
Ting tong ... ting tong....
Suara pencetan bel itu masih memekik di telinga Eleanor. Ia penasaran namun rasa takutnya melebihi apapun.
"Baylor?" gumamnya, memikirkan kemungkinan yang ada.
Dengan langkahan kaki pelan tak bersuara ia keluar dari pintu kamarnya dan melewati ruang tamu kecilnya namun tertata rapi itu. Kini ia telah berada tepat di depan pintu penuh misteri itu, entah siapa yang ada di balik pintu itu.
"Buka ... nggak, buka ... nggak?" Kepalanya miring, berpikir sejenak. Apakah harus ia buka? Apa yang harus ia lakukan setelah membukanya? Dan siapa itu?
Ia membalikkan badannya tegas, dingin dan meninggalkan pintu misteri itu.
"Tidak, tidak akan ku buka, siapa pun itu aku tidak peduli," batinnya sembari mempercepat langkahnya balik ke kamar tidurnya.
Bel itu sudah lama tidak berdering, tapi pikiran Eleanor terus saja memikirkannya.
***
Hari yang berbeda, matahari yang sama, penderitaan yang sama. Pernakah kalian berpikir, apabila matahari itu berbeda, bisakah segala penderitaan juga ikut berbeda? Sirna dari muka bumi ini begitu saja?
Tangannya mulai membasuh muka dan seluruh tubuhnya sama seperti hari-hari lainnya. Meskipun ini hari yang baru, tidak menjadikannya semakin bersemangat.
Eleanor telah siap bertempur di medan perang yang selalu sama, dan kemenangan yang hanya sebatas mimpi.
Roti panggang buatannya telah larut bersama aliran darahnya. Kakinya mulai beranjak dari kursi meja makannya dan menuju ke pintu misterius semalam.
Krekkk....
Mata Eleanor melongo melihat apa yang ada di depannya.
Sebuah keranjang? Keranjang bunga?
"Apa ini?" serunya. Wajahnya mendongak, mengedarkan tatapannya melihat ke kiri dan kanan, mencari tahu siapa yang meninggalkannya.
Ia menekuk lututnya dan mengusap lembut kumpulan bunga segar itu.
"Hmmm, mungkin salah alamat."
Tangannya menggeser kumpulan bunga dalam keranjang coklat itu sedikit lebih ke kanan. Menutup pintunya dan meninggalkan bunga itu dalam kondisi utuh terbengkalai.
Seseorang terlihat mendekati keranjang itu setelah kepergian Eleanor.
"Mungkin kau harus bertahan sedikit lebih lama, bunga," bisiknya, menunjukkan senyum sinis.
***
Sesampainya di kantor....
Mobilnya terparkir dalam keadaan sempurna. Ia mulai menenteng tasnya dan keluar menuju ruangan lift di ujung basement gelap itu.
Tok ... tok ... tok....
__ADS_1
Suara sepatu terdengar dari balik punggung Eleanor. Nampaknya seseorang mengikutinya.
"Hii, Ele sayang," sapaan menjijikkan itu keluar dari mulut Baylor.
Eleanor tersentak mendengar suara itu, tapi tak dihiraukannya. Ia kembali berjalan dengan penuh percaya diri, tak sekalipun tubuhnya menatap ke belakang.
Baylor mendekat ke arah Eleanor. Tubuhnya ia tempatkan tepat di sampingnya, menunggu bersama-sama lift itu datang menjemput mereka.
"Hahaha, jadi teringat masa-masa dulu, yah. Kita juga dulu gini sambil nunggu angkot," kata Baylor mengacak ingatannya untuk berkata demikian.
...
Tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut berat Eleanor. Ia hanya menatap gigih ke depan.
Ting....
Pintu silver lift membuka perlahan menyambut keduanya untuk masuk. Tetapi sepertinya lift itu akan berakhir ditinggalkan juga.
"Masuklah, aku akan menunggu lift selanjutnya," sahut Baylor lesu yang menyadari sebelahnya tak akan mau bersama dengannya di ruangan tertutup.
"Tidak perlu, aku akan naik tangga saja," balasnya cuek seraya mulai melangkahkan kakinya perlahan.
"Kalau kau naik tangga maka aku akan ikut denganmu. Bukankah lebih baik kau masuk lift saja? Aku tak akan mengikutimu lagi."
Mendengar hal itu membuat Eleanor berbalik arah dan bergegas masuk ke dalam. Wajah mereka berhadapan, tapi tidak dengan mata. Eleanor lebih sudi menatap ke arah sepatunya ketimbang manik mata indah milik Baylor.
