
***
"Minori?" gumam Jaydenn.
Kini kedua pasang mata sudah bertemu satu sama lain tanpa berkedip sekali pun, setetes cairan bening tertahan di ujung mata keduanya. Tatapan itu adalah tatapan hangat yang sudah sangat dirindukan nan dinanti-nantikan keduanya.
"Papa? Apa yang harus kulakukan? Berlari dan memeluk papa atau haruskah ku berlari menjauhi papa sekali lagi?" pikir Eleanor.
"Ele, itu Papamu, kan?" tanya Baylor, membuyarkan tatapan Eleanor.
"Ya, Lor. Kita harus pergi sekarang," ujar Eleanor lalu menarik tangan Baylor dan segera berlari menjauhi kerumunan, berlari tanpa henti, berlari tanpa arah, tujuannya hanya satu: pergi menjauhi ayah tercintanya ... sekali lagi.
"Ele, kenapa kita berlari terus? Kau tak mau berjumpa dengan Papamu?" tanya Baylor seraya menoleh ke arah Eleanor sembari berlari bersamanya.
Larian Eleanor terhenti, ia terpatung di tempat, pikirannya berputar mengulangi ucapan Baylor seperti radio rusak.
"Ele?" tanya Baylor, memastikan keadaan Eleanor.
"Ya?" gumamnya setengah sadar.
"Kau tak apa?" ujar Baylor sambil menggenggam erat kedua tangan Eleanor karena Eleanor tampak linglung.
"Ya. Kita sudah pergi dari sana, kan?" ucap Eleanor, matanya tampak ketakutan.
"Ya, Om Jaydenn di sana dan kita di sini. Kau yakin dengan keputusanmu?" ujar Baylor.
"Ya, kita kan sudah sepakat untuk tidak menemui satu pun orang tua kita sampai semua ini selesai," ujar Eleanor kemudian berjalan kembali menuju hotel.
Terdengar suara isakan halus yang terpaksa dibungkam. Eleanor tetap berusaha berjalan dengan tubuhnya yang terlihat tidak bertenaga. Tiba-tiba kakinya tertekuk lemah. Untungnya berhasil ditahan Baylor sehingga tubuh Eleanor tidak jadi terjatuh. Ia berada dalam genggaman Baylor dalam keadaan tidak sadar. Dengan sigap Baylor menggendongnya dan berlari menuju hotel yang tidak begitu jauh lagi.
Baylor membaringkannya di atas kasur kamar Baylor. Ia tahu temannya ini sangat sakit dalam hatinya, luka yang belum sembuh diperparah dengan goresan luka baru. Ia tahu yang Eleanor lakukan adalah karena kasih sayang seorang anak pada ayahnya. Ia tahu dan mengerti kesedihan Eleanor. Ia tidak mau Eleanor lebih sakit hati lagi daripada ini. Baylor berdiri dan menulis note untuk Eleanor yang masih tidak sadarkan diri.
Kakinya langsung bergerak secepat mungkin keluar dari hotel dan mencari taksi untuk mencari buku itu seorang diri.
"Tidak! Kau lihat saja, akan kupatahkan ketidakadilan-Mu ini," umpat tegas Baylor menatap ke atas.
***
(Jayden POV)
"Minori?" Jayden hendak meninggalkan kursi dan teman-temannya. Namun, tiba-tiba ia melihat anak semata wayangnya pergi berlari meninggalkan tatapan mereka. Ia langsung keluar dari cafe itu dan mengejar Minori-nya (panggilan sayangnya untuk Eleanor). Seberapa jauh pun ia berlari, ia tak dapat mengejar dengan tubuhnya yang lama-kelamaan kian menua.
__ADS_1
"Apa itu kau, Nori? Atau seperti biasanya Papa hanya berkhayal saja? Minori ... Papa mohon kembalilah, Nak. Papa merindukanmu sekali, Nori," doa Jayden dalam hatinya.
Ia melihat ke atas langit yang mulai senja dan memijat kedua pelipisnya. Terlihat seperti memohon pada Yang Maha Kuasa.
***
Mata cantik wanita itu membuka perlahan menyesuaikan dengan cahaya di ruangan itu. Ia masih bingung dan mencari-cari Baylor hingga menemukan sebuah kertas kecil bertuliskan, 'Istirahatlah'.
Eleanor mengambil telepon genggamnya dan menekan nama Baylor dalam kontaknya.
Tuttt ... tutt....
Tidak ada jawaban telepon dari Baylor. Eleanor terus menelpon dan selalu sama setiap waktu. Ia menunggu kedatangan Baylor sembari mondar-mandir dalam ruangan hotelnya, seperti orang bodoh yang tak tahu mau mengerjakan apa.
