
***
Setibanya di perpustakaan kota....
2 pasang kaki terlihat menaiki puluhan tangga di gedung klasik besar itu.
Eleanor menempelkan kedua jari kukunya dan memainkannya, yang selalu dilakukan orang dalam keadaan gelisah.
Dengan hangatnya Baylor meremas tangan seorang cewek di sampingnya, cewek yang tidak dapat ia biarkan menderita seorang diri.
"Tidak apa-apa, Ele," ucap Baylor pelan sembari menggelengkan kepalanya dan memejam lembut matanya menyemangati sahabatnya.
Baylor membuka gagang kedua pintu berwarna emas. Rasanya berada di dunia lain. Buku-buku menghiasi gedung itu. Dari atas hingga bawah hanya bukulah yang dapat kalian tatap. Seperti lemari buku tanpa batas. Tangga yang melingkar di sisi ruangan berguna untuk mengambil buku yang tak dapat dijangkau hanya dengan kaki telanjang.
"Kak, numpang nanya ya. Buku fiksi monster letaknya dimana, ya?" tanya Baylor pada wanita remaja yang bekerja disana. Tidak mungkin dirinya untuk mencari buku di tengah buku, buku, dan buku lagi.
"Oh, disana." Tangannya menunjuk ke suatu tempat dalam ruangan bulat itu, tempatnya tersembunyi, tertutup oleh lingkaran tangga.
"Makasih, Kak," sahutnya sembari menundukkan kepalanya. Selanjutnya ia pergi ke tempat yang dituju berbarengan dengan kaki yang terus mengekor di balik kaki Baylor.
'Monster'. Tulisan itu tertempel pada dinding rak coklat tua yang memenuhi ruangannya.
Tangan mereka mulai bergerak cepat mencari buku yang dapat digali infonya. Tak sedikit pula buku yang diraih mereka, sebagian besar adalah buku dongeng. Namun, sefiksi apapun ceritanya mereka tetap mau membacanya, mungkin saja fiksi yang dikira orang adalah nyata pada kenyataannya.
Mereka mulai melangkah mencari tempat untuk membaca buku yang telah menumpuk tinggi nan berat pada kedua tangan kecil mereka.
"Hufttt," rengek Eleanor, tangannya sudah pegal mengangkat puluhan buku yang masing-masing buku mungkin ratusan halaman.
"Ayoo, Ele!" semangat Baylor ia salurkan ke temannya.
Tangannya ia angkat mengepal membentuk siku-siku bersudut 90° setelah melepaskan buku-buku itu dan matanya melebar menalarkan semangat tersiratnya kepada Eleanor.
Bokong mereka didaratkan pada kursi coklat keras dengan sandaran yang warnanya senada dengan mejanya, lantainya, dan seluruh ruangannya.
Baylor menekuk jari-jarinya bersiap membuka dan membalikkan ribuan halaman yang akan datang nantinya.
"Ready?" tanya Baylor. Eleanor masih merenungkan apakah benar yang akan ia lakukan kini. Beberapa detik hanya hening yang berdiri diantara mereka. Setelahnya Eleanor menegaskan keputusannya dan menganggukkan kepalanya dengan tatapan cemas.
"Go!!" bisik Baylor tetapi dengan semangat yang membara-bara.
__ADS_1
Jari, tangan, lengan, seluruh alat gerak atas bergerak membuka cover buku pertama.
Selama beberapa jam mata mereka hanya terbuka untuk para buku di sekitar mereka. Tidak ada satupun dari buku itu yang nyata dan berguna, semuanya hanya fiksi dan dongeng belaka.
Totalnya telah 6 jam mereka terdiam membaca di sana. Terlihat Baylor mengucek-ngucek mata lelahnya. Kantung mata panda-nya mulai keluar dari jam ke jam. Ia menoleh arahnya ke Eleanor. Baru ia sadari, ternyata Eleanor tertidur dengan tangan lurus ke depan menopang kepala bulatnya.
Senyum tipis namun bermakna dalam itu tergambar di wajah lesunya. Ia mengangkat rambut Eleanor yang terjatuh ke bawah menutupi wajah tirusnya. Lalu tangannya yang awalnya lelah, tetap senang membelai kepala yang ditutupi rambut halus itu.
Hanya tertinggal beberapa orang yang masih dapat dihitung dengan jari terbuka. Waktu tengah malam itu memaksa mereka berdua untuk pulang. Baylor mengangkat kuat tubuh istirahat Eleanor dan memasukkannya dengan pelan ke dalam mobil.
Jalanan menunjukkan aspal yang abu kehitaman tanpa tertutupi banyaknya pesawat darat itu karena penduduk telah ramai menutup matanya di rumah hangat mereka.
***
Tiap hari selama beberapa minggu Eleanor dan Baylor terus mencari kebenaran misteri bertahun-tahun itu. Tapi tak secercah cahaya pun yang kunjung mengunjungi manusia putus asa itu. Setiap pulang dari kantor, hari minggu, dan waktu senggang hanya mereka habiskan duduk berkutat pada buku di perpustakan megah nyaman itu.
