The CURSE : Deadly Game

The CURSE : Deadly Game
● SEVEN ●


__ADS_3

***


BRUKK!!!


Suara pintu tertutup mengisi apartemen yang tertata rapi Eleanor. Orang itu masuk begitu saja, sepertinya ia mendengar teriakan Eleanor yang seperti petir bergemuruh itu.


Orang yang berusaha menculik Eleanor tertegun sesaat, dengan mata membulat kaku ia berusaha mencari sosok itu.


"Bukankah dia tinggal seorang diri?" pikirnya dalam batin.


"Hei! Kau siapa?? Meng--," ucap orang yang baru saja masuk ke dalam.


Ucapannya terhenti saat matanya mengarah pada tubuh monster yang ditimpa oleh rantai besi itu seolah anjing peliharaan terbaring tak berdaya di lantai.


"Astaga! Apakah ini monster sungguhan?" gumam orang itu, tak percaya dengan apa yang ada di depan matanya. Ia mundur selangkah, nyaris pingsan di tempat melihat itu semua.


"Ya, ini monster. Ku harap kau mau membantuku merahasiakan ini semua. Aku akan membawanya pergi dari sini selamanya," ucap professor itu.


Ya, yang mencoba menculik Eleanor adalah professor yang sama dengan professor yang tak sengaja melihat Eleanor saat berubah menjadi monster di gang kecil gelap itu.


"Tunggu dulu. Biarkan aku memproses ini semua dahulu. Otakku masih belum mencerna. Pertama-tama, aku datang untuk mencari temanku. Lalu, aku mendengar suara teriakan dari kamar apartemen ini, dan saat aku masuk...."


Tangannya memegang tengkuknya, matanya berputar ke atas mencoba berpikir keras.


"Aku melihat kau sedang berusaha mengikat seekor monster dengan rantai besi. Ya, MONSTER. Astaga! Apa yang terjadi di sini. Bisa kau jelaskan padaku siapa dia?" tanya orang itu kepada professor.


"Dia adalah manusia yang bisa berubah menjadi monster pada waktu-waktu tertentu dan dia itu berbahaya sekali untuk manusia. Kau lihat ini, ini adalah luka yang baru saja ia buat padaku, ia tadi mencoba mencekikku dan melemparku sampai ke pojok sana," ucap professor itu sambil menunjuk luka segar itu di sekitar area leher.


"Lalu, siapa kau?"


"Aku professor. Aku mendapat panggilan pemerintah untuk membawanya," katanya, bohong.


"Boleh kau buktikan? Kalau tidak, maaf aku tidak bisa. Kurasa pemilik tempat ini harus melihat apa yang terjadi di sini lebih dahulu," ucapnya setelah berpikir cukup lama. Ia mulai merakitkan sejumlah peristiwa yang membuatnya mulai berpikir monster itu Eleanor.


"Aku terburu-buru tadi. Aku lupa membawa identitasku. Ia berbahaya, kau tidak bisa mengendalikannya,"


Tangan orang yang baru saja masuk mengambil payung milik Eleanor yang terletak di belakangnya. Ia mulai melangkah mendekati professor itu perlahan, dan ... BAMM!!


Professor itu tumbang hanya dengan sekali pukulan payung di belakang kepalanya ketika ia sedang menatap tubuh besar Eleanor.


Ia menarik keluar tubuh professor itu dari rumah Eleanor. Setelahnya ia mengunci rapat-rapat dan menggembok pintu abunya.

__ADS_1


Pria itu kemudian mengambil selimut yang masih terlipat kusut di atas tempat tidur dan menyelimuti tubuh monster itu yang masih tergeletak di lantai, ia tak mampu mengangkat tubuh yang 2 kali lipat lebih besar darinya untuk naik ke ranjang.


Beberapa jam berlalu dan tubuh Eleanor baru mulai perlahan mengecil kembali sebagai efek dari suntikan professor jahat itu.


"Eleanor?"


Pria itu tak percaya dengan apa yang dilihatnya, terkaan awalnya tadi terbukti benar. Ia mulai mendapatkan satu per satu jawaban atas persoalan-persoalan yang selama ini digumulnya, sebelum semua persoalan itu berubah menjadi persoalan lain yang bahkan lebih rumit lagi.


Tanpa ia sadari, matanya berkaca-kaca dan sebulir air mata keluar dan tertahan di sudut matanya. Ia seakan menyesali sesuatu, sekali.


***


Beberapa saat kemudian....


"Awas-awas! Menjauh dariku! Jangan kau berani menyentuhku, pria pendek!" teriak Eleanor tiba-tiba, ia yang daritadi masih tertidur bermimpi buruk alih-alih indah.


Pria yang duduk tepat di sampingnya yang sedang menggenggam erat tangannya, menyipitkan matanya, mengerutkan dahinya. Ia yang masih bingung dengan kejadian yang baru saja ia lihat dengan mata kepalanya sendiri semakin bingung karena ucapan alam bawah sadar Eleanor.


Ia tidak bertubuh pendek! Ia bingung sekali dengan semua ini, ia ingin dengan segera menginterogasi Eleanor dan bertanya tentang semua hal yang membuatnya penasaran. Ia masih tidak percaya dengan apa yang terjadi. Bagaimana bisa manusia menjadi monster?


Tentu saja hal itu sulit dipahami dan dimengerti. Bisa kau bayangkan kalau kau melihat seekor monster dengan mata kepalamu sendiri, apa reaksimu? Kau tentu akan kaget meronta-ronta, bisa jadi kau mati di tempat melihat itu semua. Hal inilah yang terjadi kepada pria yang baru saja menyelamatkan Eleanor dari professor itu.


