The Battle Heart

The Battle Heart
apakah perceraian akan menjadi titik akhir mereka


__ADS_3

meskipun faira merasa waktu berputar sangat lama, waktu tetaplah berjalan, jeon akhirnya selesai dengan naf*u nya, jeon yg terlihat kelelahan berbaring di samping faira dengan tanpa busana tertidur tengkurap tanpa menghiraukan faira. faira berusaha menggapai selimut untuk menutupi badannya, sesekali wajahnya meringis menahan sakit di areanya, ia memiringkan badannya berharap sakitnya sedikit mereda, karna ini pertama kalinya untuk faira namun di lakukan paksa oleh jeon, membuat faira sakit fisik maupun batin.


meskipun mereka terbilang masih sah suami istri, faira tetap merasa jeon seperti orang asing, terlebih pernikahan itu hanya di atas kertas dengan berbagai perjanjian.


faira yg tidak ingin melihat jeon memilih keluar dari kamarnya ia sedikit tertatih berjalan, tangannya bertahan pada dinding agar tidak tumbang melangkah dengan pelan dan mengambil asal baju yg ada di lemarinya.


bagaimana rasanya? tentulah sakit di saat orang melakukan hubungan pertama kali dengan pelan faira justru seakan mendapatkan kekerasan ia dengan pelan membaringkan badannya di sofa berharap bisa tertidur meskipun ia sebenarnya tidak bisa tidur semalaman, ia hanya menangis memikirkan perbuatan jeon yg selalu membuatnya sakit hati.


pagi harinya.


"aaaaiiiiiisssshhh, kepalaku sangat pusing" mengusap kepalanya, jeon yg terbangun dari tidurnya karna cahaya matahari menembus tirai jendela kamar faira.


jeon yg ingin bangun terkejut melihat dirinya tidur tanpa sehelai benang ia memutar kembali rekaman di otaknya tadi malam dan ia mengingat kejadian semalam.


"apa aku benar melakukannya, aku pikir itu hanya mimpi" jeon mengingat kembali yg dia lakukan pada faira. ia seakan sadar dengan kesalahannya meskipun status mereka masih dalam pernikahan jeon sadar jika itu menyakiti perasaan faira ia bergegas keluar untuk mencari faira sambil memakai bajunya.


"fairaaaa!!"


"faira kamu dimana" teriak jeon mencari faira di setiap kamar sampai langkahnya terhenti melihat faira sedang berdiri di balkon dengan rambut yg dibiarkan terurai terbawa angin membuat kissmark yg ia buat tadi malam terlihat. sambil melipat tangannya faira hanya diam melihat pemandangan luar hiruk pikuk ibu kota


"faira maafkan aku" ucap jeon sambil berusaha mendekat


"berhenti di sana," ucap faira tanpa menoleh ke arah jeon.


"maafkan aku"


"berhentilah meminta maaf, itu seperti bukan dirimu" melangkah masuk meninggalkan jeon.


jeon mengejar faira dan memeluknya dari belakang "aku benar benar salah, aku mohon maafkan aku"


"lepaskan" berusaha melepaskan pelukan erat jeon


jeon semakin erat memeluk faira


"kenapa kau begitu jahat, bahkan sampai sekarang aku mengalah kau tidak berhenti" ucap faira sambil menangis.


faira berusaha melepaskan pelukan jeon yg semakin erat.


"aku mohon lepaskan aku". pinta faira sambil menangis sesenggukan.


karna faira terus menangis jeon melepaskan pelukannya ia baru kali ini melihat faira menangis sedih sampai jatuh terduduk di lantai dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya, biasanya gadis itu tidak pernah menujukkan kelemahannya pada jeon, tapi kali ini ia merasa benar benar merasakan sakit hati yg amat dalam dan tak terbendung.


jeon yg melihat faira menangis tidak kuasa menahan kesedihannya jeon berlutut meminta maaf pada faira.


"maaf kan aku, aku tau kau tidak terima tentang perlakuanku tadi malam, tapi aku benar2 tidak berniat melakukannya" ucap jeon sambil berlutut.


"berhentilah bicara, mari kita tidak bertemu lagi meskipun kau berada tepat di depanku berusaha lah untuk tidak menunjukkan dirimu"


faira kembali berdiri dengan tangan menyapu air matanya ia menarik jeon sekuat tenaga dengan memegang kerah baju jeon membawanya keluar

__ADS_1


"faira maafkan aku" ucap jeon sambil melangkah pasrah dengan tarikan faira yg ingin mengusirnya..


jeon yg sudah berada di luar hanya menatap faira. ddooooaaaaaarrrrr faira menutup pintu sangat keras hingga jeon mengedipkan matanya.


ia termenung cukup lama sampai ada suara yg menyadarkannya dari lamunan depan pintu rumah faira "kau berulah apa lagi" ucap jimmy yg berada tidak jauh dari jeon, dan sempat melihat saat faira mengusirnya.


jeon hanya melihat jimmy dengan matanya yg merah, ia menurunkan pandangannya seperti mengakui kesalahannya dan melangkah melewati jimmy tanpa bersuara.


"bisa kita bicara" tanya jimmy


jeon berbalik menatap jimmy mengiyakan permintaan jimmy merekapun keluar untuk bicara.


mereka pun duduk di sebuah cafe yg tidak jauh dari apartemen faira.


"kenapa kau begitu plin plan dalam mengambil keputusan" tanya jimmy tanpa basa basi


"siapa bilang aku plin plan"


"apa aku baru mengenalmu,? kita saudara aku sangat paham apa yg terjadi"


"apa ini yg ingin kau bicarakan?"


