The CURSE : Deadly Game

The CURSE : Deadly Game
● ONE ●


__ADS_3

"Jadi teman-teman semua, hari ini kita kedatangan karyawan baru. Yeay!" kata bos periang itu, heboh sekali sembari bertepuk tangan. Bos ini memang sedikit unik, ramah dan periang sekali, berbeda dengan kebanyakan bos di dunia. Inilah yang membuat orang-orang betah walaupun keuntungan mengalami defisit tiap tahun dan gaji yang berangsur-angsur menipis. "Jadi, katanya pegawai ini hebat sekali. Katanya setelah ia bekerja di kantor cabang, BEHHH ... PETJAH langsung, untung banyak. Makanya dia ditransfer ke sini," lanjutnya dengan senyum lebar.


Tokk ... tokk ... tokk....


Suara langkahan kaki mulai mendekat dari tikungan koridor itu. Semua pegawai berdiri siap menyambut 'pembawa keberuntungan' itu kecuali satu orang, Eleanor. Yaa, ia memang tidak bisa berpura-pura bahagia mengingat kehidupannya beberapa tahun belakangan.


"Berdiri, Nor!" seru manajer tim itu kepada Eleanor seraya menyenggol dengan siku tangannya.


Dengan malasnya, Eleanor pun berdiri, lalu merapikan roknya dan memberikan tepuk tangan secara pelan, berusaha untuk tidak menyinggung perasaan karyawan baru itu dengan sikapnya, meskipun ia tidak bisa berpura-pura terlihat bersemangat.


Eleanor membelalakkan matanya lebar sekali, tidak percaya dengan penglihatannya. Ia mengucek matanya dan mencoba melihat sekali lagi dan lagi.


"Baylor?!" pikirnya dalam hati.


Ia terdiam, mematung sesaat melihat kedatangan Baylor, sahabatnya itu. Ia melongo melihat itu semua. Benar-benar tidak percaya. Ia sudah berusaha kabur dari Baylor, ia sudah mencoba menghilang dan meninggalkan Baylor, namun mengapa sekarang mereka bertemu lagi? Apakah inikah yang dinamakan takdir? Tidak! Sekalipun itu takdir ia akan membelah takdir itu.


"Perkenalkan, namaku Baylor. Aku dipindahkan dari kantor cabang. Mohon bimbingan dan kerja sama kalian. Terima kasih," ucap Baylor sembari menundukkan kepalanya.


Ia kemudian memperhatikan satu per satu orang yang ada di ruangan luas itu. Sampai ia terhenti dan terpaku saat matanya tertuju pada sosok seseorang. Siapa lagi kalau bukan Eleanor Devacio.


Wajahnya mulai terlihat gelap seakan langit mendung, bukan hanya Eleanor tetapi keduanya, Baylor juga.


Masa yang telah dinanti-nantikan Baylor terjadi tepat dihadapannya, ia telah berulang kali berlatih menghadapi fase tersebut, tetapi apa ini. Hanya mata bergetar, mulut ternganga, dan tubuh mati rasa yang didapatnya.


"Ini Eleanor," kata manajer tim itu sambil menunjuk Eleanor yang termenung berdua bersama Baylor. "Nor, sapaa ... Nor!" teriak manajernya yang berhasil membuyarkan lamunan keduanya.


"Oh, nama saya Eleanor," terkejutnya lata, matanya mengarah kebawah tidak berani melihat Baylor dan sambil mematung, tidak sehelai pun rambutnya berani bergerak.


"Maaf, tapi boleh ulang? Eee ... tadi kurang fokus. Hehehe," sahut Baylor seraya menggaruk kepalanya pertanda tengah kebingungan.


"Okayyy," sahut manajer tim yang masih cukup sabar. Ia mengambil napas dalam-dalam dan mulai kembali menyebutkan satu-satu.


Baylor kembali mendaratkan pangkuannya di kursi kantor barunya sesaat setelah siap mengunjungi tempat-tempat di kantor itu. Nyatanya kantor itu cukup luas hingga tidak sedikit waktu yang termakan.


Matanya kembali menatap ragu mata Eleanor. Dari sela-sela buku yang menghalangi mereka Baylor mengamati detail demi detail tiap perubahannya.


"Heii ... kau nggak berubah ya, Nor. Tetap saja indah," batinnya. Senyum tipis itu bergerak sendiri tanpa seizinnya.

__ADS_1


Syatt ... syatt ... syatt....


Tangan sawo itu menganggu pandangannya, melambai-lambai tidak jelas. Seketika ia terbangun dan bola matanya memutar perlahan.


"Ehh, Bu Manajer," senyumnya kaku, alisnya menggambarkan kegelisahan.


