
"ya tuhan ijinkan aku membuatnya bahagia, tolong bangunkan dia" doa jeon di balutan tangisannya.
dua hari berlalu pasca lahiran faira masih tidak sadarkan diri, jeon lupa dengan segalanya berganti pakaianpun tidak, jangankan pakaian ia juga lupa untuk makan rasa khawatir takut dan sedih membuatnya tidak lagi mengerti tentang rasa lapar.
jeon di ijinkan untuk menemani faira dalam ruangan, meski sudah terlalu sering menangis air matanya masih mengucur deras melihat wanita yg ia cintai tidak sadarkan diri dengan berbagai alat yg di pasang di tubuhnya, entahlah apa yg terjadi pada faira merupakan kejadian langka kondisinya mulai stabil tapi ia tak kunjung sadar.
ibu dan ayah jeon tiba dan langsung mendatangi jeon yg masih berada dalam ruangan faira
"jeon,,," panggil sang ibu menyadari lamunan jeon.
pria dengan wajah bengkak akibat menangis itu perlahan mendekati ibunya dan menangis dalam pelukan sang ibu.
"ma,, aku ingin memulai yg baru dengannya tapi dia belum memberiku jawaban" ucap jeon dalam pelukan sang ibu,
"dia akan bangun dan memberimu jawaban nak, dia pasti akan bangun"ucap ibunya sambil mengelus kepala jeon yg berada di bahunya.
"dia akan sadar, mungkin bukan untuk memberimu jawaban, tapi untuk anak anaknya" ucap sang ayah membisukan tangisan jeon.
"iya, ayah benar tidak masalah jika dia tidak memberiku jawaban, aku hanya ingin dia bangun setidaknya untuk anak anaknya" jeon mengusap pipinya, ia sadar sekarang yg sangat memerlukan faira adalah dua anak laki lakinya yg kulitnya masih merah.
jeon mendekati faira yg masih terpejam mendekatkan wajahnya pada faira sambil mengelus rambut wanita yg ia cintai setahun belakangan ini "bangunlah anak anak kita membutuhkanmu, bahkan aku juga sangat membutuhkanmu" jeon mengecup kening faira sangat lama seperti tidak ingin melepaskan kecupannya.
sudah dua minggu berlalu faira belum juga menunjukkan kesadarannya, beberapa hari lalu jeon terpaksa pergi ke negara lain untuk urusan, sebenarnya ia tidak ingin meninggalkan faira namun ia terpaksa pergi, dengan berharap ketika ia nanti datang kembali keadaan sudah tidak sama menyakitkannya. di rumah sakit itu hanya ada ibu jeon, jimmy dan istrinya nadine.
"apa jeon akan datang hari ini?" tanya jimmy sambil menggendong salah satu anak faira.
"iya, mungkin sebentar lagi" sahut ibu jeon sambil memberikan susu pada cucunya yg satunya.
"apa bibi tidak mencari baby sitter untuk mengasuh anak anak ini" tanya nadine yg berdiri di samping jimmy memperhatikan bayi yg tengah jimmy gendong.
"bibi juga sebenarnya ingin, tapi kita masih di negara orang lain jadi bibi rasa akan susah untuk komunikasinya jika mencari baby sitter dari negara ini, untuk sementara biar bibi saja yg merawat mereka" sahut ibu jeon karna ia juga kurang pasif dalam berbahasa makanya takut jika punya baby sitter yg tidak sebahasa.
tidak lama jeon tiba dengan kemejanya ia datang dan langsung mencium anak anaknya "ayah rindu kalian" mengelus pipi anaknya bergantian.
__ADS_1
"apa faira belum juga sadar?" jeon bertanya pada ibunya sambil melihat faira yg masih terbaring tak sadar
ibu jeon hanya menggeleng, jeon kembali resah, biasanya ia merasa dua minggu adalah hal yg cepat tapi dua minggu tidak sadarnya faira terasa sangat lama untuknya. jeon kemudian menggendong satu anaknya dan mendekati faira, dengan pelan ia menaruh satu anaknya di dada faira berharap faira bisa sadar ketika merasakan detak jantung anaknya, meskipun ini bukan pertama kalinya jeon lakukan namun ia masih berharap kesadaran faira mungkin saja saat memeluk anaknya.
pelipis mata faira berkedut dengan sigap jeon mendekati wajah faira memastikan yg ia lihat, benar saja dengan sangat susah faira hanya bisa membuka salah satu matanya, dia sadar hanya saja kondisinya belum stabil.
"aaa- aa" ucap faira gagap sambil mengelus pelan punggung anaknya yg berada di pangkuannya.
meski satu kata belum terucap jelas di mulut faira jeon sudah sangat senang ia bahkan sampai menangis sambil mengelus rambut faira.
" terima kasih sudah bangun'' ucap jeon lalu meraih punggung tangan faira yg sedang memeluk anaknya.
faira hanya mengangguk ibu jeon kemudian mendekati faira sambil menangis, "cepat pulih nak, anak anakmu merindukanmu" ucap ibu jeon dan faira hanya bisa mengangguk lemah.
wajah jeon kembali berseri badai yg ada di hatinya perlahan mulai terasa berlalu, ia sengaja meliburkan dirinya dari pekerjaan dan menyibukkan dirinya untuk merawat faira dan kedua anaknya, meski sampai sekarang faira terlihat masih menolak keberadaan jeon, tapi jeon bersikukuh untuk menjaga faira karna ia tau faira tidak punya orang terdekat yg bisa menjaganya terlebih dalam keadaan sekarang.
malam hari saat semua orang sudah tertidur faira bangun dari ranjangnya dengan pelan ia berjalan sambil mengiring tiang infusnya, ia membuka tirai jendela rumah sakit dan melihat betapa luasnya ruangan yg di pesan jeon hanya untuk perawatan faira dan anak anaknya.
