
untuk ke sekian kalinya clara menelpon jeon akhirnya di angkat oleh jeon
"kamu dimana kok di matiin terus"
"berhenti menelponku aku tidak ingin bicara denganmu" jeon pun langsung menutup telponnya
jeon melakukan itu bukan tanpa sebab, sebelumnya jeon ke tempat clara, ia ingin membicarakan tentang perceraiannya pada clara, namun ia malah melihat clara sedang bermesraan dengan mantan suaminya di atas kasur, jeon pun tidak sengaja mendengar jika mereka akan rujuk, clara yg melihat jeon saat itu tengah berdiri melihat yg di lakukan clara berusaha mengejar jeon namun tidak berhasil.
di dalam mobil jeon merasa hampir gila jadi dia memilih pulang ke apartemennya dia membawa mobilnya dengan sangat cepat.
"itu seperti mobil jeon, kenapa dia ngebut banget" ucap jimmy yg baru saja di salip jeon
faira hanya diam dan memperhatikan mobil jeon yg melaju dan sudah hampir tak terlihat.
setibanya di rumah
"kamu mau mampir dulu gak" ucap faira yg sudah turun dari mobil jimmy
"gak, aku mau ke rumah sakit dulu kamu istirahat aja dulu"
"ya udah hati hati ya" faira melambaikan tangannya. fairapun masuk ke apartemennya dan merebahkan badannya di kasur ia seperti merindukan rumahnya.
"ahhh, enak banget" sambil mengelus elus kasurnya.
di saat bersamaan jeon juga membaringkan badannya ia mengingat kejadian hari ini, melihat clara bermesraan dengan mantan suami juga melihat faira bermesraan dengan sepupunya membuat jeon sangat marah dan melempar vas bunga yg berada di sampingnya hingga pecah.
seseorang masuk ke apartemen jeon, jeon yg menyadari ada seseorang masuk langsung berdiri "fayy......." ia mengira yg datang adalah faira tapi ternyata clara
"fay?, kau sedang berharap dia yg datang" ucap clara
"untuk apa kau kesini?"
"jeon aku terpaksa melakukan itu, ayahku ingin kami rujuk"
"kau tidak perlu menjelaskan apa pun, di sini aku yg salah, aku adalah penghianat tapi aku juga tanpa malu merasa dikhianati"
"jeon....." rengek clara dengan wajah manja berharap jeon akan luluh seperti biasanya
"pergilah rujuk saja dengan suamimu, aku tidak akan mengganggumu lagi"
"berhentilah bertingkah jeon"
"kau yg bertingkah" ucap jeon berteriak
"kau...." clara terkejut tidak biasanya jeon berteriak padanya.
"kau tidak ingin kehilangan aku, tapi juga tidak ingin kehilangan suamimu, kau hidup dengan rasa keraguan dan itu bukan hanya merugikan dirimu tapi juga merugikan hidup orang lain ra" jelas jeon dengan suara berat.
clara berusaha memeluk jeon namun selalu ditolak dan dorong jeon.
"pergilah sebelum aku berbuat buruk" ucap jeon sembari mendorong clara keluar dan tersungkur jeonpun menutup pintunya dengan keras.
"kau benar benar membuatku malu jeon" ucap clara sambil merapikan rambutnya dan berdiri meninggalkan apartemen jeon.
jeon duduk terdiam mematung "aaaakkkkkhhhh" teriak jeon sambil mengacak acak rambutnya, ia kemudian berdiri mengambil jaket dan kunci mobilnya yg berada di atas meja, ketika ia hendak keluar asistennya masuk.
"kau mau kemana lagi"
"kau tidak perlu ikut" ucap jeon sambil meninggalkan asistennya pergi
"astaga udah sore banget" faira terbangun dari tidur siangnya dan bergegas bersiap untuk bertemu pengacaranya.
faira pun bersiap siap untuk keluar ia bertemu dengan pengacaranya di sebuah cafe, faira langsung duduk bicara dengan pengacaranya.
"kau jangan plin plan untuk bicara besok, jika dia tetap tidak ingin bercerai kau bisa menggugatnya dengan perselingkuhan"
"baiklah" ucap faira sembari berpamitan dengan pengacaranya lalu pergi, rasanya sangat malas membahas perceraian yg rumit itu, "entah kenapa sekarang jeon merumitkan segalanya" batin faira sambil menggelengkan kepalanya
"nanti aja ah pulangnya, jalan jalan dulu gih" gumam faira sambil berjalan menuju taman, tak di sengaja ia bertemu nedim yg tengah duduk di taman.
"nedim"
__ADS_1
"eh faira, apa kabar" ucap nedim langsung berdiri sambil menjulurkan tangannya
"baik, kamu sama livy?"
"iya lagi ke toilet orangnya"
"owhhh" faira duduk di samping nedim.
