The CURSE : Deadly Game

The CURSE : Deadly Game
● THIRTY SEVEN ●


__ADS_3

***


"Ele, aku yang akan naik ke atas, dan petunjuknya akan ku lempar ke bawah. Nanti kau kumpulkan, ya," ucap Baylor.


Lalu, ia mengepalkan kedua tangannya erat agar tidak menyentuh tangga itu yang mungkin akan menimbulkan api lagi, dan ia mulai memanjat tangga yang panjangnya melebihi berkali-kali lipat tinggi tubuhnya.


Butuh waktu cukup lama hingga ia mencapai ke puncak tangga itu untuk mengambil petunjuk yang masih tertusuk dengan paku. Bukan hanya panjang tangga yang membuatnya lama untuk mencapainya, tetapi sepasang telapak tangannya yang tidak bisa ia gunakan saat ini memperparah aksi mendaki dan memuncaknya itu.


"Uhh, uhhh," gerang Baylor saat berusaha mengambil petunjuk yang sudah sangat dekat dengannya. Akan tetapi, telapak tangan tidak bergunanya ini tidak membantu sehingga ia harus menggunakan semua anggota geraknya untuk menjatuhkan petunjuk itu ke lantai sesuai rencananya.


Dari bawah, Eleanor melihat hal itu dengan bercucuran segala jenis keringat, jantungnya berdebar dengan sangat cepat. Keringat asin karena suhu ruangan yang semakin lama semakin panas dan keringat dingin karena menerka-nerka apakah mereka bisa mendapatkan petunjuk itu. Ia terus-menerus menyeka tiap buliran keringatnya yang terus mengalir tanpa henti.


"Ele! Ele! Petunjuknya jatuh," teriak Baylor kegirangan yang telah berhasil menjatuhkan petunjuknya yang terpaku dari atas hingga seluruh tubuhnya bergetar dan kehilangan keseimbangan.


"Ahhhhhh!"


Baylor jatuh dari ketinggian! Tangannya melayang-layang di udara dan mencoba meraih segala sesuatu yang mungkin bisa ia jadikan pegangan walau pasti akan memicu bara api muncul di hadapannya.


"Baylor!!!"


"Apa yang harus kulakukan?" gumam Eleanor cepat. Kakinya menghentak-hentakkan lantai kayu pijakannya dengan panik sambil mencari-cari sesuatu di ruangan itu yang setidaknya bisa membantu pendaratan mendadak Baylor.


Tubuh Baylor terjun bebas lebih cepat daripada kertas yang menjadi petunjuk mereka untuk lanjut ke babak selanjutnya.


"Pleaseee!" gumam Eleanor. Matanya ia tutup sebelah saking takutnya terjadi sesuatu dengan Baylor, sedangkan kedua tangan mengepalnya membentang ke depan, bersiap-siap untuk menahan tubuh Baylor yang terjatuh dari tempat yang sangat tinggi agar tidak terluka parah. Ya, meskipun gila, meskipun bisa saja tangannya patah, tetapi ia tidak mempunyai pilihan lain.


Baylor hanya pasrah melihat tubuhnya yang tidak bisa dikendalikannya. Ia hanya berharap keajaiban sungguh terjadi di saat seperti ini tanpa mengetahui Eleanor sedang bertindak gila di bawahnya.


Brukkk!!


Suara tubuh seseorang menyentuh dengan keras lantai kayu berkualitas bagus.


***


Brukk!!!


Tubuh tegap milik dua orang security yang malang itu lagi-lagi ambruk di lantai akibat kondisi mereka yang tidak sadarkan diri karena mantra yang diberikan oleh Isabelle.


Entah sejak kapan, tetapi manik mata Isabelle yang awalnya berwarna hitam keabu-abuan berubah menjadi merah, seperti bara api yang menyala-nyala. Sama seperti matanya, hatinya juga dipenuhi rasa dendam yang tak kunjung-kunjung hilang, malah semakin menjadi-jadi.


Ia tak menyangka bahwa seorang pemuda yang umurnya hanya seumur jagung bisa lolos dari genggamannya, bahkan membawa kabur serta buku yang sangat diinginkannya.