Sedangkan Baylor, hanya tubuh Eleanor-lah yang dapat ia jamah dengan matanya, tidak dengan perasaannya.
Tepat setelah ia ditinggalkan sendirian, lagi, air matanya mulai menumpuk pada kelopak mata Baylor.
"Tuhan ... bagaimana caranya? Cara mendapat kembali kehangatan Eleanor."
Anggota kantor telah lengkap pada pagi cerah itu. Anehnya, hari itu tentram, tidak seperti hari lainnya. Baylor pun terlihat lesu, tidak mengusik sang ratu dingin, Eleanor. Begitu pula dengan Favid, sosok yang sebelumnya selalu punya segudang alasan itu kini hanya sebuah batu di tengah sekumpulan batu juga.
***
Eleanor telah balik ke kantor dari rumahnya, dengan kata lain selesai melewati rintangan menyakitkan.
Kalian masih ingat bos periang itu?
Ia berjalan dalam ruangan luas itu dari kantor indah pribadinya. Melewati beberapa bilik milik tim yang lainnya. Sepertinya tujuan akhirnya mengarah pada tim itu, tim Eleanor.
"Guyss ... guysss ... guysss," teriakan gembira terlontar dari mulut besar itu. "Kalian tahu ini musim apa, kan?"
Wajahnya berseri-seri sambil memainkan tangannya seperti mengisyaratkan ingin menggelitik satu persatu wajah muram itu.
"Manajer tim? Ayo! Semangat dulu."
"Ya, musim panas," jawab manajer tim yang tak kalah muram.
"Betul sekali. Tandanya...." Ia menarik-narik perkataannya seperti sesuatu yang menggelegar akan muncul sebentar lagi. "Pekan Kebersamaan telah tiba. Woohooo!"
__ADS_1
Kedua tangannya kandas terangkat ke atas. Menari-nari memutar dirinya dan perut buncitnya sendiri.
Namun, wajah tim itu hanya muram, menatap penuh layar terang itu.
"Woohooo!" teriak Baylor, mengikuti bos. Ia tidak tahu maksud sebenarnya dari pekan itu, yang membuat para anggota yang telah bertahun-tahun bekerja itu tampak tidak peduli.
"Yasshh, perajuritku yang bersemangat," tutur bos sembari berjalan mendekati Baylor dan memeluknya.
Baylor hanya tersenyum kaku dan terpaksa. Dirinya sesak napas dipeluk sang bos, seperti terinjak gajah yang besar.
"Huftt...."
"Vid, kok pada nggak semangat, sih. Kan pekan kebersamaan," desah Baylor yang baru saja terlepas dari injakan gajah, sebelumnya bos telah pergi meninggalkan mereka.
"Kamu nggak tau sih, disini pekan kebersamaan itu nggak sama seperti yang kamu rasain di kantor cabang. Liat dah ntar," balasnya malas.
Baylor hanya menatap bingung langit atap di kantornya, memikirkan arti ucapan Favid.
***
04:29 P.M.
Eleanor telah sampai di mobilnya. Ia bergegas mengendalikan kemudi dan keluar dari kantornya. Hari ini ia pulang terlalu terlambat, gegara kerja yang terlalu menumpuk.
Ia mengebut di sepanjang perjalanan. Membelah cepat di tengah keramaian lalu lintas.
Sesampainya ia di rumah....
04:55 P.M.
Angka itu tertera pada jam di tangannya. Ia bergegas memasuki lift yang telah terbuka cukup lama menunggu kedatangan para penumpang.
Tangannya menekan cepat angka 8 pada lift itu. Kakinya terus-menerus bergerak tanda kegelisahan yang tak kunjung mereda, malah makin menjadi-jadi.
04:58 P.M.
Alarmnya berbunyi lagi. Tetapi dirinya masih menunggu sabar di dalam lift pengap itu. Ini bahaya!
Selang beberapa detik mendekati semenit, Eleanor berhasil keluar. Ia berlari tergesa-gesa di sepanjang lantai itu.
"Nona...."
Suara terdengar entah dari siapa, suara itu tidak kunjung mengecil. Artinya, orang itu mengikuti Eleanor.
05:00 P.M.
Pukul 5 tepat!
Eleanor belum masuk ke apartemennya. Tangannya tepat di kenop pintunya, tinggal membukanya, tetapi....
"Nona!"
__ADS_1