"kau sekarang kerja" tanya nedim tanpa menatap faira
"aku lagi mulai bisnis bunga nih"
"owhhhh" nedim menganggukkan sedikit kepalanya, nedim sesekali menatap faira sambil mengelus pahanya sendiri.
"apa kau baik2 saja sekarang" ucapnya nedim ragu, meski ia tau faira sedang tidak baik baik saja.
faira hanya diam ia menatap nedim dan sesekali tersenyum
"bodohnya aku" nedim tertunduk "tentu saja kau sedang tidak baik baik saja"
"yah, begitulah,,, rumit" jawab faira singkat, namun nedim tidak ingin mengulik lebih dalam karna ia merasa takkan membantu apa pun, lagi pula ia tau faira tidak akan menceritakan apapun.
/"jika terus memaksanya bercerita sama saja mengorek luka yg belum kering" / batin nedim
"semangat yah" ucap nedim sambil menyemangati faira.
"fayy, apa kabar" suara nyelekit khas livy terdengar dari samping membuat faira sedikit terkejut
"aaa,, baik baik kamu gimana" tanya balik faira pada livy yg baru saja tiba
"baik, aku sama nedim bulan depan married lo !!!"
"benarkah,? selamat yaa, semoga lancar sampai hari H" sambil memeluk livy
"makasih kamu mau ikut nonton gak, kita mau nonton nih" ajak livy
"gak papa nih aku nyempil, aku lagi bete nih, maulah kalo di ajak" ucap faira
mereka bertiga pun masuk ke bioskop untuk menonton.
"yg romantis aja sayang" ucap livy sambil menggandeng lengan nedim, faira yg berada di belakang mereka tersenyum tipis melihat mereka, bukan cemburu tapi lebih ke bahagia.
"okke" ucap nedim seraya membeli tiket
"fay kamu gak papa kan nonton yg romantis2"tanya livy yg menoleh ke faira
"gk papa lah emang kenapa"
"gue kan tau sekarang perasaan lu amburadul"
"udah dari dulu vy, udah kebal"
"haaaahhh'' livy terkejut mendengar penuturan faira.
"ayo masuk aja ah". ucap faira mengelak sambil mendorong livy masuk ke ruangan bioskop.
saat tengah menonton ponsel faira berbunyi
"jeon!!" mengerutkan dahinya melihat nama itu, "ngapain nelpon ni orang" faira langsung mematikan ponselnya dan kembali menonton.
"sial kok gak di angkat si, pasti dia ama jimmy" jeon saat itu tengah berada di depan apartemen faira menyadari faira tidak ada di apartemen karna sudah berapa kali menekan bell namun tidak ada jawaban.
selesai menonton pun faira pamit dengan livy dan nedim
"ya udah aku duluan ya," ucap faira sambil mengecek ponselnya yg banyak panggilan tak terjawab dari jeon
"gak bareng aja nanti kita antar" sahut nedim
"gak usah,, aku udah mesen taksi, tu taksinya datang" menunjuk ke arah taksi yg mendekat
"owh, ya udah ati ati kalo gitu" ucap nedim sambil melambaikan tangannya dan hanya di jawab faira dengan anggukan.
__ADS_1
jeon yg berada di mobil sedari tadi mencoba menelpon faira untuk yg kesekian kalinya namun kali ini ia melihat faira dari kejauhan yg baru keluar dari taksi dan akan masuk gedung. ia melihat faira berhenti mengecek ponselnya karna telpon dari jeon namun tidak di angkat meskipun faira tau itu telpon dari jeon. melihat hal itu jeon sangat marah ia menenggak minuman beralkohol dan turun dari mobil untuk mengejar faira.
"kau sengaja ya tidak mengangkat telponku?" gumam jeon dengan jalan sedikit sempoyongan ingin mengejar faira
faira yg baru saja masuk ke apartemennya tiba tiba jeon ikut masuk sambil merapatkan badannya pada faira membuat faira terkejut.
"oh tuhaaannn" teriak faira sambil menarik nafasnya karna terkejut
jeon langsung menutup pintu apartemen dengan menendangnya
"ngapain sih kesini lagi, keluar gak,"ucap faira sambil menunjuk keluar.
jeon tidak mengatakan apa apa ia hanya langsung masuk dan duduk di sofa tempat faira biasa menonton. faira yg melihat tingkah jeon menarik nafasnya berusaha sabar dan ia berdiri di depan jeon sambil melipat kedua tangannya.
"mau apa cepet ngomong aku mau istirahat nih" tanya faira tapi jeon tetap diam dan berpura pura ingin menonton tv. faira yg muak tidak ingin meladeni jeon ia memilih untuk masuk ke kamarnya, namun baru saja faira berbalik ingin ke kamar
"kenapa kamu gak angkat telponku dari tadi, aku udah puluhan kali nelpon kamu"
"gak papa, emang mau ngomong apa, omongin aja sekarang" sahut faira dengan wajah judes
"kamu pasti gak mau keganggu kan asik pacaran"
"apaan sih, gak jelas banget" faira yg merasa jeon asal bicara meninggalkan jeon masuk ke kamarnya. namun jeon menarik tangan faira hingga faira berbalik seakan akan mereka berpelukan. jeon melingkari tangannya di pinggang faira dengan kuat wajah mereka sangat dekat seperti akan berciuman.