"apa yg kau lakukan kali ini benar benar tulus" batin faira sambil melihat ke arah jeon yg tidur di sofa panjang sambil melipat tangannya di dada.
bahkan sampai saat ini pun faira masih belum bisa mempercayai ketulusan jeon, ia selalu curiga dengan apa yg jeon lakukan, /aku mencintaimu/ kata yg di ucap jeon selalu terdengar tabu baginya, akibat luka lama ia sangat susah untuk mempercayai setiap kata yg jeon ucapkan.
setelah cukup lama diam menatap malam faira kembali ke tempat tidurnya, lagi lagi ia menatap jeon yg tidak jauh darinya faira terpaku menataap wajah tampan jeon yg terlihat sangat lelah dengan kantung mata dan rambut yg tidak teratur "terimakasih sudah membantu merawat anak kita di saat aku kritis" batinnya dan hampir saja meneteskan air mata.
pagi harinya jeon baru saja bangun pria dengan wajah sembab itu kurang tidur karna setiap 2 jam sekali ia harus bangun membuatkan susu untuk anaknya. saat ia bangun matanya langsung tertuju pada faira yg tengah berdiri sambil menggendong anaknya dengan jarum infus yg masih tertancap pada tangannya dengan cepat jeon menghampiri faira dan berusaha mengambil anaknya dari gendongan faira.
"apa yg kamu lakukan?" tanya jeon dengan wajah panik lalu mengambil anaknya dari gendongan faira
"kenapa,?" tanya faira sambil mengerutkan dahinya keheranan "aku ingin menggendongnya" ucapnya lagi
"kau boleh menggendongnya saat kondisimu benar2 sehat, mereka akan ada di sini jadi jangan khawatir" sambil menaruh kembali anaknya ke tempat tidur dengan pelan
"tapi aku hanya ingin menggendongnya" ucap faira dengan raut sedih dan hampir menangis
__ADS_1
jeon langsung menyadari dengan tindakannya dan berfikir faira mungkin tersinggung, ia langsung memeluk faira "jangan tersinggung fay, aku tau kondisimu sangat lemah, aku takut kondisimu sulit stabil jika kamu memaksakan dirimu, kau harus benar benar sembuh dulu" sambil mengelus pelan rambut faira.
faira hanya mengangguk ia juga menyadari kondisinya juga masih lemah, bahkan untuk menggendong anaknya ia sudah merasa sangat lelah.
"jangan sedih, nanti juga kamu bakalan bisa meluk gendong anak kita sepuasnya" ucap jeon lalu mengusap air mata faira dan menggandengnya menuju tempat tidur untuk beristirahat.
"apa kau ingin makan sesuatu" tanya jeon
"apa saja, aku hanya ingin cepat sembuh" sahut faira sambil perlahan duduk di ranjang perawatananya.
dengan sigap jeon mengambil makanan yg sudah di siapkan rumah sakit dan menyuapi faira, tapi faira ingin makan sendiri dia tidak ingin di suapi oleh jeon, dengan sabar jeon membiarkannya dan menunggu faira selesai makan memastikan faira menghabiskan makannnya.
"kau belum memberi nama anak kita?" tanya faira sambil sesekali menyuapi makanannya
"ada beberapa nama yg sudah aku siapkan tapi aku juga ingin dengar nama apa yg kau siapkan dan juga persetujuanmu"
"bagaimana bisa kau membiarkan anakmu hampir satu bulan tanpa nama, kau bisa memanggilnya apa saja" sahut faira
jeon hanya tersenyum, entah tersenyum karna kelalaiannya atau ia senang karena faira mulai cerewet padanya.
"bagaimana jika zoan dan zein"
"kau menginginkan nama itu?" tanya faira sambil senyum smirk
"iya biar tidak jauh dari namaku" sambil menggaruk tekuknya "apa kau tidak suka?" tanyanya sedikit sungkan
faira hanya tersenyum sambil sedikit menggeleng "aku suka itu nama yg bagus" sambil melanjutkan melahap makanannya.
sejenak terdiam ibu jeon akhirnya datang bersama ayah jeon, karna merasa sulit menginap di rumah sakit mereka malam tadi tidur di hotel yg tidak jauh dari rumah sakit. sambil membawa parcel buah di tangannya "kau makan dengan baik" sambil mengambil nampan makanan yg ada di pangkuan faira. "makanlah buah ini" ucapnya lagi sambil memberikan sebuah anggur hijau pada faira dan hanya di jawab faira dengan anggukan.
"mama benar2 minta maaf sama kejadian dulu" duduk di samping faira menunduk malu "padahal mama udah tau mama salah tapi gak langsung minta maaf sama kamu, seandainya mama gak bertindak seperti itu semua ini mungkin gak akan serumit ini kan fay?" ucap ibu jeon
faira menggeleng dan langsung meraih tangan manta ibu mertuanya itu "apa yg telah terjadi memang pantas terjadi, jadi tolong jangan terlalu menyesal"
__ADS_1
"kenapa kamu gak mau manggil mama sekarang?" tanya ibu jeon karna faira tidak memanggilnya dengan sebutan apapun sekarang. faira hanya terdiam, ia juga merasa kenapa mulutnya terasa rumit untuk menyebut mama lagi, apa karna sudah tidak ada keterikatan, atau karna rasa canggung yg belum terselesaikan.
"kamu harus tetap manggil mama, tentang ucapan mama dulu yg ngelarang kamu manggil mama tolong jangan di ingat faira" ibu jeon merayu faira dengan menggenggam kembali tangan faira sambil mengelusnya. lagi lagi faira hanya menjawab dengan anggukan saja.