
***
Beberapa jam yang lalu....
Sebuah mobil hitam besar dengan jendela gelap yang tak dapat dipastikan berapa jumlah orang tepatnya tampak melintasi aspal di depan sebuah hotel.
"Ini hotelnya?" tanya Prof. Catoo.
Tangannya dilipat pada bidang dadanya dan kakinya menindih paha kaki sebelahnya yang duduk di atas kursi kulit mobilnya layaknya seorang yang sombong.
"Iya," jawab Sofia tegas seraya menundukkan kepalanya sedikit.
"Retas CCTV-nya sekarang," perintah Catoo.
"Maaf bos, apa tidak lebih baik kita langsung menculiknya?" celah seorang anak buahnya yang duduk di kursi depan, di balik kemudinya.
Ia berbalik menghadap bosnya ketika berbicara agar sopan santun tetap terjaga.
"Bodoh! Orang bodoh mana kau? Ini hotel, kau mau tertangkap polisi? Hah?" tanya Catoo beruntun dengan kata-kata yang sangat kasar.
"Maaf," ucap anak buahnya lemah dan memutar kepala tertunduknya kembali menatap kaca di depannya.
"Cepat!"
Semburan nadanya terdengar sangat kesal. Tangan Sofia semakin ia percepat untuk mengurangi kemarahan Catoo saat ini yang jika ia tidak berhati-hati akan menular juga kepadanya.
"Sudah," ucap Sofia.
Ia memberikan laptop yang semula berada dalam pangkuannya kepada Catoo dengan keadaan layar banyak sekali kotak-kotak yang berisi berbagai tempat ditangkap CCTV.
"Ini CCTV yang menangkap pergerakan di sekitar kamarnya," lanjutnya sembari menekan tombol laptopnya dan memperbesar satu kotak menjadi full di layarnya.
"Siapa itu?" tanya Catoo saat melihat seorang pria bersandar pada dinding yang adalah Favid saat melihat seekor monster.
"Entahlah, Tuan," jawab Sofia sambil memperdalam penglihatannya.
"Hahaha, kasihan sekali monster kesayanganku. Sepertinya ada lagi yang mengetahui jati dirinya," ucap Catoo dengan senyum puas melihat kesusahan orang lain.
"Pasangkan kamera lebah di sepatuku."
__ADS_1
Sofia memisahkan sebuah kamera kecil berbentuk lebah dengan pengendalinya yang memiliki dua tanduk tipis panjang dan mengaitkan jemari kecil lebahnya yang hampir tidak terlihat pada tali sepatu pantofel Catoo.
"Ayo!" titahnya pada anak buahnya setelah semua terkendali sesuai rencananya.
Anak buahnya terlebih dahulu keluar dan membukakan pintu bagi Catoo dan melanjutkan kegiatan berjalannya memasuki hotel.
Sementara Sofia bertugas mengendalikan kamera jarak jauh itu dari dalam mobilnya.
***
"Catoo?" tanya Eleanor melihat wajah yang tidak pernah diimpikannya.
"Halo monster Eleanor kesayanganku, dan pacar seekor monster? Emmm, siapa namamu? Maafkan aku teman, aku lupa," ujarnya dengan mata berpura-pura terpejam berusaha mengingat nama Baylor.
"Untuk apa kau kesini?" tanya Baylor marah. Kepalan tangannya tertutup dengan sempurna diiringi sedikit getaran yang berusaha untuk lebih tertutup lagi.
"Tentu saja untuk menyapa monster kesayanganku," balas Catoo.
Baru saja keempat jarinya hendak mengusap lembut dagu Eleanor, tangannya ditepiskan kasar oleh Baylor.
Sementara itu, dua kejadian tak terpikirkan sebelumnya oleh Eleanor dan Baylor terjadi. Yang pertama adalah sepasang bola mata misterius, Favid diam-diam mengintip dari balik tembok tikungan, dan yang kedua, sebuah lebah pembawa kamera mulai beraksi. Serangga robot kecil itu mulai terbang rendah dari tali sepatu Catoo menyelinap masuk ke kamar hotel melewati kaki-kaki Baylor dan Eleanor.
Sofia dari balik pengendalinya mencari posisi yang pas untuk merangkup segala kejadian di dalam kamar hotelnya. Lebahnya berhenti tepat di atas sebuah lampu tidur yang menjulang tinggi di sudut kamar, yang merupakan posisi terbaik dari semua yang terbaik pula.
"Ohhh, jangan marah monsterku sayang. Kau tidak boleh marah, nanti kau bisa berubah menjadi pembunuh dengan cakar tajammu," sahut Catoo dengan nada seram.
