
"Apa maksud gambarnya?" tanya Eleanor sembari menggaruk kepalanya yang tak gatal, tanda kebingungan.
"Kalian yakin dapat masuk ke game lewat buku ini? Buku ini bahkan tidak menyinggung satu pun tentang game yang kalian bilang," ucap Favid yang berdiri bertumpu tangan pada meja yang terdapat buku di atasnya.
"Game, game, game," gumam Baylor setelah mendengar pernyataan Favid.
Ia menundukkan kepalanya sembari otaknya berpikir melafalkan maksud dari buku itu.
"Ya! Buku ini sengaja dibuat menyiratkan maksud tersembunyinya. Buku ini bisa dibaca begitu saja bagi yang mau menikmatinya. Namun, bagi yang bermaksud sesuatu seperti kita, ia melampirkan semacam misteri!" serunyaa setelah meneliti kembali otaknya dan berpikir jernih.
"Lalu bagaimana cara memasuki permainannya?" tanya Favid lagi tidak puas dengan jawabannya.
Baylor hanya geleng-geleng dengan putus asa lalu langsung menyeret buku yang awalnya berada di tengah Eleanor dan dirinya menjadi sepenuhnya di depannya. Ia menutup mata dan jeda sebentar merilekskan otaknya. Ketika terbuka ia menyipitkan matanya dan menyelidik, mencari-cari arti dari gambarnya.
"Lihatlah!" serunya yang langsung diikuti tatapan berapi Eleanor dan Favid, tangannya menunjuk pada kodok di gambar pertama.
"Lihat, kodok ini awalnya kecil, dan ini." Tangannya bergeser sekitar 7 cm ke kanan. "Kodoknya sekarang besar!"
"Iya! Kenapa tidak terpikirkan olehku. Ugh, bodohnya!" ucap Eleanor sembari memukul kepalanya sendiri dengan pergelangan tangannya.
"Lalu, lalu? Apa maksudmu? Katakan dengan jelas," ucap Favid bersemangat dan sedikit tidak sabar, lalu mendekatkan wajah penasarannya ke dekat buku yang ditunjuk Baylor.
"Bagaimana bisa kodoknya membesar?" gumam Baylor sembari memiringkan kepalanya dengan mata yang masih berfokus dan alis yang saling bertautan.
Sementara Favid, ia meneliti lagi foto buku yang diambilnya untuk membantu Baylor yang sedari tadi berjuang dan bergumul sendiri dengan otaknya. Eleanor mendekatkan dirinya kepada buku yang ditarik Baylor agar bisa membacanya juga dan menemukan jalan keluar untuk masalah yang sebenarnya miliknya sendirian tetapi dibantu kedua pria penolong dalam hidupnya.
"Mungkinkah man--tra?" tanya Baylor ragu-ragu dan menolehkan kepalanya ke dua orang yang menunggu penjelasan darinya.
"Maksudmu?" tanya Eleanor tidak mengerti sama sekali maksud angan-angan Baylor tadi.
"Lihatlah! Penyihir disini membuka mulutnya, lalu yang di gambar kedua mulutnya telah tertutup! Itu tandanya ia telah mengatakan sesuatu," jelasnya dengan mata berkobar api dan wajah berseri-seri yang telah mengerti sepenuhnya maksud dari gambar itu.
Namun, tampaknya kedua orang disampingnya masih tetap tidak terbawa alur yang diciptakan Baylor.
"Lalu apa yang berguna dari mulut terbuka dan tertutup?" tanya Favid.
"Lihat baik-baik! Ketika mulut penyihirnya tertutup, kodoknya telah menjadi besar. Artinya penyihir itu mengatakan sesuatu sehingga kodok itu menjadi besar. Dia penyihir! Kalian tahu penyihir bisa mengubah segala sesuatu sesuai keinginannya dengan mantra, bukan?" Ucapan membara-bara itu akhirnya menghasilkan sebuah anggukan dari Eleanor dan Favid.
