
tidak lama setelah berpisah dari faira jeon justru sering menetap di rumah orang tuanya, meski hubungannya dengan ayahnya selama ini kurang baik jeon berusaha memperbaiki hubungannya dengan ayahnya, jeon juga mengurangi pekerjaannya karna ia merasa tidak bersemangat akhir akhir ini.
"jeon ayo makan malam bersama" teriak ibu jeon dari ruang makan yg tidak terlalu jauh dari kamarnya.
"iyaaa" sahut jeon dan berdiri keluar kamar menghampiri ibunya yg sudah duduk di meja makan.
jeon menarik kursi dan duduk di samping ibunya
"ayah belum pulang ma?" tanya jeon
"katanya bentar lagi"
"ya udah kita tunggu ayah aja dulu"
"makasih ya jeon udah berusaha kembali dekat sama ayah kamu" ucap ibu jeon sambil menggenggam tangan anaknya, jeon hanya tersenyum dan mengangguk.
selang beberapa menit ayah jeon pulang dan melihat istri dan anaknya sudah ingin makan, dan langsung menghampiri mereka.
"apa makanannya masih hangat" ucap ayah jeon sambil menaruh tasnya di kursi kosong sebelahnya dan duduk di depan istri dan anaknya
"masih" ucap ibu jeon sambil mengambil nasi ke piring suaminya.
merekapun makan bersama, mereka memang tidak bicara saat makan, saat selesai makan ibu jeon membersihkan meja dan meninggalkan suami dan anaknya yg saling berhadapan, jeon dengan sedikit ragu mengajak ayahnya bicara
"aku mungkin belum dewasa yah, banyak hal yg membuatmu sedih karna kelakuanku" ucap jeon sambil tertunduk
"kau sudah berusia 30 ke atas, bagaimana kau menyebut dirimu belum dewasa" sahut ayahnya menatap jeon
"karna aku melakukan kesalahan" jawab jeon masih menunduk
"orang dewasa pasti bisa melakukan kesalahan jeon, tapi mereka akan memperbaikinya"ucap ayah jeon dengan lembut
__ADS_1
jeon yg mendengar jawaban ayahnya hanya diam memberanikan diri untuk menatap ayahnya.
"kamu mau jadi dewasakan?" tanya ayah jeon, jeon diam dan hanya mengangguk
"kalau begitu perbaikilah kesalahanmu, jika kau harus meminta maaf, minta maaf lah jangan gengsi, orang yg tulus meminta maaf pasti akan di maafkan" jelas ayah jeon dan berdiri meninggalkan jeon sendiri.
ibu jeon melihat jeon dari balik pintu dan tersenyum saat jeon menoleh ke arah ibunya, ibunya senang akhirnya jeon dan ayahnya bicara tanpa emosi, dan saling memberi pendapat.
jeon kemudian menghampiri ayah dan ibunya yg tengah bersantai di depan tv, jeon langsung tidur di pangkuan ibunya, ibunya pun mengelus elus rambut anak satu satunya itu penuh cinta, meskipun anaknya sering membuat masalah orang tua akan tetap menyayangi anaknya, terlebih saat ia melihat jeon akhir2 ini berubah. dalam pembicaraan keluarga itu mereka sangat santai tidak membahas masalah apa pun mereka hanya membahas makanan dan liburan
"bu bagaimana kalau besok kita ke pameran lukisan" ajak jeon yg masih di pangkuan ibunya.
"kau benar benar masih mencintai lukisan ya nak" tanya ibunya
"ya aku sudah lama tidak melihat lihat, kebetulan ada pameran lukisan yg masih di selenggarakan, kita besok kesana ya" ucap jeon seperti bocah yg berumur 8 tahun
"baiklah, besok ayahmu juga akan libur" ucap ibu jeon sambil melirik suaminya, suaminya hanya mengangguk karna matanya fokus pada pertandingan tenis di tv.
"kenapa rasanya begini, kenapa sangat menyesak di dada saat mengingatmu fay" ucap jeon dengan tangannya memegang dadanya.
"apa aku merindukanmu?" tanya jeon pada dirinya sendiri sambil melihat baju faira yg ia pegang.
dengan rasa yg berkecamuk di hatinya setelah mengingat faira jeon dengan lemah duduk di pinggir kasurnya sambil melihat foto pernikahannya dan faira yg sengaja tidak di buang oleh orang tuanya meski mereka sudah berpisah.
"apa ini yg kau rasakan dulu saat aku meninggalkanmu di saat saat kau butuh" sambil menatap foto faira sesekali jeon tertunduk dan menarik nafasnya berat seolah olah terasa sesak.
jeon mencintai faira tapi ia tidak sadar kapan perasaannya itu mulai ada, namun ia selalu membohongi dirinya sendiri dan beberapa minggu terakhir jeon memang merasakan kerinduannya dengan faira namun bukannya berusaha menjumpai faira ia lebih memutuskan menemui orang tuanya dan memastikan perasaannya.
karna tau ia begitu menyakiti faira ia lebih memilih menahan rasa di hatinya dan membiarkan rindu itu meremuk hatinya perlahan lahan.
