
***
"Elee! Yok, kita makan!" teriak Baylor dari dapur yang telah berjam-jam menghabiskan waktunya hanya untuk berdua dengan Eleanor, mengenang masa lalu dan masa kini mereka.
Eleanor pun mengubah tempat duduknya dari kasur ke meja makan.
"Ehh, Ele. Professor itu siapa, sih? Kau kenal dengannya? tanya Baylor sembari memasukkan satu sendok penuh spaghetti yang baru saja dibelinya lewat aplikasi pengantaran.
"Professor?"
"Iya, yang tadi nyaris menangkapmu. Kau tak mengenalnya?"
"Professor? D--dia Catoo, tetangga sebelahku," jawab Eleanor, terlihat sekali arwahnya yang dulu sudah mulai kembali perlahan-lahan, Eleanor yang hangat, lembut, dan ceria. "Tapi ... kenapa dia mau menangkapku?"
"Entahlah, tapi dianya udah nggak ada di sini, kok. Tenang aja. Tadi aku lantarin dia di luar aja."
Seribu pertanyaan mulai terlintas di kepala Eleanor. Ternyata alasan di balik Catoo yang selalu mengekorinya adalah karena ia tau hal yang tak seharusnya ia tahu.
"Katanya kau harus dibawa karena perintah pemerintah," lanjut Baylor, membuat Eleanor semakin bertanya-tanya hingga waktu yang terus berdatangan.
"Lalu apa jawabanmu padanya?"
"Celaka! Kau tak bisa lagi tinggal di apartemen ini. Kau harus segera pindah!"
"Kenapa? Apa yang terjadi?"
"Aku takut kalau dia akan datang menemuimu lagi," ucap Baylor, kemudian tersenyum penuh kemenangan melihat ekspresi kaget Eleanor.
"Dasar kau ini. Kau tak berubah, selalu saja menjahiliku," tukas Eleanor.
***
Di kantor....
Suasana kantor hari ini sangat berbeda. Warna gelap yang biasanya mengitari bilik itu tiba-tiba saja hilang. Hanya ada warna-warna cerah yang silih berganti membangkitkan semangat para pejuangnya.
Senyum dan deretan gigi yang terpajang luas mulai menetap kembali dalam hidup Eleanor, meskipun belum sepenuhnya kembali. Mimpi buruk yang dialaminya semalam tak sanggup menjatuhkan pelangi itu dari hidupnya.
"Tumben, Nor. Beneran, nih, mau makan bareng?" ucap Favid yang diikuti wajah penasaran tiap orang.
"Iya, donk. Yakan, Ele?" tanya Baylor.
"Tentu saja, Bay," jawab Eleanor seraya tangan Baylor mengelus puncak kepala Eleanor, yang berhasil memicu tanda kebahagiaan di seluruh bagian wajah temannya.
Tepat setelah jawaban itu, Eleanor memutar kepalanya menatap bersyukur Baylor dengan mata malu manisnya itu, semua itu berkat Baylor, karya terbaik dalam hidup Eleanor.
Hanya saja, Favid sepertinya kurang bahagia melihat kedekatan Eleanor dengan Baylor.
__ADS_1
***
"Nor, pulang bareng?" tanya Baylor mendongak ke arah Eleanor yang dipisahkan oleh sejejer buku hiasan.
"Yok!" jawabnya sembari mengangguk kepalanya bersemangat.
"Eh, cie cieee.... Apaan tuhhh," ejek bu manajer tim yang kepo dengan kehidupan anak didiknya.
Baylor hanya menoleh ke arahnya dengan mata senyum tertutup dan bibir yang membentang lebar yang menumpulkan dagunya.
"Nanti malam kita makan bareng, yah. Jaga dirimu baik-baik. Kalau si pendek itu mau datang lagi segera telepon aku. Bodyguard-mu ini siap melayani 24 jam. Hehe," ucap Baylor setelah sampai di depan gedung tinggi putih dimana apartemen Eleanor terletak.
"Ya...."
Eleanor membuka pintu mobilnya dan mendaratkan kakinya berjalan menuju gedung putih itu.
Sekitar hampir 2 menit ia menunggu lift itu sampai menghampirinya. Dan ketika terbuka, orang tak terduga, yang terus dicari Eleanor untuk kebenaran sesungguhnya muncul.
Wajah itu, Prof. Catoo, menyunggingkan senyum sinis.
"Ele, handphone-mu ketinggalan," teriak seseorang berlari sembari mengulurkan tangannya yang menggenggam telepon genggam ke arah Eleanor.
Wajah Catoo semakin penuh dengan senyum jahatnya ketika orang yang mengagalkan usahanya juga ikut muncul di depannya. Inilah yang baru dinamakan kebetulan, sang pencipta yang mengaturnya.
Kaki pendeknya melangkah keluar dari lift itu, melihat kedua orang yang paling dibencinya. Sedangkan Baylor bingung sekaligus marah melihat wajahnya. Catoo berjalan ke arah Baylor.
