
suara tangisan bayi begitu menggema di rumah besar itu, jeon dengan mata yg sembab karna belum siap bangun dengan sempoyongan keluar kamarnya yg berada tidak jauh dari kamar anaknya, ia menuju kamar anaknya terlihat dua orang pengasuh berusaha menenangkan kedua anaknya.
"kenapa ni bi?" tanya jeon mendekati kedua putranya yg sedang menangis kencang
"gak tau pak, dari tadi nangis terus gak tau sebab, padahal udah di kasih susu, perutnya juga gak kembung" ucap salah satu pengasuh
"bajunya udah di buka belum, siapa tau kegigit serangga" ucap jeon membuka baju anaknya.
"udah pak, tapi gk ada apa apa" jawab sang pengasuh panik.
"mungkin mau ketemu ibunya, biasanyakan ibunya pagi pagi udah kesini sekedar ngeliat anaknya" ucap salah satu pengasuh yg menggendong zein
"kenapa gak di panggil" ucap jeon seraya berbalik badan ingin memanggil faira
"udah, tapi kayaknya masih tidur gak enak terus terusan ngetok" sahut sang pengasuh
jeon mulai bingung dahinya terkerut mengingat tidak biasanya faira bangun sesiang ini, ia mempercepat langkahnya
"fairaaa!!!" seraya mengetuk pintu kamar faira, namun beberapa kali di panggil tidak ada jawaban.
"kreeekkkk" ternyata pintu kamar faira tidak di kunci mata jeon menelusuri setiap sisi kamar, namun ia tidak menemukan faira di kamarnya, ia sedikit berlari menuruni tangga mencari di setiap sudut rumahnya dan ke dapur yg hanya ada asisten rumah tangga.
"bu sara ada liat faira gak" tanya jeon mendekati bu sara seorang asisten rumah tangga di tempatnya
"bu faira emang belum pulang,?" tanya nya balik membuat jeon semakin bingung
"emang dia kemana?"
"pagi banget tadi saya liat keluar waktu saya nyuci piring, terus saya tanya bilangnya mau jalan pagi aja" menghentikan pekerjaannya dan mulai memperhatikan jeon
"kalo benar jalan pagi, kok sesiang ini belum pulang" jeon mulai panik langsung mengambil kunci mobilnya yg berada di atas meja khusus. ia dengan pelan melewati beberapa jalan sekitar perumahan berharap matanya bisa melihat faaira yg di duga berjalan, namun sampai ia ke jalanan raya pun ia tidak menemukan faira.
jeon menelpon ke rumahnya dan orang tuanya berharap ada kabar dari faira, jeon semakin panik karna ia tidak mendapatkan kabar yg ia inginkan, terlebih hari semakin sore, faira terus menerus tidak bisa di hubungi.
"jangan lagi faira, tolong jangan lagi" gumam jeon dalam mobil frustasi.
karena hari mulai sore jeon juga merasa sangat lelah ia memilih pulang.
baru saja tiba di rumah orang tua jeon sudah menyambutnya dengan beberapa pertanyaan membuat jeon semakin pusing
"kok bisa gak ada di rumah sih jeon fairanya?,"
" ponselnya gak bisa di telpon"
"dia ada ngomong apa tadi malam"
pertanyaan ibu jeon terus menerus membuat jeon pusing. " entahlah bu, aku pusing ucap jeon" lalu berlari kembali ke kamar faira mencoba mencari sesuatu yg bisa ia anggap petunjuk.
saat sedang membuka tirai jendela yg masih tertutup sepucuk surat yg di tindihi ponsel berada di ujung jendela membuat mata jeon membulat ia mengambil ponsel itu dan membuka selembaran kecil surat yg terlihat ada tulisannya.
(jeon,, aku sebenarnya sangat senang melihat sikapmu padaku beberapa saat terakhir ini, kau mungkin mengatakan tidak akan menuntut apapun dariku, tapi,, jika kau selalu berada di hadapanku aku merasa sepertinya cepat atau lambat aku akan menerimamu, dan membuatku seolah olah tidak punya pilihan lain. jika aku harus menerimamu itu harus dari hatiku sendiri bukan karna tekanan manapun, aku ingin pergi sejenak untuk memastikan tentang rasa di hatiku dan memilih jalan dengan keputusanku sendiri, jika ternyata aku membutuhkanmu aku mungkin akan kembali, tapi jika tidak aku tidak akan kembali. jika aku tidak kembali jagalah zoan dan zein seperti sekarang sepertinya mereka lebih menyayangimu dibandingkan aku. aku mempercayaimu)
__ADS_1
membaca surat faira tanpa terasa jeon menjatuhkan air matanya ia meremas kuat surat itu hingga kusut "aku tidak tau kau akan berpikiran sejauh ini faira, dan nekat meninggalkan anakmu" menghapus air matanya menegaskan wajahnya dan berusaha menenangkan dirinya dengan menarik nafasnya dalam dalam.
