
***
WE (MONSTERS) ARE REAL
-Santi Miadami-
Keduanya yang girang sekali langsung membaca lebih dalam buku itu. Berusaha menemukan solusi yang telah dinanti-nantikan mereka.
Setelah hampir 4 jam, akhirnya mereka selesai membaca buku pemberi harapan itu. Namun, jauh di balik kwetiaw, keduanya hanya menatap satu sama lain dan menggeleng-geleng putus asa.
Dalam buku itu tidak tertera setitik noda pun tentang solusinya. Hanya meninggalkan sebuah sad ending: sebuah laki-laki monster yang pergi dijauhkan dari dunia oleh yang di atas.
Eleanor menahan air matanya yang terus memaksa untuk turun. Berbeda dengan Eleanor, Baylor tampaknya tidak putus asa. Ia terus membalik-balikkan halaman demi halaman, sampul depan dan juga belakang. Hingga suatu listrik bertegangan tinggi mengalir dan menghidupkan lampu ide di kepalanya.
Ibu jari dan tengah ia lekatkan lalu mendorongnya yang kemudian menghasilkan suara.
"Ele," sahut Baylor sembari menghadap Eleanor dan mencengkeram kedua bahunya kuat, "aku tahu." Jari telunjuknya menunjuk ke sebuah nama.
-Santi Miadami-
Eleanor tidak mengerti dengan pesan tersirat yang dimaksud Baylor. Di atas kepalanya seolah muncul tanda tanya besar, yang artinya ia kebingungan.
"Maksudnya?" tanya Eleanor semakin bingung setiap memikirkannya.
"Penulisnya," jawab Baylor yang sedikit melebarkan mata Eleanor. "Penulisnya! Ia pasti pernah mengalaminya, atau ia tahu tentang ini," ucapnya kembali meletup-letup yang akhirnya disadari Eleanor.
"Lor," tutur Eleanor lembut dengan mata berseri-serinya.
"Tapi, gimana caranya mencari penulisnya?" tanyanya kembali setelah mencernanya lebih jauh lagi.
Baylor merendahkan pandangannya, mencari jalan menemukan penulisnya. "Ahh, aku punya seorang teman, ia bekerja di perusahaan penerbit, aku akan segera menghubunginya," ujarnya tiba-tiba setelah keseriusan yang dalam.
***
"Gimana, Lor. Udah ada kabar dari temanmu belum?" tanya Eleanor sambil menoleh ke arah Baylor yang sedang asyik menonton pertandingan live sepak bola di televisi di apartemen Baylor.
"Hmm, kamu cek sendiri yaa, hehe. Lagi seru nih, Ele. Udah mau gol, nih," tutur Baylor pada Eleanor, tapi matanya tak dapat ia lepaskan dari layar televisi.
"Password-mu?" tanya Eleanor.
__ADS_1
"Namamu," jawab Baylor.
"Ha? Demi apa?" ucap Eleanor tak percaya, lalu tangannya dengan cepat mengetik 'eleanor' dan menekan tombol enter, namun layar kecil itu malah menunjukkan 'wrong password'. Ia lalu mengetik 'eleanor' lagi dan lagi.
"Lor, kok error sih," gerutu Eleanor.
"Emank apa yang kamu ketik?" tanya Baylor seraya menoleh ke arah Eleanor.
"Namaku," jawab Eleanor dengan santai dan bibirnya yang maju lebih dari sedikit.
"Ciahhh, ngarep banget, Ele. Hahahahaha, yang kumaksud itu ketik 'namamu'," kata Baylor kemudian tertawa terbahak-bahak melihat tingkah polos Eleanor.
"Huhh, dasar kau ini," ucap Eleanor, mendengus dengan kelakuan jahil Baylor.
Setelah perjuangan yang begitu lama dan memalukan, Eleanor akhirnya berhasil membuka handphone Baylor.
Ia kemudian menekan aplikasi Whatsapp dan men-stalking chat Baylor. Ia mengerutkan dahinya dan menatap layar kecil yang dipegangnya itu dengan tatapan penuh kebingungan.
"Lor, dia sudah membalasnya!" ucap Eleanor dengan girangnya namun bingung.
"Apa yang dikatakannya?" tanya Baylor yang langsung bersemangat begitu mendengar ucapan Eleanor. Ia langsung meninggalkan sofa empuknya dan siaran live sepak bolanya, lalu beralih duduk di hadapan Eleanor.
"Kota Wideon, Jalan Boster, No. 04," ucap Eleanor.
Mereka mengulangi kata itu terus-menerus mengacak satu persatu memori mereka, mencoba mengingat sesuatu.
