
***
"Hei!! Apa yang kau lakukan?!" teriak Favid dengan sangat kuat yang mengisi udara di ruangan itu.
Isabelle dan Favid terlibat perebutan buku itu. Buku itu kini berada di kedua pasang tangan yang berbeda. Keduanya beradu kekuatan dari buku itu hingga terbawa arus kemana-mana.
"Kau siapa?" teriak Favid dengan kekuatan yang juga keluar bersama teriakannya.
"Isabelle," jawabnya dengan santai, tidak seperti Favid yang sudah terlarut dalam amarahnya.
"Apa maumu?" teriak Favid lagi yang masih berusaha menjauhkan buku itu dari Isabelle yang terus merebutnya.
"Buku!" jawabnya singkat dengan tatapan dingin menusuk.
Tok ... tok ... tok....
***
"Lor, mengapa wahana permainannya jadi di kutub utara?" tanya Eleanor yang tak berhenti menggosok-gosok tangan dan lengannya yang sudah menggigil kedinginan.
Ya! Kini mereka sedang berada di wilayah kutub utara yang permukaannya tertutupi dengan salju tebal dan hujan es yang turun terus-menerus.
"Coba aku lihat papan petanya," pinta Baylor yang tak kalah menggigil dari Eleanor.
"Ini," ucap Eleanor dengan nada sedikit bergetar sembari menyodorkan papan peta yang sedang ia pegang.
Tangannya tampak gemetaran saat ia menyodorkan papan peta itu.
"Kita berhasil melewati arena pertama, Ele," ucap Baylor bahagia ketika melihat tanda centang tergambar di bulatan abu-abu pertama, tapi tak sepenuhnya bahagia melihat keberadaannya sekarang.
Tampak tatapan penuh rasa khawatir di dalam manik matanya ketika melihat Eleanor. Entah sejak kapan tatapan kekhawatiran itu berubah menjadi ketakutan. Mungkin sejak ia jatuh cinta dengan Eleanor? Sehingga ia takut terjadi apa-apa dengan Eleanor ketimbang dirinya sendiri?
"Wahh!! Lalu apa lagi yang harus kita lakukan di sini? Apa kita harus mencari kunci lagi?" tanya Eleanor.
"Entahlah," jawab Baylor pasrah sambil mengangkat kedua bahunya.
Bahkan untuk mengangkat bahunya pun sedikit susah karena rasanya sedikit berat tertimpa salju. Bukan berat karena setitik serpihan salju, namun kedinginan itulah yang membuatnya menjadi sangat berat seiring menempelnya serpihan salju itu pada tubuhnya.
"Tapi di mana letak pintunya. Kita bisa saja mati beku di sini," gerutu Eleanor, seakan menyesali keputusannya untuk masuk ke dalam permainan.
"Lebih baik kita mulai berjalan," saran Baylor yang disetujui Eleanor.
Kini keduanya mulai berjalan lurus ke depan sambil melihat kiri-kanan, mencoba mencari petunjuk yang mungkin ada di suatu tempat.
"Lor, di sana ada gubuk tua!" seru Eleanor ketika mereka menyusuri jalanan penuh salju itu sebelum akhirnya mata Eleanor tertuju pada sebuah gubuk tua yang tertutupi salju tebal terutama bagian atapnya yang hanya kelihatan warna putih pekat.
"Ayo, kita ke sana!" seru Eleanor kemudian langsung menarik tangan Baylor yang tak berhenti gemetaran tanpa meminta persetujuannya.
"Pelan-pelan, Ele," ucap Baylor yang tergopoh-gopoh mengikuti larian Eleanor yang seperti anak kecil.
__ADS_1
Drettt....
Pintu usang itu membuka perlahan-lahan dan sedikit macet. Saking usangnya gubuk itu, debu-debu tebal langsung bertebaran ketika pintunya terbuka.
"Uhukkk ... uhukkk...."
Mereka berdiam sejenak di depan pintu masuk. Mata mereka berputar menatap sekeliling gubuk kecil itu. Sungguh usang dan kotor sekali! Bahkan debu-debu sudah menggumpal di sekelilingnya.
"Aku tak mau masuk, Lor," lirih Eleanor.
"Kita harus, Ele. Kalau tidak kita akan mati lagi. Nyawa itu berharga sekali. Masih panjang perjalanan kita," ucap Baylor menasehati Eleanor yang selalu ingin enaknya saja.
Dengan berat hati, mereka melangkah masuk ke dalam.
Brukkk!!!
***
"Security! Masuk!" teriak Favid ke arah pintu yang berbunyi.
Ternyata beberapa menit yang lalu ketika Isabelle berusaha menutup bukunya di tepi kasur, Favid menekan nomor untuk memanggil security tanpa sepengetahuan Isabelle.
Isabelle membuka matanya lebih lebar dan melemparkannya ke Favid. Namun, tiba-tiba ia tertawa dengan cara yang mengerikan.
"Haha, dasar anak muda," ucapnya yang membuat Favid semakin gelisah dari yang awalnya mengira semua rencananya telah berhasil.
***
Brukk!!
