The CURSE : Deadly Game

The CURSE : Deadly Game
● SEVENTEEN ●


__ADS_3

"The CURSE : Deadly Game," kata Santi dengan nada yang diseram-seramkan.


"Di mana buku itu?" tanya Eleanor.


"Perpustakaan, perpustaakan di kota Delson," ujar penyihir itu.


"Delson? Itu kampung halaman kita. Perpustakaan yang mana?" tanya Baylor lebih bersemangat lagi hingga wajahnya terus maju meminta jawaban Santi.


"Carilah sendiri. Aku tidak bisa memberitahumu," jawab Santi.


Ia membalikkan tubuhnya dengan tangan terlipat menghindari pertanyaan mereka.


"Kumohon, aku akan membayarmu lebih," sahut Baylor.


"Tidak! Aku tidak butuh uang. Hanya perpustakan kota Delson yang bisa kuberitahu, itu sudah lebih dari kata banyak."


"Baiklah, kami akan pamit sekarang. Terima kasih banyak atas bantuanmu," ucap Eleanor dan hendak bangkit dari sofa yang tak kalah angker tersebut.


"Tunggu! Ini sudah malam, istirahatlah dulu," kata Santi.


Eleanor dan Baylor menatap satu sama lain. Mereka tidak yakin apakah harus menginap disana. Terlebih lagi, sepertinya mereka hanya bisa ketakutan sepanjang malam. Tapi ia benar, langit sudah malam.


"Baiklah, terima kasih," ucap Baylor.


***


Terik matahari masuk melalui celah-celah jendela, membuat mereka harus mengerjap atas terik yang menyinari ruangan yang teramat gelap itu.


"Hmm, Santi?" tanya Eleanor mencari keberadaan wanita penyihir. Ia mulai beranjak dan melewati tembok pemisah dari tempat mereka beristirahat. Mata Eleanor terbelalak ketika melihat Santi sedang mengaduk-ngaduk sesuatu di kuali yang sangat besar, seperti ramuan? Biasa yang kali tonton dalam film penyihir, persis seperti itu.


Baylor yang baru saja bangun masih mengucek matanya menyesuaikan dengan sinar di ruangan itu. Ia memegang bahu Eleanor dari belakang, dan tak sengaja ia juga melihat apa yang dilakukan Santi.


Keduanya langsung ketakutan. Mereka langsung keluar dan berencana untuk pergi dari rumah itu secepatnya.


"Tunggu!" seru Santi menghentikan langkah mereka. "Ambillah ini!" Tangannya menjulur memberi sebuah botol kecil berisi cairan kuning menyala ditutupi gabus.


"Apa ini?" tanya Eleanor.


"Kalian akan membutuhkannya. Ingatlah untuk meminumnya nanti," jawab Santi.


"Kapan harus kita minum?" tanya Baylor sembari mengambil botol kecil itu.

__ADS_1


"Kalian akan tahu nanti. Saat itulah kalian harus meminumnya," balas Santi yang penuh teka-teki. Susah sekali menangkap maksud dari perkataannya.


"Baiklah, terima kasih atas tumpangan dan bantuanmu. Kami pamit," ucap Baylor dan mulai melangkah keluar dari rumah itu.


Keduanya berjalan lebih cepat dari biasanya. Menghindari tatapan orang-orang disana yang sepertinya tersenyum sinis pada mereka. Hingga sampailah mereka di depan gerbang, dan....


BRUKKK!!


Tubuh mereka terhempas jauh ketika hendak membuka gerbang itu. Rasanya gerbang itu telah diberi mantra-mantra pelindung yang kuat. Mereka merasakan kekuatan itu melempar mereka. Sekali lagi mereka mencoba, dan hal yang sama terulang lagi. Hal mustahil untuk mengalahkan mantra itu. Tiba-tiba terdengar suara.


"Hahahaha, kalian mau keluar? Setia! Setia adalah poin kehidupan. Bagaimana bisa kalian berkhianat seperti ini setelah bersusah payah masuk, dan sekarang kalian ingin keluar? Baiklah, aku akan mengabulkannya. Namun hanya satu orang yang dapat keluar. Kuberi kalian waktu memikirkannya," suara berat misterius terus menggema. Entah dari mana asalnya.


"Lor, keluarlah, aku akan disini. Aku sudah menjadi salah satu dari mereka. Keluarlah!" ujar Eleanor yakin dan mendorong-dorong Baylor untuk keluar.


"Tidak! Kita akan sama-sama keluar. Ayo muncullah jika kau berani!" teriak Baylor ke sembarang arah yang ditujukannya kepada si misterius tersebut.


"Hahaha, berani sekali. Baiklah kukabulkan setelah yang satu ini." Lagi-lagi suara itu keluar begitu saja dari langit.


Tiba-tiba langit menjadi gelap, gelap gulita, tidak terlihat satu pun. Namun, terlihat banyak sekali mata merah seperti datang menyerbu mereka, dan botol tadi, botol kecil yang diberikan. Ramuan kuning itu menyala-nyala. Saat itulah mereka sadar harus meminumnya. Keduanya membagi ramuan itu.


Syatt ... syatt ... syatt....


