
***
Suasana langsung berubah seketika saat mereka membuka pintu. Bahkan selangkah pun belum ditempuh, lokasinya tiba-tiba berubah tanpa mereka sadari dan lagi-lagi tempat itu mendatangkan kecemasan yang berlebih.
Brukk!!
Pintu itu tertutup dengan sendirinya dan mereka terkunci kembali di ruangan itu. Mata mereka menatap sekeliling dan menelan air liur mereka dengan susah payah.
Kini, tempatnya sepertinya tidak seburuk yang sebelum-sebelumnya. Mereka berdua sedang berada dalam ruangan petak seperti di dalam kubus raksasa yang setiap temboknya ditutupi kayu dan tidak ada satu pun jendela atau pintu, hanya kayu yang dapat terlihat dan tertutup penuh dengan sempurna.
Namun, ruangan itu sangatlah besar, berkali-kali lipat dari tubuh mereka. Total badan mereka hanyalah sebesar semut di atas jalanan aspal yang di sekelilingnya terdapat gedung pencakar langit tinggi.
Di hadapan mereka saat ini terdapat sebuah perapian yang menyala-nyala dan ukurannya pun tidak biasa, melainkan luar biasa. Ukurannya bahkan melebihi tinggi mereka. Di tengah ruangan itu, terdapat sebuah meja kayu dan satu kursi panjang kayu yang tak kalah besar.
"Lor, gerah sekali," ucap Eleanor sembari membuka tutup kerah bajunya akibat hawa panas yang menyelimuti mereka.
Bahkan di ruangan itu tidak ada jendela ataupun ventilasi sama sekali sehingga satu angin pun tidak ada yang beradu lawan dengan panas itu.
"Apa yang harus kita lakukan disini?" tanya Baylor.
Matanya tak henti melihat sekelilingnya yang penuh dengan ukuran raksasa hingga lehernya kini pegal karena harus terus melihat ke atas.
"Lor, perapiannya besar sekali. Kita bisa mati kepanasan di sini," ucap Eleanor.
Ia tidak membual akan hal itu, karena memang api yang bahkan jauh lebih besar dan tinggi dari mereka sekarang menjadi anggota yang akan menemani mereka dalam arena permainan kali ini.
"Ayo, Ele. Kita harus berhasil dalam sekali percobaan kali ini." Baylor menarik tangan Eleanor dan mengajaknya langsung untuk mencari petunjuk. Ia sadar mereka tidak boleh lagi terpukau dan meratapi nasib mereka lama-lama, mencoba belajar dari kesalahan-kesalahan mereka yang sebelumnya
***
"Auchhh!!" gumam seseorang yang baru tersadar.
Ia memegangi kepalanya, tempat di mana ia dipukul tadi. Ia membuka matanya perlahan-lahan dan menemukan dirinya terbaring di ranjang hotel. Ia melihat sekeliling dan terkejut bukan main saat matanya tidak dapat menemukan buku itu ataupun sosok yang membawa buku yang sangat diinginkannya itu.
"Arghhhh!!!" teriaknya frustasi.
Ia berdiri dan berjalan tergopoh-gopoh sambil sesekali memegang kepalanya yang memar namun tertutupi rambut-rambut tebal sehingga kepalanya terlihat biasa saja tanpa luka apapun. Ia berjalan hingga ke pintu dan .... ia terkunci di dalam! Tapi ternyata, ini bukanlah masalah besar untuknya dan masih bisa membuatnya tersenyum bahagia. Tangannya meraih gagang pintu dan ia membisikkan suatu mantra dengan volume sangat kecil sehingga telinga manusia normal tak dapat mendengarnya, hanya makhluk hidup infrasonik yang dapat mendengar penuturannya.
Baru saja ia membuka pintu, dua pasang mata yang sedang berjaga-jaga langsung memelolotinya dengan pupil mata yang sangat besar, siapa lagi kalau bukan penjaga-penjaga yang tadi hendak menangkapnya.
