The CURSE : Deadly Game

The CURSE : Deadly Game
● TEN ●


__ADS_3

"Kejutannn!!!" kejut Baylor tanpa memperhatikan kenyamanan para tetangganya karena hari sudah begitu malam.


"Wowww! Sungguh aku tak mengira kau akan menyewakan apartemen untukku, Lor. Dan dekorasinya juga bagus sekali," seru Eleanor segera setelah matanya melihat dekorasi apartemen itu.


Baylor hanya menatap hangat Eleanor. Baginya itu cukup untuk membuatnya bahagia.


"Woww!! Dekorasi ruang tamuku bagus sekali, Lor. Warna putih, pink, dan sedikit gold," puji Eleanor sembari menepuk pelan pria di sampingnya itu lalu melangkah lebih jauh lagi ke ruangan penuh dekorasi itu.


"Ini kamarku?" tanya Eleanor girang.


Baylor hanya menganggukkan kepalanya sebagai tanda 'ya'.


"Woww!! Makasih banyak, Lor. Kau sungguh baik sekali padaku," ucap Eleanor lalu memeluk Baylor dan melepaskan pelukannya beberapa detik kemudian.


Ruangan 4.5x5m itu penuh dengan soft pink. Semacam tali estetik menggantung bergelombang, yang dijepit dengan foto-foto polaroid. Lampu kelap-kelip menghiasi meja riasnya. Lengkap sudah kamar ABG zaman now.


"Yaudah, balik sana. Makasih ya, Lor. Byee," ucap Eleanor, mengusir Baylor secara halus dari apartemen barunya.


"Ehh, ingat ya apartemenku di sebelah aja!" teriaknya kepada pintu tak bernyawa yang telah ditutup Eleanor.


Eleanor tersenyum bahagia melihat perlakuan sahabatnya kepadanya. Sahabat yang pernah ia tinggalkan itu ternyata masih sangat memahaminya dan menyayanginya. Ia sungguh bersyukur karena memiliki seorang sahabat seperti Baylor.


Ia kemudian berjalan-jalan mengelilingi apartemen barunya, sekalian mempermudahnya saat ingin mengambil barang karena barang-barangnya bukan disusun olehnya, ia sendiri bahkan tidak tahu siapa yang menyusunnya.


Saat sudah berjalan kembali ke kamar, ia berjalan-jalan pelan dan tibalah di depan meja riasnya yang didekorasi oleh lampu kelap-kelip berwarna emas. Sebagian make-up dan parfumnya tersusun rapi di atas meja itu dan sebagian lagi disimpan di laci meja karena bila disusun di atas meja maka tak akan tersisa tempat untuk Eleanor bersolek dan menaruh beberapa barangnya.


Malam itu malam yang cukup melelahkan serta menyenangkan yang tak dapat dibantah Eleanor. Eleanor cepat terlelap dalam empuknya kasur barunya, sejenak melupakan semua penderitaannya selama ini.


***


5 jam yang lalu....


"Halo, ini jasa dekorasi ruangan, ya?"


"Halo, iya. Ini dengan siapa, ya?"


"Ini dengan Baylor. Ini saya mau order jasanya, nih, Min."


"Bisa, Mas. Di mana ya tempatnya? Untuk kamar cewe atau cowo, yah?"


"Apartemen ###. Jalan ######## No. 503. Untuk kamar cewe, Min."


"Siap! Segera, Mas."


"Nanti ambil kuncinya sama resepsionis ya, Min. Atas nama Baylor."




***


"Udah kamu duluan masuk, Lor," titah Eleanor ketika sampai di depan kantor.


"Loh, gak ahh, sama-sama aja. Ngapain coba pisah-pisah."


"Gak enak, tar dikira kita ngapa-apain lagi. Udah ahh, cepatan!"


"Nor, Baylor?" sahut seseorang dari belakang.

