
"Mohon perhatiannya semua. Ada hal yang mau saya sampaikan," ucap bu manajer pada tim Eleanor yang mengundang perhatian dari setiap pasang mata yang ada di ruangan itu, semua karyawan yang awalnya fokus dengan layar komputer dan pekerjaan mereka kini berfokus pada bu manajer.
Bu manajer pun mulai bersuara lagi. "Jadi begini, kalian tahu kalau di tim kita ada Eleanor dan Baylor, rekan kerja kalian yang sangat bertanggung jawab dengan pekerjaan mereka dan selalu berinisiatif membantu kalian. Ya, meskipun Baylor baru-baru saja dipindahkan ke kantor pusat, saya yakin kalau kalian semua sudah saling akrab."
"Sayang sekali, kalian tidak akan berjumpa dengan mereka berdua selama satu bulan ke depan ini. Walau begitu, tetaplah semangat dengan pekerjaan mereka dan jangan khawatir, pekerjaan mereka akan ditangani oleh karyawan pengganti. Hanya ini saja yang mau disampaikan. Ada pertanyaan?" jelas bu manajer panjang lebar.
Ia menunggu beberapa saat sebelum akhirnya ia buka suara lagi. "Kalau tidak ada yang mau bertanya, silahkan melanjutkan kesibukan kalian. Sekian, terima kasih," ucap bu manajer, lalu berjalan kembali menuju meja kerjanya.
Baylor dan Eleanor saling bertatap-tatapan dan saling melempar senyuman layaknya orang bodoh. Favid yang duduk di sebelah Eleanor seakan tidak senang dengan kabar itu dan langsung menghampiri Eleanor yang masih saling melempar senyuman pada Baylor.
"Hei, Nor! Apa-apaan ini. Kau mau cuti selama sebulan bersama karyawan pindahan itu dan kau tak memberi tahuku? Teman macam apa kau ini," ketus Favid pada Eleanor lalu mendengus kasar.
"Emmm, kukira kau paham kalau kita tidak sedekat itu, Vid," tutur Eleanor lembut, wataknya yang dulu perlahan-lahan mulai kembali: Eleanor yang lembut dan baik hati.
"Lalu apa alasan yang kau berikan pada atasan kita? Kalian mau berbulan madu?" ucap Favid, sepertinya ia mulai emosi dengan keduanya.
"Jaga bicaramu, Vid. Kau tak tahu apa-apa dan jangan berani menuduh yang bukan-bukan pada Eleanor," timpal Baylor yang beranjak meninggalkan kursi kerjanya dan menghampiri mereka, membuat Favid dan Eleanor menoleh ke arahnya.
"Kau tak paham tentang masalah kami, Bung," ucap Baylor seraya menepuk pelan pundak Favid yang kini sudah berada di hadapannya.
"Bisakah kau jangan ikut campur dengan urusan kami, Lor?" tanya Favid.
"Ya, tentu saja aku tidak akan ikut campur dengan urusan kalian kalau kau tak menuduhnya yang bukan-bukan. Kalau kau sudah menuduh sahabatku yang tidak benar jangan harap aku bisa melepaskanmu begitu saja," ketus Baylor yang tidak terima dengan ucapan Favid tadi.
"Huh, bisa kita bicara berdua, Nor? Sebentar saja. Kumohon kau tak menolak ajakanku kali ini," ajak Favid pada Eleanor, kebetulan sekali sekarang ini sudah waktu istirahat makan siang.
"Baiklah, akan kuturuti ajakanmu kali ini karena hari ini hari terakhirku bekerja sebelum cuti," ucap Eleanor lalu menoleh ke arah Baylor seakan mengisyaratkan Baylor untuk mengizinkannya pergi bersama Favid.
"Terima kasih karena sudah menerima ajakanku. Bagaimana kalau kita pergi ke kafe sebelah untuk berbicara?" tanya Favid pada Eleanor.
"Okay," sahut Eleanor.
Sebelum berangkat, Favid menatap Baylor sambil tersenyum sinis penuh kemenangan, seperti baru saja menang dari pertempuran.
__ADS_1
***
"Aku rasa kau bisa mulai berbicara sekarang," ucap Eleanor seraya menyeruput minuman cola-nya.
"Baiklah," ucap Favid lalu meneguk minumannya seteguk dan kembali berbicara, "Nor, kuharap kau takkan kaget dan menjauhiku begitu mendengar pernyataan ini."
Eleanor pun mulai was-was dan mempersiapkan batinnya untuk mendengarkan pernyataan Favid.
"Sebenarnya aku sudah lama menyimpan perasaan denganmu. Semakin lama kusimpan, semakin besar rasa sukaku padamu. Bukan lagi rasa suka, tapi rasa suka itu sudah tumbuh menjadi rasa cinta. Aku tak memaksamu untuk membalas perasaanku saat ini, namun aku hanya meminta agar kau jangan sampai tergoda dan bersetubuh dengannya.
Aku tahu aku akan menjadi sangat keterlaluan kalau aku memintamu untuk menjauhinya. Tapi, ya, aku cemburu melihat kedekatan kalian di depanku. Aku minta maaf karena aku sudah tidak sanggup menyimpan ini semua sendirian lagi. A--," ucap Favid panjang lebar sambil menatap manik mata gadis pujaan hatinya lekat-lekat sebelum akhirnya terhenti karena sebuah tamparan dari Eleanor mendarat ke pipinya.
Plakkk!!
Eleanor kembali terpatung dan menelan dengan susah payah air liurnya sebelum membuka suaranya.
