
"O-oww!"
Tubuh Baylor dan Favid seketika menjadi lemas, membiarkan kedua pria di depannya untuk menangkap mereka karena tahu melarikan diri sekarang hanyalah mimpi belaka.
Ternyata bukan hanya Favid dan Baylor yang terkesiap dengan kedua orang yang menghalangi mereka, tetapi para ajudan bahkan Catoo sekalipun langsung berdiri dari duduk manisnya.
Tangan kanan salah satu dari dua pria yang berdiri tegak di depan mereka terlihat menekan earphone spiral yang dipakainya dan memerintahkan sesuatu entah kepada siapa, "Tim 1! Lari ke tanah kosong belakang sekarang!" Sungguh ucapannya ditegaskan dengan sempurna, bahkan jeda dari setiap katanya pun terdengar gagah seperti fisiknya.
Seketika itu semua anak buah Catoo langsung menyerang 4 musuhnya sebelum datang lebih banyak lagi, dan sempat untuk melarikan diri dari pihak hotel. Ternyata dua pria di depan mereka adalah security hotel yang datang setelah mendapat laporan dari Eleanor yang telah memastikan terjadinya kekerasan di tanah kosong belakang.
Security itu langsung menjaga dan melindungi Favid dan Baylor dari serangan mendadak anak buahnya Catoo yang meronta-ronta. Baylor dan Favid baru sadar bahwa orang yang tadi menghalanginya adalah sekutu, bukan musuh. Empat dari belasan orang memang tidak mungkin, namun masih bisa untuk melindungi diri sendiri sebelum akhirnya bala penyelamat tambahan datang.
Baru saja memulai pertempuran pemanasan, tim 1 yang diperintahkan security tadi sudah sampai bahkan sebelum hitungan ke-50. Setelah lengkap anggotanya, barulah dimulai pertempuran sejati dimana keadilan telah seimbang dari segi jumlah dan kekuatan.
Pertempuran dengan tangan kosong terus berlanjut. Tanpa kehadiran Baylor dan Favid pun pertempuran itu sudah dapat dipastikan dimenangkan oleh pihak hotel.
Catoo yang melihat anak buahnya satu-satu terkapar tidak berdaya mencari cara melewati berbagai security untuk kabur sendirian dari hotel itu. Ia memanfaatkan tubuh pendeknya di antara para manusia bertubuh besar yang sedang bertarung. Catoo menyelinap perlahan yang hampir saja berhasil kalau tidak dihentikan oleh Baylor dan Favid yang sedari tadi hanya bertarung santai karena para security telah meludes semua anak buahnya.
"Hei,hei! Mr. Pendek mau kemana?" tanya Baylor yang menjepit kerah belakang bajunya ketika menangkap sosok yang berusaha melarikan diri.
Dengan tatapan seperti tertangkap basah, Catoo perlahan membalikkan kepalanya melihat ke arah Baylor yang menahannya saat ini.
PLAKKK!!!!
BRUKKK!!!!
Sebuah tubuh lemah dan pendek Catoo langsung terbaring di atas kerasnya semen tanah kosong itu. Hantaman tangan geram Baylor terus menghajar wajah Catoo. Baylor bertekuk lutut dan melangkahi perut Catoo agar pukulannya tidak meleset sekalipun dari sasarannya.
Favid yang melihatnya merasa pukulan Baylor terlalu keterlaluan. Ia tahu Catoo sendiri sudah melewati batasnya, tetapi Baylor tidak harus bersusah payah mengotori tangannya demi manusia tidak berakal budi tersebut. Favid terus berusaha mencegah pukulan lanjutan yang terus dilakukan Baylor kepadanya, melihat wajah Catoo sendiri pun telah penyok dan lebam.
Seluruh tenaga Favid telah ia kerahkan untuk menahan Baylor. Namun memang amarah seseorang tidak bisa dibendung begitu saja ketika amarah itu telah mencapai batas maksimumnya.
"Baylor!" suara itu menghentikan kegiatan memukul Baylor. Ia tahu dengan baik suara siapa itu.
"Ele? Pergilah! Disini berbahaya!" titahnya dengan nada tinggi pada Eleanor yang melihatnya dari ujung pintu.
__ADS_1
Eleanor tidak menggubris dan mengindahkan perintah Baylor. Malah sebaliknya ia berjalan mendekat ke arah Baylor dan mengangkat lengannya menjauh dari manusia kotor itu.
"Hentikan!" teriaknya pada Baylor yang tetap tidak mau berdiri dan jauh dari Catoo meskipun telah ia tarik lengannya berulang kali.
"Lor, kumohon hentikan," ucap Eleanor lembut sembari menjongkokkan tubuhnya agar mempermudah tatapan mereka sejajar.
Tubuhnya memeluk tubuh gagah penuh amarah Baylor dari samping, membuat aksi Baylor terhenti seketika. Hanya diperlukan sebuah usaha yang begitu kecil untuk menghentikan luapan amarah Baylor, yaitu ketenangan dari Eleanor.
Eleanor tahu bahwa sifat sahabatnya yang keras itu tak bisa ia lawan dengan sikapnya yang bersikukuh keras kepala juga, maka ia memutuskan untuk menggunakan cara lunak kepadanya.
"Hentikan, Lor. Itu semua nggak ada gunanya, nggak bisa memperbaiki keadaan juga," ucap Eleanor pelan.