sudah hampir dua bulan faira tidak kunjung kembali, ia juga tidak menghubungi jeon bahkan sekedar bertanya tentang anak anaknya pun tidak, ibu dari zoan dan zein itu seakan hilang di telan bumi, karna kurang memperhatikan kesehatannya jeon yg sibuk bekerja dan mengurus anaknya akhirnya jatuh pingsan saat sedang menjadi tamu dalam sebuah acara yg di adakan secara live.
sekarang jeon berada di ruangan perawatan ia begitu lemah, orang tuanya selalu menemaninya dalam menjalankan perawatan.
"apa zoan dan zein tidak di ajak kesini bu?" tanya jeon yg masih terbaring lemas di atas ranjangnya dengan jarum infus yg masih tertancap di tangannya.
"mungkin sore nanti, ibu akan menyuruh supir menjemput mereka nanti" sambil mengelus rambut jeon.
jeon hanya diam ia hanya diam termenung sambil menatap keluar jendela terlihat pemandangan taman kecil yg berada tepat di depan jendela.
"kau sangat lelah, seharusnya luangkan waktumu untuk beristirahat, agar hal seperti ini tidak terjadi lagi" ucap ibu jeon yg duduk di samping ranjang anaknya
"iyaa" jawabnya singkat
"bukan hanya fisik yg ibu bicarakan"
jeon menoleh ke arah sang ibunda raut wajahnya mengkerut dan bertanya tanya mendengar ucapan sang ibu.
"bukan hanya fisikmu yg lelah tapi psikismu juga sangat lelah, keduanya harus beristirahat biar kamu tetep sehat lahir batin" ucapnya lagi karna melihat wajah jeon yg tidak paham dengan ucapan pertamanya.
"bagaimana caranya?" ucapnya menunduk
"cuma kamu yg tau caranya jeon"
"gak ada sedetikpun aku gak ngerasa sakit karna rindu ini bu, dengan bekerja aku menjadi sangat sibuk dan sejenak melupakannya" jeon menarik nafasnya dalam dalam "aku harus sangat lelah sebelum tidur agar tidak ada kesempatan mengingatnya dan langsung memejamkan mata".
"mungkin saja, tapi aku tidak ingin" jawabnya singkat
"lalu sampai kapan kamu begini terus?" ibu jeon menangis melihat penderitaan anaknya.
"permisi...."
seseorang masuk dan menghentikan obrolan ibu dan anak itu.
"ada apa?" tanya jeon pada asistennya yg baru saja masuk tanpa mengetuk.
"pak manager sudah mengurus semuanya kau boleh berlibur selama satu bulan kedepan" ucap si asisten sambil tersenyum melihat jeon
"tapi aku kan gak minta libur" tanya jeon keheranan
"mama yg minta kamu libur" sambar sang ibu membuat jeon tercengang
"tapi ma,,,,"
"gak kamu harus istirahat" ucap sang ibu memotong pembicaraan anaknya lalu beranjak keluar.
"istirahat aja, udah di jadwal ulang kok kerjaan" ucap sang asisten sambil menyentuh bahu jeon yg masih duduk di atas ranjang perawatannya.
jeon hanya diam tidak mengatakan apa apa, karna sekarang dia tidak punya pilihan selain beristirahat di rumah.
__ADS_1
ke esokan harinya jeon pun pulang dari rumah sakit dan memutuskan beristirahat di rumahnya, jimmy dan istrinya sedang berada di rumah jeon untuk membantu mengurus anak anak jeon. jeon berjalan pelan menuju ruangan tempat bermain anaknya, anaknya sedang bermain dengan nadine istrinya jimmy.
"lihatlah, papamu sudah pulang" oceh istri jimmy sambil bermain dengan zoan dan zein yg sedang tengkurap dengan mainan di tangan mereka.
jeon hanya tersenyum tipis menatap sang buah hati ia lalu dengan perlahan duduk di samping kedua anaknya menemaninya bermain "apa kalian merindukan papa?" gumam jeon sambil mencium masing2 pipi kedua anknya.