"Nih, ada berkas-berkas yang harus kamu cek dengan teliti. Katanya hebat kan, buktikan!" ucapnya sambil meletakkan segunung map yang bahkan lebih tinggi dari kepalanya.


"Siap, laksanakan!" seru Baylor bersemangat dengan tangan bertanda hormat, badan tegap, sementara matanya melihat bayangan yang semakin hilang.


Baylor segera melakukan apa yang seharusnya dengan otak setengah-setengah. Otak kirinya fokus bekerja, sedangkan otak kanannya mengingat kembali kerangka latihannya.


Sementara Eleanor....


Dari hiasan tanganya atau boleh juga disebut jam tangan terlihat jarum pendek yang berada tepat di angka 9 dan jarum panjang melewati sedikit angka 12 itu, dengan kesimpulan pukul 09:02. "Oke, bentar lagi," batinnya dengan helaan napas yang panjang.


"Nor, coba liat deh," kata Favid, teman kerjanya yang duduk tepat di samping Baylor sambil menunjuk sesuatu pada kertas putih ternoda itu.


Eleanor meluruskan kakinya dan berdiri mendongak ke arah Favid. Tetapi fokus matanya tidak bisa selaras dengan tubuhnya, matanya terus melirik ke arah Baylor.


"Udah ah, kamu kerjain sendiri aja la ya, aku mau cabut dulu," ucapnya sambil mendorong kertas itu lebih dekat lagi ke arah Favid.


"Bu," lanjutnya menghadap manajer tim dengan kepala miring yang bertandakan pulang.


"Loh, kok cepat kali, Nor," kata manager, bingung.


"Iya nih, Bu. Permisi ya, Bu," Tangan lentiknya mengambil kilat tasnya dan membereskan lipatan roknya sembari berjalan ke ujung koridor.


Hanya sepasang sorot mata yang menatap sedih kepergian punggung itu yang semakin lama semakin hilang hingga lenyap.


"Vid, kok Eleanor cepat kali pulangnya?" tanya Baylor yang kelewat penasaran.


"Ohhh itu, haha nggak lah, itu dia mau pulang kasih makan peliharaannya, nanti balik lagi kok," balas Favid yang menjawab kebingungan Baylor.


Sementara Eleanor sampai di apartemennya....


Krekkkk....

__ADS_1


Eleanor membuka kenop pintu apartemennya yang tertera angka 809 pada dinding pintunya.


Sepatunya ia lepas, menekan saklar lampu ke arah sebaliknya, dan terhempas lelah ke sofa empuk miliknya.


09:34 A.M.


Eleanor menatap kosong langit apartemennya. Ia tidak sanggup lagi berpikir, otaknya akan segera pecah.


Tangannya meraba-raba meja pendek disamping sofa tempat ia rebahan hingga terhenti pada suatu benda, diary miliknya. Diary itu telah menemaninya sejak umur 7 tahun, segala keluh kesah, kisah pilu hidupnya tercatat lengkap disana.


Ia membuka cepat diary-nya dari halaman pertama hingga terhenti ketika suatu benda jatuh tepat di atas mulutnya. Ia meletakkan kembali diarynya di atas meja dalam keadaan dibiarkan terbuka. Mengambil sepetak kertas putih kuning 5x7 yang telah usang di atas mulutnya.


"Bay---lor," katanya pelan dan lembut sekali. Air mata mulai berdesakan keluar dari ujung matanya. Menatap sedih foto itu, foto dirinya dan Baylor, disaat semuanya masih sempurna, masih bahagia, masih utuh.


"Hikss ... hikss ... hikss...." Ia tak kuasa menahan tangisannya agar tidak keluar.


09:58 A.M.


Kringg ... kring ... kring....


Alarm Eleanor yang otomatis berdering setiap pukul 10 kurang 2 menit.


Suara deringan itu membangunkan Eleanor dari kenangan masa lalunya.


"Obat, obat, obat!"


Ia mulai merogoh tasnya dan mencari obat penahan rasa sakit.


"Sial!" serunya. Ia lupa kalau obatnya telah habis.


10:00 A.M.


"ARGHHHHHH!!!" jeritnya dahsyat.


Tubuhnya mulai membesar, sangat besar, benar-benar besar. Rambut-rambut coklat kasar mulai keluar dari sekujur tubuhnya. Giginya mulai berubah, menguning, sangat tajam, 3x lebih besar dari ukuran normal. Pakaiannya koyak dengan tragis.


"Hufftt ... huftt ... huftt...." Suara lelah terdengar dari MONSTER itu.

__ADS_1


__ADS_2