
"SURPRISEE!!!" teriak Eleanor yang dibalas muka terkejut setengah santai Baylor.
"Woww!!!" seru Baylor.
Matanya memandang sekitar. Kamar hotel yang awalnya bernuansa klasik mewah diubah menjadi penuh aura-aura romansa. Kelopak-kelopak mawar yang disusun berbentuk hati betebaran di atas tempat tidur, seluruh sudut ruangan dihiasi lampu kelap-kelip berwarna kuning keemasan, berbagai polaroid yang berisi foto-foto kenangan masa lalu mereka digantung terjatuh dari langit-langit kamar, dan setumpuk hadiah di sudut kanan kamar.
"Ini keren sekali, Ele," ujar Baylor sambil tersenyum kegirangan.
"Selamat ulang tahun, Baylor," ucap Eleanor sambil menyodorkan kue ulang tahunnya, mengisyaratkan Baylor untuk segera membuat permohonan dan memotongnya.
"Ayo, ayo!" desak Eleanor.
Baylor mengaitkan jemarinya satu sama lain dengan kantongan yang masih ditenteng di pergelangan tangannya yang berisi sebuah buku misteri yang tidak asing lagi bagi keduanya, lalu menutup matanya mengucapkan permohonan hidupnya dalam hati terdalamnya.
Sedangkan Eleanor yang seharusnya berfokus pada ekspresi Baylor menjadi heran dan menyipitkan matanya, menerka-nerka hadiah apa yang akan diberikan Baylor. Ia urungkan niatnya untuk segera bertanya pada Baylor karena doa lebih penting dari segalanya.
Ketika mata Baylor terbuka, hal pertama yang dicerna matanya adalah mata hazel Eleanor yang menatapnya dengan tatapan tulus. Ia lalu segera meniup lilin yang apinya belum memadam, seperti penderitaan mereka yang setia melekat sebelum akhirnya musnah tertiup desiran angin.
"Apa yang kau minta di ulang tahun yang ke-23 ini?" tanya Eleanor.
"Bukankah permohonan itu rahasia? Katanya kalau diucapkan maka tidak akan terkabulkan," ujar Baylor sambil tersenyum tipis.
"Ya, ya, ya. Ayo, sekarang waktunya buka kado!" seru Eleanor seraya menarik tangan Baylor dengan satu tangan menuju tumpukan hadiah buatannya di sudut kanan kamar.
"Ini surat untukmu," ucap Eleanor sembari menyodorkan sepucuk surat kepada Baylor.
"Aku boleh membukanya sekarang?" tanya Baylor.
"Tidak, bukalah nanti," jawab Eleanor singkat dengan pipi tersipu malu.
Baylor kemudian meraih surat tersebut. Namun tetap dibukanya setelah larangan keras Eleanor.
"Blekkk...."
Lidahnya menjulur. Dibukanyalah perlahan-lahan sambil tersenyum manis, matanya tertuju pada surat yang berisi tulisan rapi nan indah Eleanor yang berisi:
Teruntuk Baylor
Baylor, sahabatku
Sahabat kecilku
Sahabat tercintaku
Sahabat seumur hidupku
Kaulah satu-satunya sahabatku
Satu-satunya yang memahamiku
Satu-satunya yang tulus denganku
Satu-satunya yang selalu menemaniku
Kau tak pernah meninggalkanku
Seberapa buruk pun keadaanku
Kau selalu memaafkanku
Seberapa besar pun kesalahanku
__ADS_1
Kumohon...
Maafkan aku
Maafkanlah segala kesalahanku
Yang telah kuperbuat di masa lalu
Kuucapkan terima kasih padamu
Atas segala kebaikanmu padaku
Kau tetap mau menerimaku
Dengan segala kekurangan dan keanehanku
Kau bersedia menemaniku
Di titik terendah dalam hidupku
Kau rela berkorban untukku
Karena kutahu kau menyayangiku
Kau rela terluka
Demi sahabatmu ini
Sahabat yang pernah meninggalkanmu
Sahabat yang tak pantas kau sebut sahabat
Tak mampu membalas segala kebaikanmu
Kutahu kalau aku
Hanya akan menjadi beban untukmu
Aku, Eleanor Devacio
Tepat di ulang tahunmu yang ke-23
Kuberjanji padamu
Kalau aku takkan pernah meninggalkanmu
Aku akan membayar semua budi baikmu sampai akhir hayatku
Terima kasih Baylor
Karena kau selalu ada untukku
Meskipun kau harus selalu terluka untukku
Kutahu kau selalu diam-diam
Menyimpan semua pedih sendirian
Karena kau tak tega padaku
Pada sahabat yang selalu membebanimu
__ADS_1
Terima kasih Baylor untuk segalanya
Biarlah kini menjadi giliranku
Untuk selalu ada untukmu
Dalam keadaan suka maupun duka
Aku, Eleanor Devacio, sekali lagi berjanji padamu
Bahwa aku takkan pernah meninggalkanmu lagi
Selama itu tak menyakitimu
Selama itu tak membahayakanmu
From, Eleanor ♡
Baylor yang membaca surat itu sedikit berkaca-kaca namun ia tahankan agar tidak tumpah. Ia menatap Eleanor, bersyukur atas kehadiran sahabatnya itu.
