
jeon akan ke kantor hari ini di temani asistennya, sebelum masuk mobil jeon menghentikan asistennya
"ingatlah jangan sampai pak manager tau rencana kita ini" ucap jeon berbisik pada asistennya. asistennya hanya mengangguk memahami maksud dari bosnya tersebut
sesampainya di kantor mereka langsung menemui managernya dan meeting dengan klien, selesai meeting jeon pun menyuruh asistennya untuk memesan sebuah coffe.
"keluarlah belikan aku cofee latte" jeon langsung duduk dan bersandar pada sofa yg berwarna coklat dan cukup besar sambil memainkan ponselnya, tanpa memandang asistennya ia mengibaskan tangannya mengisyaratkan asistennya segera pergi
di tempat lain faira merasa tidak enak badan dan minta ijin pulang kepada pak doni.
pak doni pun mengijinkannya karna saat itu memang tidak terlalu sibuk, ketika di lift faira bertemu dengan asisten jeon mereka hanya berbalas senyum, faira yg tampak lelah menyandarkan badannya pada dinding lift dan sesekali memejamkan matanya cukup lama.
"kau sakit ,? kau terlihat pucat" tanya asisten jeon sambil melirik faira
faira langsung menegakkan badannya mendengar pertanyaan dari asisten jeon tersebut
"iya sekarang aku ijin pulang" sahut faira dengan lemas.
asisten jeon melihat faira dari ujung kaki hingga kepala ia tak berhenti manatap dan memperhatikannya faira sampai tubuh faira pun hilang dari pandangan matanya saat persimpangan jalan.
"apakah harus dia?" sambil terkekeh asisten jeon pun beranjak untuk membeli coffe di sebuah cafe yg berada tidak jauh dari gedung mereka.
sesampainya di apartemen jeon langsung berganti pakaian dan merebahkan badannya di kasur, asisten jeon pun menghampirinya
"pak bagaimana menurut bapak staff yg pernah ikut syuting di hutan pinus waktu itu" tanya asistennya sambil membereskan barang jeon mengambil baju di lantai yg asal di lempar oleh jeon
"yang mana,? ada banyak staf saat itu" tanya jeon sembari bangun dari tempat tidurnya dan mengelus elus jidatnya.
"gadis tinggi yg punya tahi lalat di bawah mata, yg saat itu hampir satu mobil dengan kita itu" menjelaskannya.
" maksudmu faira" perjelas jeon..
" iya dia, tumben bapak mengenal nama staf ini" tanya asistennya sedikit heran. karna memang benar jeon tidak pernah memperhatikan orang orang sekitar bahkan nama asistennya saja ia bisa lupa
"oohh dia yg aku ceritakan padamu saat menolongku dari kejaran fans waktu itu" jelas jeon dan kembali tengkurap ke kasurnya
"sepertinya dia orang yg tepat untuk rencanamu itu" ucap asistennya sambil mendekat dan duduk di pinggir kasur jeon menunggu tanggapan jeon.
jeon terdiam matanya memutar seperti sedang memikirkan sesuatu.
"jika kau setuju kau harus mendekatinya secepatnya" semangat asistennya karna dia berfikir faira orang yg tidak neko neko.
"bagaimana ya cara bicara padanya agar dia tidak tersinggung dengan pura2 berkencan denganku" tanya jeon yg bingung cara memulai percakapan nanti sambil membalikkan badannya dan menatap asistennya
"kau tidak perlu memberitahunya kau hanya mengencaninya dan kau akhiri beberapa bulan kemudian" tegas asistennya panjang lebar.
"kau benar" ucap jeon sambil menjentikkan jari tangannya.
faira yg tengah sakit sedang beristirahat di kamarnya mendapat telpon
zzzz zzzzz
"hallo," ucapnya lemas,
"ini aku jeon, bisa kah kita bertemu sebentar" tanya jeon.
dag dig dug jantung faira seketika berdebar mendengar suara dari sebrang sana ia sejenak terdiam memastikan benarkah suara jeon yg terdengar dari ponselnya itu.
"bisakah lain kali aku sedang sakit sekarang" jawab faira
"oh benarkah,? cepat sembuh ya lalu hubungi aku nanti"
"iyaa"
"kenapa dia ingin bertemu?"batin faira meski dalam keadaan sakit jeon yg hanya menelpon mampu membuat faira terlihat berseri seri,
matanya berputar ke atas seperti memikirkan sesuatu yg kotor namun tersadar dan memukul pelan kepalanya
"apa diaa.... ah tidak mungkin aku hanya remahan rengginang" ucapnya merendahkan diri.
tidak lama seseorang mengetuk pintu kamar faira. "tok tok tok" faira mengintip dari jendela. seorang kurir memberikan sebuah bucket bunga mawar besar beserta buah2an
"untuk mba faira" ucap sang kurir.
" oh dari siapa ya mas" tanya faira sambil mengambil bunga dan buah buahan itu.