__ADS_1


"Eh Favid, pas bro. Yok bareng-bareng!"


Tangan Baylor langsung ia kalungkan ke leher Favid dan mengajak Eleanor berbarengan.


"Kalian berdua barengan tadi?" ucap Favid dengan muka tak mengenakkan.


"Nggak donk, Vid. Ngaco ah," balas Eleanor tergesa-gesa.


Setelahnya mereka sampai ke tempat kerja masing-masing.


Tangan Eleanor yang terbiasa dengan papan bertuliskan alfabet dan nomor itu mengetik cepat, tanpa satu pun kesalahan. Matanya fokus pada deretan huruf sejajar berkat Microsoft, hingga fokusnya dibuyarkan oleh sebuah teka-teki.


Tangannya kembali menghilang. Ingatan yang ia kira delusi itu terjadi lagi tepat di depannya, siang-siang bolong begini. Ia tak dapat memegang keyboard yang telah pasti di depannya. Ia mulai panik, tapi sekali lagi, ia tidak bisa mengeluarkan kekejaman dunia padanya di hadapan manusia normal.


Untungnya desain kantor yang tidak langsung putih-putih menunjukkan keseluruhan badan pegawainya menyelamatkannya. Meja para pegawai dipisahkan sekat setengah yang setidaknya mampu menyembunyikan tangannya.


Tangannya hilang transparan, tapi selalu berkelap-kelip, seperti bintang pada malam hari terkurung dalam ruangan tangannya.


Ia menutup tangan kanannya dengan tangan kiri mengikuti perkiraan bentuk tangannya.


Kemudian ia melirik apakah ada yang tertangkap melihatnya dengan hanya pupil yang mengitari bola mata bulatnya, sedangkan seluruh bagian tubuhnya kaku seolah sebuah bongkahan batu besar.


Setelah sepersekian menit ia mencari, matanya kembali menatap misteri bintang di tangannya.


HAH?!


Tidak ada bintang? Tangannya normal, seperti manusia pada umumnya. Apa ini? Apakah delusi beneran menyusup dalam otaknya?


Kedua tangannya yang telah pulih utuh menekan sebuah aplikasi pintar, google. Ia mengetik kata-kata yang mungkin dianggap gila orang lain.


'Tangan menghilang'


Hasil pencariannya tidak menyembuhkan kegelisahan Eleanor.


'Tangan diamputasi'


'Tangan hilang akibat kecelakaan'


'Arti tangan hilang dalam mimpi'


'Tangan seorang wanita hilang dimakan hiu'


'Delusi tangan hilang'


Miris. Hanya dua kemungkinan dari seribu kejadian. Mimpi atau delusi, semacam penyakit kejiwaan.


Ia mencubit tangannya. Mulutnya mengucapkan kata 'Aww' tak bersuara. Pertanda ia tidak sedang mimpi saat ini. Hanya satu yang tertinggal, delusi.


Ia mulai melilitkan ujung rambut hitamannya. Apakah ia sungguh sakit? Terlebih lagi sakit jiwa?


***


Jam berjalan lebih cepat lagi saat Eleanor fokus mencari solusinya. Sepertinya bahkan waktu di dunia telah sanggup berlari kini, atau mungkin teleportasi?


"Ele, yok pulang! Udah pukul setengah lima, nih," bisik Baylor sembari menunjukkan jam yang melingkar di tangannya.


Eleanor hanya menganggukkan kepalanya dengan tatapan yang masih sepenuhnya bingung, namun panik karena setengah jam lagi ia akan mengalami penderitaannya lagi. Ia segera merapikan mejanya yang sudah rapi sejak siang tadi. Ia tidak sanggup mengacak-acak lagi mejanya dengan pikiran gilanya hari ini.


"Bay, lo pernah berdelusi, nggak? tanya Eleanor ketika terhenti menunggu lift.

__ADS_1


"Delusi? Enggak deh rasanya. Emang napa? Kamu berdelusi?"


