
"apa gunanya dia memberitahu itu" batin faira sambil mencolek pinggang chi untuk membuat permintaan jeon. chi pun dengan tanggap menyuruh jeon untuk duduk di bangku khusus pelanggan " duduklah sebentar selagi aku membuatkannya untuk anda" ucap chi sambil mempersilakan.
"tapi aku ingin dia yg membuatkan bunganya" menunjuk faira yg masih berdiri di depan kasirnya.
chi sejenak terdiam dan menatap faira yg tengah itu menatap jeon, " tapiii pakk,,,,,," ucapan chi langsung di potong faira " tidak apa, aku akan membuatkannya". fairapun langsung mengambil beberapa tangkai bunga dan membungkusnya dengan cantik,
"ini sudah siap, apa anda suka" ucap faira basa basi dengan jeon yg hanya di angguki jeon sambil mencium aroma bunganya.
"oh iya bisa aku minta tolong satu hal lagi" ucap jeon yg beranjak dari kursinya mendekati faira dan chi yg berada di depan meja kasir.
"iya apa,," tanya chi keheranan
"tuliskan surat di bunga ini"
"boleh, apa kalimatnya" chi dengan segera mengambil pulpen dan secarik kertas khusus.
"aku tau tidak ada hal yg kau percaya di dunia ini, tapi percayalah bahwa aku mencintaimu"
chi sedikit terkejut mendengar isi surat yg di inginkan jeon sedangkan faira hanya memalingkan wajahnya tidak ingin memandang jeon.
"ini sudah selesai pak" ucap chi lalu menyerahkan secarik kertas tersebut
"apa ia akan menerima bungaku'' jeon bertanya pada chi
" tentu saja, bapak terlihat sangat tulus" ucap chi yg masih sangat kagum akan ketampanan jeon. kemudian jeon pun tersenyum, dan dengan pelan memutari meja kasir untuk mendekati faira, chi keheranan dengan sikap jeon sedangkan faira yg tadi memalingkan wajahnya kini menghadap jeon yg sudah tepat berada didepannya dengan bunga di tangannya.
" ini untukmu " menyerahkan bunga yg ia pegang pada faira.
faira hanya mematung ia benar benar tidak punya kata untuk menjawab jeon, sesekali matanya menatap jeon lalu tertunduk menatap bunganya.
"terimalah dan maafkan aku" ucap jeon dengan suara mulai memberat.
setelah lumayan lama terdiam faira akhirnya menyambut bunga yg sedari tadi jeon sodorkan padanya "aku memaafkanmu" ucapnya singkat.
jeon yg merasa senang langsung ingin memeluk faira namun faira mencegahnya dengan sedikit menahan dada bidanganya.
"aku sudah memaafkanmu jadi pergilah"
sejenak jeon terdiam matanya mulai memerah dan ia menggeleng "aku tidak bisa....." ucapnya dengan suara lirih.
__ADS_1
"kenapa tidak bisa??" tanya faira dengan pelan.
"aku mencintaimu" jeon pun sudah tidak kuat menahan bendungan air matanya dan membiarkannya terjatuh, sedangkan faira hanya mematung menatap jeon.
"pulanglah aku sangat lelah..." ucap faira dengan pelan lalu pergi ke ruangan khusus istirahat yg tidak jauh dari kasirnya. jeon tidak ingin usahanya sia sia lalu menyusul faira yg sudah duduk bersandar di sofa panjang disana, sedangkan chi yg mulai memahami keadaan membiarkan jeon masuk chi pun keluar berharap mereka bisa bicara lebih nyaman.
jeon mendekati faira yg menatap tv "aku bersungguh sungguh, aku pikir perceraian itu hanya rasa kesepian karna tidak akan bertemu denganmu lagi, dan akan hilang seiring waktu, tapi ternyata aku salah, semuanya semakin rumit bahkan untuk makan pun sangat susah untukku telan. aku tidak bisa tanpamu, aku tau kau tidak akan melupakan semua yg sudah terjadi tapi...." jeon terhenti dengan ucapannya
"tapi apa?? lanjutkan, aku akan mendengarkan sampai akhir" sahut faira
"aku akan berusaha agar kamu bisa merasakan keringanan dalam hatimu, dan mulai tidak akan mengingat hal dulu lagi"
"bagaimana bisa,, itu terekam jelas di kepalaku jeon, terekam jelas bagaimana kau berpura pura mencintaiku untuk melindungi gadis lain dan menyiksa batinku setiap hari dan kau ingin aku melupakan semua??"
"aku tau itu tidak mungkin tapi setidaknya kau bisa tidak akan mengingatnya lagi" jeon mulai mendekap tangan faira
"bagaimana caranya??" tanya faira
"aku mencintaimu, aku akan melakukan apapun"
"pergilah jeon, aku ingin istirahat" lagi lagi faira mengusir jeon tanpa kejelasan.
"bagaimana kau bisa berpikir kalau ini anakmu" ketus faira
"jangan bicara seperti itu, aku tau ini anakku" jeon menarik lengan faira dan memeluknya.
jeon terkejut dengan tendangan bayi dalam perut faira yg terasa dalam kulitnya "aku ingin mendengarnya" ucap jeon langsung berjongkok lalu mencium perut faira "lihat lah fay, dia sangat senang aku disini" ucap jeon dengan wajah bahagia karna bisa merasakan gerakan bayinya dalam perut faira.