Sepertinya ia harus memikirkan jalan keluar lain. Ia tidak bisa membiarkan anak yang terkutuk itu keluar dari permainan. Kalaupun ia keluar dengan selamat, akan ia bakar hidup-hidup, akan ia bunuh dengan tangannya sendiri dan merasakan darah dan daging segar gadis terkutuk itu.


"KAU TIDAK AKAN BISA MENANG!!!"

__ADS_1


***


"E--Ele?" tanya Baylor. Ia langsung berdiri dan menyeret lututnya mendekati Eleanor yang terbaring ditimpanya tadi.


Ya, Eleanor berhasil menangkap setengah badan Baylor sedangkan dirinya sendiri harus terluka bergores dengan lantai.


"Ele, Ele!" teriak Baylor seraya mengguncang-guncang bahu Eleanor.


"Awww!" pekik Eleanor kesakitan.


"Bodoh!" marah Baylor melihat Eleanor bersedia terluka demi dirinya.


"Hahaha. Nggak apa-apa kok, cuma gores kecil aja. Kalau tadi kamu yang jatuh kan bisa-bisa kepalanya bocor," bela Eleanor membenarkan tindakannya. Masih sempat ia tersenyum senang walau terluka dengan cara yang tergolong konyol.


Baylor tetap tidak senang mendengar jawaban Eleanor. Dengan mengerucutkan bibirnya, ia membantu Eleanor berdiri dan meniup halus goresan luka di lengan Eleanor akibat gesekan dengan lantai tadi.


"Lor, kenapa makin panas?" tanya Eleanor. Keringat sedari tadi bahkan belum sempat disekanya semua, kini bahkan hawanya lebih panas lagi hingga rasanya tubuhnya hendak meleleh.


Baylor pun merasakan hal yang sama, terlebih lagi kening sebelah kirinya. Ia menyeka dengan punggung tangannya dan tidak sengaja melihat ....


"Wowwww!"


"Ada ap -- Hahhhh?" seru Eleanor penuh keterkejutan.


***


Ia meratapi nasibnya sendiri sejak putri semata wayangnya pergi meninggalkannya tanpa alasan yang jelas. Alasan yang diberikan sangatlah tidak masuk akal: ingin hidup mandiri. Hanya saja, kalaupun ia ingin hidup mandiri, mengapa satu-satunya keluarga yang tersisa ia telantarkan di kota Delson sendirian? Tidak bisakah ia tinggal di atap yang lain namun masih dalam kota yang sama?


Jaydenn tidak mampu memahami jalan pikiran putri tercintanya. Ia sudah tidak memiliki siapa-siapa lagi selain Eleanor. Ia sungguh merindukan putrinya yang sudah ia rawat sendiri sejak bayi.


Baginya, menjadi seorang single-parent dan merawat seorang anak perempuan hingga dewasa sendirian bukanlah masalah besar. Ia tidak akan membuat anak itu kekurangan kasih sayang dari orang tua. Dan benar saja, masa kecil Eleanor bahagia sekali, bahkan bisa dibilang kasih sayang yang ia dapatkan dari ayahnya sangat berlimpah ruah.


"Temuilah Papa segera, Minori."


***


Satu sisi dinding terbakar, namun tidak langsung di seluruh sisi itu. Apinya menjalar perlahan hingga hampir seluruh sisi itu terbakar semua dan kemungkinan menjalar di sisi lain pun bisa dibilang sangat besar.


"Ele! Cepat! Kita harus cepat!" ucap Baylor. "Petunjuk! Iya, mana petunjuk tadi?"


Keduanya kali ini bergerak lebih cepat yang dicampur dengan perasaan panik melihat apinya yang semakin lama semakin cepat menjalar ketimbang tadinya.


"Itu!" seru Eleanor sembari menunjuk ke suatu kertas abu-abu kuning kecil.


Mereka mendekat dan berjongkok, menunduk untuk melihat tulisan di petunjuknya. Karena tidak mungkin mereka mengangkat dengan jemari-jemari mereka untuk membacanya.

__ADS_1


"'Kau meremehkanku. Kalau aku berniat jahat, nyawamu akan langsung berada di tanganku dan keluargaku.' Apa maksudnya, Lor?" tanya Eleanor.