"atas nama mr jeon mba" faira terkejut dan langsung berterima kasih seraya sedikit menunduk
ketika faira sedang melihat bunga itu ada pesan dari jeon yg membuat faira terkejut karna getaran ponselnya
__ADS_1
(apakau menyukainya) pesan itu berhasil membuat mulut faira menganga karna kaget fairapun langsung menelpon jeon
"kenapa kau mengirimkan ini"
"iya, itu ucapan terimakasih karna sudah membantuku waktu itu, apakau suka ?" tanya jeon
"yah aku suka terima kasih ya" faira seperti kehabisan kata kata dia lalu terdiam, dan bilang "ya sudah dulu aku akan beristirahat" ucap faira gugup padahal sebenarnya ia ingin bisa berbincang lebih lama lagi
"baiklah cepat sembuh" nada jeon sedikit manja membuat faira salah tingkah hingga mengangkat gelas yg sudah kosong ingin minum.
2 hari berlalu faira sudah sembuh dan akan bersiap masuk kerja lagi. sesampainya di kantor
"kau sudah sembuh fay?" ucap livy mendekati faira dengan beberapa barang di tangannya
"iya apakau kerepotan mengerjakan semua sendiri kemarin?"
"tidak masalah, tapi cepat bantu aku sekarang!" seru livy yg tengah kerepotan membawa beberapa barang di tangannya
faira tanpa bicara langsung membantu livy dan menyambut beberapa barang dari tangan livy
"FAIRAAA" pak doni memanggil faira dengan nyaring.
"ada apa pak" tanya faira sedikit cemas
"kau di suruh pak jeon keruangan latihan" ucap pak doni sambil memegang bahu faira dan terengah engah karna berlari mencari faira. "HAAAAHHH" semua staf yg berada di tempat itu langsung terkejut
"ada apa ini fai" ucap salah satu staf.
"aku juga gak tau" jawab faira sambil merapikan bajunya yg sedikit berantakan setelah menata beberapa barang
"ya sudah sana cepat" seru pak doni sambil mendorong faira
sesampainya di ruang latihan faira langsung masuk dan melihat jeon di temani beberapa kameramen,
"kau sudah disini" ucap jeon yg langsung menghampiri faira, faira mematung melihat badan jeon yg sexy dengan keringat sehabis latihan dance.
"ya" sahutnya sedikit gugup.
"bisakah kalian keluar sebentar" ucap jeon pada beberapa orang di situ tanpa melepaskan tatapannya pada faira yg sukses membuat jantung faira terpompa sangat cepat. sontak merekapun keluar meninggalkan faira dan jeon berduaan di ruangan itu, faira menjadi semakin gugup.
"duduklah disini " jeon mempersilahkan faira duduk di bangku tempatnya duduk tadi
"hah bukankah kau berjanji akan menemuiku setelah kau sembuh?" menatap faira yg masih berdiri
"iya aku berencana menemuimu pulang kerja (sangat gugup) tapi karna sudah disini baiklah apa yg ingin kau bicarakan"
"aku ingin makan malam denganmu malam ini bisa kah?" jeon kembali berdiri mendekati faira karna faira tidak ingin duduk
"bisa dimana ?" lagi lagi mata faira melihat tubuh jeon, sesekali ia membuang muka namun jeon berada tepat di depannya membuat ia tidak bisa berkutik, matanya seperti tidak ingin lepas memandang jeon dan badannya yg sexy
"aku sangat takut dengan paparazi bisakah kau datang ke apartemenku malam ini.?"
"apa ini dia mengajakku ke apartemennya apakah benar hanya makan malam" ucap faira dalam hati dan membuat pipinya sedikit memerah.
"kenapa kau diam, tenanglah ini hanya makan malam biasa akan ada pelayan di rumahku" jeon tersenyum smirk pada faira seperti tau yg ada di pikiran faira.
"oh baiklah, ueemmh kalau begitu aku akan melanjutkan pekerjaanku, permisi" faira menundukkan kepalanya dan berpamitan dengan jeon dan dengan cepat keluar dari ruangan itu
"sampai jumpa nanti malam" ucap jeon yg tengah melihat belakang badan faira yg tengah berjalan.
"fay ada apa kenapa dia mencarimu" livy langsung menghampiri faira penuh pertanyaan wajah jailnya terlihat dengan tatapan lucunya yg sedikit mengangkat alisnya
"bukan apa apa dia hanya berterima kasih karna telah menolongnya waktu itu"
"menolong apa"
"dari kejaran fans waktu itu"
"jadi cewek yg di maksud itu kamu, kenapa kamu gk cerita"
"emang sepenting itu ?" dengan nada sinis tapi wajah bercanda
"gak sih tapi bagus siapa tau jodoh jalur itu kan" canda livy sambil meledek
"mungkin saja" (tersenyum malu)
sepulang kerja faira mampir di salah satu toko baju
"aku memang miskin tapi setidaknya aku harus punya baju bagus untuk malam ini" sambil memilih beberapa baju.