"Kota Wideon, si kota misteri!" ucap mereka bersamaan dengan tatapan penuh keterkejutan.
"Kau yakin kita harus ke sana?" ucap Eleanor, ia tampak takut bila harus menginjakkan kakinya ke kota itu, apalagi seluruh tubuhnya.
"Ya, kita harus ke sana," ucap Baylor dan menatap Eleanor, berusaha menyakinkan sahabatnya, meskipun rasa ragu tak mau melepaskan mereka.
"Cuti," ucap mereka, lagi-lagi bersamaan.
***
"Cuti? Kalian berdua?" tanya bu manajer sambil berkacak pinggang dan menatap tajam dua orang yang berdiri di hadapannya.
"Iya, Bu. Kami memiliki acara penting yang harus dihadiri," terang Baylor.
__ADS_1
"Kalian berdua? Menghadiri acara penting?" tanyanya lagi.
"Iya, Bu. Di kota kelahiran kami." Giliran Eleanor yang menerangkan.
"Hmm, kalau memang penting, kalian harus mencari bos. Aku tak bisa memberikan kalian izin begitu saja kalau kalian ingin cuti selama sebulan. Itu cuti panjang," tutur bu manajer.
"Baiklah, kalau begitu, Bu. Kami permisi. Maaf sudah mengganggu," ucap Baylor sambil tersenyum tipis pada bu manajer, lalu membalikkan badan mereka pelan dan berjalan ke ruang kerja bos.
"Hmmm, apa yang mereka berdua katakan pada Bu Manajer?" gumam Favid dalam hati, namun tak lama kemudian ia kembali fokus pada layar komputernya.
Tok ... tok ... tok....
"Permisi, Pak," ucap mereka bersamaan.
"Masuk, masuk," tutur bos mereka yang periang itu.
"Permisi, Pak. Apa kami menganggu?" ucap Baylor.
"Hohoooo.... No no no," ucapnya sambil tertawa dan melayangkan telunjuknya ke kiri dan kanan, "tentu saja kalian tidak mengangguku sama sekali. Ada apa? Kenapa raut wajah kalian jelek sekali?"
"Emm.... Maaf, Pak. Kami mau meminta cuti sebulan penuh," ucap Eleanor terbata-bata sambil menatap manik mata bosnya dengan wajah memelas.
"Apa? Kalian berdua mau meminta cuti? Sebulan?" teriaknya, heboh sekali dengan suaranya yang keras itu.
Eleanor dan Baylor hanya mengangguk menanggapi pertanyaan bos mereka.
"K--kau adalah pembawa keberuntungan untuk kami. Perusahaan baru saja mengalami peningkatan, dan kau sudah mau meminta cuti? Tidak! Berikan alasan yang jelas sebagai pertimbangan untukku," ucap pak bos mereka sambil berkacak pinggang, sama seperti reaksi bu manajer mereka.
"Emm, jadi begini, Pak. Saya dan Eleanor berasal dari kota yang sama, kota Delson, dan kedua orang tua saya dan ayah Eleanor berteman baik. Kebetulan mereka bertiga mau pergi berlibur, berkeliling ke negara lain, dan mengajak kami berdua. Sebagai anak yang baik, kami ingin mewujudkan keinginan mereka, Pak," jelas Baylor panjang sekali.
"Apa benar, Eleanor?" tanya bos sambil memainkan sebelah alisnya pada Eleanor.
Iya, Pak. Itu semua benar," ucap Eleanor seraya menganggukkan kepalanya dan tersenyum manis.
"Kalian sungguh anak-anak manis yang sangat berbakti. Baiklah kalau begitu, izin cuti kalian kukabulkan. Tapi, jangan lupa oleh-oleh untukku, ya. Hohohooo," ucap pak bos sambil menepuk pelan pundak Baylor. Ia mengerti keinginan orang tua itu adalah langit dari segala langit, dirinya sendiri pun merasakan itu.
"Siap, makasih, Pak," ucap Baylor sambil tersenyum lebar menampilkan jajaran gigi putihnya dan membungkukkan badannya 90° pada bosnya.
"Makasih banyak, Pak." Giliran Eleanor yang memberi hormat pada bosnya itu.
__ADS_1
"Baiklah, kalau urusan kalian sudah selesai, kalian boleh keluar. Hehe, aku mau lanjut makan," ucap bos, terulas senyum lebar di wajah bulatnya dan terlihat perut buncitnya telah menciut kelaparan.
"Baik, Pak," ucap mereka serentak kemudian berjalan keluar dari ruangan luas pribadi itu.