"bukan" jimmy menggeleng


"lalu?" tanya jeon


"aku ingin meminta ijin darimu"


"faira bilang dia akan mencoba memulai denganku setelah kalian berpisah"


"aku tidak tau terserah kalian saja" memalingkan wajahnya berpura pura tidak perduli.


"bagaimana dengan perasaanmu, bisakah kau menjelaskannya" tanya jimmy yg menyadari jika jeon mencintai faira


"perasaan apa sih? itu hak kalian jika mau ya sudah sana"


"kau mungkin bisa berbohong denganku, tapi berhentilah berbohong dengan diri sendiri"


"aku tidak......."


"kau selalu seperti itu denganku sejak dulu" ucap jimmy memotong jawaban jeon


"kau yg duluan, kau selalu menyukai apa yg aku sukai, kau selalu berusaha mendahuluiku dan ketika sampai pada tujuan kau memamerkannya sehingga aku terlihat kalah" jeon mengungkapkan kenapa dia tidak menyukai jimmy


"kau benar, karna kau adalah anak yg keren di sukai banyak orang karna kau tampan jadi aku juga ingin sama denganmu hingga semua yg kau lakukan aku ikuti. aku ingin kita sejajar tapi kau tidak menyukainya, bedanya hanya aku tetap maju sedangkan kau menyerah" jimmy menjelaskan yg ada di pikirannya, selama ini jimmy dan jeon hanya salah paham dan kurang saling mengerti tapi tidak pernah bicara berdua walau hanya sekedar cerita.


"tapi kali ini aku lebih dulu menyukai faira" ucap jimmy sengaja memancing emosi jeon.


jeon tidak bisa menjawab apa apa memilih pergi meninggalkan jimmy sendiri di cafe tanpa mengucapkan apapun. jimmy hanya melihat jeon dari balik kaca cafe dan tersenyum heran dengan tingkah jeon.

__ADS_1


"aku tau kau mencintai faira, tapi kau selalu mengelak seperti dulu" gumam jimmy


jeon memang selalu bertingkah seperti itu,


dulu jeon sangat ingin jadi dokter ia akhirnya mulai kuliah jurusan kedokteran, jimmy yg melihat jeon masuk jurusan kedokteran pun ingin juga jadi dokter, namun karna tidak suka di ikuti oleh jimmy jeon marah dan berhenti kuliah, ia malah memilih jadi aktris saat itu.


di apartemen faira hanya terdiam ia seakan tidak mendengar ponselnya yg sedari tadi berbunyi, "apa yg harus ku lakukan sekarang" gumam faira sambil memangku badannya dan menundukan wajahnya. ia harus melakukan mediasi hari ini faira sebenarnya tidak mau lagi bertemu jeon namun ia harus tetap melakukannya agar bisa secepatnya bercerai dengan jeon.


di lain tempat jeon akhirnya menandatangani surat perceraiannya dan faira, ia hanya berpikir pernikahannya memang seharusnya tidak terjadi, meskipun ia ingin memperbaikinya faira sudah benar benar membencinya.


"hanya ini yg bisa ku lakukan, aku harap kau bahagia bersama jimmy" gumam jeon dalam hati sambil mengingat pembicaraannya dengan jimmy.


faira yg tengah minum mendapat telpon dari pengacaranya.


"bu gugatan ibu di kabulkan pihak pengadilan, ibu resmi bercerai"


faira terdiam ia merasa sesuatu mengganjal di hatinya


"kenapa rasanya sakit, bukan kah ini yg aku inginkan" gumam faira sambil memegang dadanya sesekali ia terlihat gelisah. bagaimanapun itu perpisahan tetaplah perpisahan tentu sedikit banyaknya meninggalkan luka .


"dia bajingan hingga akhir" gumam faira, dalam hati kecilnya.


faira yg beberapa hari tidak keluar apartemen memutuskan untuk jalan jalan menghilangkan stress nya saat ia di lift ia bertemu dengan seorang bibi yg tinggal di tempat yg sama.


"kau istri jeon kan?" tanya bibi itu


"kami sudah berpisah" jelas faira


"maaf maksudku mantan istrinya"


"tidak masalah" ucap faira memalingkan wajahnya.


"kau terlihat sangat bijaksana dan pintar" bibi itu mengajak faira ngobrol lagi.


"terima kasih bi" menundukkan sedikit kepalanya


"tidak mungkin berita kedekatanmu dan sepupunya benar,, itu pasti hanya berita palsu" ucap bibi itu


faira yg mendengarnya pun diam dan hanya membalas senyum sampai akhirnya liftnya sudah sampai faira bergegas keluar, seketika faira merasa setiap orang memperhatikannya.


"hanya perasaanku saja" batin faira sambil tetap berjalan


ketika tengah berjalan faira mendapat telpon dari jimmy.


"hay fay, apa kau mau ikut aku memetik stroberry besok" ucap jimmy dari telpon


faira sempat terdiam ia mengingat yg bibi itu katakan di lift


"fay, kok diem" ucap jimmy kembali dari speaker hp membuat faira tersadar dari lamunannya

__ADS_1


"maaf jim, sepertinya gak bisa aku akan sibuk besok"


faira menolak ajakan jimmy untuk pertama kalinya, faira merasa jika ia sering bersama jimmy orang akan mengira mereka punya hubungan dan akan membuat jimmy sulit nantinya.


__ADS_2