The CURSE : Deadly Game

The CURSE : Deadly Game
● THIRTY TWO ●


__ADS_3

"Lor, apa ini?" ucap Eleanor pelan sembari menerawang sekitarnya dengan mata tidak percaya.


"I--ini gua. Tapi bagaimana caranya kita bisa keluar dari sini? Ini gelap sekali dan sepertinya gua ini tidak ada akhirnya," ucap Baylor terbata-bata.


"Di sana ada lampu minyak tanah dan obor!" seru Eleanor ketika melihat beberapa peralatan yang sudah dipersiapkan sang game maker.


Suaranya yang terus bergema tak henti-henti membuat bulu kuduk keduanya berdiri tegak dan diselimuti ketakutan.


"Ayo, kita ke sana!" seru Baylor namun dengan volume kecil.


Mereka sedikit takut dengan suara mereka yang selalu bergema, membuat mereka mulai berpikiran aneh-aneh tentang hantu-hantu di film-film. Tapi, sebenarnya tak ada salahnya juga kalau mereka takut. Siapapun yang ada di posisi mereka pasti takut, bukan?


Mereka berjalan selangkah demi selangkah menuju terangnya cahaya lampu dan obor yang menyala-nyala lalu meraihnya dan mencari tempat peristirahatan.


"Apa yang harus kita lakukan sekarang, Lor? Aku bingung," desah Eleanor.


"Aku pun tak tahu. Bagaimana kalau kita berkeliling dan mencari tahu keadaan sekitar, manatahu kita bisa menemukan petunjuk. Duduk diam saja tak ada gunanya," ucap Baylor.


"Ya, kau benar," jawab Eleanor.


Mereka kemudian mulai menyusuri gua pengap itu bersama dan mulai menemukan petunjuk satu per satu.


Eleanor tiba-tiba berhenti sebentar ketika merasa sesuatu tidak sengaja dilihatnya pada dinding gua saat melewatinya


dengan sedikit cahaya api obor.


"Lor, Lor, tunggu sebentar. Pasingkan aku obornya," pinta Eleanor sekaligus menggerak-gerakkan jarinya meminta obor dari tangan Baylor.


"Baiklah, ada apa?" ucap Baylor seraya memasingkan obor yang sedang dipegangnya.


"Kau lihat, di dindingnya ada ukiran-ukiran," terang Eleanor dengan mendekatkan cahaya obornya.


Baylor memicingkan matanya dan menemukan ukiran yang dimaksud Eleanor.


"Ya, kau hebat, Ele. Sejak kapan matamu jeli sekali?" goda Baylor, mencoba mencairkan suasana.


"Kau ini sungguh menyebalkan. Masih sempat-sempatnya kau menggodaku di saat seperti ini. Kau kan raja teka-teki, cepat bantu aku menemukan arti ukiran-ukiran ini," ucap Eleanor kesal.


Baylor kemudian mulai mengamati ukirannya, sedangkan Eleanor berusaha mencari petunjuk lainnya.


***


"Arghhh!!!"


Suara teriakan menggelegar di ruangan misterius itu. Cat tembok warna abu-abu dan dihiasi berbagai pernak-pernik dan boneka aneh. Tak sedikit juga benda-benda aneh lainnya yang terpajang di sekeliling kamar.


"Bagaimana bisa gadis itu masuk ke dalam? Berani-beraninya--," gerangnya.


"Arghhhh!!!" teriaknya lagi penuh frustasi.


"K--kau, lihat saja!!"


Sangat sakit hingga ia berusaha mengendalikan nafas terengah-engahnya dan keringat dingin yang terus mengucur di antara mata tertutupnya.


***


"Lor, ada pintu di sini!" seru Eleanor setelah lama mencari petunjuk yang lain.

__ADS_1


Baylor yang sedang fokus mengamati petunjuk ukiran itu langsung meninggalkannya dan berlari menuju Eleanor yang berada sekitar 10 meter di depannya.


"Pintu?" gumam Baylor.


"Ya, kau lihat ini. Di sini ada lubang kuncinya dan di sekitar ini ada garis pembelah," ujar Eleanor sembari menunjuk satu per satu yang berhasil ditemukannya.


"Ya, kau benar. Tapi di mana kuncinya?" tanya Baylor.


"Apa mungkin tantangannya adalah menemukan kunci untuk membuka pintunya?" tanya Eleanor mengalihkan matanya ke arah Baylor.


"Kau mungkin benar," jawab Baylor.


Dirinya yang mulai panik kembali ke tempat semula mengamati lukisan-lukisan yang diukir itu.


"Apa maksud ukirannya?" tanya Eleanor beberapa saat kemudian.


"Aku tak mengerti jelas maksudnya. Tapi sepertinya ia menggambarkan tentang kelahiran seorang putri di sebuah kerajaan, ia kemudian tumbuh dewasa dengan penuh kebahagiaan, lalu ia jatuh cinta dengan seorang pangeran dan cinta itu patah?" terang Baylor sedikit ragu dengan pemahamannya.


"Bukankah cerita itu sama seperti yang kita baca, Lor?" tanya Eleanor.


"Ya, sepertinya iya!" seru Baylor.


Mengapa hal ini tak terpikirkan olehnya sebelumnya? Ah, sungguh ceroboh. Untunglah Eleanor yang diberkahi ingatan super berhasil menutupi kekurangannya.


"Berarti cerita itu nyata?" tanya Eleanor lagi.


"Mungkin?" jawab Baylor ragu-ragu.


Tiba-tiba saja, indera penciuman mereka mendeteksi suatu zat yang tak lazim bagi mereka hirup.


"Aku tak tahu," jawab Eleanor dibarengi gelengan kepalanya.


