The CURSE : Deadly Game

The CURSE : Deadly Game
● THREE ●


__ADS_3

***


Sesosok wanita terlihat membenamkan wajahnya dalam pelukan tangannya.


"Hei, Nor. Ada apa? Apa yang terjadi? Mengapa kau sendirian duduk termenung di sini, di tangga evakuasi? Apa karyawan pindahan itu macam-macam denganmu?" tanya seseorang yang tiba-tiba datang menghampiri Eleanor, membuyarkan lamunannya.


"Ya?? Oh, nggak Vid, cuma duduk bentar, capek tadi habis dari bawah," balasnya terdengar lemah, wajahnya menatap nanar tingkatan demi tingkatan tangga itu, menyembunyikan mata merahnya sedikit sembab.


"Bawah? Ngapain kamu pake tangga evakuasi? Kan ada lift," ucap Favid.


"Kelihatan banget, deh, kalau kamu lagi bohong. Mending kamu terus terang saja padaku. Sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Favid, sedikit cemas dengan Eleanor, ternyata matanya cukup jeli sehingga mata sembab Eleanor langsung terdeteksi olehnya.


"Apaan sih, Vid," serunya, tampak marah. "Kita nggak sedekat itu, Vid."


Ia mulai menaiki tangga dengan hentakan kaki yang terdengar bergema keras itu. Tak sedikit pun rasa bersalah muncul dan menganggu pikiran Eleanor. Tentu saja, selama bertahun-tahun sikapnya tak pernah lebih baik dari itu.


"Tungguin, Nor," kata Favid buru-buru, kemudian langsung mengangkat kakinya berlari  mengejar Eleanor.


"Jangan mendekat atau--," ancam Eleanor. Tubuhnya berhenti dan matanya melontarkan tatapan setajam silet mengisyaratkan bahaya yang akan menimpanya, dan kembali meninggalkannya.


"Kau serius?  Lagi?" gumam Favid.


Ada sedikit rasa frustasi dan kehausan yang tak akan pernah musnah dari nada bicaranya.


Favid tidak lagi mengejar Eleanor. Meskipun batinnya ingin, ia tidak bisa menghentikan emosi yang memakan hati wanita itu. Ia tidak ingin kejadian itu terulang, tidak mau!


***


Beberapa bulan lalu....


"Hei, Nor. Kau mau ke mana? Boleh aku ikut? Mobilku sedang di bengkel," sahutnya sembari menunjukkan bibir bebek yang sengaja dibentuknya.


"Tidak, tidak bisa," ucap Eleanor dengan sangat singkat, jujur saja ia merasa risih sekali dengan tingkah rekan kerjanya itu yang selalu ingin mengikutinya dengan alasan segudang penuh.


"Bagaimana kalau kali ini aku tidak mau diam?" goda Favid.


"Minggirlah, Vid. Aku sedang buru-buru. Aku tidak suka terlambat, apalagi penyebab keterlambatanku adalah kau," ucap Eleanor dengan penuh emosi.


"Kalau aku nggak mau? Ayolah, Nor. Sekali ini saja, izinkan aku untuk ikut denganmu," pinta Favid sembari menunjukkan angka satu pada tangannya.


"Kalau aku bilang tidak ya tidak. Jangan membuatku marah atau kau akan tahu akibatnya," teriak Eleanor, marah, marah sekali.


"Apa yang akan kau lakukan padaku?" tanya Favid, kali ini ia mencegat dan menggenggam erat tangan wanita yang berada tepat di hadapannya.

__ADS_1


Ia sungguh bernyali besar, ia tidak tahu siapa yang sedang ia hadapi. Ia belum tahu apa akibatnya kalau ia membangunkan raja hutan dari tidurnya.


Eleanor yang sudah tidak dapat menahan amarahnya lagi langsung meraih vas yang berada di sudut meja, tepat di sebelahnya, dan menghantam vas itu dengan keras di tangan Favid yang berani mencegatnya, lalu langsung pergi meninggalkan Favid yang meringis kesakitan.


Sadis bukan? Ya, ia tahu yang ia lakukan itu salah, tidak berperasaan. Jauh di dalam lubuk hatinya ia menyesal, hati nurani itu masih hidup. Namun, Eleanor yang lembut dan baik hati itu telah jatuh ke dasar paling dalam sumur gelap. Tidak mungkin lagi dapat ia capai terang itu, bahkan sekecil bakteri pun. Hanya gelap, sedih, muram, dan emosi yang mengitarinya hingga saat ini.


Namun, tetap saja Eleanor lebih mementingkan gengsinya dan tidak mau meminta maaf kepada Favid. Entah apa gerangan yang terjadi, Favid yang tangannya terluka karena kekejaman Eleanor memaafkannya begitu saja tanpa menerima satu perkataan maaf pun. Ia bahkan bersikap seperti biasanya, seolah-olah semua kejadian itu tidak pernah terjadi dan hanya lampu merah sesaat yang bakal menjadi hijau.