***
Sesampainya di meja dan kursi kayu itu, satu-satunya benda yang bisa menjadi tempat pencarian petunjuk bagi mereka. Tidak ada laci maupun lemari seperti arena sebelumnya. Tetapi tidak perlu bagi mereka untuk memanjat meja dan kursi besar itu untuk mencari, dilihat sekilas saja bisa ditentukan tidak ada satu barang pun disitu -- kosong.
"Lor, bagaimana mencari petunjuk. Sungguh tidak ada se--," ucapannya terpotong ketika mata Eleanor yang menyisir seluruh ruangan itu menemukan sebuah gembok menggantung di sebuah paku yang tertanam di dinding kayu itu.
__ADS_1
Namun, letaknya sangat sangat jauh tinggi sekali di atas sana, tidak mungkin dapat digapai mereka bahkan dengan tangga panjang sekalipun.
"Lor! Ada gembok disana!" seru Eleanor seraya tangannya menaik menunjuk ke gembok itu.
Baylor mengikuti arah telunjuk Eleanor menuju dan juga melihat sebuah gembok yang menggantung. Matanya berinisiatif melihat ke seluruh ruangan tetapi hanya bagian atasnya.
Betul saja, terdapat rentetan benda-benda yang ditusuk dengan paku agar tetap berdiam di tempat yang tinggi itu.
"Tidak mungkin," gumamnya. Ia masih tidak percaya jaraknya dan seluruh benda petunjuk itu.
"Ele, apakah sama sekali tidak ada tangga?" tanyanya pada Eleanor agar keduanya segera mencari benda yang setidaknya dapat membantu mereka naik ke atas.
Keduanya kini diam dan memutar tubuh mereka, sangat teliti dengan benda apa saja yang sebenarnya ada di sana.
"Sepertinya tidak ada, Lor," ucap Eleanor dengan nada menyesal sebab tidak bisa memberikan suatu kabar baik yang bisa menyemangatkan mereka di tengah luasnya ruang hampa ini.
Hanya saja, Baylor tidak begitu mendengar perkataan Eleanor karena matanya sedang menyipit ke satu titik. Entah mengapa namun sepertinya di sana ada sebuah lekukan. Akan tetapi yang terlihat adalah kayu yang sama seperti semua dinding itu.
"Ele, apa kau melihat apa itu?" Tangannya menepuk ke sembarang arah di belakang yang sebenarnya tujuannya adalah tangan Eleanor untuk mengajaknya melihat bersama dengannya. Cukup dengan suara, Eleanor mendekati Baylor dan mengikuti arah matanya melihat.
"Tidak ada, Lor," ucap Eleanor dengan yakin tidak ada sesuatu di sana.
Cusssshhhh!!!
Suara api memanggang tiba-tiba mengejutkan mereka. Suara itu seperti saat kalian sedang menyiram air di atas panci bersuhu tinggi yang baru saja memasak di atas kompor.
"Bagaimana bisa terbakar?" tanyanya lagi.
Baylor dengan sigap menjauhkan Eleanor dari api itu.
"Ta--tadi aku memegang kursi itu, dan tiba-tiba muncul api begitu saja," sahut Eleanor gugup.
Ia masih takut akan api itu. Bagaimana kalau tadi ia terbakar bersama kursi itu? Begitulah pikirnya.
"Kau memegangnya?"
"Iya, aku tadi memegang kursi itu untuk dijadikan sandaran, namun tiba-tiba saja apinya menyala," jawab Eleanor dengan alis menurun dengan tidak bertenaga.
Kemudian, Baylor berjalan mendekati meja kayu tadi dan mencoba memegangnya.
Cushhh!!!
Suara yang sama datang sekali lagi, dan api itu sungguh muncul seperti yang dikatakan Eleanor tadi. Baylor menatap mata Eleanor dan mulutnya ternganga tidak percaya.