"Pergilah, kami tidak mengenalmu. Ayo, Ele!" usir Baylor lalu menarik pergelangan tangan Eleanor ke dalam hotel yang tidak disadarinya tidak lagi aman seperti sedia kala lalu menutup pintunya.
"Sampai jumpa lagi, Monsterr!!" pamit Catoo dengan suara yang lebih tinggi dan besar mempermudah orang di dalam untuk mendengarnya. Sebuah ulasan senyum naik di sudut bibirnya.
Sementara itu, Favid yang daritadi tidak bergeming dari balik tikungan mendengar jelas semuanya. Ia bergerak mencari tempat untuk menghindari bertatap langsung dengan Catoo.
"Monster?" gumamnya bingung.
"Aku tidak salah dengar kalau dia adalah monster? Astaga! Berarti--"
***
Di dalam kamar....
__ADS_1
"Ah, kita harus pindah dari hotel ini. Tempat ini sudah tidak aman lagi bagi kita," tukas Baylor.
"Sepertinya tidak usah, Lor. Ini hanya membuang-buang waktu kita saja. Aku sudah sangat betah di sini. Aku menyukai fasilitas hotel ini," ujar Eleanor menolak.
Baylor tak dapat berkata-kata lagi. Sifat Eleanor memang keras kepala dari dulu dan sulit sekali untuk membuatnya berubah pikiran, tidak semudah membalikkan sebelah telapak tangan.
"Baiklah, kalau begitu sebaiknya kita mulai membaca bukunya. Aku sudah mendapatkannya dengan susah payah," pinta Baylor kemudian menarik tangan Eleanor menuju sebuah meja di sudut ruangan.
Mereka akhirnya duduk di meja itu, menyalakan lampu belajar dan mulai membaca buka itu. Mereka mulai membaca kata yang tercantum di buku itu satu per satu, mencoba menyerap artinya satu per satu karena ternyata buku itu ditulis dalam bahasa inggris yang tidak begitu mereka kuasai, lebih tepatnya tidak begitu Baylor kuasai.
5 menit yang penuh perjuangan pun sudah berlalu. Mereka baru saja selesai membaca bagian pembuka dan prolog buku itu dengan hati-hati, tidak mau melewatkan satu kata pun dan hendak melanjutkan membaca bab pertama. Lagi-lagi, ketenangan dan keseriusan mereka diganggu oleh suara ketukan pintu.
Tokk ... tokk ... tokk....
"Aduhh, siapa lagi, sih. Ganggu banget, deh. Dari kemarin nggak tenang banget," gerutu Eleanor namun tetap mengekori langkah Baylor.
Baylor yang sudah penasaran sekali dengan siapa tamu yang akan dijamunya kali ini langsung membuka pintunya, membuat Eleanor sedikit terkejut dengan tingkah gegabahnya itu.
"Kau lagi?" ujar Eleanor dan Baylor serentak dengan nada ditarik malas.
Orang itu hanya mengangguk pelan, mukanya tampak pucat sekali, seperti mayat hidup yang berkeliaran kabur dari kuburannya.
"Bisa kalian jelaskan padaku maksud ucapan orang itu tadi?" tanya Favid yang masih terheran-heran dengan ucapan Catoo.
"K--kau mendengar semuanya?" ucap Baylor dengan terbata-bata.
"Ya, jangan mengelak lagi. Jelaskan saja semuanya padaku, Nor, Lor," kata Favid dengan wajah serius dan ketakutan.
"Apa yang kau dengar itu tidak sepenuhnya benar, Vid," ucap Eleanor setelah menguatkan batinnya.
"Jadi kau benar-benar adalah seekor monster?" tanya Favid lagi kepada Eleanor.
Hari apa ini sehingga dunia ini terus berputar mengelilingi kepalanya dengan kejadian-kejadian aneh dan tidak dapat diterimanya dengan akal budi manusia.
Eleanor dan Baylor bertatap-tatapan sesaat. Sorot mata menyedihkan kembali melekat pada mata Eleanor, membuat Baylor tak tega padanya.
"Lebih baik kau masuk saja dulu, Vid," ujar Baylor, menarik Favid cepat ke dalam kamar dan mengunci pintunya rapat-rapat.
Baru saja Favid masuk ke dalam, ia melihat sesuatu lagi yang tak sanggup dilihat mata maupun batinnya. Kenyataan bahwa Eleanor dapat berubah menjadi monster saja belum dapat ia terima hingga saat ini, bagaimana lagi dengan kenyataan yang satu ini?
__ADS_1
"Kau--," ucap Favid lalu tak kuasa menahan tubuhnya yang memberat.
Ia tak dapat merasakan tubuhnya lagi, padangannya buram seketika, napasnya tak dapat diatur, dan tubuhnya rubuh secepat kecepatan roller-coaster di lantai. Favid jatuh pingsan!!