"Ayolah, kau dulu pintar kimia sekali," rengek Baylor.


"Apa ini gas karbon monoksida?" ucap Eleanor menebak-nebak.


"Gas karbon monoksida? Bukankah itu gas berbahaya?" tanya Baylor lagi.


"Ya, kalau memang benar ini adalah gas karbon monoksida maka kita harus segera keluar atau kita akan mati di sini," ucap Eleanor.


"Sepertinya dada aku mulai sesak, Ele. Aku serius," ucap Baylor sembari mengelus dadanya yang membuat keduanya panik sekali.


Mereka tak ingin mati karena keracunan gas karbon monoksida yang entah datang dari mana itu. Terlebih lagi mati konyol tanpa perlawanan.


"Di mana kuncinya," rengek Eleanor panik.


Keduanya sibuk mencari kunci untuk membuka pintu itu dan tak lagi menghiraukan suara yang tak kalah sibuk bergema.


"Lor, sepertinya kita akan kalah. Aku sudah tak sanggup lagi. Paru-paru kita sudah rusak, Lor. Maafkan aku karena sudah mengajakmu ke sini," ucap Eleanor terengah-engah, dadanya sesak sekali.


Keduanya pun mulai terduduk dan menyender diam di tanah, paru-paru mereka sudah tidak dapat berfungsi menukar oksigen lagi. Dan ... yah, mereka tak dapat bernapas dan menghembuskan napas terakhir mereka di dalam gua gelap.


Anehnya, beberapa saat kemudian, mereka terjun bebas kembali seperti saat awal-awal masuk ke dunia penuh misteri ini dan tiba kembali ke gua yang sama seperti tempat terakhir mereka menghembuskan napas.


"Lor, apa kita mati?" tanya Eleanor setelah membuka matanya kembali.


"Tidak, Ele. Kita kembali ke gua ini setelah mati. Apa maksudnya?" tanya Baylor terheran-heran setelah melihat lokasi yang sama seperti sebelumnya.

__ADS_1


Bahkan seorang raja teka-teki sekalipun tak mengerti cara kerja dunia permainan ini.


"Lor, coba lihat papan peta ini baik-baik, tanda love yang awalnya lima buah sekarang sisa empat buah. Apa maksud dari love ini adalah nyawa kita?" tanya Eleanor ketika melihat suatu perbedaan pada peta permainan yang terus dipegangnya dari awal.


"Maksudmu seperti di film Jumanji?" tanya Baylor.


"Mungkin? Tapi ke mana perginya karbon monoksida itu?" ucap Eleanor.


"Aku tak tahu. Sebaiknya kita bergerak cepat. Kita tak boleh mati di permainan ini lagi," ucap Baylor.


"Ya, kau benar," gumam Eleanor, kepalanya masih berputar memikirkan semua hal ini.


Eleanor dan Baylor mulai berjalan setapak demi setapak yang hanya meninggalkan ratusan hingga ribuan jejak kaki di belakang mereka. Langkah Eleanor terhenti ketika matanya tertuju pada sesuatu di tanah berbatu itu.


"Lor, tunggu dulu," ucap Eleanor.


Lampu minyak tanah yang dipegangnya ia dekatkan ke arah tanah, menerangi jalan setapak itu.


"Ini adalah simbol bintang, Lor. Ini adalah Cancer," seru Eleanor dengan mata terbuka sempurna.


Ia kemudian berbalik kembali ke belakang dan menemukan simbol bintang lainnya di tempat lain pada tanah berbatu yang luas tiada akhir.


"Lihat! Ini adalah Gemini, dan ini adalah Taurus," ucapnya lagi.


Kaki mulusnya tak berhenti berjalan perlahan sembari membungkukkan punggungnya melihat ke arah tanah yang diikuti oleh Baylor.


"Lalu ini adalah Aries dan tak ada bintang lain lagi. Berarti sisanya ada di depan," terang Eleanor yang disertai senyuman bangga mengembang di wajahnya setelah berkontribusi besar dalam permainannya.


"Apa maksudnya?" batin mereka.


"Ele! Sepertinya aku mulai paham apa yang harus kita lakukan," seru Baylor.


Ia kemudian berjalan kembali ke depan.


"Leo, Virgo, Libra, Scorpio, Sagittarius, Capricon, Aquarius, dan Pisces. Kedua belas bintang ada di sini!" seru Baylor.


"Ukiran itu adalah bukti kalau cerita di buku itu nyata. Apa di cerita itu ada menyinggung tentang zodiak?" tanya Baylor.


Mereka mulai mengorek-ngorek isi otak mereka, mencoba mengingat kembali semua yang sudah mereka baca hingga otak mereka panas dan sakit mengeluarkan asap tak terlihat.


"Aha! Virgo! Putri itu lahir pada saat bintang Virgo muncul!" seru Eleanor.


"Ayo, kembali ke tempat Virgo!" ajak Baylor.


"Ada apa dengan Virgo ini?" tanya Eleanor ketika mereka sudah sampai di tanah berbatu yang terdapat Virgo itu.


Mereka menatapnya dengan seksama dan tak menemukan petunjuk apapun.


"Ele, kau lihat itu. Di sekitar tanah ini ada retak sedikit," ucap Baylor ketika mata jelinya mendeteksi suatu goresan halus yang seharusnya sangat sulit dilihat.


"Jadi?" tanya Eleanor.


Ia masih belum mengerti maksud Baylor.


"Mungkin saja tanah ini bisa dibuka," tukas Baylor, lalu tangannya mulai mencoba mengangkat tanah yang tergores itu sesuai bentuknya barangkali mereka bisa menemukan kunci atau petunjuk lain.


"Ketemu!"

__ADS_1


__ADS_2