"Jadi kita harus bagaimana dengan mantra itu? Harus diapakan dan bagaimana mencarinya?" tanya Eleanor setelah mengerti penuh maksud dari gambarnya.
Namun, hal itu masih belum terjawab oleh Baylor. Imajinasi otaknya telah buntu jika harus berpikir mengenai mantra itu. Ia tidak tahu apa yang harus dilakukan dengan mantra yang dimaksud oleh gambarnya. Sedangkan Favid ia terlihat menggeser-geser cepat layar kecil pipihnya.
"Heii!! Kurasa ada yang aneh," sahut Favid yang masih berkutat pada teleponnya yang bersinar terang hingga terpantulkan ke wajahnya.
__ADS_1
"Apa itu?" tanya Baylor yang bersemangat dengan teka-teki yang selalu disenanginya dari kecil.
Ia berdiri dan menjauh dari kursi yang didudukinya tadi menuju ke Favid. Ia mencoba mengambil intip hal yang membuat Favid berkata demikian.
"Aku merasa ada yang sedikit janggal dengan sesuatu di buku ini. Mungkin dengan--" ucap Favid dengan alis terangkat pada Baylor yang berdiri di sebelahnya, tetapi tak ia lanjutkan karena ia sendiri kurang yakin dengan hal ini.
"Dengan apa?" tanya Eleanor bingung sembari meninggalkan kursi keras coklatnya dan bergabung dengan dua pria bertubuh tinggi yang saling berhadap-hadapan hingga sekarang bentuk mereka bertiga berkumpul membentuk segitiga jika dilihat dari atas.
"Entahlah. Biarkan aku berkonsentrasi dulu sejenak," ucap Favid lalu memutuskan untuk duduk kembali ke kasur empuk yang berjarak tiga langkah dari dua kursi coklat keras dan sebuah meja.
***
"Sofia, apa semuanya sudah beres?" ujar seseorang yang tak lain adalah Catoo, si pendek dan licik itu.
"Sudah, Prof," jawab Sofia, hanya saja dari nada bicaranya dan pupil matanya yang bergetar sepertinya ia kurang siap dengan misi kali ini.
"Jangan berlagak mencurigakan atau rencana kita akan gagal," ucap Catoo.
"Baik, Prof," ujar Sofia pelan.
"Semuanya bersiap," teriak Catoo.
Sofia pun menuruni mobil dan berjalan menuju sebuah bangunan mewah yang tak lain adalah hotel tempat Eleanor menginap beberapa hari ini.
***
"Vid, apa kau sudah menemukan sesuatu?" tanya Baylor, sontak membuat Favid menoleh ke arahnya sambil memain-mainkan bibir atasnya.
"Belum, namun aku menemukan kejanggalan di pengetikannya. Aku sudah membaca ulang dan menemukan beberapa kata yang salah ketik. Apa itu hanya perasaanku saja atau ada maksud tertentu?" ujar Favid sambil mengerutkan alisnya hingga keduanya hampir menyatu.
Kini mereka bertiga sepertinya sudah mulai kehilangan harapan. Mereka tak menemukan satu pun cara dan petunjuk untuk masuk ke dalam permainan.
Tiba-tiba saja pintu kamar diketuk berkali-kali dan tak kunjung berhenti, sepertinya ada sesuatu yang penting atau mungkin ada sesuatu yang tidak beres.
Tokk ... tokk ... tokk....
Tokk ... tokk ... tokk....
Tokk ... tokk ... tokk....
Tokk ... tokk ... tokk....
......................................
__ADS_1
"Siapa itu?" ucap Eleanor seraya menoleh ke arah pintu.
"Apa mungkin petugas kebersihan?" Favid mencoba mengutarakan pendapatnya.
"Nggak mungkin petugas kebersihan. Itu yang ketuk udah nggak waras, nggak berhenti-henti coba," ucap Baylor, mulai sedikit emosi dan penasaran.