"kamu ingin cepat bercerai denganku karna ingin bisa sama jimmy kan?"
"aku ingin bercerai denganmu karna aku muak lihat kamu" tegas faira sambil berusaha mendorong jeon yg sedari tadi menahan badan faira.
"lepasin gak" ancam faira
jeon yg melihat faira berusaha lepas darinya mencium faira dengan paksa, faira berusaha melawan dengan memukul dada jeon namun itu tidak akan terasa pada tubuh atletis jeon, bukannya melepaskan ciumannya jeon malah mendekapnya dengan kuat.
baru saja jeon melepas ciumannya plaaaaaakkkk faira menampar jeon sekuat tenaganya.
"berhenti melakukan apa pun semau mu jeon" dengan bibir basah faira seperti terengah engah karna jeon menciumnya dengan kuat sampai membuatnya sulit bernafas
"kenapa, karna sekarang kau hanya akan mencium jimmy''
"apa yg kau bicarakan" mengerutkan dahinya
"kau kemarin berlibur bersamanya kan, kau bahkan ciuman dengannya di tengah kemacetan tadi siang di mobil" sambil melangkah mendekati faira
faira yg mendengar ucapan jeon pun diam dan terheran
"tidakkah kau malu belum resmi bercerai denganku tapi sudah berlibur bersama sepupu suami sendiri"
"whaaaatt,? malu ?"ucap faira yg benar2 kehabisan kata menanggapi jeon
"ya, kau mengatakan jijik dengan clara karna berhubungan dengan 2 pria, lalu apa dengan dirimu"
"bagaimana bisa kau menyebutnya sama, pernahkah kita bersikap layaknya suami istri selama ini, meskipun kau bisa berpura pura melakukannya, kau tidak melakukannya"
"meskipun begitu orang tetap menganggap kau salah nantinya" sahut jeon
"aku tidak pernah punya hubungan dengan jimmy, jika pun nanti kami bersama itu sudah bukan urusanmu" ucap faira
"kalau kau tidak ingin pergi, aku yg akan pergi" ucap faira lagi
faira yg tidak ingin berdebat mengambil tasnya dan ingin keluar.
"kau berbohong liburan kemarin kau pasti melakukannya kan kau pasti menikmatinya dengan jimmy" ucapan jeon menghentikan langkah faira
"ya aku menikmatinya, lantas apa urusannya denganmu" ucap faira yg semakin kesal dengan tuduhan jeon
"FAIRAAAA" teriak jeon kesal karna jawaban faira, namun faira seakan tuli ia tetap berjalan menuju pintu ingin pergi
ketika faira ingin membuka pintu hendak keluar jeon langsung menarik faira dengan paksa ia menggendong faira di bahunya gadis itu menjerit meminta di lepaskan, jeon membawa faira ke kamar dan melempar badan faira ke atas kasur tanpa ia ketahui kepala faira sedikit terhantam pinggiran kasur yg cukup keras. faira berusaha memberontak tapi jeon lebih kuat di bandingkan dirinya terlebih rasa sakit akibat benturan kepalanya membuat faira semakin tidak kuat melawan.
jeon yg di pengaruhi alkohol tidak mempedulikan penolakan faira. ia terus mencium bibir faira sampai turun dan mengecup leher faira ia membuka paksa baju faira sampai bajunya robek sambil mengatakan "ini yg kau mau kan, kau bilang aku tidak pernah bersikap layaknya suami, aku akan seperti suamimu malam ini" menindih faira sambil membuka bajunya jeon tidak bergeming dengan pemberontakan faira.
faira hanya mengucapkan "berhenti jeon aku mohon" air matanya keluar dari pelupuk matanya, sambil melihat jeon yg sudah di atas badannya tanpa sehelai benangpun, ia berusaha membuka paksa pakaian faira, yah akhirnya badan faira tidak tertutup apapun.
__ADS_1
faira hanya bisa memohon jeon untuk berhenti tapi ia sangat lemah untuk melawannya. pria berbadan kekar itu mengunci tangan faira dan mulai meraba dan mencium tubuh mulus faira. faira yg awalnya berteriak, mulai diam nafasnya semakin tidak beraturan saat jeon dengan cepat mencium badannya, entahlah ia tidak pernah merasakan hal seperti ini sebelumnya sangat asing baginya terlebih jeon melakukannya seperti seorang penjajah, membuatnya merasa tidak di cintai, buruk, hanya pelampiasan, rasanya ingin memberontak, tapi semua sendi terasa sangat lemas dan membiarkan jeon menyelesaikan apa yg ia mulai, faira benar benar pasrah dengan rasa sakit di area kewanit**n*ya saat jeon mulai beraksi.