The Battle Heart

The Battle Heart
mulai berjuang


__ADS_3

faira membaringkan tubuhnya dan menarik sedikit bajunya hingga ke atas dada dokterpun mulai menggosok gel pada perut faira agar mudah saat di usg, dokter itupun menatap monitor yg berada di samping faira sedangkan faira melihat dari tv yg di sediakan tepat di hadapan faira.


"waaahh, sepertinya kamu hamil anak kembar" seru dokter tersenyum sambil melihat faira


"kembar??"


dokterpun mengangguk dengan senyuman


faira diam dan hanya menganga melihat janin yg hidup di perutnya.


dokter itupun diam membiarkan faira melamun sambil sedikit terkekeh.


"emmmm, kalau kembar kenapa perutku belum besar dok" tanya faira tanpa melepaskan pandangannya pada janinnya


"itu terjadi pada masing masing orang, mungkin kau akan mengalami perubahan pada perutmu bulan depan"


faira yg mendengar penjelasan dokterpun bangun rasa yg ia ragukan dan takutkan tadi seakan hilang saat melihat janinnya dan mendengar detak jantungnya.


"janinnya sehat sehat semua, saya kasih vitamin jangan lupa di minum ya, dan jangan strees, apa pun yg terjadi sebelum ini saya harap kamu dan anak anakmu sehat" sambil memberikan vitamin pada faira


"terima kasih banyak dok" dengan perlahan faira keluar dari ruangan dokter dan pulang.


di tempat lain.


jeon yg baru saja menyelesaikan pekerjaannya ingin menginap di rumah orang tuanya karna sudah janji akan makan malam bersama.


"bu,,!!!" panggil jeon sambil menaruh jaketnya di atas sofa ia sedikit berlari menuju ruang makan yg terdengar ada suara.


"itu jeon udah datang" ibu jeon memberitahukan kedatangan jeon pada jimmy dan tunangan jimmy yg saat itu duduk bersebelahan dan berhadapan dengan ayah jeon, jimmy hanya sekilas menatap jeon dan tersenyum tipis.


meski terasaa canggung jeon tidak punya alasan untuk tidak menyapa jimmy


" kapan dari londonnya ?" tanya jeon sambil menarik kursinya berhadapan dengan tunangan jeon, dan ia terkejut karna belum berkenalan dan merasa tidak sopan


"oh maaf, kenalkan aku jeon sepupu jimmy" menjulurkan tangannya sambil menguraikan senyum


"yah, i now you, my name is nadine" menyambut tangan jeon dan saling bersalaman.


nadine lumayan mengerti dengan bahasa yg di gunakan jeon tapi ia hanya tidak bisa melafalkannya.

__ADS_1


"jimmy baru saja datang dari london langsung kesini karna katanya kangen masakan rumahan dia menelpon ibu dan meminta di masakin" jelas ibu jeon sambil tersenyum dan menata beberapa makanan di depan mereka.


jeon memainkan jemarinya sambil sesekali menarik nafas berat, ada hal yg ingin ia tanyakan namun di pendam karna tau sekarang bukan saat yg tepat membicarakan keingintahuan jeon alasan jimmy tidak lagi bersama faira dan justru menerima perjodohannya dengan nadine, sampai selesai makan pun mereka tidak banyak bicara, hanya celotehan ibu jeon yg terus mengajak nadine berbicara.


masih dalam kehangatan berkumpul di meja makan, perbincangan mereka seperti tidak ada habisnya, isi kepala jeon hanyalah tentang faira sehingga seberapa banyak ocehan ibunya ia hanya seperti mendengar kicauan buruung saja, karna merasa kurang nyaman jeon beranjak ingin ke kamarnya.


"kamu mau kemana" suara ibunya menghentikannya yg sudah dua langkah menjauh.


"aku sangat kenyang, aku ingin berjalan sebentar membakar beberapa kaloriku sebelum tidur" kembali melanjutkan langkahnya menuju pintu samping tempat dimana tanaman ibunya berjejer rapi bak taman namun ada akses agar ia bisa keluar ke jalanan.


"jeon tunggu"


mendengar suara itu jeon tanpa menoleh tetap berjalan perlahan sambil memasukkan kedua tangannya padu saku celananya, ia tau jika jimmy yg memanggilnya dan menyusulnya namun jeon seakan mengisyaratkan untuk menjauh dari rumah sebelum ia siap bicara pada jimmy.


sesampainya di depan pintu pagar yg terdapat batu besar sebagai hiasan jeonpun duduk sambil sedikit mendongak menatap jimmy yg sedari tadi mengikutinya.


jimmy menarik nafasnya pelan dan menghindari tatapan jeon namun ia justru duduk disebelah jeon.


"aku tidak menyangka kau mau di jodohkan?" tanya jeon pada jimmy yg baru saja duduk di sampingnya


jimmy hanya tertawa menjawab pertanyaan jeon, ia seakan juga sama tidak percaya dengan dirinya kenapa ia juga setuju dengan perjodohan itu.