Setelah waktu yang sangat lama, pintu itu tetap tidak mau membuka menampilkan seseorang yang ditunggu-tunggunya juga. Ia terus menelpon terus dan terus.
Akhirnya ia teringat sesuatu dan bergegas mempersiapkan semuanya sebelum ia terlambat.
***
Di perpustakaan....
Baylor tetap mencari menyusuri semua rak perpustakaan itu, meskipun matanya perih sekali. Dering telponnya ia urungkan agar fokusnya tidak buyar. Berkali-kali ia masuk dan keluar dari perpustakaan yang berbeda. Hingga sampailah ia ke perpustakaan yang pernah ia kunjungi sebelumnya namun tidak sempat menyusuri semuanya dengan jelas.
Lama sekali untuk menyelesaikan pencarian satu buku itu karena rak berisi buku hanya fantasi pun terlampau banyak. Setelah semua rak selesai, ia sekali lagi melihat ke bilik-bilik rak memastikan sudah diperiksanya semuanya. Ternyata sama saja seperti puluhan perpustakaan lain, disini pun tidak ada.
Jujur, ia putus asa. Sepertinya harapannya sangat susah diwujudkan. Dengan wajah lesu dan tubuh letih ia berjalan turun dan keluar dari gerbang itu. Saat ia menghela nafas dan hendak menuruni anak tangga, matanya tidak sengaja tertuju pada sebuah kardus coklat terbuka yang terisi banyak buku.
"Fantasi?" gumamnya ketika melihat cover peri dan judulnya juga tampak fantasi. Ia langsung masuk dan menanyai wanita pekerja resepsionis.
"Kak, maaf. Itu buku di luar apa boleh saya liat?" tanyanya sembari menunjuk tangannya ke arah luar.
"Silakan, Mas. Buku itu sudah mau dijual namun sampe sekarang belum ada pembelinya," ujar wanita itu sontak membuatnya terkejut dan mulai berharap.
Baylor langsung lari keluar dan mencari buku yang ditumpuk tak seberapa itu dengan semangat. Ia melihat satu-satu judul dengan teliti walaupun matanya memerah perih.
Matanya terbuka bulat ketika melihat satu judul yang tidak asing.
"Ini? Yaaa! Inii!!" serunya langsung menjamah bukunya dan berdiri melompat. Senyum tak dapat tertahan di bibirnya.
Baylor langsung masuk dan menawar harga membeli buku terjual itu.
__ADS_1
"Elee, akhirnya. Tunggulah aku disana," batinnya.
***
"Prof, ada kabar gembira," seru Sofia yang langsung beranjak dari kursi kerjanya dan meloncat-loncat kecil tanda kegirangan.
"Ya? Kau sudah menemukannya?" ujar Catoo tak kalah girang.
"Belum, namun aku sudah mendapat sinyal dari telepon genggam Eleanor dan bisa kubajak."
"Benarkah? Dimana dia sekarang?"
"Kota Delson."
"Baiklah, lanjutkan tugasmu. Aku tak mau kehilangan makhluk langka itu."
"Siap, Professor."
***
"Aduh, Baylor ke mana, sih. Udah malam juga. Bisa-bisa ntar gagal lagi," gerutu Eleanor sendirian di kamar hotelnya.
Ia tak henti-hentinya menelepon maupun mengirim pesan pada Baylor. Ia tak akan begitu khawatir kalau hari masih sore. Pasalnya saat ini waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam dan tak ada kabar dari Baylor sama sekali.
"Ayolah, setidaknya kirim pesan padaku agar aku tidak begitu risau memikirkanmu," omel Eleanor, kaki mulusnya tak berhenti mondar-mandir, sedangkan pikirannya tak berhenti memikirkan Baylor.
Tingg...
Eleanor yang mendengar dentingan suara langsung mengecek handphone-nya tanpa babibu. "Tunggu sebentar lagi, Ele. 5 menit lagi sampai. Aku punya hadiah untukmu."
Terulas senyum tipis di wajahnya sesaat setelah membaca pesan singkat dari Baylor.
"Ah, aku harus cepat atau rencanaku akan gagal lagi," ucapnya pada dirinya sendiri.
Tak sampai 5 menit, ada yang mengetuk pintu kamar Eleanor.
Tok ... tok ... tok....
"Ele?" panggil Baylor dari luar.
"Masuk saja," teriak Eleanor, tangannya dengan hati-hati memegang sebuah kue ulang tahun yang cantik sekali.
__ADS_1
Tepat saat Baylor membuka pintunya....
"SURPRISEE!!!" teriak Eleanor yang membuat Baylor terkejut setengah mati dengan cahaya kecil menyala dari lilin di tengah gelapnya ruangan.