
***
"Ele, kenapa tak kau lanjutkan makanmu? Biasanya kau selalu berebut denganku apabila kita sudah makan sushi," ucap Baylor yang tak sengaja memperhatikan tingkah Eleanor ketika menoleh ke arahnya.
"Kau makan saja dulu," ucap Eleanor.
Raut gelisah tampak pada wajahnya, tak sanggup ia sembunyikan dari Baylor meskipun ia telah berusaha sekuat tenaga.
"Ada apa? Mengapa wajahmu tampak gelisah?" ucap Baylor, mengerutkan dahinya.
"Oh, tidak ada yang terjadi. Semua baik-baik saja. Kau makan saja, Lor," ucap Eleanor sambil tersenyum kikuk, senyum yang sangat dipaksakan.
"Kau yakin?" tanya Baylor lagi untuk memastikan kalau semuanya baik-baik saja.
"Ya, aku yakin," jawabnya berbohong.
Ia tak ingin merusak rencana makan malam yang sudah dinantikan sahabatnya sejak lama.
"Baiklah kalau begitu. Cepat keluarkan tanganmu dan lanjutkan makanmu," pinta Baylor.
"Ayolah," bujuknya lagi.
"Iya, iya, Lor," ucap Eleanor dengan terpaksa.
Ia mengeluarkan tangan kirinya secara perlahan, mencoba mengulur waktu.
"Ayolah, Ele. Kau bukan kidal. Apa yang terjadi dengan tangan kananmu?" tanya Baylor, ia mulai curiga dengan kelakuan Eleanor.
Baylor yang semakin merasa sesuatu tidak seharusnya telah terjadi akhirnya memutuskan untuk meninggalkan kursinya dan menghampiri Eleanor yang duduk tepat di hadapannya. Eleanor terkejut tidak karuan dan berusaha keras menghindar, namun yang bisa dilakukannya hanyalah menatap Baylor dengan tatapan memohon agar Baylor kembali duduk di tempatnya dan melahap sushi-sushi itu sampai ludes.
Baylor yang telah berdiri tepat di sebelah Eleanor mengeluarkan tangan kanan Eleanor yang masih ia sembunyikan di bawah kolong meja.
"Ya, Tuhan. Apa yang terjadi? Aku baru saja berbaikan kembali dengannya dan baru saja berbahagia sebentar. Tolonglah aku, Tuhan. Aku tak ingin Baylor melihat ini semua." Eleanor berdoa dalam hati, namun sorot matanya tak pernah ia tinggalkan dari mata Baylor.
"Apa yang terjadi dengan tanganmu? Bukannya semua baik-baik saja? Tak ada luka segores pun, malahan lembut seperti pantat bayi, hehe," ucap Baylor bingung dengan sikap Eleanor, namun tetap saja menggoda Eleanor.
Ia akan menggoda Eleanor kapanpun juga jika kesempatan terbuka sekecil apapun, ia tak akan membiarkan kesempatan itu pergi begitu saja.
__ADS_1
Eleanor yang mendengar ucapan Baylor langsung memperhatikan tangan kanannya dengan seksama. Ia mengerjapkan matanya, melihat lagi, lagi dan lagi.
Mengapa tangannya kembali normal? Tak lagi hilang, tak lagi transparan dan berkelap-kelip. Sebenarnya apa yang terjadi? Apa ia berdelusi?
"Emm, bukankah sudah kukatakan kalau tanganku baik-baik saja, Lor. Kau yang tak percaya padaku. Sahabat macam apa kau ini," ucap Eleanor pura-pura mengambek, mencoba menyembunyikan perasaan gelisahnya.
"Maafkan aku, Ele. Siapa suruh kau tampak mencurigakan sekali," ucap Baylor tak terima dengan tuduhan Eleanor.
"Baiklah jangan dipikirkan lagi, Lor. Ayo kita makan saja. Aku tak bisa menahan hawa nafsuku lagi, ini semua terlihat lezat sekali, menggiurkan sekali. Kalau kau tak segera duduk dan makan, maka bagianmu akan kuhabiskan juga," ucap Eleanor, menggoda balik Baylor.
"Wow! Kau sudah bisa mengancamku, ya. Awas kau ini," ucap Baylor seraya mencubit hidung mancung Eleanor, lalu segera kembali ke tempat duduknya dan melahap sushi-nya sebelum dihabiskan Eleanor.
Mereka menghabiskan sisa makan malam mereka dengan sangat bahagia, sesekali terjadi persaingan kecil untuk memperebutkan sushi-sushi terakhir.
***
Bagaikan jarum dalam tumpukan jerami, dua insan itu tak lagi dapat ditemukan dalam hijaunya rerumputan yang rela diinjak makhluk sang pencipta demi membahagiakan satu per satu hati mereka.