Pintu tua berlapuk itu menutup dengan keras dan terkunci dengan sendirinya.
"Lor, kenapa pintunya menutup sendiri?" tanya Eleanor.
"Astaga! Apa ini petunjuknya? Kita harus mencari kunci dan membuka kembali pintu ini?" tanya Baylor ketika mulai tersadar dan perlahan-lahan mengerti jalan permainan di dunia ini.
"Ya, mungkin!" timpal Eleanor.
Keduanya sibuk menjelajahi gubuk tua itu. Tangan mereka dengan begitu cekatan menarik dan mengecek satu per satu laci tanpa mengeluh meskipun debu selalu membuat mereka batuk dan susah bernafas.
Suhu yang semakin menurun membuat keduanya semakin tergesa-gesa mencari petunjuk maupun kunci itu walaupun tangan mereka sudah mulai mengering dan susah digerakkan. Bahkan bila ditusuk pisau pun akan sulit merasa kesakitan akibat dingin yang membuat seluruh anggota tubuh mereka kebas dan tidak merasa apapun.
"Ele?" ucap Baylor.
Tangannya yang sedang mengecek isi laci-laci dari sebuah lemari tua mendadak berhenti. Matanya terpaku melihat apa yang sedang berada dalam genggamannya. Begitu pula dengan Eleanor.
"Korek api?" tanya Eleanor setelah menoleh ke arah Baylor.
"Lihat benang ini baik-baik," ucap Baylor menunjuk ke benang yang terikat di ujung batang korek apinya.
__ADS_1
Hal itulah yang menjadi perhatiannya sejak awal. Baylor menarik benang itu satu kali, tetapi justru berbalik benang itu yang menarik Baylor dan Eleanor. Kepala mereka hanya bergerak mengikuti jalur benang itu yang mungkin akan membawa mereka ke sebuah petunjuk.
Drett....
Fiuhhhhh....
Angin kencang berhawa sangat dingin meniup kencang mereka berdua, membuat mereka yang sudah menggigil menjadi tambah menggigil dan membeku.
Benang halus di korek api itu ternyata telah tersambung dengan jendela gubuk. Bagaimana bisa seutas tali yang begitu tipis bisa menarik jendela yang sudah tersangkut dengan begitu mudah? Entahlah, mungkin sihir?
"Kita telah masuk perangkap!" seru Baylor menyesali perbuatannya.
Ia yang awalnya berpikir bahwa korek api mungkin bisa membantu menghangatkan tubuhnya malah menjadi sebaliknya.
"Ayo kita tutup, Ele!" ajak Baylor.
Mereka mencoba mendorong jendela yang terbuka itu dengan sekuat tenaga, mencoba membelah arus udara dingin yang terus masuk ke gubuk tua itu.
Brukk!!
***
"Terima kasih, anak muda," sahut Isabelle lalu melepaskan buku itu dari genggamannya dan menarik sesuatu keluar dari tas hitam usang yang ditentengnya.
Sebuah botol kecil tertutup gabus berisi cairan bening dibuka. Isabelle mengayun-ayunkan botol itu ke hidung kedua security yang sudah berada di belakangnya dan juga Favid.
Dalam sekejap cairan itu habis menguap dan membuat para security terbius lalu terkapar tidak sadarkan diri di lantai kamar hotelnya. Otot dan kekuatan mereka tidak berguna di depan sebuah cairan mudah menguap itu.
"Uhuk--uhuk, ca--cairan apa itu?" tanya Favid dengan suara melemah karena ia juga menghirup cairan yang sama dengan para security.
Isabelle tidak menjawab. Ia menutup kembali botol itu seperti sedia kala tanpa isi lalu memasukkan ke dalam tas tentengan usangnya.
Favid menggeleng-gelengkan kepalanya dan berusaha untuk melihat dengan jelas. Efek dari cairan itu membuatnya sangat pusing dan berdiri sempoyongan hingga pandangannya buram dan redup.
Tidak berselang lama, Favid juga ikut terbaring dalam kamar hotelnya sendiri bersama kedua orang yang sudah pingsan sebelum dirinya. Buku yang menjadi rebutan itu, yang masih berada dalam dekapan Favid diambil Isabelle dalam keadaan terbuka di halaman tengah setelah Favid tidak lagi berada dalam alam sadarnya.
"Hahahahaha."
***
Brukk!!
Sebelah jendela itu terlepas. Engselnya patah! Tak ada harapan lagi untuk menutupnya kembali. Mereka benar-benar akan mati kedinginan kali ini.
"Bagaimana ini," desah Eleanor, frustasi.
"Aku tak tahu. Sepertinya kita akan menghabiskan satu nyawa lagi," ucap Baylor jujur, ia tidak mampu mengucapkan sesuatu untuk menenangkan Eleanor.
Mereka tak lagi menghiraukan masalah jendela itu, membiarkan angin kencang bertiup masuk ke dalam sesuka hatinya, mereka sudah pasrah. Mereka beralih mencari jalan keluar yang mungkin ada sebelum akhirnya mereka mati sekali lagi.
__ADS_1