
"Ahhhhhh!!!"
Sebuah teriakan langsung membeludak setelah melihat makhluk besar berbulu mengerikan. Ia tak menyangka kalau kedatangannya malah akan disambut dengan sebuah pemadangan yang sangat fantasi. Selama ini ia sama seperti kebanyakan orang yang berpikir kalau monster itu tidak nyata. Lantas makhluk apa yang berada tepat di depannya sekarang?
Sedangkan Eleanor yang berada tepat di seberang orang itu dilanda segala jenis ketakutan. Sesuatu bak pemandangan itu langsung buyar sesaat setelah pintunya dibanting tutup dengan keras dan merusak lukisan yang sudah terbayang penuh di dalam otak orang asing itu. Pintunya tertutup sangat rapat.
Setelah kejadian mecanggungkan itu, orang yang berada di depan kamar Eleanor terus mengucek matanya lagi dan lagi, kakinya lemas seketika hingga ia harus bertumpu pada dinding krem di belakang dengan tangannya.
Dari monster yang baru saja menutup pintu hingga sekarang tubuh manusia yang telah kembali ke ukuran normal, tidak sekalipun otaknya berhenti berputar memikirkan solusi. Kalau ia membuka pintu kamarnya maka orang itu akan curiga. Ia berkali-kali mondar-mandir memikirkan cara terbaik agar ia tidak ketahuan hingga mungkin perut rata laparnya terus menguras kalori.
"Ahaa!!" serunya.
Sebuah ide mendadak terlintas di benaknya, seakan otaknya baru saja terkena setruman listrik bertegangan rendah.
Baru saja ia selesai berpakaian dan mau mulai beraksi, suara ketukan pintu terdengar kembali.
Tokk ... tokk ... tokk....
"Ele, buka pintunya," teriak seseorang dari luar.
Eleanor bergegas beraksi. Ia segera mencari sebuah kunci kuno keemasan di semua laci kamarnya guna membuka connecting door yang menghubungkan kamarnya dan kamar Baylor.
Sesaat kemudian, Eleanor yang sudah berhasil menemukannya langsung menyolok kuncinya ke dalam lubang kunci pintu yang sedikit besar yang cocok dengan kuncinya lalu masuk ke kamar Baylor. Dengan napas yang masih ngos-ngosan seakan baru menyelesaikan pertandingan lari maraton, ia segera membuka pintu kamar Baylor dari dalam.
"Hai, Lor. Aku di kamarmu," sapa Eleanor yang muncul dari kamar hotel Baylor.
Matanya bukan tertuju pada Baylor, namun pada orang yang mengetuk pintunya tadi.
"Oh, sejak kapan kau di sana?" tanya Baylor, tangannya yang memegang bungkusan plastik berisi makanan langsung ia ayunkan ke hadapan Eleanor, mencoba menggodanya.
"Aku daritadi di sini menunggumu," ujar Eleanor terbata-bata, menatap mata Baylor dan orang itu secara bergantian.
__ADS_1
"Oh, ya? Eh, dia datang lagi," ucap Baylor dengan nada lesu dan memutar bola matanya malas ke arah belakang, tak suka dengan kehadiran orang itu.
"Oh, hai. Ngapain lagi kau ke sini?" tanya Eleanor dingin yang disertai tatapan tajam, ia sudah sangat siap untuk bertempur melawan orang itu sekali lagi.
Ya, orang yang pernah datang ke hotel, ia adalah Favid. Bagaimana mungkin Eleanor tidak panik kalau orang itu adalah Favid? Tentu saja ia panik setengah mati, bisa-bisa rahasianya terbongkar begitu saja oleh Favid hingga ke seluruh isi kantor. Namun, di samping itu, Eleanor menahan tawa melihat bodohnya muka pucat milik Favid.
"Hai, a--aku tadi mengetuk pintu kamar sebelah dan aku melihat se-sebuah makhluk besar, bulunya lebat sekali, mengerikan, bentuknya tidak pernah kutemukan, seperti MONSTER!!" seru Favid sembari mengerak-gerakkan tangannya menggambarkan bentuk yang ia lihat sedikit lebih lama tadi.
"Monster? Haha, apa kau berhalusinasi?" ucap Eleanor, kemudian tertawa sedikit senang memainkan kepolosannya yang sebenarnya tidak salah.
Ia kemudian menatap Baylor dan mengedipkan sebelah matanya dengan cepat, mengisyaratkan Baylor untuk membantunya menutupi kebohongannya.
"Hahahaaa, aneh-aneh saja kau, Vid," ucap Baylor yang ikut berbohong seraya menepuk bahu tegap milik Favid.
"Kalian yakin? Apa kau tak mau mengecek kamarmu dulu?" ucap Favid terbata-bata.
"Baiklah, ayo kita masuk sama-sama. Ini kartunya. Buka saja," ucap Eleanor mendekatinya dengan percaya diri dan menyerahkan sebuah kartu yang adalah kunci kamarnya.
"Hahahahaaa, kau ini aneh, Vid. Sejak kapan di dunia ada monster. Dasar pecundang! Kalau kau berani menyatakan perasaan pada sahabatku ini maka kau jangan begitu penakut," ucap Baylor mengejek-ejeknya.