"Nggak, bukan aku. Tadi temanku chat kalau dia berdelusi. Katanya belakangan ini dia lihat tangannya hilang terus," jawabnya yang langsung dibalas dengan tolehan kepala Baylor.


"Hah, beneran? Bahaya, tuh. Suruh dia cepat-cepat nyari psikiater, Ele."


Eleanor hanya terdiam tenang, berusaha mengendalikan pikirannya yang dipukul-pukul oleh semua sel di otaknya.


***


Sesampainya di apartemen....


"Ele, gimana kalo hari ini kita BBQ? Sambil ... wine!" seru Baylor sembari menggaruk dagunya yang tak gatal.


"Ya," tuturnya lirih. Tatapannya kosong entah kemana.


"Kamu sakit ya, Ele?" tanya Baylor cemas. Ia mulai mendekat dan menempelkan punggung tangannya ke kening Eleanor.


"Nggak, cuma sedikit lelah, sedikit aja." Tangannya ia pamerkan dengan deskripsi bentuk secuil padanya. "Aku ke apartemenku dulu ya, Lor. Nanti jam 6 baru ketemu lagi."


"Istirahat baik-baik ya, Ele," teriaknya sedikit mengecil ketika pintu apartemennya hampir tertutup.


Wanita yang telah berubah menjadi monster itu duduk terpojok dalam sudut kamarnya. Tubuh besar itu tetap tak dapat menahan ketakutan yang mendalam yang mampu memecah hatinya saat ini juga. Air kristal bening itu luntur dari matanya, tetapi tak dapat dilihat sebab rambut yang menutupi seluruh seluk beluk mukanya. Air itu hanya seperti semut ditengah keramaian gajah.


***


Eleanor dan Baylor bersepakat tentang BBQ dadakan hari ini. Mereka pergi ke minimarket terdekat, berbelanja berdua memenuhi kebutuhan mereka.


Tetap saja sebahagia pun hari ini akan berlalu, ia tak dapat memasang topeng bermuka senang di wajahnya. Ia terus murung, tatapannya sendu.


Meskipun Baylor yang ditatapnya, tangannya yang menghilanglah yang terus berputar di otaknya seperti teater bioskop di matanya.


"Ele, masih cape, ya? Mau udahan aja dulu? Kita hari ini istirahat aja?" tanya Baylor penuh perhatian menatap manik gelisah Eleanor.


"Nggak apa-apa, Lor. Sekalian melepas penat juga, tapi kamu yang masakin, yaa," bohongnya tak berani menolaknya.


"Yakin? Yaudah nanti istirahat dulu, yah."


Sesampainya di apartemen....


Eleanor yang tadi katanya lelah tak lagi berdiam diri duduk termenung. Ia berada di dapur memasak bersama Baylor. Dalam sekejap segala letih, penat, lelah, tak lagi ia pikirkan.


Putihnya tepung terlihat terbang di udara. Segala ruangan itu telah penuh dengan tepung, layaknya pantai berpasir putih. Tepung itu terlalu serakah, bahkan wajah Eleanor dan Baylor pun mau ia hinggapi.


***


Di balkon....


"Wahh ... beneran pemandangannya indah gilak. Gak bohong, dahh. Rasanya kuingin terbang. Makasih ya, Lor, sudah mengajakku untuk pindah ke apartemen di sebelahmu," kata Eleanor lebay.


"Hahaha, sama-sama, Ele. Do you want some wine?" ucap Baylor seraya tangannya menggenggam elegan cangkir dengan body aduhai berisi merahnya anggur.


Ting....


Suara kedua belahan cangkir yang telah bertemu setelah sekian lama.


Pyangg....


Suara kedua gelas bertemu itu berubah menjadi suara gelas bertemu dengan lantai.

__ADS_1


"ELE? TANGANMU??!!" teriak Baylor, panik.


__ADS_2