Mata merah itu adalah penyihir!


Seorang tiruan Baylor memukul penyihir yang mendekat ke arahnya. Mulailah pertempuran antara bangsa penyihir dan bangsa tiruan. Bangsa tiruan terus memukul tanpa letih penyihir-penyihir yang terus berdatangan. Tak dapat lagi ditahan, penyihir itu menembus pertahanan para tiruan dan menyusup ke arah Eleanor dan Baylor.


Sekejap penyihir itu terus dipukul oleh Baylor, seperti yang dilakukan para tiruannya. Tetapi ia hanya dapat memukul satu penyihir seiring waktu, sedangkan penyihir yang datang semakin menjadi-jadi. Eleanor tidak hanya diam berdiri. Ia ikut memukul penyihir-penyihir itu. Namun, penyihir itu tidak bisa dihentikan, hingga akhirnya Baylor terjatuh ke tanah.


Rasanya dadanya sesak seperti ditimbun ribuan batu di atasnya. Eleanor yang melihatnya langsung datang menghadang Baylor. Ia mulai memukul lebih banyak penyihir lagi, sementara Baylor terus mencoba berdiri.


ARGHHH!


Tubuh Eleanor mulai bertumbuh. Pas sekali waktu berubahnya jam 10. Ia menjadi monster besar dan mulai mencabik-cabik penyihir yang terus berdatangan dengan cakar panjangnya.


"Keluarlah, Lor! Keluar dari gerbang itu!" teriak Eleanor kepada Baylor yang terus mencoba berdiri.


Keduanya mulai mundur seiring perlawanan dari penyihir. Baylor merangkak dan terus merangkak hingga akhirnya ia hampir tiba di depan gerbang.


Sttt ... sttt....


Suara listrik mengalir. Terlihat listrik yang menjalar-jalar seperti petir besar yang tiada henti. Petir itu menutupi gerbang itu. Mustahil rasanya melewati beribu-ribu petir kedepan.

__ADS_1


"Arghhhh!!!" teriak Baylor yang terkena sengatan petir di lengannya dan terhempas ke tanah.


"Ada apa?" tanya Eleanor dengan suara monsternya sembari kepalanya masih menghadap depan mencabik-cabik penyihir yang semakin lama semakin banyak, tak dapat lagi dibendung.


"Ele! Tidak bisa! Gerbangnya ditutupi aliran listrik!" teriak Baylor ke arah Eleanor. Ia mulai lebih keras lagi berdiri dan menghajar penyihir yang mendekati Eleanor dari sisi samping.


"Apa maksudmu? Listrik?" tanya Eleanor yang masih sibuk berperang.


"Iyaa!!" seru Baylor yang masih kesakitan dan terus menahannya.


Brukk!!!


Keduanya yang sibuk bertarung tersandung satu sama lain dan terjatuh. Tidak sempat mereka berdiri, para penyihir bermata merah yang semakin banyak telah menyelubungi keduanya. Tampak wajah pasrah dari keduanya yang mulai menutup mata rapat-rapat bersiap menahan rasa sakit yang teramat sangat nantinya.


Syuttttt~


Suara seseorang terbang datang dari sisi samping.


"Pergilahh!!! Keluar!!!" teriak seseorang yang menahan para penyihir dengan kekuatan perisai bening besar yang keluar dari tangannya. Ia adalah Santi!


"Santi...."


"Cepat keluar!!!" teriaknya yang semakin lama semakin mundur menahan penyihir tak terhingga itu.


"Bagaimana, aliran listrik bertegangan tinggi itu menutupinya," jawab Eleanor kebingungan.


"Lewati bersama-sama. Kalian bisa! Cepat!!!" teriak Santi yang terlihat matanya menutup mengumpulkan kekuatan lebih untuk menghadang mereka.


"Ayo, Ele!" ujar Baylor.


Ia menarik tangan besar Eleanor dengan kedua tangannya. Keduanya menggenggam erat tangan satu sama lain dan masuk ke dunia petir yang tiada akhirnya.


Arghhhhhhhhh!!!!!!!!


Petir itu sungguh menyakitkan. Menyusup menusuk ke dalam jaringan-jaringan sel tubuh mereka. Rasanya sakit, seperti sayatan. Tubuh mereka bergetar terkena sengatan. Sulit sekali untuk terus maju tiap langkahnya. Namun, tangan mereka saling menyemangati di tengah terpaan petir itu. Hingga akhirnya sampai tepat di depan gerbang. Dengan tubuh yang bergetar dahsyat mereka mendorong gerbang yang berat itu apalagi dengan tubuh lemah mereka.


Swuttt....


Mereka keluar!!!


Namun getaran dalam tubuh mereka terus bersekutu dengan tubuh mereka. Hingga akhirnya mereka terkapar lemah di depan gerbang kebebasan itu. Kota itu terlihat damai kembali, tidak terlihat satu pun penyihir lagi. Gelap gulita yang menutupi mereka tadi hanya mendatangkan sebuah cahaya terang dari sang surya. Tubuh mereka hanya tergeletak, membentang tak berdaya, tidak sadarkan diri di tengah luasnya aspal abu itu.

__ADS_1


__ADS_2