Terang yang mengedip-ngedip di tengah alun-alun kota itu juga tidak mau kalah. Menyinari cerah raga yang terkelam dalam dunianya sendiri.
Eleanor dan Baylor membiarkan tubuh mereka untuk beristirahat sejenak di atas tanah beralas hijau segar sambil tertawa-ria dan mengobrol santai.
"Ya, tentu saja aku janji, Eleanor Devacio. Justru kau yang harus berjanji denganku kalau kau tak akan meninggalkanku lagi," ucap Baylor sambil menoleh ke arah Eleanor, membalas tatapan hangat dari sahabatnya itu.
"Akan selalu kuusahakan. Aku tidak bisa berjanji, aku bahkan tidak tahu apa yang akan terjadi lagi denganku besok," ucap Eleanor.
"Hmmm, apa kau sudah lelah?" tanya Baylor ketika menyadari kalau hari sudah larut sekali.
"Hmmm, aku rasa kita sudah harus pulang. Besok kita harus kerja. Huhuu, aku cape sekali. Aku malas untuk berangkat kerja," ucap Eleanor menggerutu.
"Kalau begitu, bagaimana kalau kita bolos saja besok," tukas Baylor.
"Apa kau sudah tak waras? Kau mau kita dipecat?" tanya Eleanor tak percaya dengan kegilaan sahabatnya.
"Hahaha. Mari, kita pulang," ucap Baylor sambil berdiri dan membersihkan beberapa helaian daun dan rumput yang tidak mau berpisah dengan teman baru mereka, celana dan bajunya, lalu mengulurkan tangannya pada Eleanor.
"Ayo!" ucap Eleanor, meraih uluran tangan Baylor dan akhirnya berdiri.
__ADS_1
***
"Berpeganganlah padaku. Aku tak mau kau terbang bila aku mengebut," teriak Baylor pada Eleanor di sela-sela perjalanan mereka menuju apartemen Baylor dengan menggunakan motor sport miliknya.
"Bagaimana kalau aku tidak mau mendengarmu?" tanya Eleanor.
"Maka kau akan terbang," ucap Baylor sambil sesekali mengarahkan ekor matanya ke belakang lalu mempercepat kecepatan motor.
Eleanor yang tak menyangka kalau Baylor akan benar-benar menaikkan kecepatan motornya langsung memeluk erat Baylor dan terdiam sejenak. Sedangkan Baylor, ia hanya tersenyum melihat sepasang tangan melingkar pada pinggangnya.
"Kau sungguh jahil," ucap Eleanor sambil memukul pelan Baylor, lalu kembali menyandarkan wajahnya pada punggung sahabatnya itu.
"Andai waktu bisa berhenti berdetak," gumam Eleanor pelan.
Ia yang dulunya putus asa dan tidak lagi mempunyai semangat hidup mendadak mendapat kebahagiaan bertubi-tubi, ia sejenak melupakan semua penderitaan apabila berada di samping Baylor. Sungguh sebuah keajaiban. Walaupun jauh di lubuk hatinya, Eleanor tetap khawatir. Sewaktu-waktu bisa saja semua ini memburuk dan mungkin saja ia tak lagi dapat menemani sahabatnya itu. Ia tak bisa membayangkan apa jadinya hidupnya apabila ia dan Baylor terpisah ... lagi.
***
Sesampainya di apartemen Baylor....
"Haha. Hari ini aku lelah sekali, aku ingin sekali tidur. Ehhh, ngomong-ngomong, nanti aku tidur di mana? Tidak mungkin kan kita tidur di satu ranjang. Apa jadinya penilaian orang-orang terhadapku," ucap Eleanor.
"Hmm, bagaimana ya? Apa kau tidur di sofa ruang tamu saja?" ucap Baylor.
"Yang benar saja, Lor. Pertama-tama kau menyuruhku untuk pergi dari apartemenku dan sekarang kau menyuruhku untuk tidur di sofa ruang tamumu. Dan yang biasanya tidur di sofa itu laki-laki, bukan perempuan," gerutu Eleanor.
"Hmm, apa menurutmu aku sekejam itu, Ele? Yang benar saja! Sahabatmu ini tak mungkin setega itu sama kamu, Ele," ucap Baylor.
"Jadi?" tanya Eleanor.
"Emmm, kau tutup matamu sekarang," ucap Baylor, lalu mengarahkan Eleanor dengan tangan yang menempel indah itu.
"Kau mau membawaku ke mana, Lor?" tanya Eleanor yang masih dalam kondisi memejamkan matanya.
"Kau ikut saja, Ele," omel Baylor.
Setelah melangkahkan kakinya beberapa langkah, Baylor menghentikan langkahnya dan mengeluarkan sebuah kunci dari kantong sakunya dan membukakan sebuah pintu untuk Eleanor.
__ADS_1
"Kejutann!!"