Tangannya mencengkram bahu Baylor dan menatap matanya dalam-dalam agar Baylor lebih mengerti maksud dari ucapannya.
"Awas, Nor!" teriak Favid tetiba dan segera melayangkan kepalan tangannya pada anak buah Catoo yang berada di belakang Eleanor, membuat Eleanor dan Baylor terkejut seketika.
"Kau ngakk apa-apa?" ucap Eleanor, panik. Tangannya sembari mengelus pelan pundak Favid.
"Iya, aku baik-baik aja," jawab Favid.
Tak lama setelah itu, sirine polisi berbunyi. Semakin besar volumenya seiring kedekatannya hingga akhirnya berhenti di tepi tanah kosong. Mereka sudah menyiapkan borgol dan segera mengamankan para anak buah Catoo agar tidak melarikan diri lagi.
Setelah berbicara dengan pihak hotel, polisi akhirnya membawa para pria itu ke kantor polisi setempat dan ditahan sementara waktu atas kejahatan mereka. Sementara itu, Catoo yang masih belum sadarkan diri dilarikan ke rumah sakit terdekat untuk ditangani tim medis sebelum akhirnya juga akan bertemu dan reuni bersama para anggota bayarannya di balik jeruji besi.
Sebelum para polisi itu meninggalkan TKP, Baylor mendapat satu peringatan oleh pihak kepolisian agar jangan sekali-kali lagi menghakimi orang sendiri.
"Saya mewakili pihak hotel meminta maaf sebesar-besarnya karena penjagaan pihak hotel yang kurang ketat dan keliru. Mohon maaf, Nona, Tuan. Sebagai gantinya, pihak hotel akan memberikan kamar spesial di lantai paling atas untuk kalian dengan penjagaan ketat 24/7 dari kami, harganya tetap sama seperti harga kamar Tuan dan Nona dulu, tidak akan dinaikkan lagi harganya. Kami bisa pastikan keamanan kalian," ucap salah seorang bodyguard hotel yang diyakini adalah ketuanya.
Ia membungkuk hingga perutnya pun ikut terlipat agar permohonan maafnya dapat tersampaikan dengan baik dari sisi positif.
"Baik, makasih juga," ucap Baylor lesu setelah tenaga yang dihamburkannya tadi.
Kini, mereka bertiga hanya ingin segera kembali ke kamar mereka masing-masing dan segera menghempaskan tubuh mereka di atas kasur empuk hotel, dan menghilangkan penat mereka.
Syukurlah, kamar-kamar mereka sudah disiapkan dengan baik oleh pihak hotel. Mereka hanya perlu mengemas semua barang-barang mereka dan segera bermigrasi ke kamar baru mereka yang berkali-kali jauh lebih luas dan nyaman daripada kamar lama mereka.
__ADS_1
Fyi, Favid juga menginap di hotel ini, tetapi berbeda lantai dengan Eleanor dan Baylor.
"Wowww!!" seru mereka bertiga hampir bersamaan ketika melihat kamar indah yang luasnya hampir mirip apartemen.
Mereka seperti katak hijau yang baru pertama kali keluar melihat dunia, meninggalkan sumur kecilnya yang hanya menampilkan langit seluas lingkaran sumurnya saja.
"Gila! Kamar ini jauh lebih luas, mungkin dua hingga tiga kali lipat!" seru Baylor, penatnya sepertinya hilang begitu saja saking begitu bahagianya dirinya.
"Iya! Tiga connected room," ujar Eleanor, dirinya terkagum-kagum karena mendapat kesempatan sekali seumur hidup untuk menikmati kamar mewah dengan harga terjangkau ini yang belum tentu akan didapatnya lagi.
"Keren! Bahkan ada ruang tamu, meja makan, dan dapur mini-nya. Ngomong-ngomong, bagaimana cara kita menentukan yang mana kamar kita?" ucap Favid, lalu menggaruk pelan kulit kepalanya.
"Ele di kanan, aku di sini, kau di kiri," titah Baylor yang hendak menjauhkan Eleanor dari Favid.
"No, no, no. Aku di sini dan kau di kiri," sanggah Favid.
Perdebatan pun dimulai. Masing-masing memperebutkan untuk tidur di kamar sebelah tuan putri Eleanor.
"Aduh! Kayak anak kecil aja, deh. Aku di sini, kalian di kiri kanan, ah. Ribut mulu, mending cepat mandi dan ganti baju supaya kita bisa cepat turun dan makan," omel Eleanor menengahi perdebatan keduanya yang tidak bermanfaat.
"Fine," jawab keduanya kompak sembari membuang muka satu sama lain.
Setelah sudah selesai mandi dan berpakaian rapi, mereka bertiga segera turun ke resto hotel yang menggunakan sistem ala carte menu.
Sehabis itu, mereka kembali ke kamar masing-masing dan buku itu sedang di tangan Baylor, sang ahli teka-teki.
***
Di kamar Baylor....
"Ah, aku masih belum mengerti," gumamnya sendiri, lalu meneguk coklat panas buatannya yang masih menebarkan asap di atasnya .
Baylor yang sudah berjam-jam duduk di meja belajar, mengamati dan menyelidiki buku itu terus-menerus masih belum putus asa dengan tampang seriusnya. Ia membolak-balikkan halaman satu per satu, mencoba menyambungkan segala kemungkinan yang ada.
"Emeamore Dezoido Vasida!"
__ADS_1