
meski dalam keadaan hati tidak karuan jeon tetap menyelesaikan pekerjaannya.
"akhirnya hari ini selesai juga aku ingin cepat pulang saja" ucap jeon sambil rebahan di sofa, sementara asistennya sedang membereskan barang jeon yg berantakan sehabis syuting.
"kenapa buru buru, kita masih punya waktu untuk jalan jalan dulu" sahut asisten jeon yg tengah sibuk melipat beberapa pakaian
"baiklah kau jalan jalan saja sendiri aku akan pulang besok" ancam jeon yg ingin segera pulang
"baiklah" ucap asistennya dengan bibir sedikit manyun mendengar jawaban jeon
setelah beberapa jam perjalanan jeon akhirnya sampai di apartemennya ia langsung menuju kamarnya dan beristirahat.
"kenapa rasanya sama saja ya tetap membosankan" jeon yg terbaring di kasurnya mengusap2 keningnya merasa bingung dengan kondisinya sekarang, ia merasa serba salah di manapun berada.
"tuan ada bu clara menunggu di depan" ucap pelayan jeon dari balik pintu
jeon yg mendengarnyapun langsung bangun dari kasurnya dan mengerutkan keningnya
"kenapa lagi dia kesini" gumam jeon sambil berdiri keluar menemui clara
"ada apa lagi" tanya jeon dengan berdiri sambil memasukkan tangannya pada saku celananya
"jangan bersikap dingin kau tidak seperti dirimu dulu" ucap clara yg tengah duduk di hadapan jeon dengan kakinya yg sebelah di angkat menyilang
"dulu seperti itu karna aku mencintaimu sekarang sudah tidak lagi" sahut jeon singkat
"aku salah jeon aku akan memperbaikinya demi dirimu" ucap clara yg langsung menghampiri jeon dan ingin memeluknya namun di tolak jeon dengan mendorongnya perlahan
"jangan berubah demi diriku, berubahlah demi dirimu sendiri" jeon pun melangkah pergi menjauhi clara.
"apa sekarang kau benar2 jatuh cinta dengan gadis itu" ucap clara sambil berbalik menatap jeon yg memunggunginya
"siapa yg kau maksud?" tanya jeon tanpa berbalik.
"gadis sialan itu" ucap clara dengan nada tinggi membuat jeon berbalik dan mencengkram wajah clara
"jaga mulutmu itu" jeon yg sangat marah langsung melepaskan tangannya dari wajah clara dengan kasar sehingga clara sedikit terdorong.
"dugaanku benar, kau benar2 menyukainya sekarang"
"ya itu benar lantas apa urusanmu" jeon kembali menatap clara dengan tatapan tajam dengan melangkah mendekati clara, clarapun melangkah mundur seakan merasa jika jeon akan menyakitinya..
__ADS_1
"apa yg kau lakukan" teriak ibu jeon yg melihat jeon mendekati clara
jeon dan clarapun spontan menoleh ke arah suara "ibu...." ucap jeon terkejut, jeonpun langsung menarik clara untuk keluar dari apartemennya
"jangan pernah kesini lagi jika kau punya rasa malu yg tersisa" ucap jeon yg berdiri di pintu apartemen sembari menunjuk Clara dengan jarinya, clara yg berada di depan pintu apartemen jeon terkekeh melihat perlakuan jeon dan duuuuaaaaarrtr pintu itu di tutup keras oleh jeon dari dalam.
jeon pun masuk untuk menghampiri ibunya yg duduk di meja makan dengan beberapa kotak makanan yg di taruh di atas meja.
"banyak banget ma makanannya" ucap jeon sambil membuka satu persatu kotak makanan yg ada di atas meja, ibu jeon menepuk punggung tangan jeon yg hendak membuka kotak makanan yg satunya. jeon pun sontak berteriak "sakit ma" sambil mengelus punggung tangannya.
"ini buat faira jangan di buka" ucap ibu jeon sambil mengalihkan pandangannya ke kiri. jeon terdiam dan langsung duduk untuk makan makanan buatan ibunya.
"kenapa kau masih saja dengan wanita itu (clara)" tanya ibu jeon tanpa menatap wajah anaknya yg tengah makan
"kami sudah gak punya hubungan apa apa lagi kok ma" ucap jeon dengan suara kecil sambil menunduk memakan beberapa lauk
"jangan berbohong lagi, dulu kau bilang selesai dengannya, nyatanya kau malah membohongi semua orang" ucap ibu jeon
"benar, aku bersungguh sungguh, aku sadar apa yg ku lakukan salah, dan clara bukan gadis yg tepat untukku" ucap jeon yg tetap tertunduk
"mama pegang omonganmu, cepat selesaikan makanmu dan antar mama ke tempat faira ngantar makanan ini"
"mama sendiri aja, faira pasti gak mau ketemu aku" jawab jeon
"minta maaf sayang, setidaknya kamu harus mencoba minta maaf dengan tulus" bujuk ibunya sambil menggenggam tangan jeon dan menatap jeon. jeon pun menarik nafas berat menyetujui permintaan ibunya dengan mengangguk.
