The CURSE : Deadly Game

The CURSE : Deadly Game
● SIXTEEN ●


__ADS_3

"Monster? Di mana?" tanya Eleanor bingung.


"Di sana. Monster yang datang itu sama seperti monster saat kau berubah. Aku tak bisa menyakitinya, Ele," ucap Baylor lagi, ia nampak panik dan ketakutan sekali.


"Awas, Ele!" teriaknya lagi lalu mendorong Eleanor menjauh dan tersujud di tanah.


"Baylor, sadarlah! Ini semua hanya halusinasi. Halusinasi, Baylor! Aku tidak melihat monster sama sekali," terang Eleanor, mencoba menenangkan Baylor.


"Aku tidak bisa menyakiti monster itu karena monster itu adalah bagian dari dirimu, Ele. Ke mana perginya monster itu?" tanya Baylor sesaat setelah memperhatikan sekelilingnya dan tak menemukan satu pun monster.


"Kau berhalusinasi, Lor. Kau tahu, saat kau sudah dehidrasi kau akan berhalusinasi. Jim Button and Luke! Kau ingat film itu? Mereka juga berhalusinasi saat mereka mengalami dehidrasi di padang pasir," terang Eleanor.


Baylor terduduk tertegun, mencoba mencerna ucapan Eleanor. Ia sendiri bingung dengan dirinya sendiri. Bagaimana bisa ia sendiri tak bisa membedakan manakah yang asli dan yang palsu? Apa ini semua ada kaitannya dengan sihir?


"Ini semua nyata, Eleanor Devacio! Kau hanya bisa menyelamatkan pasanganmu dengan membunuh dirimu sendiri atau monster itu akan membunuhnya. Kau paham? Kalau kau mati, monster itu akan ikut lenyap dan pendampingmu akan selamat." Terdengar suara misterius itu kembali di telinga Eleanor. Kata 'mati' terus terngiang di telinganya.


"Aku salah, semua ini nyata! Maafkan aku, Lor, aku tak bisa menepati janjiku padamu. Mungkin ini adalah jalan yang terbaik untuk kita," ucap Eleanor dengan isakan yang tak dapat ditahannya, lalu berusaha mencekik dirinya sendiri.


Tentu saja Baylor yang melihatnya menjadi panik bukan main, ia berusaha sekuat tenaga untuk menghentikan tingkah Eleanor itu.


"Hei, Ele! Eleanor Devacio! Apa yang kau lakukan? Jangan!" bentak Baylor seraya menggenggam erat tangan Eleanor.


"Kau benar, Lor. Ada monster. Tadi ia mengatakan kalau bunuh diri akan dapat menyelamatkanmu dari monster itu. Monster itu akan lenyap bersama denganku. Ya, jangan hentikan aku, Lor. