The CURSE : Deadly Game

The CURSE : Deadly Game
● THIRTY ONE ●


__ADS_3

Semuanya gelap. Hanya dalam sekejap Baylor dan Eleanor telah sampai ke dunia lain yang tidak dikenal siapapun. Sepintar dan sejenius apapun, tidak ada yang tahu dan mengerti cara kerja dunia permainan ini.


"Welcome to the Deadly Game!"


Suara itu menyambut Eleanor dan Baylor yang baru saja mendarat setelah jatuh vertikal dari langit dengan nada menyeramkan.


Keduanya berdiri dan menepuk-nepuk tangan mereka agar debu dari tangan mereka yang tidak sengaja menyentuh tanah sewaktu jatuh tadi tidak akan mengikut mereka terlalu lama.


Gerbang emas, gerbang yang menjulang tinggi sekali mengeluarkan asap putih berhawa dingin di bagian bawah gerbang itu.


Tiga orang berdiri di depan Eleanor dan Baylor menunggu kedatangan kedua tamunya untuk mendekat. Dua dari tiga orang itu adalah prajurit dengan tombak di sebelah tangan kiri mereka juga seluruh tubuh yang tertutup terlindungi besi berdiri di samping gerbang emas dan di depan beton keras.


Sementara itu, satu orang tersisa berdiri di tengah dan di depan gerbang emas itu. Ia bukanlah prajurit biasa seperti yang di sebelah-sebelahnya, ia terlihat lebih mirip dengan sekretaris pribadi seseorang dari cara berbusananya. Tangan tanpa tombak tertahan di depan perutnya dan terselip sebuah papan karton terlipat yang berhimpit di antara perut dan kedua tangannya.


Eleanor dan Baylor yang baru saja sadar bahwa ini bukanlah dunia manusia lagi dengan perlahan berjalan ke arah orang yang berdiri rapi dan tegak menunggu keduanya.


Mereka berdua bergandengan tangan erat karena ketakutan dengan dunia baru dan orang asing. Ditambah lagi hawa dingin yang merusuk dan selalu berputar di sekitar leher mereka.


Orang yang mirip sekretaris itu berjalan mendekati Eleanor dan Baylor yang tampaknya masih ragu-ragu untuk mendekat. Hal pertama yang ia lakukan setelah tepat di hadapan keduanya adalah membungkuk terlebih dahulu. Bungkukan itu bahkan terlihat sangat sempurna dan selaras yang menandakan dirinya terlatih dengan begitu mengagumkan.


"Selamat datang Nona Eleanor dan Tuan Baylor," ucap orang itu setelah acara membungkuknya selesai.


Satu hal yang ditakjubkan oleh Eleanor dan Baylor, yaitu nama mereka yang telah diketahui tanpa mereka harus memperkenalkan diri sendiri. Ini menandakan bahwa dunia ini telah menggali dan mengetahui informasi mereka dengan baik bahkan sebelum kedatangannya.


"E--e--e--."


Sepatah kata pun tidak dapat dikeluarkan mereka berdua. Keduanya masih bingung dengan apa yang terjadi dan dimana mereka saat ini. Seingat mereka baru beberapa menit saja mereka sedang bergandengan tangan di atas lubang hitam dan mengucapkan mantranya.


"Deadly? Ini tak mirip seperti apa yang dikatakan oleh Santi meskipun menyeramkan," batin mereka ketika mengingat kembali suara pertama yang terdengar setelah mereka tiba.


"Perkenalkan, nama saya Mr. W," sahutnya terlebih dahulu melihat Eleanor dan Baylor yang masih ketakutan agar kecanggungan tidak sempat tercipta.


Bibirnya yang sebelumnya telah melebar kini bahkan lebih terangkat lagi hingga kelebaran itu terlalu berlebihan. Tangan Mr. W itu memberikan sebuah papan karton terlipat yang dilihat keduanya awal sekali ketika menganalisa para makhluk hidup itu, yang belum dipastikan apakah adalah manusia seperti mereka berdua.

__ADS_1


Baylor meraih papan itu dari Mr.W mewakili Eleanor dan membuka lipatannya. Terdapat sebuah garis lingkaran tipis yang di beberapa sudut garisnya terdapat bulatan berwarna sebanyak 5 buah.


Pada bulatan pertama berwarna abu-abu tua yang terdapat kata 'start' di dalamnya. Kemudian diikuti dengan warna biru muda mendekati warna putih, warna merah layaknya bara api yang membara-bara, warna pink fuschia yang elegan, dan yang terakhir warna hitam pekat tersusun secara berurutan. Bukan hanya itu, pada sudut kiri atas, juga tergambar 5 buah bentuk love emas dan sebuah tombol merah yang terletak di bawahnya.


"Apa ini?" tanya Baylor setelah melihatnya bersama Eleanor.


Meskipun ia masih cukup takut, tetapi rasa penasarannya lebih tinggi dan ia merasa hal itu memang suatu persoalan yang sangat patut dipertanyakan. Seribu orang yang melihat itu pasti akan menanyakan hal yang sama.


Namun Mr. W hanya tersenyum dan berkata, "Bagaimana kalau kita masuk dulu?"


Tanpa mendengar pendapat Baylor dan Eleanor, selanjutnya ia langsung memutar sedikit tubuhnya dan merentangkan tangannya mengarah ke gerbang emas yang mustahil untuk dipanjat melihat ketinggian yang tidak dapat dilihat dimana akhirnya, ditambah lagi asap tebal berhawa dingin itu menambah sisi misteriusnya.


Ketiganya menuju ke gerbang itu dengan Mr. W yang lebih mengenal tempatnya menuntun keduanya masuk ke dalam.


Nyittt....


Suara gerbang terbuka itu entah mengapa terasa sedikit lebih anggun dan berbeda dari gerbang-gerbang biasanya.


Sungguh tidak terduga!


Eleanor dan Baylor pun masuk mengikuti arahan dari Mr. W dan berpijak di atas hitam putihnya lorong itu, yang mungkin dapat membuat mereka pusing bila terlalu lama terperangkap di dalamnya. Kesopanan Mr. W tidak pernah luntur pada Eleanor dan Baylor dilihat dari tangannya yang terus menekan perutnya meskipun ia jauh lebih senior daripada keduanya.


Keluar dari lorong itu, percayalah, hanya langit malam yang terlihat dipenuhi kelap-kelip bintang membuatnya indah sekali. Bukan hanya di atas langit saja seperti perkiraan kalian, namun bahkan ketika melihat di bawah pun tetap adalah langit. Hanya sebuah panggung mini tidak begitu luas yang bisa dipijak berada melayang di antara langit berbintang tak berujung. Lorong hitam putih tadi tidak pernah terlihat lagi, lenyap begitu saja ketika mereka keluar dari sana.


"Sekali lagi, Welcome to Deadly Game!" sambut Mr. W kembali.


"Seperti yang kalian tahu, kalian harus menyelesaikan permainan di dunia ini. Papan karton itu adalah peta permainan. Setiap bulatan adalah permainan yang harus kalian menangkan. Ketika kalian telah berhasil melewati satu permainan, maka tanda centang akan muncul dengan sendirinya di kertas itu," jelasnya.


Baylor dan Eleanor hanya berdecak kagum sekaligus takut dan tidak percaya mendengar penjelasannya.


Setelah mengambil nafas panjang sebentar, Mr. W kembali berbicara. "Satu hal lagi, kami tidak segan melayangkan nyawa kalian. Sepertinya saya hanya bisa mengantar kalian sampai di sini saja. Goodluck!"


Kemudian Mr. W pun berbalik badan dan berjalan meninggalkan mereka.

__ADS_1


"Ta--tapi Mr. W, apa maksud tombol dan love ini?" tanya Baylor.


"Mr. W?" panggil mereka.


Tak ada sahutan bahkan reaksi dari Mr. W, ia hanya berjalan terus-menerus hingga hilang di antara langit biru gelap malam berbintang meninggalkan kedua kaum awam yang masih bertanya-tanya itu.


Hawa dingin tak berhenti-hentinya senang menyelimuti kedua teman barunya hingga membuat mereka ketakutan dan gemetaran.


"Bagaimana ini, Lor? Aku takut. Aku bahkan tak paham apa yang harus kita lakukan," desah Eleanor.


Perkataannya memang murni dengan apa yang dirasakannya dilihat dari mimik wajahnya yang mulai pasrah.


"Aku pun tak tahu, Ele. Bagaimana caranya agar kita bisa memulai dan menyelesaikan tantangannya?" tanya Baylor yang tak kalah heran.


Mereka menatap peta itu tanpa berkata apa-apa, mencoba mencari jalan keluar.


"Ele, apa maksud tombol ini?" ucap Baylor setelah beberapa saat terdiam mengamati lekat karton peta itu.


"Aku tak tahu. Mungkin ... tombol untuk memulai seperti di film-film?" tebak Eleanor.


"Kurasa juga seperti itu," sahut Baylor yang setuju dengannya.


"Kau sudah siap?" tanya Baylor yang hanya dibalas anggukan ragu-ragu dari Eleanor.


Jari lincah Baylor dengan segera menekan tombol merah itu dan benar saja, sesuatu terjadi. Lantai tempat mereka berpijak mulai berguncang dahsyat memamerkan kekuatannya, bahkan langit-langit indah itu pun mulai hilang, cahaya kelap-kelip bintang kecil itu pun mulai sirna tergantikan sesuatu yang baru.


Mereka berdua terkapar di lantai akibat guncangan yang semakin lama semakin hebat menjadikan tubuh mereka tidak dapat menjaga keseimbangan untuk berdiri. Eleanor merangkak perlahan-lahan menuju Baylor dan menyandarkan tubuhnya di bidang dada tegap Baylor. Ia tak berani membuka matanya sekedip pun, begitu pula dengan Baylor.


Setelah guncangan hebat itu berhenti, keduanya pun membuka mata mereka perlahan-lahan.


"APA?!" teriak keduanya bersamaan.


"APA?! APA?! APA?!" teriakan mereka bergema tak henti-henti disana.

__ADS_1


Bagaimana bisa langit-langit indah tersebut telah berubah menjadi gua gelap gulita yang panjangnya tiada akhir?


__ADS_2