Mereka kemudian langsung bergerak meninggalkan buku itu terbuka di atas meja dan menuju ke pintu yang terus menghasilkan frekuensi bunyi yang menganggu pendengaran itu.
Eleanor pun segera membuka pintu kamar dengan perasaan takut. Ia terus berdoa agar kelak pintu yang akan terbuka ini tidak membawa mereka ke dalam cobaan lain lagi.
Begitu pintu terbuka, mereka langsung terkejut bukan main melihat itu.
"Siapapun kalian, tolonglah aku. Aku mohon, tolong aku," ucap seorang wanita dengan air mata deras yang mengalir terus-menerus.
Begitu pula dengan mulutnya yang terus-menerus meminta pertolongan kepada mereka, di belakang katupan tangan memohonnya.
Sungguh pemandangan yang tidak mengenakkan dan menguras hati nurani. Pakaian wanita itu robek-robek namun bukan compang-camping, rambutnya acak-acakan namun tidak menggumpal seperti orang gila. Seakan-akan ia sedang dikejar dan dipukul oleh orang. Ditambah sedikit memar biru yang berwarna di sekitar tulang matanya memperkuat kemungkinan tersebut.
Mereka bertiga saling bertatap-tatapan, tak mengerti apa yang harus mereka lakukan. Untuk apa wanita itu datang meminta pertolongan kepada mereka? Bukankah di bawah ada resepsionis, yang bisa ia cari dan bahkan lebih berkuasa daripada penghuni hotel biasa?
"Bisakah kau tolong berhenti menangis dan jelaskan apa yang terjadi? Kami tak mampu membantumu kalau kau tak menjelaskan apa yang sedang terjadi sebenarnya," jelas Favid.
"Aku dikejar oleh beberapa pria berbadan besar dan berotot kekar. Pacarku dibunuh oleh mereka di lantai bawah. Tolong bantulah aku untuk melarikan diri. Kumohon," pinta wanita itu dengan suara yang membaur dengan isak tangisan dan tangan yang terus menghapus air matanya.
Mereka bertiga berempati kepada wanita itu, seakan memahami penderitaan wanita itu.
"Ayo, masuklah!" ajak Eleanor, menuntun wanita lemah itu masuk ke dalam kamarnya.
Saat hendak menutup pintunya, pintu kamar Eleanor digebrak oleh beberapa pria berbadan tegap. Apa itu pria-pria yang dimaksud oleh wanita tadi?
"Kau pikir kau bisa lari ke mana? Hahaha," ucap salah seorang pria yang berdiri di depan dari beberapa pria lagi di belakang, dan menarik wanita itu mudah sekali dari penjagaan Eleanor, Favid, dan Baylor .
"Kumohon bantulah aku. Kumohon. Aku sedang mengandung," ucap wanita itu sambil menangis, memegang perutnya dan pasrah ditarik oleh pria-pria itu keluar dari jangkauan mata orang yang membiarkannya masuk tadi.
Mereka bertiga terpatung sejenak, tak tahu harus berbuat apa. Mereka tak paham betul kondisi sebenarnya. Apa wanita itu wanita baik-baik atau wanita p***cur? Entahlah, tapi hati nurani Eleanor masih bekerja.
"Lor, Vid, ayo kita bantu dia!" seru Eleanor setelah mengambil keputusan bulat untuk membantu wanita yang baru dikenal mereka selama beberapa menit.
"Baiklah, aku dan Favid yang akan turun. Kau tetap di kamar. Aku tak mau kau terluka," ucap Baylor lalu langsung berlari keluar kamar dan mengejar mereka, yang diikuti oleh Favid sebelum Eleanor mengeluarkan suara dan pendapatnya.
Eleanor yang ditinggalkan di kamar mulai merasa cemas. Ia mondar-mandir tanpa melakukan apapun. Yang di pikirkannya hanyalah keselamatan Baylor, Favid, dan wanita yang sama gender dengannya.
***
__ADS_1
"Hei, berhentilah!"