"jeon sebaiknya kau beristirahat dulu di kamar" ucap jimmy yg sedari tadi berada di samping nadine.
tapi jeon hanya diam ia melanjutkan bermain dengan anak anaknya..
"mammaaaaa maaa" ucapan asal dari mulut anaknya membuat jeon bangkit menatap anak anaknya.
"apa sayang katakan lagi" ucap jeon dengan suara pelan
"mammm" sahut sang anak yg belum mengerti
"kalian merindukan mama kalian?,,," menatap sendu kedua anaknya "mintalah mama kalian cepat pulang" ucap jeon lagi
ibu jeon sedang menatap anaknya di halaman samping rumah mereka, jeon melamun di temani secangkir kopi sambil menatap kolam ikan yg di penuhi ikan koi.
tanpa bersuara ibu jeon duduk di samping jeon karna memang ada dua bangku di halaman tersebut, ibu jeon menatap ponsel jeon yg berada di atas meja bersebelahan dengan secangkir kopi yg menyala karna banyaknya pesan masuk tapi jeon masih diam tanpa melirik sedikitpun ponselnya.
ibunya seakan paham tentang keresahan hati jeon berusaha bicara dengan pelan "jeon,,,,, semua orang pasti pernah merasakan yg namanya menyesal,," terhenti dan menatap jeon yg masih diam "tapi,, tidak semua bentuk penyesalan harus memaksa untuk memeperbaiki kesalahan masa lalu, bentuk penyesalan juga bisa kita tunjukkan dengan menghormati keputusan orang lain" lanjutnya
meski tengah dengan tatapan kosong jeon tetap paham maksud dari perkataan ibunya, sejenak terdiam jeon pun bersuara "ini ku lakukan karna cinta ma, aku hanya ingin dia mencobanya denganku lagi agar aku bisa menghapus jejak sakit yg tercipta" ucapnya tanpa menatap sang ibu.
"itu yg dia takutkan jeon,,, yg kau bilang mencoba itu adalah dia berpikir dia akan menaruh hatinya yg sudah hancur, dia mungkin bertanya sembuhkah hatiku? atau kehancuran akan terjadi lagi dan semakin parah? itu pasti terngiang di benaknya" jelas ibu jeon sambil meraih tangan anaknya mencoba merayu anaknya agar anaknya bisa ikhlas dan merelakan kepergian faira.
"ibu mungkin berpikir aku egois?" tertawa sedikit smirk "yaa aku memang egois karna memaksanya kembali, tapi ini semua karna dia alasanku hidup"
"kau bisa cukup hidup dengan anak anakmu, perasaanmu akan hilang seiringnya waktu, jadi tolong jeon berhentilah bertingkah seperti ini, kamu membuat ibu takut" ucap ibu jeon dengan suara tinggi.
"aku hidup, tapi tanpa faira seperti tanpa nyawa"
"berhenti jeon" ucap sang ibu bergetar hampir menangis melihat tingkah jeon
"berhenti?" tertawa sinis "ibu tau kan bagaimana aku jika sudah sangat mencintai perempuan"
ibu jeon terdiam mengingat anaknya sangat susah menaruh hati pada perempuan, tapi jika sudah cinta anaknya sangat sulit mengendalikan dirinya.
"bukankah ibu menyukai faira?"
"ibu juga menyayanginya jeon, seperti anak sendiri"
"lalu kenapa ibu menentangku memperjuangkannya, bukankah kita akan bahagia jika bersama"
"justru karna ibu menyayanginya ibu menyuruhmu berhenti membuatnya hidup menderita"
"menderita?" tatap jeon heran ia terkekeh dengan mata merah yg ingin menangis
"bukankah kau tau rasanya, bukan lah hal mudah jika memulai denganmu lagi, dia mungkin akan bersikap dingin padamu, bahkan dia akan sangat hati hati dalam bertingkah, dia tidak akan percaya diri lagi, apa kau mau dia terus seperti itu?, dan apa kau akan tahan dengan sikapnya yg mungkin acuh denganmu nanti?" ibu jeon berdiri dan mendekati anaknya berharap anaknya paham.
__ADS_1
"aku tau resikonya bu, aku sudah sangat tau, awal bercerai aku sudah merelakannya, tapi ibu juga waktu itu menyemangatiku saat tahu faira hamil, aku sudah mengambil keputusan bu, dan aku sudah melangkah jauh, faira tidak perlu berbalik saat aku mengejarnya, aku hanya butuh dia berhenti agar aku bisa mendekat" ucap jeon lalu berbalik meninggalkan ibunya sendirian di halaman rumah itu.