"kenapa kau sangat yakin ini anakmu" faira meneteskan air matanya ingin mendengar jawaban jeon
jeon lalu bangkit setelah mencium perut faira "apa yg ku ragukan dari dirimu, aku tidak pernah meragukan apapun darimu, aku sangat yakin ini anakku"
"tapi kenapa kau memaksaku dan menuduhku dengan jimmy malam itu" dengan sedikit nyaring dan tersendat sendat faira berusaha untuk tidak menangis, tapi lagi lagi air matanya mengalir begitu saja.
melihat faira yg menangis bercampur amarah, jeon memeluknya dengan kuat karna faira terus menolak "aku sangat cemburu saat itu, hatiku sangat marah saat tau kau berlibur dengan jimmy aku ingin mengoyak semua tubuhku hanya karna marah, tapi apa yg aku lakukan saat itu karna aku mencintaimu"
"cintaa??" faira mendorong jeon dengan wajah heran "itu nafsu dan keras kepalamu jeon"
jeon menggeleng "tidak fay, aku sudah mencintaimu bahkan sebelum itu, aku tidak ingin kehilangan dirimu"
__ADS_1
"lalu kenapa kau membiarkanku pergi jika kau sudah mencintaiku saat itu" tanya faira sambil memeluk perutnya menatap jeon yg saat itu juga mematung.
"kau tidak bisa jawabkan, jika benar kau mencintaiku saat itu kau pasti akan berjuang mempertahankanku, kau tidak akan bisa berpisah dariku, seperti saat kau mencintai clara kau melakukan segalanya untuknya bahkan menyakitiku, kau bahkan tidak punya rasa kasihan padaku saat itu" ketus faira lagi dengan buliran air mata yg terus mengalir karna masih merasakan kecewa.
jeon hanya terdiam lemah menatap dan mendengarkan faira sesekali ia menggeleng bermaksud menyangkal pendapat faira.
melihat jeon yg tidak ada tanggapan apapun faira semakin kesal, ia berjalan perlahan menuju kamarnya yg berada di lantai atas, dan terhenti saat ia baru menginjak anak tangga karna suara jeon menghentikannya.
"aku memang orang yg sangat egois, aku selalu berpikir aku pantas melakukan apa pun dan pantas bersanding dengan siapapun, tapi saat aku semakin sering melihatmu menangis dan sedih karna ulahku untuk pertama kalinya aku mengalah dengan keegoisanku untuk mempertahankan sesuatu, untuk pertama kalinya aku menyadari ia bahagia jika lepas dariku, saat itu aku baru mengerti tentang tulusnya cinta" setelah mengungkapkan perasaannya jeon menunduk menutupi air matanya yg mengalir. sedangkan faira hanya diam mematung membelakangi jeon sambil memegang pengaman tangga.
"mungkin sekarang kau berpikir aku kembali egois karna memintamu kembali,,," mendekati faira dan memutar badan faira untuk menghadapnya "sekarang aku sedang tidak egois fay, aku mencoba sesuatu yg belum pernah ku coba, aku akan berusaha mendapatkan kepercayaanmu, jadi beri aku kesempatan" jeon menatap faira dan mengangkat dagu faira agar ia bisa menatap matanya.
"aku tidak ingin berharap jeon, pergilah" kali ini faira benar benar meninggalkan jeon sendiri dan masuk ke kamarnya.
"aku tidak akan menyerah faira sampai kamu dan anakku bersamaku aku tidak akan menyerah meski serangga menggerogoti hatiku perlahan"batin jeon sambil menarik nafasnya panjang lalu berlalu keluar untuk kembali ke hotelnya.
"permisi..."
mendengar seseorang bersuara ke arahnya jeon yg tengah berjalan berhenti dan menoleh ke sumber suara "oh kau karyawan faira yaa?" dengan sigap jeon tersenyum, ia tidak ingin orang tau masalahnya dan faira.
"iyaa,," chi menunduk "maaf jika saya lancang, apa bapak adalah mantan suaminya bu faira"
"iyaa" jeon mengangguk
"ohhh" chi tertawa tipis "ueemmhh, bapak kesini untuk menjenguk bu faira ya"
"aku ingin menjemputnya" ucap jeon tanpa malu.
"sepertinya bu faira orang yg sulit di taklukan ya pak?"
"itu kesukaanku" ledek jeon singkat
" saya gak sengaja denger pembicaraan bapak dan bu faira tadi, saya memang gak tau apa apa karna bu faira memang tidak pernah cerita apapun, tapi saya paham jika kalian sebenarnya saling cinta hanya saja terhalang dinding besar, dan cuma bapak yg bisa menghancurkan dinding tersebut" ucap chi sambil berjalan
mendengar ucapan chi jeon terhenti ia sedikit menunduk setelah mendengar ucapan chi.
"ada apa pak,??" chi terkejut melihat jeon yg terdiam "maaf pak saya lancang"
" tidak tidak kau memang benar" jeon mengurai senyum pada chi. " aku yg akan menghancurkan dinding itu" ucap jeon penuh semangat.
__ADS_1