
berdiri di depan jendela apartemen sambil memandang hiruk pikuk ibu kota kedua tangan saling bersilangan memeluk badan sendiri, jeon sangat gugup menunggu faira keluar dari toilet untuk membicarakan tentang perasaannya.
"apa yg ingin kau bicarakan?"
suara itu mengejutkan jeon yg sedang melamun sontak membuatnya berpaling menoleh ke arah sumber suara.
"faira....."
"ya katakan sekarang, aku ingin segera pulang" cetusnya sinis
"bisakah kau bicara baik baik denganku, aku ingin bicara tapi kau selalu cetus begitu membuatku bingung bagaimana memulai percakapan ini" kesal jeon karna faira selalu judes menjawabnya
"apa kau merasa harga dirimu terluka" ucap faira sambil mendekat dan menatap jeon
"bukan begitu......" belum selesai jeon bicara ponsel jeon berbunyi membuat mereka akhirnya sama sama menjauh, jeon yg mengangkat telpon tidak menyadari jika faira langsung pergi dari apartemennya.
jeon yg mendapat telpon harus segera pergi ke lokasi syuting, dengan sedikit kesal jeon masuk ke kamarnya dan bersiap.
"orang yg punya sifat arogan memang tidak akan pernah berubah" ucap kesal faira yg ingin memasuki lift.
lift yg sudah menunjukkan lantai satu pun terbuka, saat hendak melangkah keluar lift faira terhenti sejenak melihat seorang wanita berdiri di depannya dengan lagak sombong namun langsung menunjukkan ekspresi yg kebingungan saat melihat faira.
meski sempat sejenak terdiam faira yg masih memakai dress pestanya tadi malam dengan kepala tegak melewati clara dengan angkuh
"bagaimana kau bisa disini" ucap clara melirik faira tanpa berbalik badan.
faira pun menghentikan langkahnya
"menurutmu bagaimana?" ucap faira dengan tertawa sinis tanpa menoleh.
clara berbalik badan menatap faira yg masih membelakanginya
"setelah melayani rama kau pun menemui jeon untuk merayunya?" ucap clara dengan nada tinggi.
faira seakan terkejut mendengar penuturan clara ia langsung berbalik menghadap clara dengan mata dan wajah marah, faira mendekati clara dan menamparnya dengan keras
plaaaaakkkkkk
"apa yg kau beritahu pada rama tentang aku dan jeon, sampai ia berani menghinaku seperti tadi malam" faira mencengkram baju clara dengan kuat.
"kenapa kau terlihat kesal, bukan kah aku membantumu mencari nafkah" sambil tertawa clara tidak menunjukkan rasa bersalahnya pada faira.
faira yg sangat marah kembali melayangkan tangannya ingin menampar clara lagi, namun clara berhasil menahan tangan faira, dengan cepat clara menampar balik faira dengan tangan satunya sampai faira tersungkur.
"ini belum setimpal dengan yg aku rasakan saat ayahku membenciku karna video yg kau kirim dulu" ucap clara dengan wajah kesal mengingat sampai sekarang ayahnya masih membenci clara karna perselingkuhannya dengan jeon dulu.
faira kembali berdiri dengan wajah tegap tanpa menghiraukan orang sekitar yg tengah memperhatikan mereka berdua.
"kau lagi lagi mencari masalah denganku, bukankah awal dari semua ini idemu? HAAAHH ?"
"video bug*lmu perlukah sekarang aku menyebar luaskan ke publik, agar semua orang tau gadis yg selalu memerankan karakter baik ternyata punya hati iblis" ancam faira dengan suara langtang membuat orang yg berada di sekitar berbisik mendengar ucapan faira. faira dengan tatapan tajam mendekati clara seakan siap menerkamnya.
"jangan mengancamku, aku tau video itu sudah hilang" clara kembali bergetar takut dengan ancaman faira
faira melangkah mendekati clara dan berbisik di telinganya
__ADS_1
"ternyata menggertakmu melalui ayahmu tidak membuatmu berhenti menggangguku, jika kau berulah lagi setelah ini aku akan memastikan kau hancur hingga kau tidak punya keinginan untuk hidup lagi" ucap faira dan berbalik meninggalkan clara dengan berjalan tegap faira melangkah menjauh dari clara dan melewati beberapa orang yg memperhatikannya.
clara menarik nafasnya dengan terengah engah ia sangat marah tapi ternyata ia salah masuk kandang, ia tidak menyangka jika gadis biasa seperti faira sangat berbahaya karna tidak bisa melakukan apapun clara berteriak.
