The Battle Heart

The Battle Heart
mulai menjauh, berusaha saling melupakan


__ADS_3

zzzz zzzzz zzzz


ponsel faira berdering faira yg tengah memasak mengelap tangannya pada celemek yg ia pakai dan mengambil ponselnya yg berada tidak jauh darinya


"siapa yg nelpon". sambil mengecek ponselnya


"jimmy" faira mengerutkan keningnya dan kembali meletakkan ponselnya dan membiarkan ponselnya berbunyi.


tinnggggg


bel apartemen faira berbunyi faira lantas terkejut ia yg sedang memasak mematikan kompornya dan berlari membuka pintu apartemen alangkah terkejutnya faira melihat jimmy yg berada di balik pintu menatap faira dingin dengan celemek yg masih ia pakai faira terdiam sambil menggaruk lengannya.


"apa kau sedang memasak?"tanya jimmy


"boleh aku masuk?" ucap jimmy lagi


faira yg gugup menjawab dengan sedikit gagap "bo boleh, masuk lah'' mempersilahkan jimmy masuk.


jimmy pun masuk dan langsung menuju dapur melihat apa yg faira masak, mata jimmy pun menatap ponsel faira yg berada dekat nampan yg tengah faira pakai, faira yg menyadari jimmy melihat ponselnya pun sontak memberikan alasan kenapa ia tidak mengangkat telpon jimmy.


"tadi tanganku sangat kotor, aku ingin mengangkatnya, tapi tidak sempat" ucap faira sambil sedikit menunduk


"tidak masalah, aku hanya ingin tau kau di sibuk atau tidak saja" sahut jimmy terlihat di matanya jika dia sedikit kecewa. faira yg menyadari itu berusaha mencairkan suasana.


"sebentar lagi selesai kita makan bersama ya, kamu mau bantuin gak" ucap faira sambil tangannya kembali mengaduk masakan yg berada di atas kompor. jimmy pun membantu faira dengan wajah yg datar, faira sesekali melirik jimmy faira menyadari jika jimmy agak kesal dengannya.


ketika sedang duduk makan jimmy tidak mengucapkan apa pun ia hanya makan sambil menunduk tanpa menatap faira, faira pun karna merasa tidak nyaman membuka obrolan


"apa kah enak" tanya faira


jimmy hanya mengangguk dan bilang


"enak" ucapnya singkat


jimmy pun kemudian menarik nafas nya dan meletakkan sendoknya di atas piring


"kenapa kau menjauhiku" tanya jimmy di sela sela keheningan.


"aku tidak menjauhimu, aku benar benar tidak sempat mengangkat telponmu saja tadi" sahut faira sambil menunduk, terlihat jelas jika faira grogi dengan memainkan nasi yg ada di depannya.


"jangan berbohong lagi fay, aku tau kau menjauhiku" jimmy tetap menatap faira


"kenapa dia bisa tau, dia kan dokter mata bukan psikolog" batin faira sambil mengalihkan pandangannya karna di tatap jimmy terus


"bicara lah, tidak masalah jika itu menyakitiku, tapi jangan menjauh" ucap jimmy sambil menggenggam tangan faira yg dari tadi mengepal.


mendengar ucapan jimmy faira lalu berani untuk mengangkat wajahnya dan menatap jimmy.


"kenapa orang sebaik dirimu menyukaiku?" tanya faira dengan wajah sendu dan mata yg berkaca kaca


"apa kita perlu alasan untuk itu'' jimmy semakin mendekatkan wajahnya pada faira.


"tentu saja" ucap faira


"kalau begitu, berikan alasan kenapa kau masih mencintai jeon meski dia sudah menyakitimu" ucap jimmy sembari melepas genggaman tangannya pada faira dan menegakkan badannya.


"apa?" tanya faira heran


"benarkan ? kau sendiri bahkan tidak tau kenapa kau masih mencintainya, begitu juga denganku" jelas jimmy sambil melipat kedua tangannya dan bersandar di bangku sambil tersenyum menatap faira yg hanya ternganga mendengar ucapan jimmy

__ADS_1


"aku tidak mencintainya bagaimana bisa kau berpikir seperti itu" elak faira


jimmy yg mendengar hanya tersenyum tipis dan bangun dari kursinya


"aku harus pergi, terima kasih makanannya" ucap jimmy seraya melangkah keluar, faira yg gelagapan berdiri dan segera menyusul jimmy dan memegang tangan jimmy. jimmy pun menoleh melihat faira dan melirik tangannya yg di pegang faira.