"apa kalian sudah siap" jeon menghampiri orang tuanya yg sedang berada di kamar. namun ia melihat ibu dan ayahnya yg terlihat sibuk, ibu jeon terkejut melihat jeon yg berada di pintu dengan pakaian rapi.
__ADS_1
"ah ibu minta maaf sayang, hari ini ada urusan mendadak jadi ibu dan ayah akan keluar kota sebentar" ucap ibu jeon tersenyum sambil bersiap siap.
"kau sendiri saja ya jalan jalannya hari ini" ucap ayah jeon sambil berbalik melihat jeon dengan beberapa berkas yg tengah ia masukkan ke dalam tas.
jeon terdiam sejenak ia hanya tersenyum tipis dan menggaruk tengkuknya yg tidak gatal "baiklah, karna aku sudah siap aku akan tetap pergi," sahut jeon dan berjalan keluar.
"kau pasti akan menikmatinya nak" teriak ibu jeon dari kamarnya
jeon tanpa menjawab langsung menuju mobilnya dan berangkat, ia menikmati perjalanannya.
satu jam berlalu jeon sampai ke tujuannya, dalam pameran hari itu terlihat tidak terlalu banyak pengunjung karna bukan hari libur jeon yg keluar dari mobilnya tidak lepas dari masker dan topi hitam, ia berusaha menutupi wajahnya agar tidak ada yg menyadari kehadirannya. dengan langkah pelan jeon menelusuri beberapa ruangan yg memajangkan lukisan lukisan, dari tentang sebuah sejarah, hingga lukisan abstrak.
ketika tengah menatap satu lukisan jeon mendengar suara yg familiar di telinganya ia pun menoleh ke arah sumber suara, benar saja yg di dengarnya, ia melihat faira tengah berbincang bincang dengan seseorang sambil melihat lihat lukisan yg tidak jauh darinya hanya berjarak 5 meter darinya. gadis yg baru bercerai dengannya itu terlihat sangat cantik dengan blouse yg sangat feminim ditambah rambutnya yg terurai yg sedikit ia lipat ke telinganya, memperlihatkan kilauan anting yg menggantung di telinganya, faira yg tengah berbincang menyadari ada seseorang menatapnya dan menengok ke arah jeon, namun jeon menghindari kontak tersebut dan berjalan menjauh karna jeon mengingat ucapan faira yg tidak ingin melihatnya lagi.
namun karna rasa rindu di hatinya jeon dengan sembunyi sembunyi menatap faira dari jauh, ia berusaha tidak disadari dan terlihat oleh faira, kali ini jeon tidak bisa fokus pada lukisan, ia hanya menatap faira dari jauh, berharap faira tidak menyadari akan adanya dirinya.
namun karna rombongan yg bersama faira lumayan banyak membuat jeon kesulitan mencari faira karna itu jeon memutuskan keluar dari tempat pameran dan menunggu di mobil ia berharap bisa melihat faira. meski tau setelah itu akan sulit melihatnya lagi ia tetap menunggu.
dengan menunduk di kemudi mobil jeon menunggu faira keluar, sampai akhirnya ia mendengar kebisingan orang yg melewati mobilnya, ia pun memperhatikan satu persatu orang yg lewat sampai akhirnya faira melewati mobil jeon dengan menunduk dan melangkah dengan cepat karna menyadari mobil yg berada tepat di depan bus mereka adalah mobil jeon.
"kau benar benar tidak ingin menyapaku fay, bahkan mobilku saja enggan kau lihat" batin jeon tanpa melepaskan tatapannya pada faira yg mulai memasuki bus.
hampir saja tangan jeon membuka pintu mobilnya ingin mengejar faira namun ia tersendat, ada banyak hal yg berada di pikirannya hingga ia tak sadar jika bus yg di tumpangi faira mulai menjauh.
jeon hanya diam melamun dalam mobilnya tatapannya kosong. "apa akan menyesal jika tidak mengejarnya sekarang?" batin jeon ia meletakkan satu tangannya di kemudi, sedangkan tangan yg satunya menggenggam erat ponselnya, ia tersadar ketika seorang penjaga mengetuk kaca mobilnya dan sesekali mengintip
"kenapa pak" tanya jeon yg baru separo menurunkan kaca mobilnya
"aku sudah melihat bapak dari tadi di mobil tapi tidak jalan, apa ada masalah" tanya penjaga itu sambil berjongkok memperhatikan jeon.
"maaf pak saya melamun, saya akan pergi sekarang"
__ADS_1
"baiklah tidak apa apa melamun saat mobil sedang terparkir aman, tapi jika sudah melaju jangan melamun ya pak" ucap penjaga itu sambil berdiri dan kepinggir untuk memberi jalan jeon untuk lewat. jeon hanya mengangguk dan menyalakan mobilnya lalu melaju kencang.