The CURSE : Deadly Game

The CURSE : Deadly Game
● FIFTEEN ●


__ADS_3

***


Langit masih gelap saat itu namun waktu telah menunjukkan pagi yang baru.


"Siap?" tanya Baylor yang telah mengatur navigasi ke kota Wideon dan segala keperluan mereka telah duduk di belakangnya dan Eleanor.


Baylor mulai mengemudikan mobilnya setelah anggukan yang diterimanya dari Eleanor.


Kota itu tidaklah dekat. Mungkin diperlukan waktu sekitar 1 atau 2 hari untuk sampai disana. Kota Wideon layaknya kota terbengkalai atau lebih tepatnya dipanggil desa. Kota itu hanya terdiri dari beberapa perumahan yang fasilitasnya pun masih diminta pertanggungjawaban dari pemerintah. Tidak ada stasiun, bandara terdekat pun tidak ada, sehingga sulit untuk mencapai kota itu.


Selama beberapa jam pertama Eleanor dan Baylor masih dapat menikmati perjalanannya. Suara alunan musik yang keluar dari speaker mobil mampu mengedapkan suara mesin dan juga percakapan mereka.


Sementara Baylor sibuk mengemudi, Eleanor sibuk memakan cemilan yang telah dipersiapkannya sehari sebelumnya sembari sesekali menyuapi Baylor makanan bermicin sedap itu.


Ketika Eleanor sudah mencapai waktunya untuk berubah menjadi monster, Baylor segera mencari sebuah rumah makan. Selain untuk makan, mereka berniat meminjam toilet untuk monster Eleanor karena mobil yang penuh dengan perlengkapan mereka tidak cukup ruang untuk tubuh besarnya.


"Ele, kau mau makan apa? Sekalian ku pesan dulu," tanya Baylor kepada Eleanor yang mendekap baju gantinya.


"Hmmm," matanya ia fokuskan pada menu yang menggantung di atas kasir, "nasi goreng aja, deh."


Selanjutnya ia pergi meninggalkan Baylor dan pesanannya setapak demi setapak menuju kamar mandi pengap itu, untung saja ukurannya tidak terlalu kecil.


20 menit telah berlalu. Eleanor telah sampai di meja makan dengan makanan yang memenuhinya.


Mereka berdua menyantapnya dengan lahap dan secepat mungkin.


"Lor, gantian ya aku yang nyetir," sahut Eleanor yang merasa bersalah kepada Baylor.


"Nggak usah, Ele. Aku masih kuat, kok," bantah keras Baylor.


"Nggak mau. Pleasee, sekali ajaa," mohon Eleanor. Ia berusaha mungkin memohon dengan nada yang dimanis-maniskan.


"Yaudah, tapi sebentar aja, ya," izin Baylor tapi dengan persyaratan.


Beberapa jam berlalu dengan dua insan yang terkurung dalam ruang mobil yang dikendalikan oleh mesin.


Mengisi bensin, makan malam, makan pagi, makan siang, tidur, semua siklus hidup yang dilakukan manusia normal juga dilakukan mereka meski berada dalam ruangan kecil itu.


"Bay, masih jauh nggak, sih?" tanya Eleanor yang tubuhnya sudah kebas hanya duduk selama satu hari penuh.

__ADS_1


"Hmmm." Mata Baylor melirik ke  arah navigatornya. "Setengah hari lagi, Ele."


"Hufftt."


***


Jeplakkkk... (suara kepala Eleanor bersentuhan dengan kaca depan mobil)


"Duh, napa sih, Lor?" tanya Eleanor seraya mengusap-ngusap kepalanya yang sakit.


"Kenapa??" tanya Eleanor lagi dengan nada geram.


"Mobilnya mogok," jelas Baylor.


"Lah, udah nggak ada bensin?" tanya Eleanor lagi.


"Bukan, keknya masalah mesin, deh. Coba aku cek dulu, ya," tutur Baylor lalu pergi keluar dari mobil.


Tak berapa lama kemudian, terlihat dari kaca Baylor memberi tanda X pada Eleanor. Eleanor pun bergegas keluar.


"Nggak bisa, Nor," tutur Baylor. Ia mulai melihat sekitar yang sepi di tengah-tengah banyaknya pohon yang berhasil dibelah aspal. "Kayaknya kita harus jalan, nih. Ini udah dekat juga."


"Jalanan disini nggak ada taksi. Mau nggak mau besok pun kita harus jalan kaki. Mending sekarang kita langsung jalan, mumpung belum gelap-gelap amat," celoteh panjang Baylor.


"Yaudah, yuk!" ajak Eleanor setengah malas.


Mereka pun membuka pintu belakang dan mengeluarkan koper yang sudah dikemasnya itu.


Baylor menggenggam sebuah koper besar, sedangkan Eleanor hanya menenteng tas kecil. Keduanya berjalan cepat berharap perumahan itu segera menampakkan diri di tengah kesunyian yang sedang mereka jalani ini.


"Lor," ucapnya sedikit girang ketika melihat perumahan-perumahan. Namun, hanya terlihat gelap dari sana.


"Lor, kau yakin mau masuk?" tanya Eleanor sedikit takut. Sekujur tubuhnya mulai bergidik. Bulu kuduknya berdiri berjajar rapi.


