai sampai kamu gak ngabarin aku juga" suara jimmy terdengar berat yg berusaha menahan air matanya.


"bukan gitu........"


ucapan faira di potong jimmy


"aku kan udah bilang jangan terbebani sama perasaan aku, gak masalah tapi jangan menghilang kaya gini dong fay, aku khawatir setengah mati sama kamu" jelas jimmy dengan lirih terdengar menyayat hati faira


"oke aku salah aku minta maaf, aku akan ngabarin kamu terus mulai sekarang, maaf yaa" ucap faira menangis menyesal


"janji ya,, aku cuma mastiin kalo kamu itu baik baik aja, gak lebih"


"ya aku janji" sambil mengusap air matanya faira berjanji akan menghubungi jimmy apa pun keadaannya.


masalah dengan jimmy pun terselesaikan faira merasa lega bahwa jimmy tidak memaksanya untuk hal apa pun jimmy hanya tidak ingin loss contacts dengan faira,

__ADS_1


"kau menentukan jalan terbaikmu jim, aku bersyukur akan kehadiranmu, aku bersyukur atas apa yg telah berlalu, kau terlalu baik untuk merasakan penderitaan dan tekanan jika memaksa bersamaku" batin faira yg tau jika ia dan jimmy memaksa mempunyai hubungan mereka hanya akan di hantui kenangan masa lalu faira, dan pasti akan selalu dalam tekanan karna jeon mantan suami faira adalah sepupu jimmy.


faira pun merentangkan badannya di atas kasur dan tersenyum menatap jendela kamarnya yg memperlihatkan gelapnya malam sampai sampai ia tidak tau kapan memejamkan matanya dan tertidur pulas.


pagi hari


suara rintikan hujan terdengar jelas di atap rumah faira membuatnya sesekali bergerak di balik selimutnya, ia menutup seluruh badan sampai kepalanya dengan selimut karna hujan yg tak berhenti membuatnya merasa sangat kedinginan "hujannya awet banget" ucap faira sambil duduk di kasur dengan selimut yg masih menutupi badannya, ia menggapai ponselnyaa melihat jam "astaga udah jam 7 tapi hujannya gk reda reda, padahal pagi ini kan waktunya senam di lapangan" ucap faira ia bangun keluar dari kamarnya dengan rambut yg sedikit berantakan sehabis bangun tidur meskipun masih hujan faira tetap bersiap karna ia berpikir mungkin sebentar lagi hujannya akan berhenti.


faira yg sudah siap berdiri di depan rumahnya sambil menjulurkan tangannya ke rintikan hujan "udah gak deres kayak tadi, aku berangkat aja dulu" ucap faira seraya merentangkan payung yg sedari tadi ia pegang, ia pun berjalan menuju kantor desa terlebih dahulu untuk memastikan pekerjaannya. tak jarang ia bertemu dengan petani yg tetap bekerja meskipun hujan dan dingin seperti hari ini, namun itu lah pemandangan di kampung faira hampir setiap rumah punya kebun yg harus mereka rawat setiap hari, karena di kelilingi perkebunan faira tidak bingung untuk kebutuhan sayur dan buah2an, para tetangganya sering memberinya buah dan sayur dengan gratis.


"pantas saja dulu kakek ingin menetap disini" batin faira melihat ketenangan dan keramahan orang desa tempatnya itu.


sesampainya di kantor desa hujan pun perlahan berhenti faira menaruh payungnya di sudut kantor ia melihat kepala desa yg sudah sibuk dengan kertas kertas yg ada di mejanya.


"selamat pagi pak" ucap faira sambil tersenyum dan melangkah menuju mejanya yg berada di sisi kiri kepala desa. kepala desa itu sedikit terkejut melihat faira


"oh kamu sudah sampai, bapak kira masih molor hujan hujan gini"


"gak pak kan saya kerja" sahut faira sedikit meledek dan tersenyum sambil berjalan ke mejanya


"iya ya" tertawa


"katanya mau senam hari ini pak, tapi kok gak ada sama sekali orang yg dateng" ucap faira sambil clingak clinguk melihat ke depan kantor.


"hujan fay, orang2 pada selimutan" ucap bapak kepala desa dengan matanya tetap membaca beberapa kertas yg berisi tulisan entah apa. faira hanya diam dan mengangguk membenarkan pendapat bapak kepala desa.


"oh ya fay, kamu mau gak nemenin para ibu pkk ke kota minggu besok" tanya pak kepala desa sambil menatap faira yg tidak terlalu jauh dari mejanya


"kok saya sih pak yg lain aja" keluh faira karna tidak mau ke kota.


"bapak milih kamu itu karna kamu hapal dengan daerahnya, kamu kan udah lama di sana, sekalian jadi pemandunya, nanti dapat komisi kok" paksa bapak kepala desa


faira sedikit termenung matanya memutar seolah olah memikirkan sesuatu


"emang mau kemana aja pak" tanya faira


"ke museum, taman kota dan kebun binatang" itu aja kayaknya.


"aku mungkin tidak akan bertemu siapa2 jika hanya kesana," batin faira


"baiklah aku harap komisinya sesuai ya" ucap faira dengan sedikit mengangkat alisnya dan langsung di acungi jempol oleh bapak kepala desa.

__ADS_1


"untung berita aku dan jeon sekarang udah mulai gak di bahas, tapi sekarang gimana ya kabar jeon ibu sama ayahnya" batin faira sambil melamun melihat luar ruangan di balik jendela dan tangannya memainkan pulpen yg ia pegang, ia kemudian mengambil tasnya yg berada di samping kanan mejanya untuk mencari ponselnya, faira memperhatikan nama contacts di ponselnya ia ingin menelpon ibu jeon tapi sangat ragu "ngomong apa ya" meskipun faira tidak bersalah tapi ia masih bingung untuk memulai percakapan kembali dengan mantan mertuanyaa itu karena sudah terlanjur loss komunikasi membuat faira ragu dan memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas.


__ADS_2