"'Kasihan sekali, bahkan aku seorang kau sudah tidak dapat bertahan hidup.' Itu yang benar, Ele. Bagaimana bisa yang kau baca itu sangat berbeda dengan yang kubaca?," ucap Baylor mengoreksi kesalahan membaca Eleanor.


"Tidak, Lor. Aku yakin, sudah berkali-kali aku baca tetap sama," sanggah Eleanor.


"Tidak, Ele. Kau salah. Kalimat ini tertulis sangat jelas disini."


"Tidak! Baca baik-baik. Aku yakin aku benar!" seru Eleanor. Ia sudah mulai geram dengan Baylor yang sedari tadi terus salah membaca. Padahal kan sudah berapa tahun ia hidup di dunia ini dengan terus membaca dari kecil.


"Aku yakin, Ele. Ini seperti yang aku baca tadi. Sudahlah, ayo langsung ke petunjuk yang lain. Apinya bertambah besar," ajak Baylor seraya matanya mengedarkan ke arah api yang mulai menjalar ke sisi lain.


Keduanya langsung memindahkan tangga itu secepat mungkin dan lagi-lagi Baylor memanjatnya. Kali ini semangatnya lebih membara-bara bersama dengan api yang juga terus membara sembari menjalar.


"Ele! Tangkap!" teriak Baylor dari atas sana dan ia sudah mulai turun agar mempersingkat waktunya. Tidak ada lagi kata bersenang sekejap dalam otaknya saat ini, itu hanya akan membuang waktunya saja.


Tiba-tiba, sebuah api di sisi kanan mereka muncul entah dari mana dan mulai membesar lagi seiring sebuah petunjuk foto jatuh.


"Lor, dinding itu juga ikut terbakar, tapi bukan hasil menjalar dari sisi itu," teriaknya pada Baylor yang masih berusaha menurun setingkat demi setingkat.


Baylor hanya menatap sekilas dan memang melihat api yang lain, lalu ia dengan segera turun kembali ke bawah.


"Tidak ada waktu lagi, Ele. Kita tidak bisa terus memikirkan apinya. Cepat lihat petunjuknya," teriaknya memperingati Eleanor.


Sesampainya ia di lantai, ia langsung menghampiri Eleanor dan petunjuknya.


"Apa yang kau dapat dari petunjuknya?" tanya Baylor. Ia belum sempat melihat foto itu namun terlebih dahulu mencari tahu hasil pengamatan Eleanor.


"Tidak ada apa-apa, Bay. Hanya tanah dengan sebuah lubang kecil," jelasnya.


"Iya, apa maksudnya? Kenapa susah sekali." Baylor sungguh frustasi hingga rasanya ia ingin melempar semua barang di ruangan itu.


"Oh iya, Lor. Mungkinkah semakin banyak petunjuk yang kita dapat, semakin banyak api muncul di mana-mana?" tanya Eleanor. Dalam sekejap terpikirkan olehnya ketika menatap api yang muncul tiba-tiba tanpa api di sisi berlainan menjalar disana.


"Mungkinkah? Kalau begitu kita harus langsung mengambil gembok itu. Sepertinya gembok itu kunci kita untuk keluar dari sini," ucap Baylor langsung mengutarkan pendapatnya.


Kemudian keduanya mengingat kedua petunjuk yang mereka dapat tadi dan langsung mendorong tangganya ke dekat gemboknya.


Tanpa basa-basi, Baylor langsung memanjatnya dengan waktu sesingkat mungkin. Gembok ini lebih cepat terjatuh karena terdapat lubang di gemboknya yang menggantung di pakunya sehingga hanya perlu didorong saja gembok itu sudah terjatuh.


"Bagaimana Ele?" tanya Baylor yang masih bergelut dengan tangganya di tengah-tengah.


"Gembok ini menggunakan kombinasi huruf, Lor," jawabnya.


"Benarkah? Berapa--" Mulut Baylor tercengang dan tidak mau menutup melihat cahaya itu.

__ADS_1


"Bay, ki--kita harus bagaimana?" lirih Eleanor yang juga menyadari hal itu.


__ADS_2