"apa faira masih memberikan ijin mama datang gak ya" ucap ibu jeon mereka memasuki lift di gedung apartemen faira dan memencet tombol lantai tempat faira tinggal.
"semoga saja ma" ucap jeon yg juga ragu dan takut di tolak kehadirannya oleh faira.
"ibu ingin minta maaf atas kesalahan ibu waktu itu, kau juga harus meminta maaf dengannya jeon meskipun kalian sudah berpisah" ibu jeon menepuk pundak anaknya mengisyaratkan jeon harus melakukan itu.
namun setibanya di apartemen faira beberapa kali memencet bell tidak ada jawaban jeon dan ibunya memutuskan untuk turun dan bertanya ke penjaga gedung.
"atas nama faira yg tinggal di lantai 6 kemana ya pak" tanya ibu jeon pada penjaga yg tengah berdiri di pintu gedung.
"owh, bu faira yg punya tahi lalat di bawah mata itu ya" tanya sang penjaga
"iya" jawab jeon dan ibunya bersamaan
"satu minggu yg lalu ia pergi, tapi dia tidak mengatakan apa apa"
__ADS_1
"kemana" sahut jeon
"dia tidak mengatakan apa pun pak, hanya pergi berlalu membawa koperr besarnya"
mendengar penjelasan penjaga itu jeon dan ibunya saling pandang dan memilih pulang.
saat hendak pulang jeon dan ibunya mampir di sebuah cafe. saat hendak membuka pintu cafe mereka bertemu dengan jimmy yg ingin keluar dari caffe, mereka saling menatap beberapa detik maklum lah kesalahpahaman yg pernah terjadi belum mereka bicarakan sampai sekarang, selang beberapa detik menatap jimmy hanya tersenyum.
"kau mau minum coffe dengan kita" ucap ibu jeon sambil menunjuk badannya dan jeon.
jimmy yg baik hati mengangguk dan kembali masuk ke cafe. mereka duduk bersama di mana jeon dan ibunya berdekatan dan jimmy berada di depan mereka.
"apa kau mau minum lagi" tanya ibu jeon pada jimmy
"tidak perlu aku sudah minum tadi bibi bicara saja apa yg mau di katakan" sahut jimmy dengan sopan
"maafkan salah bibi waktu itu ya, bibi seharusnya tidak menuduh kalian tanpa mendengar penjelasan kalian" ucap ibu jeon, namun jimmy hanya tersenyum dan mengangguk angguk mengisyaratkan bahwa dia memaafkan hal itu
"karna sibuk mengurus pemakaman dan perceraian jeon yg mendadak membuat bibi tidak sempat bertemu meminta maaf secara langsung" jelas sang bibi dan terhenti karna seorang pelayan mengantar pesanan mereka.
"aku sudah memaafkan yg terjadi, wajar saja saat itu jika bibi marah, tapi apa bibi sudah menemui faira membicarakan ini" tanya jimmy
"oh iya, kami baru saja dari apartemennya tapi dia tidak ada penjaganya bilang dia pergi beberapa hari yg lalu" ucap ibu jeon
"pergi??" tanya jimmy dengan wajah terkejut
"apa kau tidak tau dia pergi??" tanya jeon yg sedari tadi hanya diam
jimmy yg mendengar pertanyaan jeon tidak menjawab dan mengambil barang yg dia beli di cafe tadi dan mengantongi ponselnya dan bergegas pergi, jeon yg melihat jimmy pergi tanpa pamit langsung menyusul jimmy ke parkiran mobil di depan cafe, jeon menarik jimmy yg ingin masuk ke mobil dan menutup pintu mobil jimmy.
"bagaimana bisa kau tidak tau dia kemana?" tanya jeon sambil memegang bahu jimmy
jimmy hanya diam dan berusaha menggeser badan jeon yg berada di depan pintu mobilnya tapi jeon tidak bergerak sedikitpun.
"kau bilang dia akan bersamamu setelah kami berpisah, tapi kenapa kau tidak tau kemana ia pergi" ucap jeon tanpa melepaskan tatapannya pada jimmy.
jimmy menarik nafas berat dan menatap jeon balik "aku akan mencarinya, jadi berhentilah bersikap seolah kau perduli" ucap jimmy sambil mendorong jeon dan masuk ke mobilnya. jeon yg mendengarnya pun terdiam dengan tatapan kosong setelah mendengar ucapan jimmy.
"aku harap kau baik baik saja fay, dimanapun kamu berada" batin jeon dan kembali masuk ke cafe menemui ibunya.
di dalam mobil jimmy terus berusaha menelpon faira namun nomornya tidak aktif dengan ponsel yg menempel di pipi kirinya jeon menatap bungkusan kue dan coffe yg ia beli tadi jimmy membelikannya untuk faira karna ia tau faira menyukai kue manis, terlebih rasa green tea.
__ADS_1
"kau dimana fay, seharusnya kau mengabariku" gumam panik jimmy hendak menuju apartemen faira di telpon oleh perawat di rumah sakit karna ada beberapa pasien sudah menunggunya, jimmy pun memutar kemudinya memilih ke rumah sakit dulu menyelesaikan kewajibannya.