"AAAAAAKKKKKKKKGGGHHHHHHH" sambil mengacak rambutnya ia menangis dan terus mengumpat pada faira, tanpa ia sadari ada jeon di belakangnya yg sedari tadi melihat apa yg ia lakukan.
"jeonn......"
"apa kau dan rama yg merencanakan kejadian semalam"
"bukan jeonn....."
"aku ternyata kurang mengenalmu meski sudah bertahun lamanya bersama" dengan suara kecewa jeon seakan tau jika dalangnya adalah clara.
jeon melangkah dengan tasnya meninggalkan clara sendiri di loby gedung apartemen itu.
"jeon.!!!!!!'' teriakan clara tidak di respon jeon.
hari itu juga faira langsung memutuskan untuk pulang ke desanya, dengan segala bentuk tekanan yg menghampirinya beberapa hari itu membuat faira menyesali keputusannya pergi ke pesta padahal ia sudah berjanji tidak ingin berhubungan apapun pada orang yg berada di lingkungan jeon maupun clara.
"seharusnya aku tidak perlu pergi kemarin, hal yg seharusnya bisa aku lupakan jika di desa aku malah melukai diriku sendiri dengan kembali kesini" sesal faira sambil menyusun barang barangnya bersiap untuk pergi.
setelah selesai dengan pekerjaannya jeon mencoba mencari faira di hotel tempat faira menginap, meski tidak yakin ia mencoba bertanya ke resepsionis
"saya ingin bertemu seseorang bisakah anda membantu saya" ucap jeon sambil mengetuk meja resepsionis pegawai hotel.
"atas nama siapa pak?"
"faira"
"sebentar ya saya cek" mengetik komputernya
"oh baiklah, terima kasih ya" ucap jeon dan beranjak pergi meninggalkan hotel.
"kau sebenarnya tinggal dimana sekarang fay, apartemenmu kau sewakan, lalu kau tinggal dimana?" gumam jeon dalam mobil.
"jimmy??? " seketika jeon mengingat jimmy dan langsung mengambil ponselnya untuk menelpon sepupunya tersebut. namun beberapa kali menelpon jimmy tidak kunjung mengangkat telponnya.
saat ia merasa kesal dengan jimmy karna tidak mengangkat telponnya jeon mendapat kiriman foto dari ibunya
(jimmy akan bertunangan bulan depan di london) pesan beserta foto jimmy dengan seorang perempuan membuat jeon kaget matanya membulat besar serta mulutnya menganga tidak percaya.
"bukankah dia bilang ingin bersama faira, bagaimana perasaan faira jika tau jimmy akan bertunangan" jeon bingung dengan yg terjadi selama ini ia tidak berjuang mencari faira karna berpikir faira juga menyukai jimmy dan berencana bersama ketika mereka sudah bercerai, namun foto dan pesan yg di kirim ibunya membuat ia semakin yakin untuk mencoba mengutarakan perasaannya dan ingin berjuang mengambil hati faira kembali.
"apa ini jawaban tuhan akan do'aku, apa tuhan memberiku kesempatan" ucap jeon dengan rasa haru di tengah kebisingan jalanan kota.
saat matahari mulai tenggelam faira juga tenggelam dalam rasa kesal dan sedih dalam hatinya sambil mengiring kopernya keluar bus faira dengan lemas berjalan menuju rumahnya
"jangan terlalu banyak menyesal fay" ucapnya menyemangati dirinya sendiri sambil perlahan masuk ke rumahnya dan menuju kamarnya tersayang.
faira yg baru saja berbaring di kasur di hampiri oleh bibi rima dengan makanan di tangannya, bibi rima langsung duduk di tepian kasur faira dan meletakkan makanan pada meja yg berada di samping tempat tidur faira. faira yg menyadari kedatangannya langsung duduk dan langsung menaruh guling pada pangkuannya.
"bibi membawakan makanan kau pasti belum makan selama di perjalanan" ucap bibi rima
"iya, terimakasih ya bi aku akan memakannya nanti" faira tersenyum manis.
__ADS_1
"makanlah yg banyak badanmu terlihat semakin kurus"
"benarkah?, aku memang tidak berselera makan akhir2 ini" sambil memperhatikan badannya faira menyadari jika ia mulai mengurus.