"Tunggu saja," bisiknya kepada Baylor lalu pergi setelah menyenggol bahu Baylor.
"Segera berkemas dan pindah saja ke rumahku. Ayo kita ke atas!" ucap Baylor sambil menatap Eleanor dengan tatapan penuh perhatian dan kasih sayang.
Eleanor yang seakan mengerti perasaan sahabatnya itu dan tidak ingin membuat Baylor khawatir lagi mengangguk pelan dan tersenyum tipis, bersyukur atas kehadiran Baylor kembali dalam hidupnya.
***
"Ele, kau benar-benar masih menyimpan ini?" tanya Baylor sambil mengerutkan dahinya saat dirinya sedang membantu Eleanor mengemas barang-barang dan menemukan sebuah gantungan merpati putih. Diam-diam dirinya bahagia melihat tingkah sahabatnya itu.
"Haha. Tentu saja aku menyimpannya, Baylor," jawab Eleanor sambil tersenyum bahagia.
***
7 tahun lalu....
"Hei, Ele. Giliran kau untuk menutup matamu. Jangan mengintip, ya," ucap Baylor kecil yang tak sabar untuk segera memberikan hadiah natal pada Eleanor.
Ini adalah tradisi mereka setiap tahun: bertukar kado natal.
"Ayo, ayo tutup matamu!" desak Baylor yang tangannya masih menggenggam hadiahnya bersembunyi di belakang tubuhnya.
__ADS_1
Tangan Eleanor ia tempatkan di depan kedua matanya. Ia mengintitip melalui sela-sela jarinya yang tak dapat tertutup sempurna.
"Tadaaaa...."
Ia mengerjapkan matanya, mengembalikan bulu matanya yang terlipat ke dalam ketika menutupnya.
"Woww, lucu sekali." Tangan Eleanor mengambang menuju gantungan kecil itu.
"Merpati putih? Home Alone!" teriaknya ketika memperdalam penghilatannya ke gantungan itu.
"Iya! Kamu satu, aku satu," ucap Baylor memperlihatkan kedua gantungan pada tangannya yang berbeda.
Mimik Eleanor sangat lucu, seperti anak kecil ketika melihat gantungan merpati putih mini sepasang itu. Sementara wajah Baylor berseri-seri sendiri melihatnya.
"Nah, jadi kamu harus janji tak akan berpisah denganku." Kelingkingnya ia sodorkan di hadapan Eleanor. "Kau tahu kan arti merpati putih? Artinya kesetiaan. Merpati putih selalu setia dengan pasangannya. Satu seumur hidup."
"Tapi kau bukan pasanganku. Hmmm."
"Pasangan tidak harus selalu kekasih atau suami, bukan? Teman, sahabat termasuk, kan?" sahutnya sembari mengerucutkan bibirnya, mencoba membuat duck face.
"Oke, tidak janji. Tapi berusaha." Jarinya ia kaitkan bersama.
***
"Kita makan dulu yah, Ele. Aku sudah mereservasi tempat yang selalu kuimpikan untuk pergi bersamamu." Tangannya memutar kemudi mengarahnya ke jalanan banyak mesin mobil itu.
Sesampainya di restoran.....
"Wahhh, bagus banget, Lor!" serunya sembari berjalan lebih dalam lagi ke dalam surga makanan itu.
Pria paruh baya berbaju tuxedo itu mendekati mereka dan menunjukkan jalan ke meja reservasi mereka. Ia membujur tangannya ke arah tempat lengkap dengan set makanan mewahnya.
Tempat itu sungguh seperti dunia indah yang selalu dibayangi tak henti oleh para manusia penghayal. Meja makan dengan kaca penuh di sampingnya bermodel sedikit miring.
Pandangannya tidak dapat kalian bayangkan. Tampak jelas deburan ombak yang menerjang pantai berpasir abu coklat. Warna langit gelap itu bergabung dengan air bening yang memantulkan cahaya remang bulan itu. Pohon-pohon yang menjulang tinggi menyempurnakan pemandangan bak lukisan berharga tinggi.
Makanannya disajikan dengan perfeksionis. Sushi berbalut rumput laut garing bertabur Almas Caviar di atasnya. Bisa kalian bayangkan? Almas Caviar! Bukankah hanya dengan mengucapnya ribuan dolar telah keluar dari mulut kalian?
Eleanor dan Baylor memasukan perlahan sushi berukuran tak seberapa itu dengan sangat dramatis. Rasanya dunia telah jatuh di atas mulut mereka.
Namun, sesaat kemudian Eleanor terkejut sangat, hingga mampu membangunkan gunung yang telah beribu-ribu tahun tertidur itu. Akan tetapi, keterkejutan itu hanya dilakukannya dengan matanya, tak berani bersuara. Ia tidak berani menganggu Baylor yang masih menikmati pertunjukan bunga api dalam mulutnya.
Tidak! Tangannya ia turunkan ke bawah kolong meja dan memperhatikannya dengan seksama.
Mengapa tangannya seperti itu?
MENGHILANG
__ADS_1
TRANSPARAN
BERKELAP-KELIP