"pandangan pertama aku langsung menyukai nadine, jadi aku terima saja perjodohan ini" jawaban singkat jimmy membuat jeon sedikit nyengir tidak percaya dengan kata yg baru keluar dari mulut sepupunya itu, seakan bukan dirinya.


"jadi saat ada yg membuatmu jatuh hati kau langsung meninggalkannya?"


"meninggalkan siapa??" tanya jimmy yg tau maksud jeon namun ia sengaja berpura pura tidak memahami maksud jeon.


"kau benar benar tidak berubah, kau selalu bermain main denganku" kesal jeon beranjak ingin meninggalkan jimmy.


"maafkan aku" kata itu menghentikan langkah jeon, ia kemudian berbalik menatap jimmy yg saat itu juga akan beranjak dari batu tempatnya duduk.


"maafkan aku karna selalu menyukai apa yg kau sukai mengikutimu dan berusaha merebut apa yg kau sukai dan memamerkannya ketika berhasil" kalimat panjang itu sukses membuat jeon terdiam mematung dan membisu.


"setelah kau tau tentang kesalahanmu lalu kau meninggalkan faira sendirian" nada jeon sedikit tersendat karna ia hampir tidak bisa bernafas dengan sesak di dadanya mengingat bagaimana luka yg faira alami jika tau jimmy sudah bertunangan.


"tidak jeon," jimmy menggeleng mengartikan pendapat jeon yg salah


"lalu.." terus jeon kemudian diam menunggu jawaban jimmy

__ADS_1


"kau tau, seberapa kuat aku berjuang ia tidak akan memilihku," mendekati jeon dan merangkul pundaknya


"aku menyukainya,, ah tidak,, aku mencintainya, aku ingin dia memberikanku kesempatan agar bisa membuatnya bahagia, namun ia selalu menolak" sedikit tertahan jimmy tetap melanjutkan pembicaraannya "faira menyukaiku sebagai teman namun enggan untuk melanjutkan perasaannya, ia tau jika itu terjadi akan rumit untukku, untukmu, ibumu, ayahmu, orangtuaku, bahkan ia juga akan rumit dengan berbagai kritikan masyarakat sekitar" menepuk pundak jeon dan menatap jeon "kau pasti mengertikan seperti apa kejadiannya jika kami bersama" jimmy tersenyum tipis.


"jika saling mencintai kenapa harus memikirkan orang lain?" ucap jeon beralih


"ia menyukaiku saja tidak mencintai, dari awal aku tau hatinya bukan untukku dan tidak akan pernah untukku" jimmy sedikit melangkah kedepan membelakangi jeon


"aku pikir kalian akan bersama setelah kami berpisah, bukankah kau juga waktu itu berkata demikian" jeon mulai serius bicara dengan jimmy


"saat itu aku hanya ingin melihat reaksimu, apa kau mencintainya atau tidak"


"lalu apa yg kau dapatkan dari reaksiku" tanya jeon


"kau mencintainya"


ucapan singkat jimmy membuat jeon terdiam ia menyadari jika sejak itu ia sudah mencintai faira namun ia selalu membohongi dirinya sendiri dengan berdalih menyetujui hubungan faira dan jimmy.


"kenapa kau diam" jimmy berbalik menatap jeon yg tertunduk diam


"aku kecewa saat itu denganmu, jika saat itu kau sudah mencintainya kenapa kau mau bercerai dan tidak berusaha memperbaikinya?"


"dia sangat membenciku, aku tidak ingin dia semakin membenciku dengan memaksanya tetap tinggal bersamaku" jeon dengan suara pelan mengatakannya dengan raut wajah dan mata yg merah ingin menangis namun di tahan.


"aku pikir aku akan mudah melupakannya, aku pikir dua atau tiga minggu dia akan benar benar hilang dari pikiranku, tapi ia selalu muncul dalam benak bayanganku" berusaha menutupi air matanya yg jatuh dengan berbalik membelakangi jimmy "rasanya sangat sakit, dadaku seperi sedang di remas, bernafaspun aku merasa susah"


mendengar penuturan jeon itu membuat jimmy ikut merasakan sakitnya.


"itulah rindu" ucap jimmy


"kau benar" jeon mengangguk


"kenapa kau tidak memintanya kembali"


ucapan jimmy membuat jeon tersadar dari kesedihannya ia seakan mendapatkan semangat mendengar ucapan jimmy


"apa ia akan mau?" tanya jeon dengan polos padahal ia tau jimmy juga tidak bisa memastikan apa yg akan terjadi kedepannya, namun ia ingin mendengar jawaban jimmy yg mungkin bisa saja membuatnya bersemangat.


"bagaimana kita tau jika tidak mencobanya'' jimmy pun pergi meninggalkan jeon sendiri, jeon sejenak mematung namun ia langsung merasa punya harapan.

__ADS_1


"bukan hanya mencoba aku akan berusaha" ucapnya menyemangati dirinya sendiri lalu beranjak masuk untuk beristirahat.


__ADS_2