"maafkan aku jadi jangan menungguku, aku tidak akan pernah siap bersamamu" ucap faira sambil menatap jimmy. jimmy pun hanya diam matanya sempat berkaca kaca namun ia menahannya.


"aku sudah tau resiko ini dari dulu,meski begitu aku akan tetap mencintaimu fay" jimmy berbalik dan mencium kening faira. faira yg terbuai akan kehangatan jimmy pun memejamkan matanya saat bibir jimmy menyentuk keningnya.


"maafkan aku" batin faira.


jimmypun melepas ciumannya dan pergi dari apartemen faira.


faira yg terdiam mematung melihat pintu apartemennya perlahan menutup, badan jimmy juga perlahan lahan hilang dari pandangannya faira yg tidak tahan dengan rasa yg berkecamuk di hatinya akhirnya membungkuk dan menangis.


"maaf maaf maaf" berulang kali faira mengucapkannya dengan air mata yg tidak henti hentinya menetes.


di lain tempat jimmy yg mengendarai mobilnya pun menangis sesekali ia memukul mobilnya,


"aaarrrrgggghhhh, kenapa kau memilih jalan yg rumit faira" teriak jimmy yg tengah berada dalam mobilnya yg melaju kencang, pria itu tidak bisa bersikap kasar di depan wanita ia lebih suka melampiaskannya dengan berteriak, hanya jimmy yg tau bagaimana rasanya mencintai sepihak tapi tidak ingin memaksa orang yg di cintainya untuk mencintai kembali, karna ia percaya pada dasarnya cinta itu tersirat bukan tersurat.


karna berita perceraian faira dan jeon yg masih simpang siur faira memutuskan untuk tidak keluar dari apartemennya itu alasannya tidak mau bertemu jimmy ia tidak ingin jimmy terganggu.


"apa yg harus ku lakukan, apa aku akan tetap seperti ini" gumam faira sambil menatap pemandangan luar dari balkon apartemennya, sesekali ia menarik nafasnya berat. saat faira hendak masuk ke kamarnyaa ia tidak sengaja melihat fotonya dan sang kakek yg berada di dinding tidak jauh dari kamarnya, ia menatap foto nya dan kakeknya yg tengah berpelukan tepat di depan rumahnya saat di desa.


"aku merindukanmu kek" ucap faira mengelus foto itu dan memeluknya. tiba tiba faira memikirkan sesuatu.


"aku akan pulang" ucap faira menatap fotonya.


dengan cepat faira pun mempersiapkan barang barangnya ia memilih akan menetap di rumah kakeknya yg sudah lama tak ia kunjungi, untung faira sudah menebus rumah kakeknya sewaktu mendapatkan uang, jadi ia bisa mengunjungi rumah kakeknya sekarang.


"aku tidak tau apa kah aku akan kembali atau tidak" gumam faira sambil melihat apartemennya sudah ia tempati 1 tahun belakangan ini.


beberapa jam berlalu faira akhirnya sampai di desa tempatnya dan kakeknya tinggal dulu, rumah kakeknya berada di balik bukit dan di kelilingi perkebunan, faira berjalan kaki dari halte menuju rumah kakeknya


"di sini memang tidak pernah berubah sangat cantik dan udaranya segar'' ucap faira sambil menarik koper yg ada di tangannya, tiba tiba seseorang memanggil


"fairaa!!!!"


faira menoleh mencari sumber suara, yg ternyata adalah tetangga kakeknya yg tengah berjalan tidak jauh dari faira


"owh, bibi,,, lama gak ketemu" sahut faira sambil memeluk bibi itu.


"bibi pikir kamu gak akan pulang" ucap bibi itu sambil melepaskan pelukan mereka berdua


"ini kampung halamanku aku pasti pulang lah" sahut faira dengan wajah manja


"ayooo bibi antar ke rumah" menarik koper yg faira pegang.


"gak usah aku aja yg bawa" ucap faira sambil mengambil kembali kopernya.


faira pun sampai di rumahnya, ia melihat sekeliling rumah itu memang tidak ditempati bertahun tahun jadi terlihat kotor dan berantakan.


"kamu gak nelpon bibi dulu sih kalo mau pulang, kalo ngabarinkan bisa di bersihin dulu rumahnya" ucap bibi itu sambil tersenyum oada faira


"gak papa aku bisa bersihinnya kok" ucap faira melepas tasnya dan bergegas mengambil sapu.


beberapa jam berlalu faira akhirnya selesai membersihkan rumahnya yg di bantu bibi itu dan merebahkan badannya di lantai.