"I-iya, harus," ujar Baylor namun ia berusaha keras menelan salivanya yang seperti tercekat sesuatu.


Eleanor mengenggam erat lengan Baylor dan lanjut mendekati kota Wideon.


Sesampainya di depan kota atau desa itu, keduanya menatap satu sama lain. Eleanor menggeleng-gelengkan kepalanya dan kakinya mulai mundur ke belakang. Namun, setelah melihat wajah mungil Eleanor, ia kembali lagi teringat janjinya kepada dirinya sendiri untuk membebaskan dan membantu Eleanor, bahkan dengan nyawanya sendiri.

__ADS_1


"Tidak, Ele. Aku bersamamu," ucapnya meyakinkan Eleanor dan menarik Eleanor memasuki kota itu.


Baru saja mereka melangkahkan kaki mereka melewati gerbang kota itu, tiba-tiba tanah di sekitar mereka berguncang hebat, hingga mereka pun tak sanggup berdiri dan tersungkur di tanah.


"Ele, kau tak apa-apa?" tanya Baylor pada Eleanor.


Belum sempat Eleanor menjawab, tiba-tiba di sekitar mereka muncul abu hitam tebal, tebal sekali hingga menutupi penglihatan mereka.


"Ele, berpegang padaku dan tetaplah bersamaku. Jangan sampai kita terpisah," ucap Baylor memberi aba-aba pada Eleanor.


Mereka mencoba merangkak keluar dari gumpalan asap itu. Namun, semakin mereka mencoba keluar, asap-asap itu semakin tebal dan tebal. Mereka sudah masuk dalam lingkaran setan! Tidak ada jalan keluar.


"Hahaha, siapa kalian? Berani sekali kalian menggangu ketenangan kami semua. Kalau kau sudah berani datang ke sini, maka seharusnya kau sudah tahu konsekuensinya. Kalian tak dapat masuk begitu saja kalau kau tak berhasil melewati tantangan dari kami. Kunci keberhasilan kalian adalah saling mengingatkan satu sama lain." Terdengar suara yang begitu menakutkan dan menyeramkan dari sekeliling mereka, seperti suara kuntil anak.


Gumpalan asap itu perlahan-lahan mulai menipis hingga kemudian hilang tak berjejak. Mentari menyinari mereka dengan begitu terik. Arwah panas mulai menyelimuti mereka. Entah apa yang terjadi, namun mereka mengalami panas yang luar biasa, seperti panasnya gurun pasir Sahara, padahal hari sudah sore.


Mereka mencoba melihat ke kiri dan ke kanan, lagi dan lagi, mencoba mencari arah datangnya suara, namun hasilnya nihil. Tak ada seorang pun di sana. Hanya ada rumah-rumah kosong yang tampak kumuh. Mereka memperhatikan sekeliling mereka dengan jeli, tidak ada satu pun jejak telapak kaki. Mereka menatap satu sama lain, menelan dengan susah payah air liur mereka sembari mengelap keringat dingin yang terus bercucuran.


"Aku tak tahu. Apa kau dengar apa kata suara itu? Kita harus menghadapi tantangan itu. Namun sepertinya sekarang tidak ada tantangan apapun selain teriknya matahari di sore hari," ucap Baylor, kemudian mereka terpatung dan tertegun.


Mereka seperti orang yang sudah kehilangan akal sehat mereka. Mereka berjalan mondar-mandir dan mencoba mencerna kejadian tadi sebelum suatu hal terjadi.


"Lor, lihat itu, itu ada kolam kecil. Mungkin kita bisa minum di sana," ucap Eleanor, kemudian menarik tangan Baylor menuju kolam yang letaknya lebih kurang 5 meter.


"Tunggu, Ele. Seingatku sebelum kita dikelilingi asap-asap itu tidak ada kolam di sana," ucap Baylor, menahan Eleanor agar tak ke sana.


"Siapa peduli? Aku tak mau mati karena dehidrasi," ucap Eleanor.


Eleanor berlari seperti seorang anak kecil menuju kolam itu. Baylor mau tak mau mengikuti Eleanor. Mereka terdiam sejenak dan memandang air di kolam itu. Eleanor kemudian membungkukkan badannya, berusaha mengambil air dengan telapak tangannya.


"Hahahaaa...." Suara tertawa itu hanya terdengar oleh Baylor. Ia mencerna dengan detail arti suara tawaan itu.


"Jangan meminum airnya, Ele! Airnya mungkin beracun. Kunci keberhasilan adalah dengan saling mengingatkan, kau ingat? Mungkin ini maksudnya, aku ingat persis tidak ada kolam tadi. Jangan tergoda, Ele!" ucap Baylor mengulangi kata-kata dari si misterius, mencoba menghentikan Eleanor untuk meminum airnya.


"Ya, kau benar," lirih Eleanor, ia kemudian segera membuang air di telapak tangannya dan menjauh dari kolam itu. Ia sepertinya sudah benar-benar dehidrasi.


Tiba-tiba, suara itu kembali terdengar. "Tantangan selanjutnya."


Mereka saling bertatap-tatapan penuh ketakutan seperti orang dungu sebelum tantangan selanjutnya dimulai.

__ADS_1


"Awas, Ele! Monster itu datang ke arah kita!" teriak Baylor lalu menarik Eleanor mendekat ke arahnya.


__ADS_2