"kamu gak hamil kan?"
pertanyaan bi rima membuat faira membelalakkan matanya, ia ingin mengelak tapi ada beberapa hal yg ia ingat sehingga ia hanya diam kebingungan
"ada datang bulan gak?" tanya bi rima lagi
"apa sih bibi nih, gak mungkin lah" elak faira
" apa yg gak mungkin kamu kan kurang dari tiga bulan pisah" bibi rimapun beranjak meninggalkan faira setelah mengatakan kata kata yg membuat faira jadi bingung.
faira yg sudah di tinggalkan bi rima sendirian di kamar mulai gelisah, ia meraih ponselnya dan mengingat ingat kapan terakhir ia datang bulan dengan banyaknya masalah faira sedikit mengingat bahwa terakhir ia datang bulan sudah lumayan lama sekitar 3 bulan yg lalu.
"apa mungkin aku hamil?"
"tapi bagaimana mungkin aku hanya sekali melakukannya" berusaha meyakinkan dirinya dan meraih makanan yg di bawa bibi rima tadi, saat mencoba memakannya faira langsung merasa mual.
"uuueeeeeekkkkkkhhh"
berlari menuju kamar mandi, gadis itu semakin bingung dan takut.
"dari pada terus begini aku harus cepat memeriksanya"
malam itu faira mengambil tasnya dan langsung pergi keluar untuk ke rumah sakit terdekat yg ada di desanya.
karna rumah sakit yg ada di pedesaan jadi faira tidak terlalu lama mengantri dan langsung melakukan beberapa tes.
hasil tes sudah keluar faira yg berhadapan dengan seorang dokterpun khawatirnya mintaa ampun ia seakan tidak ingin mendengar kata kata yg akan keluar dari mulut dokter tersebut, dokter itu sedang membaca beberapa lembaran hasil tes dan mulai menatap faira
"dari yg kita tes bu faira sekarang sedang mengandung dan usia kandungan sudah 14 minggu"
ucapan yg sebenarnya faira takutkan terucap membuat faira diam mematung tanpa menjawab ucapan dokter
"kenapa ibu sangat lambat mengetahui kehamilan ibu, ini sudah 3 bulan lebih ibu seharusnya sudah minum vitamin"
faira menggeleng "saya benar hamil dok?"
dokter hanya mengangguk
"bagaimana bisa, saya hanya sekali melakukan hubungan kok bisa hamil sih"
dokter tersenyum lucu sekaligus heran dengan ucapan faira
"tidak perduli berapa kali, jika kau pernah melakukannya kemungkinan ya akan sangat besar, terlebih mungkin kau melakukannya saat masa subur"
faira hanya diam mendengarkan penjelasan dokter, bukannya tidak ingin mempunyai anak faira hanya sangat sedih kenapa ia harus hamil dalam kondisi seperti ini, banyak ketakutan dalam dirinya ia seorang yatim piatu meskipun terbiasa sendiri setiap orang pasti membutuhkan orang lain, terlebih saat sedang mengandung biasanya banyak wanita mengandung sangat membutuhkan suaminya apalah daya faira sudah terlanjur bercerai dengan jeon, ia bahkan mengingat kehamilannya terjadi bukan karna cinta melainkan keegoisan jeon dan paksaan, meskipun terjadi saat mereka masih sah suami istri bagaimana faira tidak merasa itu seperti pemerkosaan
dari awal menikahpun jeon tidak mempedulikan faira ia selalu bertingkah faira seperti parasit padahal ialah yg menyeret faira dalam masalahnya, kebencian perlahan muncul dalam hati faira setelah mengetahui alasan jeon menikahinya hanya sebagai alibi menutupi perselingkuhannya dengan clara.
selama satu tahun ia melawan tidak ingin di rendahkan, saat hatinya merasa ikhlas fairapun mengalah dengan pertempuran batin mereka dan menggugat cerai jeon, tapi entah mengapa jeon mulai tidak menerima tindakan faira, bukankah sejak awal ia ingin bersikeras bercerai dan kembali pada mantannya.
kejadian itupun terjadi satu minggu sebelum perceraian.
__ADS_1
"apa ia akan percaya jika ini anaknya" batin faira yg masih duduk berhadapan dengan dokter
"apakau mau USG untuk memastikan lebih lanjut?" pertanyaan dokter menghentikan lamunan faira dan ia dengan pelan mengangguk menyetujui saran dokter melakukan USG.