"Hei! Apa yang kau lihat?" tanya Baylor melihat dagu Eleanor meruncing menunjuk ke arah dadanya.
Ralat, buku yang berada tepat di depan dadanya. Baylor menurunkan pandangannya mengikuti arah sinar mata Eleanor tertuju.
Perhentiannya tepat pada buku, "Ahhh, Ele!" teriak Baylor sembari semakin melebarkan senyumannya mengingat objek yang hampir saja terlupakan olehnya. "Hadiahmu, BUKU!!"
"Buku?? Kau serius? Buku itu? Hahhh???" Tatapan awal Eleanor masih bingung hingga akhirnya tersadar olehnya apa yang harus dilakukannya saat itu juga. "Buku, Lor!!! Yessss, akhirnyaa!!!"
Ia melajukan tubuhnya dan hendak memeluk hangat hadiah terindahnya dengan kue yang masih tertopang di atas tangannya.
"Upss, sorry," sesal Eleanor yang tidak sengaja membuat kotor baju Baylor dengan menyebarkan krim coklat pada sisi-sisi kue yang tampak sangat menggoda.
Dengan muka digalak-galakkan Baylor melangkah mendekat ke arah Eleanor yang dibarengi kemunduran angsur kaki Eleanor yang takut dengan tatapan dan muka tidak biasa Baylor.
Sepasang tangan yang masih memegang buku di sebelah kanannya memutar cepat bahu Eleanor yang tentu saja tubuhnya pun terikut, dan mendorong tubuh Eleanor pelan mendekat ke sebuah meja selutut.
"Letakkan dulu, Ele," sahut Baylor dengan suara yang hangat dan memberat.
Eleanor menepikan terlebih dahulu kue yang harusnya menjadikan malam ini indah melebihi apapun. Namun, ternyata sesuatu yang lebih lagi hadir di tengah cukupnya kebahagiaan hingga rasanya nebula terjauh pun telah digapai mereka. Lalu Eleanor berbalik menghadap kembali Baylor dengan tangan hampa dan meminta sesuatu itu dengan mata gemas penuh pinta.
Namun tidak semudah itu, Baylor meminta hadiah ulang tahunnya dan sebuah hadiah lagi sebagai bentuk barter dari hadiahnya untuk Eleanor.
"Itu, kusiapkan hadiahmu berbukit," ucapnya seraya melayangkan tangannya menuju ke berkotak-kotak hadiah terlapisi kain kado berwarna berbeda-beda yang sebenarnya hanya ada satu kotak hadiah sebenarnya di tengah serangkaian kotak murni elok dipandang.
"Bukan itu."
"Jadi?" heran Eleanor.
Sebuah jari telunjuk Baylor menusuk-nusuk pipi kanannya. Yakinlah, yang semua orang pikirkan itu tidaklah salah, sebuah ciuman.
"Apa??" Wajah Eleanor sekejap langsung menghangat dan berubah warna menjadi merah padam. Ia berusaha keluar dari situasi menegangkan itu, tapi cengkraman kuat pada bahunya dilandaskan pria di hadapannya dengan mata memelas.
Cuppp!
Eleanor tidak berani membuka matanya setelah perbuatannya kepada Baylor yang masih diragukannya apakah itu senonoh atau tidak. Namun, sebuah ciuman bibir tebal juga melesat ke pipi Eleanor dan tautan tangan menyilang yang menariknya bahkan sebelum matanya mengumpulkan kekuatan mental untuk terbuka.
Baylor menarik dirinya duduk di tengah- tengah taburan mesra kelopak mawar merah segar yang masih rapi dengan sedikit lencengan beberapa helai kelopak yang keluar dari jalur love di kasurnya.
Dan sebuah buku dengan cover menyeramkan penuh misteri telah siap dibuka di depan keduanya yang telah duduk berdampingan.
"Ele, will you be my girlfriend?"
__ADS_1