"Kau ini sudah kelewat batas, Vid. Maaf aku harus pergi sekarang," ucap Eleanor lalu meraih tas putihnya dengan sigap.
Saat ia ingin berlari sekuat tenaga untuk pergi meninggalkan Favid, ia terhenti akibat cekatan erat dari lelaki yang ternyata diam-diam menyimpan rasa suka padanya selama ini.
Karena malu, Favid pun melepaskan tangan Eleanor dan membiarkannya untuk pergi sebelum dihampiri pengunjung-pengunjung kafe karena dikira telah melakukan perbuatan yang tidak menyenangkan hati.
"Kau bisa pergi sekarang, Nor. Tapi, aku tidak akan melepaskanmu begitu saja. Aku akan tetap berusaha sekuat tenaga untuk mendapatkanmu. Aku tidak akan menyerah, Eleanor. Aku tulus dengan perasaanku," batin Favid.
***
"Hei, Ele! Kau sudah kembali?" tanya Baylor yang menjadi bersemangat melihat sahabatnya sudah kembali. Eleanor hanya tersenyum menanggapi pertanyaan Baylor.
"Lah, ke mana perginya dia?" tanya Baylor terheran-heran.
"Bisakah kau jangan membahas tentangnya lagi di depanku?" ketus Eleanor.
"Hei, apa yang terjadi? Mengapa dia begitu tidak bertanggung jawab? Apa dia tak tahu etika dan sopan santun? Kalau dia berani mengajak seorang wanita keluar maka ia harus selalu mengantarnya pulang kembali," ucap Baylor terbalut emosi.
__ADS_1
"Sudahlah, Lor. Mari kita lanjut bekerja dan selesaikanlah semuanya dengan cepat. Besok pagi-pagi subuh kita sudah harus berangkat ke kota misterius itu," tutur Eleanor lalu mendorong lengan Baylor kembali ke meja kerjanya.
***
"Ele, kau sudah siap berkemas-kemas?" tanya Baylor pada Eleanor, ia masuk begitu saja ke apartemen Eleanor karena tidak dikunci.
"Hampir siap," jawab Eleanor seraya membalikkan pelan kepalanya ke arah Baylor.
"Ele, kita itu hanya mau pergi mencari penulisnya dan menyelesaikan ini semua. Kenapa kau malah membawa satu koper besar??" ucap Baylor terheran-heran.
"Kau ini, ya. Kau pikir perlengkapanku sebanyak apa? Semua perlengkapan yang kita butuhkan sudah ada di dalam, mulai dari obat-obatan, baju hujan, makanan ringan, mie instant, dll. Bukan hanya pakaianku saja, Lor," omel Eleanor.
"Ampun, Ele. Jangan mengomel terus. Cepat tidurlah dan bersiap-siap untuk esok hari. Kau sendiri tahu kalau tak ada yang bisa masuk ke kota itu dengan mudah," celoteh Baylor panjang sekali.
"Kau ini mirip seperti seorang emak-emak, kau tahu? Bagaimana aku bisa tidur kalau kau terus di sini? Tadi aku berniat untuk langsung tidur setelah ini selesai. Cepat kau kembali ke sana dan jangan ke sini lagi sampai besok. Aku sudah mau mengunci pintuku," omel Eleanor lagi.
"Bagaimana kalau aku mau bermalam di sini?" tanya Baylor dengan sedikit nada nakal.
"Kalau kau berniat untuk bermalam di sini tidur saja di ruang tamu. Cepat sana pergi, aku sudah mau mengunci pintu kamarku," ucap Eleanor sambil mendorong pelan tubuh Baylor menuju depan pintu.
"Sudah kubilang aku mau di sini (kamar Eleanor)," tutur Baylor lalu menatap hangat Eleanor lalu berjalan semakin mendekat dan mendorong pelan tubuh Eleanor hingga merapat ke dinding sama seperti adegan dalam drama-drama korea saat seorang pria hendak melakukan hal 'itu'.
"Lor," lirih Eleanor, ia tampak sedikit kaget dengan tingkah Baylor. Ia menutup matanya serapat-rapatnya.
"Ciahhhh, ada yang ketakutan," ucap Baylor dengan sangat energetik dan tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi Eleanor.
"Baylor! Kau--," teriak Eleanor seraya memukul Baylor, yang hendak dipukul pun menjauh dan berlari.
Mereka pun saling mengejar selama beberapa saat layaknya Tom and Jerry sebelum akhirnya Baylor membuka pintu kamar dan membalikkan badannya.
"Selamat malam sahabatku tercinta. Tidur yang nyenyak, ya. Semoga mimpiin aku nanti," ucap Baylor seraya mengelus halus puncak kepala Eleanor lalu berlari kecil keluar dari apartemen Eleanor.
Kelakuannya berhasil membuat wajah Eleanor tersipu malu dan panas.
__ADS_1
"Terima kasih, Baylor. Terima kasih karena kau sudah bersedia untuk menerangi kehidupanku lagi, terima kasih untuk segalanya. Aku tak sabar untuk melewati hari-hari esok bersama denganmu dan menyelesaikan semua ini agar aku bisa kembali padamu dan juga papa," pikir Eleanor sambil tersenyum, membayangkan hari-hari esoknya bersama dengan Baylor.
Ia kemudian memutus sakalar lampunya dan menghidupkan lampu tidur. Ia menghempas dirinya di atas tempat tidur dan terlelap begitu saja. Mimpi indah mungkin telah mendatanginya di alamnya sendiri. Siapakah yang diimpikannya? Jeng jeng jengg....