"Lor," sahut Eleanor. "Udahan, yok! Tidak ada gunanya kita mencari terus. Hanya menghabiskan waktu kita saja." Tangannya ia kibas-kibaskan mengode untuk berhenti.
"Nggak mau, titik. Kamu nggak liat? Kamu makin parah, Ele. Sekarang kedua kakimu sudah hilang, Ele," ketus Baylor, marah, dengan kerutan kening yang sudah berlapis-lapis.
"Tidak ada satu pun yang cocok, Lor. Ini semua fiksi, mau dicari ke mana pun tetap tidak ada." suaranya terdengar sangat putus asa. Tatapannya telah menatap sendu, tidak berpengharapan lagi.
Eleanor hanya menghela nafas melihat dirinya menghancurkan hari-hari sahabatnya. Ia pergi keluar dari perpustakan besar itu.
"Bang, bang," teriaknya seusai sampai di pinggir jalan raya. "Hmmm, batagor 2 porsi, ya," pesannya setelah melihat menu yang tertempel pada gerobak kumuh milik pedagang kaki lima itu.
Sesudah pesanannya siap, ia kembali lagi menaiki tangga dan masuk ke perpustakaan itu.
"Nah, makan dulu." Kantong kresek merah itu ia letakkan di samping Baylor. "Oke, aku akan tetap berusaha. Tapi makan dulu, yah."
Senyum pantang menyerah mulai bangkit kembali dalam bibir Baylor, yang diikuti oleh Eleanor juga.
"Ya."
Keduanya mulai membuka kantong kresek itu dan mengeluarkan bungkusan plastik berisi batagor. Jari-jari mereka mencegat tusuk panjang itu untuk mengambil batagor berlumuri saos kacang.
Plokkkk!!
Lagi-lagi tangan Eleanor yang menghilang, melepaskan begitu saja tusuk panjang pengangkut itu. Kali ini kedua kakinya juga menghilang hingga ke pahanya. Hanya tersisa tubuh tengah dan kepalanya yang dapat dilihat dengan mata manusia normal.
__ADS_1
"Huftt, tidak apa-apa, Ele. Di sini tidak ada orang lain, hanya ada kita berdua" kata Baylor menenangkan Eleanor.
Baylor mengambil sepotong batagor dengan tusukan tusuk sate tajam itu dan menyuapkannya ke mulut Eleanor. Eleanor menatap bergilir batagor dan juga muka Baylor. Baylor sekali lagi menyodorkan lebih jauh lagi hingga menempel dengan mulut Eleanor.
"Makasih, Lor," ujar Eleanor dengan mulut penuh batagor yang dilahapnya sedetik yang lalu.
Mereka bersenang-senang dengan makanan tak seberapa tetapi nikmat itu, ditambah kejadian menyenangkan: Baylor yang menyuapinya.
***
Mereka kembali mengembalikan puluhan buku ke tempat asalnya dan memisahkan saudara mereka dengan mengambil puluhan buku yang lain.
Selama beberapa jam berlalu. Tetapi tidak seperti hari-hari lainnya, kali ini mereka lebih menikmati dan bermain-main ceria seperti anak kecil.
Dengan tawaan kecil menggelitik, Baylor membuka sebuah buku novel yang tebalnya sekitar 300an halaman.
Ia mulai dengan membaca sinopsisnya.
"Ele?" ucap Baylor sembari menganga, matanya membulat sempurna, dan tangannya menepuk-nepuk tulang bahu Eleanor.
"Ya??" sahut Eleanor langsung menoleh ke arah Baylor.
Baylor terus memanggil-manggil Eleanor dengan tangannya tetapi matanya hanya terpaku pada deretan kata, huruf, kalimat, dan paragraf di novel itu.
"Apaan sihh, Lor?" tanya Eleanor mulai emosi. "Gangguin orang tapi tidak dijawab. Haizz."
"Ele, FINALLY," jeritnya membesar berhasil ditatap ekor mata setiap orang.
"Kecilin suaramu, Lor," bisik Eleanor dengan jari telunjuk menempel di atas dan bawah bibirnya. "Emang apaan, sih?"
"Ini nyata, bukan fiktif. Lihat! Semuanya persis seperti yang kamu alami!" ujarnya dibalas dengan pupil membeku Eleanor yang tak percaya. Ia langsung merebut novel yang dibaca Baylor dan membaca asal.
"Hahaaa, Lor!!" Ia langsung berdiri dan teriaknya bahkan lebih besar dari Baylor, mengejutkan sepenuhnya jantung setiap orang disana.
Baylor ikut berdiri dengannya dan Eleanor langsung memeluknya erat sekali.
"Akhirnya, Baylor!!" tuturnya kegirangan.
WE (MONSTERS) ARE REAL
__ADS_1
-Santi Miadami-