***


Eleanor yang sudah berhasil mengendalikan jiwa dan raganya pun kembali ke meja kerjanya yang berserakan dan berhadapan dengan layar petak komputer. Di tengah acakan kertas, hadir secangkir kopi hangat yang perlahan-lahan mulai dingin, sama seperti dirinya yang perlahan-lahan semakin dingin dan dingin hingga arti perasaan pun lenyap begitu saja.


Tidak satupun dari teman kerjanya yang mengusik pikirannya saat itu, seperti meditasinya telah sukses penuh.


04:06 P.M.


Lagi-lagi ia melihat waktu yang tertera pada jam tangannya yang kecil elegan.


Ya, inilah saat yang paling ditakutkan oleh Eleanor, menit-menit yang paling ia benci, detik-detik penyiksaan.


Tangannya memasukkan barang pribadi ke tas hitam pekatnya. Tak lupa ia mengambil kunci mobilnya yang berada tepat di samping komputer besar itu.


Panggulnya hendak meninggalkan bekas pada kursinya, tetapi seseorang menghampirinya. Tidak lain dan tidak bukan adalah....


"Iya, Bu. Semuanya sudah siap," jawabnya yakin pada manajernya.


"Baiklah, jangan lupa istirahat ya, Nor. Biar besok kerjanya tambah semangat!" seru manajernya seraya menyemangatinya dengan kepalan tangan terangkat.


Sedikit remahan perhatian itu cukup membuatnya lebih dari kata baik, sesederhana itu untuk membuat seorang Eleanor Devacio bahagia.


Sementara, kedua makhluk risih itu tumben sekali tidak mengganggunya atau apapun itu.


***


04:37 P.M.


Suara pintu tertutup terdengar di ruangan setengah kosong itu, apartemen Eleanor.


Ia bergerak beralih dari ruang tamu menuju kamar tidurnya. Namun, gerakannya terhenti ketika ia mendengar dentingan suara dari gawainya. Sudah lama sekali tidak ada pesan yang masuk ke perangkatnya, sama kosongnya dengan hatinya. Hal ini membuatnya sedikit penasaran dan merogoh sakunya untuk mengecek kebenaran situasi gawainya.


+62##########


Hei, Ele, bisa kita bicara?

__ADS_1


Sebentar saja.


Kumohon


-B-


Sesudah Eleanor membaca pesan itu, ia segera mematikan telepon genggamnya, mencoba bersikap tegar dan menghentikan pesan singkat itu memasuki otaknya.


04:56 P.M.


Segala persiapan telah sempurna, pakaiannya sudah ia tanggalkan, obat pereda sakit yang baru saja dibelinya pun telah masuk mengikuti aliran tegukan air.


"Maafkan aku, Lor, sungguh. Andai ini semua tidak terjadi, maka sikapku tidak akan berubah, tidak akan menjadi seperti ini. Sekarang kau pasti akan sangat membenciku, bukan? Huh, apa bedanya? Saat kau tahu keadaanku yang sebenarnya, kau juga akan benci padaku, kau juga akan menjauhiku. Mungkin aku memang terkutuk untuk menjalani hidupku dalam kesendirian," gumamnya ketika Baylor memasuki pikirannya.


04:58 P.M.


2 menit berlalu begitu saja sementara ia memikirkan Baylor.


Alarm miliknya kembali berdering nyaring seperti biasanya.


Ia mulai menidurkan badannya dalam kelembutan kasurnya.


"Siap-siap, Eleanor," batinnya menyemangatkannya sendiri.


05:00 P.M.


Tepat pukul 5 sore, matahari mulai berwarna kuning keoranyean, terik siang hari tadi mulai melemah.


Rasanya panas di sekujur tubuhnya, dahsyat sekali. Setiap perubahan yang terjadi selalu menyakitkan. Bisa kalian bayangkan? Dengan pereda sakit pun tidak mempan baginya, sakitnya melebihi kematian. Tapi baginya mati pun tidaklah mudah, tidak semudah yang kalian bayangkan.


Ia kemudian berubah kembali menjadi seorang monster, monster raksasa. Ia mengerang kesakitan, menahan semua penderitaannya sendirian memeluk erat gulingnya.


05:15 P.M.


Tubuhnya mulai mengecil, seperti yang terjadi sebelum-sebelumnya. Semonoton itulah hidup Eleanor.


Setelah ukurannya kembali seperti normal dan keadaannya mulai stabil, ia mencoba berdiri meninggalkan tempat tidurnya sembari memegang pinggiran kasurnya. Memakai kembali baju tidurnya yang telah ia tanggalkan sedari tadi.


Tiba-tiba....


Ting tong ... ting tong....


Suara bel menusuk ke telinganya. Selama 3 tahun terakhir ini di apartemen belum ada seorang pun yang pernah memencet bel itu. Siapakah dia?

__ADS_1


__ADS_2