The Battle Heart

The Battle Heart
sebuah pengakuan


__ADS_3

dengan penuh amarah pria itu melayangkan tamparannya ia seperti enggan berhenti meski beberapa orang sudah melerai namun ia berusaha memberontak.


"stopppp JEONNNN STOOOPP"


teriakan faira menyadari jeon, dengan nafas terengah engah jeon menangkis tangan orang yg melerai perkelahiannya, ia dengan jalan sedikit sempoyongan mendekati rama yg saat itu terkapar di lantai dengan luka di wajahnya.


"jika kau menghinanya lagi kau akan mati di tanganku" ucap jeon yg berdiri melihat rama yg berada di lantai.


rama tidak mengucapkan apa apa, hanya tertawa sambil memegang dadanya, dan berusaha bangun.


saat jeon berbalik badan menatap faira yg tepat di belakangnya, faira hanya menatap jeon dengan wajah sedih, sejenak saling menatap faira langsung berbalik dan pergi.


"faira tunggu!!!" mengejar faira yg sudah mau memasuki lift


"kenapa kau bisa berada di sana?" tanya faira di tengah keheningan lift


jeon diam membisu ia hanya mengingat ketika rama dan faira keluar seseorang yg satu meja dengan rama tadi bicara dengan orang di sebelahnya seolah mengisyaratkan apa yg akan di lakukan rama pada faira.


jeon yg berusaha mengejar tidak sempat, ia hanya melihat lift berhenti di lantai 14 dan berusaha berlari melewati tangga darurat, namun sayang saat sudah sampai di lantai 14 ia tidak tau kamar mana yg faira dan rama masuki. ia mengetuk beberapa pintu namun tidak ada jawaban.


"dimana kamu fay?" batin jeon dengan wajah cemas


saat ingin kembali ke tangga darurat ia mendengar keributan antara rama dan faira, yg membuatnya tidak tahan dan memukul rama.


"kenapa kau diam?" tanya faira lagi


"aku mencemaskanmu"


"dari mana dia tau tentang perjanjian pernikahan kita?" tanya faira


jeon memutar bola matanya memikirkan pertanyaan faira siapa yg memberitau orang itu tentang pernikahannya dengan faira yg hanya sandiwara.


belum sempat jeon menjawab lift yg sudah sampai lantai bawah terbuka dan faira berjalan cepat meninggalkan jeon faira tiba tiba merasa sangat pusing, tentu saja minuman yg di berikan rama sudah di beri obat tapi untung obat itu mulai bereaksi saat faira sudah lepas dari jebakan rama, meski sedikit sempoyongan faira tetap berusaha berjalan dan mengambil ponselnya ingin memesan taksi.


"fairaa!!" teriak jeon


faira seperti tidak perduli terus melangkah keluar hotel, jeon pun dengan buru buru mengambil mobilnya dan mengejar faira yg sudah berjalan di trotoar.


jeonn menghentikan mobilnya di depan faira, tapi faira enggan perduli dan melangkah lebih cepat melewati mobil jeon.


"faira, masuk mobil" jeon menahan tangan faira membuat ponsel faira jatuh dari tangannya


"Apa yg kau lakukan!!!" ucap faira dengan nada marah

__ADS_1


"masuklah ke mobilku, aku ingin bicara"


"apa? katakan saja disini" menangkis tangan jeon dan mengambil ponselnya yg jatuh.


jeon menarik nafasnya berat. tanpa mengatakan apapun jeon menarik faira memaksanya masuk ke mobilnya.


"baiklah baiklah, aku akan masuk sendiri" ucap faira sambil berusaha mendorong jeon yg sangat dekat dengannya.


"cepat katakan yg ingin kau katakan" ucap faira sambil mengecek ponselnya yg retak akibat terjatuh tadi, dan memegang kepalanya yg terasa sangat pusing.


"kenapa kau bisa bersamanya?"


"apa untungnya kau bertanya seperti itu"


"berhentilah bicara sinis begitu, aku ini benar2 khawatir padamu"


faira menoleh ke arah jeon dengan mata yg berkaca kaca dan mulai tidak bisa mengendalikan dirinya


"apa yg terjadi padaku hari ini kau juga bertanggung jawab" ucap faira dengan suara sedikit serak dan bibir bergetar karna menahan tangisannya


jeon yg mendengar penuturan faira diam, ia merapatkan bibirnya dan mengalihkan pandangannya pada jalan.


di sepanjang jalan mereka hanya diam faira hanya memejamkan matanya sambil bersandar meski sedang merasa pusing faira tidak menunjukan reaksi apapun, jeon sering memperhatikan faira saat tengah menyetir, ia ingin bicara dengan faira namun faira selalu marah dan menjawabnya dengan judes.


faira menyadari jika jeon sedang memarkirkan mobilnya faira membuka matanya dan melihat tempat parkiran yg lumayan familier tapi ia tidak dapat melihat dengan jelas karna pengaruh minuman itu.


