
***
Beberapa hari berlalu begitu saja. Hari-hari belakangan ini rasanya ... tenteram sekali seperti yang selalu diimpikannya. Tetapi jauh di balik galaksi Bima Sakti, ia merasakan kesepian yang mendalam, lebih dari biasanya.
Namun, sekali lagi, ada rasa kelam dan takut yang menghantuinya. Tetangga barunya, Catoo. Entah mengapa, Eleanor merasa si pendek itu seperti selalu mengejarnya dengan sengaja. Meskipun alasan yang berulang kali terus ia katakan adalah takdir, kebetulan, dan hal semacam itulah yang banyak dipertanyakan orang apakah itu benar adanya atau tidak.
***
"Jadi, besok pagi-pagi pada datang, kan? Eleanor...."
Telunjuk bos yang telah sedari tadi menunggu kelengkapan bawahannya, ditujukan ke sang ratu dingin itu. "Cuti lagi?"
Eleanor hanya menganggukkan kepalanya dan tersenyum tipis, bersyukur atas pengertian seluruh makhluk di tempat itu.
"Okayyy!! Ingatt, ya. Besok jam setengah 7 di kantor. Catat juga, 2 hari 1 malam di desa terpencil. Jangan lupa kabari keluarga masing-masing," lanjut bos membara-bara.
Sang periang itu telah beranjak dari tempatnya meninggalkan bekas sepatu menunggu sedari pagi.
Sebuah tangan dan secercah suara menghentikannya. "Pak!"
Matanya ragu-ragu menyusuri orang di seberangnya. Kedua alisnya mengerut hingga hampir bersatu.
"Pak, apa saya boleh tidak ikut pergi?" tanya Baylor sembari mulai berjalan mendekati bos.
"Hoohooo, tentu saja tidak boleh. Kau itu karyawan baru."
"Nahh, bukankah kita harus saling menguatkan? Harusnya semua anggota ikut, donk." Tangannya ia bentangkan menuju ke semua orang.
Eleanor hanya menatapnya dengan pupil membesar, tanpa sepatah kata pun. Namun hal itulah yang justru membuat orang bergidik ketakutan.
"Hehee, sudahlah Baylor. Mungkin urusannya memang sangat genting," kata bos berusaha menenangkan Baylor dan suasana hening itu. Tangannya mulai menepuk-nepuk pundaknya, mendorong ia kembali ke asal usulnya.
Semua orang hanya berkutat pada layar terang itu, seperti ada penyangga yang mengait leher mereka. Tidak seorang pun berani menatap Eleanor, bahkan sehelai rambutnya sekalipun.
***
Hari mulai gelap, matahari mulai membungkus teriknya dengan selimut bercorak kegelapan dan bintang sebagai penghiasnya.
Eleanor keluar dari pintu apartemennya yang terletak di lantai 8 itu, hendak pergi menjelajahi supermarket dekat rumahnya untuk membeli beberapa perlengkapan rumah tangga yang telah habis, menyisakan beberapa sisa tak lagi berguna.
Saat itu juga, tepat setelah Eleanor melangkahi satu petak penuh keramik lantai itu, si pendek, Catoo, juga keluar melewati pembatas apartemennya. Masihkah dapat kalian pikir itu kebetulan? Bagaimana bisa setiap saat selalu berbarengan?
__ADS_1
Ia mulai berlari menyaingi langkah Elaeanor.
"Hai, Ele! Kebetulan lagi? Atau takdir? Hmmm...."
Langkahnya tengah beriringan dengan Eleanor.
Eleanor tidak pernah sekalipun berbicara dengannya, tapi Catoo itu benar-benar bermuka tebal, selalu berbicara sendiri dibalik fisik Eleanor.
"Cing cong cing cong," suara ketusan Catoo yang masuk saja tidak ke telinganya Eleanor.
Malam itu hanyalah hari-hari biasa bagi Eleanor. Meskipun di sampingnya selalu diikuti sesosok manusia layaknya hantu.
***
Malam telah berlalu lagi.
Mungkin saat ini teman-temannya telah sampai ke desa terpencil itu, yang selalu berbeda lokasi tiap tahun.
Sedangkan Eleanor, ia hanya duduk bersila di atas karpet berbulunya menatap penuh ke layar petak yang lebih kecil dari ukuran di kantornya.
Jam, menit, detik, berlalu begitu saja. Saat ini rasanya waktu tidak lagi beraturan. Semakin lama semakin cepat. Apakah kalian disana, penghuni- penghuni bumi, yang tidak diketahui keberadaannya merasakan juga hal itu?