"Jangan memegang sesuatu dengan tangan kosong," titah Baylor.
__ADS_1
Pikirannya kini sangat pusing. Bagaimana sesuatu bisa terbakar hanya dengan memegangnya. Seingatnya tadi ia sempat menggenggam tangan Eleanor, namun tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan mereka seperti ini.
Bagaimana mengambil petunjuk kalau tidak melalui tangan. Ia bahkan tidak mengerti ucapannya yang melarang Eleanor tadi, lalu menggeleng-gelengkan kepalanya sendiri. Berapa lama lagi mereka harus berada di bawah tekanan seperti ini? Sungguh tak habis pikir mengapa Eleanor yang harus menjadi korban kutukan dari sekian banyaknya orang di bumi ini.
"Ayo, ikutlah aku!" ajak Baylor.
Tangannya hampir menggenggam tangan Eleanor, tetapi ia kembali teringat bahwa mereka tidak boleh memegang sesuatu dengan telapak dan jari mereka.
Eleanor hanya mengikutinya dengan hati-hati dari belakang, memastikan dirinya tidak menggunakan telapak tangannya untuk saat ini.
"Ini adalah tangga, Ele!" seru Baylor sembari mengusap-usap permukaan tangganya. Tenang, bukan dengan telapak tangannya, namun dengan sikunya. Sungguh kreatif di saat yang tepat, tidak sia-sia otaknya berkembang selama 20-an tahun.
Tangga itu berkamuflase dengan dinding kayu sekitar. Tingginya juga sesuai dengan ukuran ruangan sehingga sulit untuk dilihat keberadaannya.
"Ayo, kita angkat sama-sama! Kita harus bergerak cepat kali ini," perintahnya dengan tegas.
***
"Hei, kau!" teriak salah satu security yang sedang berjaga-jaga ketika melihat pintu yang dikunci mereka terbuka dan wanita jahat tadi keluar dari sana.
"Kau itu siapa?" tanya security lain.
"Hahaha ... sepertinya kalian belum kapok, ya," ucap Isabelle angkuh kemudian tertawa sinis.
"Katakan padaku, di mana pria tadi," imbuhnya dengan nada menyeramkan.
"Dia sudah pergi, kau tidak akan menemukannya lagi," ucap salah satu dari mereka.
"Arghh!! Awas saja ...." gumam Isabelle kemudian mulai mengucapkan mantra-mantra dengan bahasa yang tidak bisa dimengerti.
Kedua pria berbadan tegap itu hanya bisa menatapnya saja. Mereka ingin sekali menghajarnya, tapi apa daya mereka. Seburuk-buruknya wanita itu, ia masihlah wanita, apalagi usianya sudah tidak muda yang mungkin mendekati usia ibu mereka.
Brukk!!
***
Eleanor mulai melaksanakan yang diperintahkan oleh Baylor, namun tidaklah mudah untuk mengangkat suatu tangga besar dengan bahan dasar kayu yang sangat berat, dan bahkan mereka tidak dapat menggunakan telapak tangannya. Mereka hanya menggunakan kekuatan tempelan bagian dalam siku mereka untuk mengangkat.
"Hufttt ... huftt .... Tidak bisa! Dorong saja, Lor," usul Eleanor yang tiba-tiba berhenti mengangkat tangganya hingga hampir saja menyebabkan Baylor jatuh ketika mengeluarkan segenap kekuatannya.
Hmm .... Lumayan bermanfaat!
Akhirnya Baylor setuju dengan sarannya dan mulai mendorong tangga itu dengan punggung mereka. Awalnya, tangga itu dibuka terlebih dahulu agar tidak terjatuh ketika didorong mereka.
"Hufttt .... Akhirnya."
__ADS_1
Tangga dan sepasang manusia yang terjebak permainan itu akhirnya sampai di tempat yang ingin mereka tuju, yaitu petunjuk terdekat dengan area tangga tadi.