__ADS_1


"ah capek banget" ucap faira sambil memejamkan matanya dia menarik napasnya dengan cepat karna kelelahan.


"ini udah malam, cepat mandi dan istirahat kamu pasti capek" ucap bibi itu sambil mengelus rambut faira.


bibi itu bernama bibi rumi ia dulu sering mengasuh faira yg di tinggal kakeknya tugas jadi tidak heran jika ia terlihat menyayangi faira.


faira yg sangat lelah beristirahat di kasurnya sambil memeluk guling faira memejamkan matanya namun meski matanya terpejam ia menangis.


"aku merindukanmu kek" ucap faira meski matanya tertutup air matanya tidak henti hentinya membasahi bantalnya.


"jimmy benar, aku masih mencintai jeon" faira menyadari jika sepenuhnya hatinya masih milik jeon, rasa benci dan amarah hanya menutupi cintanya tapi tidak menghilangkannya.


tok tok tok suara ketukan di pintu membuat faira bangun dan mengusap air matanya agar tak di sadari siapapun, faira pun membuka pintu rumahnya ternyata bibi rumi datang dengan rantang di tangannya


"kau pasti belum makan, makanlah" ucap bibi rima sembari menyerahkan rantang itu


"iya, terimakasih bi, karna baru membereskan semuanya jadi aku belum bisa memasak apa apa" ucap faira sambil tangannya menyambut makanan yg di berikan bibi rumi


"makanlah, apa kau menangis" bibi rumi memiringkan kepalanya ingin melihat mata faira yg nampak sembab.


"aku merindukan kakek" ucap faira yg langsung menangis tidak kuasa menahan kesedihannya


"tentu saja kau pasti sangat merindukannya" ucap bibi rumi langsung memeluk faira.


dengan sedikit tersedu faira memakan makanan yg diberikan bibi rumi padanya bibi rumi hanya melihat faira makan dengan tersenyum


"makan yg banyak kau terlihat kurus" ucap bibi rumi sambil menaruh beberapa lauk ke piring faira faira hanya mengangguk tersenyum


"aku kenyang sekali, masakan bibi memang selalu enak" faira tersenyum sambil mengacungkan jempolnya.


"tentu saja" sahut bibi rumi sambil tersenyum malu.


"faira apa kau baik baik saja selama ini, kau bisa cerita pada bibi" ucap bibi rumi yg tau ia bercerai dengan jeon sambil menatap faira yg sedang bersandar kekenyangan.


"tenanglah bi, aku bisa mengatasinya" ucap faira menghindari percakapan bibi rumi yg hendak membahas tentang ia dan jeon


"apa dia(jeon) bersikap baik padamu selama ini" tanya bibi rumi


"tentu saja dia baik" jawab faira singkat dan menghindari tatapan bibi rumi


"terus kenapa berpisah? bibi sangat senang ketika tau kau menikah dengannya di berita, tidak menampik jika bibi juga sedih dengan berita perceraian kalian" jelas bibi rumi yg ingin tau sambil memegang tangan faira


"aku tidak cocok bi hidup di kalangan mereka" faira menjawab itu dengan singkat ia langsung berdiri membawa piring2 yg kotor untuk di cuci.


"tapi kau tidak berselingkuh dengan sepupunya kan seperti yg di beritakan" tanya bibi rumi sembari menghampiri faira yg tengah mencuci piring.


faira pun menatap bibi rumi, sambil tangannya tetap mencuci piring "tidak bi, percayalah" faira langsung melanjutkan mencuci piring


"bibi tau kau tidak akan melakukan hal itu" ucap bibi rumi sambil menepuk pundak faira dan beranjak pergi.


di tempat lain meskipun berita tentang perceraian jeon sering di bahas jeon tetap bungkam tidak ingin membicarakannya. jeon yg tengah berada di luar negeri karna ada urusan pekerjaan selalu memikirkan faira. ketika sedang berjalan jeon di temani asistennya berjalan menyusuri sungai yg berada di samping jalan


"aku bahkan tidak pernah mengajaknya liburan" ucap jeon dengan suara kecil


"kau bilang apa?" tanya asistennya


"bukan apa apa" sahut jeon


jeon mengingat masa lalu meskipun ia tak mencintai faira waktu itu seharusnya ia tetap mengajaknya liburan, jeon sangat menyesali perbuatannya namun ia tak menceritakan itu pada siapa pun sekalipun asistennya.

__ADS_1


__ADS_2