10:00:01 A.M.
Cklek!
APA?! Suara pintu?? Siapa?
Hanya Eleanor satu-satunya akses masuk ke rumahnya. Tapi siapa dan bagaimana hingga suara kenop berputar itu menggelegar mengejutkan Eleanor yang sedang di ambang kematian.
***
8 bulan yang lalu....
Larian kaki secepat badai itu menerjang para tetesan air yang masih bersekutu itu, memisahkan buliran air kembali merasakan kesendirian, seperti dirinya sendiri, Eleanor.
Sepanjang gang kecil itu tubuhnya mulai berubah. Hingga akhirnya ia meringkuk kesakitan di ujung buntu gang itu, di samping sebuah tong sampah, tempat lalat-lalat masih bersikukuh berterbangan. Namun, satu pertanyaan patut dipertanyakan. Apakah gang itu aman baginya? Bisakah orang melihatnya dari gang itu?
Akan tetapi hal itu tak sempat dipertanyakan Eleanor dalam dirinya sendiri. Waktu itu ia terlalu mepet jika harus sampai ke rumahnya.
Meskipun tidak ada yang bertanya, jawabannya adalah....
__ADS_1
Yaaa! Ada yang melihatnya.
Bukan hanya sepasang mata beruntung yang dapat melihatnya, sepotong gambar murni, jelas mungkin saja terlukis dalam gawainya.
Terlihat sosok itu memakai sebuah jaket panjang yang menutupi sebagian kaus putih, dipasangkan dengan sebuah jeans trendy. Dan juga sebuah koper bergaris hitam putih terlihat dalam genggaman sang beruntung itu.
Tok ... tok ... tokk....
Seseorang mengetuk pintu rumahnya.
"Mr. Professor," ucap seseorang entah siapa dari luar sana.
Namun ketukan pintunya semakin menjadi-jadi.
"Professor! Cepatan, aku sesak ini!" teriak seseorang yang membuat makhluk beruntung itu, Professor harus segera beralih ke pintu rumahnya.
Setelah berhasil membukakan pintu, ia kembali ke jendela rumahnya.
Namun, hanya punggung manusia normal dan tapak kaki cepat yang tertangkap olehnya keluar dari gang itu.
***
Nyitttt....
Suara pintu terbuka perlahan menggelikan telinga Eleanor. Ia berusaha merangkak hingga ke toiletnya, tetapi rasa sakit yang terus bergejolak itu tak dapat ditekannya.
Sementara kaki dan tubuh orang asing itu mulai memasuki batas yang tak seharusnya. Ia berjalan mendekati Eleanor yang masih dalam proses perubahan yang tanpa henti merangkak sedikit demi sedikit. Terlihat sebuah suntikan besar penuh cairan biru di tangannya. Ia bergegas mendekati Eleanor dan mengangkat suntikan itu menuju ke makhluk raksasa itu.
Tapi tidak semudah itu. Ia lupa makhluk di depannya adalah monster, bukan seorang manusia lagi sepertinya. Eleanor mulai mengangkat tubuh asing itu enteng dan melemparnya jauh menempel ke laci-laci itu.
Namun, hal itu juga tidak mengubah semangat orang asing itu. Ia kembali berdiri dan mulai mendekatinya lagi.
Lagi dan lagi dirinya dilempar terus-menerus. Ia sendiri sebenarnya telah lelah, tetapi sebuah suntikan dalam genggamannya tidak tahu kata lelah.
Ia terus mendekat dan ketika Eleanor mencengkeram leher orang asing itu, sebuah suntikan mulai melayang ke lengan Eleanor. Cairan itu dengan sigapnya masuk dan mengalir mengikuti aliran darah Eleanor, masuk ke arterinya.
"ARGHHHHH!!!!"
Teriakan Eleanor terdengar sangat kuat, kuat sekali seperti suara petir bergemuruh.
Ini rasa sakit yang berbeda, ia dapat merasakan pipa-pipa darahnya seperti semakin membesar memukul dirinya. Jantungnya terus memukul dada kirinya. Tubuh besarnya rebah dalam lantai apartemennya sendiri. Pandangannya mulai kabur, sayup-sayup dipandangnya orang asing itu hendak mengikatnya dengan rantai besi besar.
__ADS_1
Sebuah suara menghentikan gerakan orang asing itu dan kepalanya menoleh, melihat ke arah pintu.
BRUKK!!!!