Favid yang dikatakan 'pecundang' oleh Baylor naik pitam dan mendadak saja ia mendapat keberanian tiada gentar. Entah dari mana datangnya keberanian itu, namun ia langsung dengan beraninya membuka pintu kamar diikuti tatapan siap menerkam apabila seekor monster benar-benar muncul di kamar milik Eleanor.
Drett....
Tiga pasang mata memandangi kamar setengah berantakan itu, tak menemukan apapun yang mencurigakan.
"Sudah kubilang bukan kalau tak ada monster di dunia ini," ucap Baylor.
Mulut Favid terbungkam, ia tak mampu mengucapkan sepatah kata pun sembari matanya terus melosok ke tempat-tempat sudut dengan terperinci .
"Sudahlah, masalah monster sudah selesai. Sekarang pertanyaanku adalah apa alasanmu datang ke sini lagi," ucap Eleanor dengan tegas menghitamkan kata-katanya satu persatu.
__ADS_1
"Emm, aku hanya mau mengecek kondisimu saja, siapa tahu dia berbuat macam-macam denganmu," ujar Favid dengan terbata-bata, sepertinya ia mencoba menyembunyikan alasan kedatangannya yang sebenarnya.
"Okay, so I'm fine and you can go now. Terima kasih atas perhatiannya, ya," ucap Eleanor bersabar kemudian berjalan masuk ke dalam kamar Baylor, meninggalkan dua orang lelaki itu saling bertatap-tatapan.
Saat Baylor hendak meninggalkan Favid sendirian, tangannya yang masih tidak pantang menyerah menenteng makanan spesial yang sengaja dibelinya untuk Eleanor ditahan oleh Favid. Favid kemudian membisikkan sesuatu pada Baylor lalu pergi begitu saja, meninggalkan Baylor dengan warna merah yang mulai mewarnai seluruh kepalanya.
Dengan senyum sinis membahana dan tangan kanan menyelip dalam kantong celana jinsnya, ia berjalan hendak meninggalkan hotel itu dengan melewati tikungan yang sebentar lagi akan sampai. Namun, dua orang menarik perhatiannya. Satu orang yang dekat sekali dengan bahunya ketika berpapasan itu bertubuh pendek yang berjalan beriringan dengan seorang pria tegap dan kekar yang berjarak satu langkah agak ke belakang dari pria bertubuh pendek yang sempat ditangkap matanya walau hanya sepersekian detik bagaikan angin lewat.
Ia melipat lehernya sedikit ke belakang melirik ke dua makhluk yang saling bertolak belakang itu, hingga lehernya terlihat beberapa lapisan garis. Keduanya tepat berhenti di depan kamar Baylor. Kebetulan tak seberapa itu berhasil menarik kekepoannya, apalagi berhubungan dengan wanita yang telah lama ia cintai. Favid berjalan mendekat ke arah tikungan dan menyembunyikan tubuhnya di balik dinding itu dengan hanya sedikit dari bagian atas tubuhnya yang terlihat. Ia mengintip setiap langkah keduanya yang dari awalnya hanya terus mengetuk.
Sedangkan di dalam kamar, kedua pemeran utama yang baru saja mau mengeluarkan makanan spesial yang ternyata hanya beberapa butir batagor terganggu dengan ketukan pintu yang terus mengisi ruangan kamar hingga telinga mereka.
Langsung Baylor maju ke arah pintu dan hendak memaki orang diluar yang ia kira adalah Favid yang tidak membiarkan setitik kebahagiaan pun menguasai dalam dirinya. Penyesalan selalu datang terlambat, ternyata pepatah itu benar dan terbukti keampuhannya saat ini. Karena kemarahan akan ucapan Favid barusan yang terus memukul otaknya, ia tidak segan-segan membuka pintu itu yang ternyata bukan seperti perkiraanya.
Prof. Catoo.
Seorang professor yang tidak asing bagi semuanya, jahat, pendek, berambisi, meskipun pintar. Namun pintar tidaklah berguna jika hatinya ternyata busuk tidak seperti otaknya yang segar.
"Hai~~," sapa Catoo dengan suara jijik yang mampu memuntahkan seisi perut.
Baylor tidak berkutik, ia menyesal membiarkan malapetaka yang lebih besar lagi terjadi di hadapan kesuksesan yang akan segera terjadi.
"Apa itu Favid lagi?" tanya Eleanor dari belakang yang sedang melangkah menghampiri Baylor.
Ia tidak dapat melihat jelas karena pintu coklat itu setengah tertutup dan tubuh Baylor juga semakin menutupinya.
Ia membuka sedikit lagi pintunya dan menemukan wajah yang tidak ingin ia ingat bahkan dipaksa mati sekalipun.
"Catoo?" tanya Eleanor getir.
Sebuah senyuman lebar palsu membalas pertanyaan Eleanor. Ketegangan langsung berdatangan dan menutupi sekeliling orang-orang itu. Sementara Favid masih menyaksikan sebuah drama yang tampaknya menarik.
__ADS_1