The Battle Heart

The Battle Heart
kesempatan untuk jeon


__ADS_3

beberapa hari setelah kembali dari rumah sakit kondisi jeon membaik, hari ini mereka memutuskan untuk piknik keluarga kecil kecilan di sebuah taman sekedar untuk menghilangkan kebosanan.


dengan seksama jeon dan ayahnya merapikan sebuah karpet dan menyusun beberapa makanan dan mainan untuk anak anaknya bermain.


"biarkan zoan dan zein merangkak di sini bi" sambil menepuk karpet yg ia khususkan untuk zoan dan zein bermain.


kedua pengasuh itupun menaruh zoan dan zein di tanah untuk bermain tapi masih dalam pengawasan sang pengasuh.


jeon menikmati liburan kecilnya itu, mereka hanya melihat danau dan beberapa tanaman bunga yg mengelilingi taman itu, di tambah melihat keaktifan kedua putra kembarnya yg semakin aktif membuat jeon tidak berhenti menguraikan senyumnya.


"lihatlah pipi mereka yg gendut itu jeon, mereka sangat mirip kau saat kecil. benarkan mas?" tanya ibu jeon pada suaminya


"benar ma, mereka benar2 mirip jeon saat kecil, rasanya seperti mengasuh anak kita lagi" sahut ayah jeon.


jeon melihat sekeliling banyak keluarga yg juga piknik di dekat mereka, tentu ada rasa iri dan juga sakit melihat anak anak lain di temani ibunya, sedangkan zoan dan zein di temani sang pengasuh.


" kau akan menyesal faira jika terlalu lama melewatkan masa masa ini" batin jeon.


saat tengah melihat lihat sekitaran danau mata jeon tiba tiba terpaku dengan seorang wanita yg menatapanya dari kejauhan, wanita itu tepat berada di seberang danau bersender pada pagar pembatas danau, wanita itu memakai dress putih dengan rambut pendek terurai.


"fairaa,,,,,," ucap jeon tanpa ragu, lalu berdiri dan dengan cepat mencoba mengejar wanita yg ia pikir faira.


dengan nafas terengah engah, jeon pun sampai tepat di sebelah wanita itu, wanita itu hanya sekilas melirik jeon tanpa menoleh, seakan tau jika jeon mendatanginya.


dengan pelan jeon berdiri di sampingnya, jeon kemudian melirik mata perempuan itu yg tengah menatap keluarganya dari kejauhan.


''fairaaa,,,,, kau,,," ucap jeon terbata bata


mendengar ucapan jeon wanita itupun menoleh dan menatap balik mata jeon yg tengah menatapnya, benar saja wanita itu adalah faira dengan potongan rambut pendek sebahu, wajahnya terlihat sangat cantik dan berseri, membuat jeon sulit berkedip menatapnya.


" iya ini aku" sahutnya singkat tanpa melepaskan tatapannya pada jeon.


"apa pertemuan ini tanpa sengaja, atau kau sengaja ingin bertemu denganku?" tanya jeon


kini jantung jeon berdetak sangat cepat, ia merasa gugup menunggu jawaban faira yg menentukan maksud surat yg faira tulis waktu lalu bahwa faira mengatakan jika ia memutuskan kembali ia akan kembali, tapi jika tidak ia tidak akan kembali.


faira terdiam, ia seperti sudah menentukan jawabannya tapi tidak ingin menjelaskan pada jeon dengan tergesa gesa..

__ADS_1


faira menarik nafasnya dalam "bagaimana kabarmu" sedikit tersenyum


jeon terdiam karna faira tidak langsung menjawab pertanyaannya.


"bagaimana menurutmu, apa aku terlihat baik baik saja dimatamu,?" tanya jeon dan faira menggeleng


"kau saja tau aku tidak baik baik saja,, tapi kau terlihat sangaat baik sekarang,.." mulai menatap faira lebih dalam "kau terlihat sangat cantik dan segar sekarang, kau bahkan memotong rambut panjangmu"


"apakah sangat lelah,?" pertanyaan faira sungguh singkat tapi ia bertanya begitu dalam hingga wajah jeon berubah, bibirnya pun bergetar menahan air matanya.


jeon pun hanya mengangguk


faira yg tadi menatap jeon kini mengalihkan pandangannya pada kedua anaknya yg berada di sebrang matanya "mereka sangat sehat dan menggemaskan ya?"menoleh menatap jeon lagi "maafkan aku jeon, aku baru memahami bagaimana jadi orang tua, aku sadar kau pasti sangat kesulitan saat aku koma waktu itu, tapi kau bersabar dan belajar memahami anakmu, sedangkan aku terlalu fokus ke rasa kecewa pada diri sendiri karna belum bisa memahami anak anakku"


"kenapa kamu tidak menceritakan padaku tentang perasaanmu waktu itu dan malah pergi" tanya jeon lalu mendekati faira lebih dekap.


"aku merasa saat itu kamu bukanlah orang yg tepat untuk ku ajak bicara, rasa kesalku masih sangat besar sampai2 melihatmu saja membuatku ingin marah" ungkap faira namun sambil tertunduk tidak menatap jeon


jeon diam membisu mendengar ucapan faira, hatinya sangat hancur mendengar wanita yg ia cintai membencinya, sesekali jeon menelan ludahnya berusaha menenangkan rasa sakit yg membelenggu jiwanya.