"kau tidak memberitahuku dimana kau menginap, dan hanya diam sepanjang perjalanan"


"kenapa kau tidak bertanya?" cetus faira


jeon tidak menjawab apapun keluar dari mobilnya dan berjalan ke samping mobil dan membuka pintu mobilnya untuk faira.


"ayo turunlah" ucap jeon sambil menatap faira yg masih duduk di dalam mobil


"aku harus pulang" rengek faira sambil keluar dari mobil jeon, namun ia tersungkur, saat itu juga jeon menyadari juga faira tengah mabuk, dan dengan sigap membantu faira


"apa kau mabuk" tanya jeon yg tangannya masih memegang pinggang faira menahannya agar tidak tumbang.


"lepaskan tanganmu dari badanku" sambil berusaha mendorong jeon namun ia tidak kuat.


tanpa basa basi jeon langsung menggendong faira dan membawanya ke apartemennya.


"menginaplah di sini setelah sadar kau boleh pulang besok" ucap jeon sambil membaringkan faira di kasurnya.

__ADS_1


"aku tidak ingin menginap disini lagi" racau faira sambil menangis, ia hanya menggeleng geleng di kasur karna benar benar tidak kuat untuk bangun


jeon pun duduk di tepian kasur sambil merapikan rambut faira yg menutupi wajahnya. "aku tidak akan melakukan apapun padamu, jadi tidurlah dengan nyenyak" ucap jeon sambil mengelus lembut rambut faira.


elusan lembut tangan jeon mampu membuat faira tertidur meskipun ia terlihat masih meringis karna pusing.


"pasti orang itu menaruh obat pada minuman faira, tapi untunglah faira sempat melawan sebelum obatnya bereaksi" batin jeon


jeon tanpa mengalihkan pandangannya pada faira


" 'aku mencintaimu' itu yg sebenarnya ingin aku katakan padamu fay" ucap jeon dengan jelas namun faira tidak mungkin menyadari dengan kondisinya itu.


"aku sangat bersyukur bisa melihatmu lagi, bisakah kau menerimaku lagi, aku sangat sangat menderita tanpamu" ucap jeon pelan dengan berderai air mata sambil mencium tangan faira yg ia genggam sedari tadi.


karna sangat merindukan faira jeon tidur di samping faira sambil memandang wajah faira.


"aku akan memandangmu dulu sebelum pergi tidur" batin jeon, karna ia tau faira mungkin sangat marah jika mereka satu kasur.


malam itu mereka tidur dalam satu ranjang jeon yg sangat merindukan faira merasa cukup bahagia meskipun ia mencuri curi waktu hanya untuk bisa tidur di samping faira, ia merasa hal itu sudah cukup mengobati rasa rindunya, memandang gadis yg pernah ia lukai hatinya membuat jeon tidak berhenti menyalahkan dirinya, matanya tak lepas menatap faira yg tidur di sampingnya


"jika aku menyatakan perasaanku sekarang apa kah sudah terlambat?" jeon menyadari pertanyaannya itu tidak akan di jawab oleh gadis yg tidur seperti orang pingsan itu, tapi ia terus melontarkan pertanyaan ataupun mengungkapkan perasaannya.


"bagaimana kau bisa membuatku mencintaimu sedalam ini, apakah mungkin aku bisa hidup tanpamu setelah ini?" karna terlalu banyak mengoceh jeonpun akhirnya tertidur dan lupa untuk pindah.


faira tertidur pulas bahkan setelah kejadian yg hampir menimpanya, belum terbit matahari faira yg tengah tertidur membolak balikkan badannya ia merasa tidak nyaman karna ingin buang air kecil, namun saat ia menghadap ke samping dan membuka matanya wajah jeon sangat dekat dengan wajahnya hanya berjarak 10 cm saja, matanya terbuka lebar menatap wajah pria yg pernah ia idolakan itu.


"kenapa aku bermimpi seperti ini" ucap faira


ia dengan pelan mengelus wajah jeon dengan jemarinya.


merasa seseorang memegang wajahnya jeon pun membuka matanya dan mata mereka saling bertatapan, jeon tidak mengatakan apapun ia hanya tersenyum menatap faira yg mengelus wajahnya dan memegang tangan faira yg masih di pipinya.


"kenapa tatapan seperti ini hanya mimpi" ucap faira yg merasa bahwa itu masih mimpi, karna ia merasa tatapan jeon yg seperti itu pernah ia impikan.


"apa yg kau bicarakan" ucap jeon dengan wajah heran.


"apa?" sahut faira


mata faira memutar mengingat sesuatu dan merasakan badannya, gadis itu pun tersadar dan langsung bangun dari kasur, tanpa mengucapkan apapun ia berlari keluar kamar, jeon dengan wajah sembab mengejar faira.


"faira, tunggu sebentar" menahan lengan faira


"tidak bisa"

__ADS_1


"aku ingin bicara denganmu"


"ia tapi aku ingin ke toilet dulu" ucap faira langsung menangkis tangan jeon dan berlari ke toilet tamu yg lumayan jauh dari kamar jeon, padahal dalam kamar jeon sudah ada toilet namun karna terkejut wanita itu malah keluar.


__ADS_2