
10:15 A.M.
Tubuhnya mulai mengecil satu per satu bagian, semuanya kembali normal. Rambut-rambut kasar itu pun memendek dan hilang tak berbekas, entah kemana perginya semua itu, masih menjadi misteri yang belum terpecahkan.
Jika dipikir lebih lanjut, semua ini tidak adil. Rasa sakit yang harus selalu ditanggungnya setiap hari hanya meninggalkan kain sobek yang awalnya adalah pakaian utuh.
Dengan pakaian sedikit bahan itu, Eleanor berjalan menuju kamarnya. Sesekali ia tiba-tiba terjatuh karena letih yang tak dapat lagi ia bendung.
Tangannya bergerak membuka lemari minimalis yang dipenuhi kaca itu. Matanya mulai mencari baju dan rok yang sama seperti yang dikenakannya tadi. Ya, Elanor selalu membeli sepasang pakaian yang sama persis, menghindari kecurigaan teman kantornya.
***
"Siang, Bu," salam Eleanor yang baru saja kembali, dengan baju yang persis dan tertata rapi.
"Kenapa hari ini lama sekali, Nor?" tanya manajer, sedikit kesal dengan tingkah anak buahnya yang satu itu.
"Maaf, Bu. Tadi mobil ban saya pecah, jadi saya harus singgah ke bengkel sebentar untuk ditambal terlebih dahulu," jawabnya berbohong, pura-pura menyesal seraya menundukkan kepalanya.
"Oh, yaudah. Sekarang cepat kembali ke mejamu dan selesaikan berkas-berkas yang ada di mejamu," perintah si manajer.
"Baik, Bu," jawab Eleanor, lugu.
"Satu hal lagi, Nor. Nanti sore, saat kamu pulang, istirahatlah dengan baik. Mukamu tampak pucat sekali," cemas manajer. Meskipun ia kelihatan tegas, tapi jauh di dalam lubuk hatinya, ia sangat sayang dan perhatian kepada para karyawannya.
"Baik, Bu. Terima kasih banyak, Bu," jawab Eleanor, girang. Ia sendiri bahkan lupa kapan terakhir kalinya ia bahagia, diperhatikan orang lain.
Lalu, Eleanor langsung bergegas ke meja kerjanya. Matanya tertuju pada setumpuk berkas yang tidak terlalu tinggi. Entah apa yang membuatnya begitu yakin kalau ia bisa menyelesaikannya tepat waktu sehingga ia tidak usah menghabiskan waktunya untuk lembur.
Baru saja ia duduk di atas kursi empuknya dan bersiap memerangi pekerjaannya, ia merasa sedikit risih atas kegigihan makhluk di seberangnya yang tanpa lelah menatapnya. Yah, orang itu adalah Baylor, sahabatnya yang telah ia coba lupakan, bahkan resiko tidak bertemu selamanya rela ia lewati demi ketentraman hidup orang tercintanya.
"Ekhmm ... Baylor, lanjutkan kesibukanmu saja dan jangan menghabiskan waktumu dengan menatapnya terus-menerus. Aku tahu ia cantik, tapi kau belum mengenalnya," goda Favid.
"Hei, perhatikan omonganmu, Bung. Mungkin kau yang tak mengenalnya. Bukan begitu, Eleanor Devacio?" sindir Baylor sambil memainkan sebelah alisnya.
__ADS_1
Eleanor yang mendengar percakapan rekan-rekan kerjanya pura-pura tidak menggubris omongan mereka dan sibuk fokus dengan pekerjaannya.
"Emank kau siapanya, Lor?" tanya Favid, mulai penasaran. Memalingkan tubuhnya penuh menghadap Baylor.
"Kau tahu, Favid. Dulu aku memiliki seorang sahabat, kami dekat sekali. Ia adalah seorang gadis cantik, cantik sekali. Namun entah mengapa, tepat di hari ulang tahunnya yang ke-18, ia mendadak hilang selamanya dariku, tidak pernah lagi datang menemuiku. Ia membuatku terus menunggu dan menunggu, menunggu hingga aku jatuh sakit dan masuk rumah sakit.
Kupikir ia akan datang menjengukku, atau setidaknya mengirim pesan kepadaku. Namun, apa yang kudapat? Ternyata semua penantianku itu sia-sia saja. Tapi, lupakanlah semua itu, sekarang aku ingin memulai lembaran baru bersama dengannya, memulai semuanya dari awal, meskipun aku masih terlanjur kecewa dengannya," curhat Baylor, terdengar rasa sedih di setiap huruf ucapannya, hatinya sakit mengingat itu semua.
Eleanor yang mendengar ucapan Baylor terpaku di tempat, tangannya yang sedang mengetik keyboard komputer terhenti, matanya yang sedang tertuju pada layar komputer juga terhenti, tak terkecuali pikirannya yang juga ikut terhenti seketika.
Rasanya ia ingin sekali meluapkan semua emosinya, meluapkan semua keluh-kesalnya, menjelaskan alasan di balik semuanya. Namun, apa dayanya? Ia tidak bisa memberitahu siapapun tentang hal itu. Tidak seorang pun, termasuk sahabatnya.
***
"Hei, Baylor, Eleanor. Cusss, makan dulu," tawar Favid kepada kedua batu itu yang sedang terhanyut dalam aliran sungai.