__ADS_1
"haruskah baju ini bukan kah ini sexy" sambil melihat dress dengan leher v neck dengan tali kecil yg
"jangan fay ini terlalu sexy dia malah akan berpikir yg tidak tidak nanti" mengembalikan baju itu ke rak.
"ini saja lah" memilih dres dengan warna hitam lengan panjang meski kesannya tertutup dan biasa tapi sangat cantik.
jeon sedang mempersiapkan makan malam yg di buatnya dekat balkon apartemennya agar dapat melihat pemandangan malam. tak lupa iya memberitahu clara tentang rencananya. "tiiiinnngggg"
bel apartemen berbunyi jeon pun dengan cepat membuka apartemen dan melihat faira dari balik pintu begitu cantik dengan dress hitam bagai seorang bidadari, jeon sempat terdiam dan terpaku menatap faira
"kau tidak menyuruhku masuk" ucapan gaira lantas mengejutkan jeon dari lamunannya ia lalu menyuruh faira langsung masuk dan menuju meja makan.
jeonpun sangat tampan dengan dengan baju turtleneck hitam yg terlihat sangat sexy di badannya.
"apa yg harus ku lakukan dia sangat tampan dan membuatku gugup" ucap faira dalam hati sambil berpura pura melihat sekeliling.
"apa kau menyukai lukisan?"
"yah aku menyukainya bahkan aku bisa tiap minggu ke pameran lukisan hanya untuk melihat lihat"
"owhh"
"makanlah aku sudah menyiapkannya untukmu" sambil menarik kursi dan mempersilakan faira duduk
"ah, terima kasih" faira pun duduk dan menaruh tasnya di pangkuannya
di saat makan mereka bercerita tentang satu sama lain jeon sangat santai hingga faira ikut santai dengan pembicaraan yah pembicaraan mereka sangat positif jadi tidak ada ketegangan.
jeon mengambil sebuah botol dan menuangkannya di gelas
"apa kau mau wine ?" menunjukkan botol minuman
"hah(tekejut) eemmhh aku tidak minum minuman seperti ini" ucap faira sedikit menggeleng
"kenapa?"
"aku gampang mabuk"
jeon terkekeh "segelas ini tidak akan membuatmu pusing" memberikan segelas wine pada faira
"satu gelas ini saja yaa?"
jeon mengangguk, mereka asik mengobrol hingga faira terkejut karna sudah larut malam, dia takut tidak ada taksi jika sudah sangat larut seperti ini
" sebaiknya aku pulang ini sudah sangat malam" sambil melihat jam di ponselnya
"aku akan mengantarmu"
"tapi bagaimana jika ada yg melihat kita"
"ini sudah larut malam tidak akan ada yg melihat kita, kalau kau mau kita bisa bergantian turun" ucap jeon dan bergegas berdiri mengambil jaket besar dan masker untuk menutupi wajahnya.
faira pun menyetujui itu karna sudah malam sangat susah mendapatkan taksi.
20 menit perjalanan mobil jeon pun berhenti di depan gerbang tempat faira tinggal.
"aku akan turun, terima kasih ya" ucap faira.
ketika hendak membuka pintu mobil jeon menahan tangan faira menariknya dan menci*m bibir faira, faira hanya diam terkejut dan gugup, bagaimana tidak ia sangat mengidolakan jeon, biasanya ia hanya memandangnya lewat sosial media, tapi malam ini ia benar benar merasakan seperti menang lotre.
"apa ini?? kenapa ini? apakah kamu berpacaran sekarang? bagaimana ini ? semoga dia tidak mendengar degup jantungku yg kencang ini" ucap faira dalam hati yg saat itu jeon belum berhenti menci*mnya,.
"apakau tidak menyukainyaa ?" ucap jeon karna faira hanya diam saat jeon mrnciumnya. dengan wajah mereka yg masih sangat dekat, dan tangan jeon masih memegang belakang kepala faira.
"hah ? apa yg kau bicarakan" faira sangat gugup dan pipinya memerah ia sedikit merapatkan bibirnya yg basah akibat ciuman jeon
"aku menyukaimu bisa kah kita melakukan ini setiap bertemu ?"
faira hanya diam dan bertanya tanya dalam hatinya " apa aku bermimpi dia mengajakku kencan sekarang, ooohhh bagaimana aku menjawabnya"
"apakau tidak menyukaiku?" menatap faira, dan memiringkan badannya agar lebih leluasa menatap faira
mendengar penuturan jeon itu membuat faira terkejut ia lantas membantah
"tentu saja aku menyukaimu, aku bahkan suka kau menci*mku" mata faira langsung terbuka lebar, ia tidak menyangka akan mengucapkan hal itu, meskipun sangat menyukai jeon ia seharusnya tetap jual mahal.
melihat faira yg semakin salah tingkah jeon tersenyum tipis dan membelai rambut faira dengan lembut
yah mereka memulai hubungan sejak malam itu tapi faira tidak menyadari jika itu hanya rencana jeon saja, faira sangat menyukai jeon hingga dia benar benar percaya dengan jeon.
__ADS_1