"Baylor? Kau--," ucap Eleanor lirih yang baru sadarkan diri, kondisinya masih sangat lemah saat ini.


"Ya, ini aku, Ele," jawabnya pelan menghadap Eleanor yang masih lemah.


"K--kau menyelamatkanku dari pria pendek itu?" tanya Eleanor pelan, mencoba duduk dengan dibalut selimutnya karena ia tak berpakaian sekarang ini.


Baylor yang berada di sampingnya dengan cekatan membantunya mendapatkan posisi yang nyaman untuk duduk.


"Ya. Dan, kau tenang saja, kau masih aman. Aku tidak menyentuhmu sama sekali," ucap Baylor, mencoba mencairkan situasi, namun tidak terlalu berhasil, Eleanor masih terdiam, tidak bereaksi.


Sejujurnya Baylor masih syok sekali dengan ini semua. Namun, ia hanya ingin mendengar penjelasan dari sahabatnya itu saat Eleanor sudah lebih tenang.


"Kau melihat semuanya?" tanya Eleanor, memecah keheningan.


"Maksudmu?"


Baylor bingung dengan pertanyaan Eleanor, pertanyaan itu bisa mengarah ke semua cabang.


"Kau melihat saat aku berubah menjadi ... makhluk lain?" Eleanor memperjelas pertanyaannya saat ia sudah lebih tenang.

__ADS_1


"Ya. Aku tidak jadi berangkat bersama tim karena salah seorang temanku sakit dan aku pergi menjenguknya. Lalu, aku memutuskan untuk menjengukmu di apartemenmu.


Saat tiba di lantai 8, aku mencoba menyari kamarmu. Tiba-tiba saja aku mendengar suara teriakan yang begitu dahsyat. Aku langsung masuk ke dalam dan seseorang mencoba mengikat monster itu dengan rantai besi dan aku mencoba menghentikannya." Baylor menjelaskan semuanya panjang lebar.


"Mengapa kau menyembunyikan hal sebesar ini dariku, Eleanor Devacio?" tanya Baylor histeris. Ia hanya memanggil Eleanor dengan nama lengkapnya ketika ia sedang kesal.


"K--kau takut padaku?" tanya Eleanor sesaat kemudian.


"Hanya sedikit dan sesaat. Aku tidak takut denganmu lagi, Ele. Kau tak perlu segan memberitahuku. Meng--mengapa kau merahasiakannya dariku, Ele?" ucap Baylor, raut wajahnya tampak begitu cemas, khawatir, sedih, semua bercampur menjadi satu.


"Aku bahkan takut dengan diriku sendiri. Bagaimana bisa kau tak takut denganku?" ucap Eleanor terbata-bata.


"Karena kau adalah sahabatku, Ele. Bagaimana makhluk lembut ini bisa menyakitiku. Aku takkan pernah meninggalkanmu sendirian. Aku janji padamu, Eleanor Devacio. Aku akan menjagamu seumur hidupku," ucap Baylor dengan seulas senyuman.


Eleanor hanya terdiam mendengar ucapan Baylor.


"Apa kau masih ingat dulu saat kau bertanya padaku apakah aku takut dengan monster, apa jawabanku?" ucap Baylor dengan lembut.


***


Beberapa tahun lalu....


"Ele, kau sedang asyik membaca apa?" ucap Baylor yang datang menghampiri Eleanor yang duduk diam di kelas waktu istirahat, di mana biasanya anak-anak lain sibuk berlarian di lapangan sekolah.


"Hei, Lor! Aku sedang membaca novel tentang monster. Apa kau percaya kalau monster itu ada?" tanya Eleanor seraya menoleh ke arah Baylor.


"Ya, aku cukup percaya dengan hal itu. Ada apa?" ucap Baylor dengan polos.


"Aku pikir kalau monster itu hanya hidup di dunia maya," gumam Eleanor.


***


"Ya, kau bilang kalau kau percaya," ucap Eleanor sambil menatap Baylor, matanya berbinar-binar.


Sudah lama sekali sejak terakhir kalinya Eleanor berekspresi seperti itu.


"Sesungguhnya, saat awal melihatnya, aku nyaris pingsan. Namun, aku merasa ada yang tidak beres. Aku juga merasa ada suatu ketertarikan antara diriku dan monster itu. Aku kira mungkin saja ia adalah kau tapi pikiran itu selalu kutepis," jelas Baylor panjang sekali.


Kedua sejoli itu terhanyut dalam kesedihan, menangis terisak-isak. Baylor sedari tadi memeluk Eleanor, mencoba menenangkannya. Sudah lama sekali sejak Eleanor menemukan kehangatan seperti itu lagi, rasanya dirinya sudah utuh kembali. Ia tak ingin melepaskan pelukan Baylor, memohon agar waktu berhenti pada detik itu.


Segala hal mulai berubah satu per satu pada benak Eleanor. Ia yang tidak menemukan semangat hidupnya lagi mendadak menemukan secercah harapan baru dengan hadirnya Baylor. Ia yang merasa hidupnya hampa mendadak merasa kalau ia sudah memiliki seisi dunia dengan adanya Baylor.

__ADS_1


Ya, Baylor. Baylor-lah arti hidup Eleanor, sepertinya rasa yang hilang mulai tumbuh kembali, bahkan rasa itu berakar semakin kuat dalam hatinya yang takkan pernah goyah.


__ADS_2