"Emm, maaf, Vid. Mungkin tidak hari ini. Aku harus segera menyelesaikan ini semua," ucap Eleanor, mencoba menolak ajakan Favid sehalus mungkin.
"Sudah kuduga. Kau selalu menghabiskan waktu makan siangmu sendirian di kantor, bersama dengan berkas-berkas. Baiklah, nggak akan kuganggu lagi. Lanjutkan saja kesibukanmu, Nor," kata Favid, yang hanya dijawab dengan anggukan dan senyum tipis dari Eleanor.
"Mungkin aku akan menemaninya, kau tahu lahh...."
"Baiklah, kalau begitu aku pergi dulu. Bye," kekeh Favid yang mengerti makna terselubung itu sambil berjalan meninggalkan keduanya.
Suara detak jarum jam terdengar jelas di tengah kesunyian itu. Semua karyawan yang sedang mengisi ulang perut mereka hanya meninggalkan seekor cicak di paling sudut dinding sebagai saksi mereka, dua titik kehidupan yang terlihat dalam luasnya ruangan itu, Eleanor dan Baylor.
Mereka membiarkan suara jarum jam mengisi ruangan selama hampir 15 menit, sebelum Baylor memutuskan untuk memecah keheningan.
"Ele, bisa aku bicara?" tanya Baylor, memulai percakapan dengan hati-hati.
Pertanyaannya tidak dijawab oleh Eleanor. Ia lalu memutuskan untuk bertanya sekali lagi. "Ele?"
"Maaf, tidakkah kau lihat aku sedang sibuk? Terlebih lagi aku sedang buru-buru saat ini," balas Eleanor layaknya orang asing.
__ADS_1
"Tuhan, tolong bantulah aku. Aku benar-benar terjebak saat ini. Aku tidak habis pikir Baylor akan menemaniku disini. Tuhan, tolong bantulah aku supaya jeratan ketakutan ini segera terlepas dari padaku," doa Eleanor tulus dalam hati, memohon agar semua kegelisahan dan ketakutan ini segera berakhir.
"Kau sudah siap?" tanya Baylor lagi ketika gerakan jari Eleanor mulai melambat. "Kalau kau belum siap, aku akan menunggu lagi. Aku tidak keberatan walau harus menunggumu 1 jam lagi bahkan 100 hari lagi. Kurasa penantianku padamu selama ini telah mengajariku arti kesabaran dalam menunggu."
Eleanor merasa iba kepada sahabatnya itu. Bagaimana bisa ia menjadi begitu egois. Ia bahkan tidak memikirkan perasaan sahabatnya itu.
Tetapi ... TIDAK! Ia tidak bisa memberikan harapan palsunya.
"Baiklah kalau kau tidak mau berbicara denganku. Bisakah setidaknya satu jawaban kau berikan padaku? Alasan dibalik itu semua, kepergianmu meninggalkanku selama ini. Aku tidak sanggup lagi Nor ... ti--dak sang--gup lagi," tangisannya meluap, tangisan sedari remaja yang telah ia tahan.
"Maaf...." Suara Eleanor terdengar serak.
"Aku tak bermaksud, sungguh. Hanya kata maaf yang bisa aku katakan padamu, bahkan akan terus kuulangi, lagi dan lagi," lanjutnya. Rasa menyesal dan sedih terlihat jelas dan nyata di wajah putih bersihnya.
"Maka kau harus jelaskan ini semua padaku. Apa kau tak memikirkan perasaanku sebelum kau lakukan ini semua kepadaku? Apa kau merasa persahabatan kita begitu mudah dipatahkan, begitu mudah dihancurkan? Apa kau tak pernah tahu kalau aku rindu padamu? Apa kau--," ucapannya terpotong ketika orang di seberangnya berdiri dan hendak pergi meninggalkannya, lagi.
"Aku minta maaf, Baylor. Sungguh, aku benar-benar minta maaf. Aku tidak bermaksud untuk menyakitimu. A--aku tidak bisa menjelaskan ini semua kepadamu. Andai aku bisa melakukannya, maka aku tidak akan membuatmu menunggu, menunggu begitu lama. Maafkan aku," isak Eleanor dalam hati, ia tidak bisa berkata-kata. Kakinya mulai berlari lebih dan lebih cepat lagi.
Tidak hanya sepasang kaki, tetapi dua pasang. Baylor yang tidak mau melihat punggung yang sama lenyap lagi terus mengejarnya.
Ia berhasil mencekal tangan Eleanor dan menghentikan pergerakannya.
Tetapi....
"Maaf, Lor. Sungguh, maaf...."
Tanpa disadari, sebulir air mata mengalir dari matanya.
"Jangan menangis, Ele. Maafkan aku, aku tidak bermaksud untuk menyakitimu," desah Baylor dengan suara lembut.
"Aku yang seharusnya minta maaf, Lor. Tapi, a--aku tidak bisa menjelaskan semuanya kepadamu sekarang, aku belum siap. Maafkan aku."
Tangan Baylor ditepis Eleanor. Sekali lagi, bayangan yang sama, punggung yang sama, meninggalkannya lagi.
__ADS_1
Kekuatan Baylor juga ikut melayang bersama punggung itu. Lututnya tertekuk dan badannya menelungkup di atas lantai yang dingin.