"psikolog??" jeon keheranan


"yah, aku mengalami hal sulit tapi orang itu dengan pelan mengarahkan jalan pikiranku, tidak butuh waktu lama kurang dari delapan minggu perasaanku dan pikiranku sudah sangat jauh berbeda, aku mencintai diriku sendiri dan mulai memahami kesulitan orang tua muda, aku mulai memahami zoan dan zein walau tanpa bertemu.". sejenak terdiam. "dan,,, aku juga tidak lagi membencimu" lanjutnya lalu sekejap menatap mata jeon namun kembali tertunduk


"lalu bagaimana perasaanmu sekarang?" jeon malah menatap faira lebih dalam, ia memutar badan faira agar menghadap kepadanya, jeonpun mengangkat dagu faira agar faira menatap matanya saat menjawab pertanyaan jeon.


faira hanya terdiam menatap mata jeon, mata mereka saling memandang bagaikan maghnet tatapan itu tidak berpindah kemanapun. faira mematung ia ingin mengucapkan sesuatu tetapi terlihat di wajahnya ia masih ragu.


"katakan faira, bagaimana perasaanmu sekarang?" ucap jeon lagi.


"aku..... entah mengapa aku selalu memikirkanmu, aku merasa sangat cukup sekarang, tapi saat aku melihatmu pingsan saat sedang live waktu itu,,,, aku,,,,," terpotong


"aku,,,,???" lanjut jeon penasaran


"tanpa aku sadari aku berlari sangat cepat menyusulmu ke rumah sakit, tapi hanya melihatmu dari balik jendela dan tidak berani untuk mendekat.


"kau seharusnya menemuiku saat itu"

__ADS_1


"maafkan aku" ucap faira tanpa terasa air matanya mengalir membasahi pipinya. dengan sangat lembut jeon menyapu air mata yg mengalir di wajah faira.


"kali ini kau tidak memberontak saat ku sentuh seperti ini" jeon mengelus lengan faira dengan pelan, dan merapikan rambut faira yg menutupi wajahnya akibat angin.


faira hanya diam membiarkan tangan jeon mengelus rambut dan wajahnya ia seakan menikmati sentuhan jeon, sesekali matanya terpejam saat tangan jeon dengan pelan menyentuh pipinya.


"apa kau memberiku kesempatan?" tanya jeon sambil meraih tangan faira dan menggenggamnya.


faira hanya mengangguk mengisyaratkan jika ia kembali menerima jeon dalam hidupnya, menerima ayah dari anak anaknya untuk memulai sesuatu yg sebenarnya belum pernah mereka mulai. wajah jeon langsung berubah apa yg ia doakan kini terkabulkan, kini hanya air mata bahagia yg akan ia tangisi, jeon tidak henti hentinya mencium tangan faira ia terlihat sangat bersyukur dengan kesempatan yg faira berikan, faira yg melihat ketulusan jeon benar benar sangat terharu.


"jeon,,,,"


"hmmm,,," jeon kembali menatap faira namun tangan faira masih ia genggam dan menaruhnya di bibirnya sambil terus mengecupnya.


"apa kau akan baik baik saja dengan kembalinya hubungan kita?"


"kenapa kau bertanya seperti itu, apa kau masih ragu?"


"aku menerimamu tidak yakin sepenuhnya, tapi seiring berjalannya waktu aku harap kau bisa membuatku semakin yakin setiap harinya, aku ingin kau membuatku yakin bahwa keputusanku ini tidak akan salah.


"tentu saja, aku akan membuatmu yakin kau tidak akan menyesali keputusanmu"


"aku mungkin akan bersikap sedikit dingin denganmu, meski aku tidak ingin bertingkah seperti itu sedikit banyak kau pasti akan merasakannya, aku harap kau bersabar dengan sikap itu.


"aku sudah tau resikonya fay, tapi meski begitu aku tetap menunggumu selama ini" jeonpun lalu menarik faira membawanya bertemu anak anak mereka.


orang tua jeon yg sedari tadi sudah menyadari jeon bersama faira merasa senang melihat raut wajah jeon yg berubah bahagia sambil menggandeng tangan faira berjalan mengarah ke mereka, tanpa basa basi ibu jeon langsung berdiri dan memeluk faira yg sudah berada di hadapan mereka.


"faira, mama tidak tau apa yg kalian bicarakan tadi, tapi dari raut wajah kalian ibu tau kalian sudah memutuskan hal yg pasti membuat kalian bahagia" sambil mengelus punggung fairra.


"apa kalian akan memulai lembaran baru" tanya ayah jeon sambil menatap faira dan jeon bergantian.


"iya ayah," jawab jeon yg masih tersenyum bahagia, ia hampir tidak percaya jika penantiannya dan perjuangannya tidak sia sia.


"kamu telah di beri kesempatan jeon, ayah harap kali ini tidak ada kesalahan apapun, ayah yakin faira tidak akan mentoleransinya" melirik faira yg sedang merangkul kedua anaknya.


"tidak yah, aku berjanji." ucap jeon meyakinkan ayahnya.

__ADS_1


__ADS_2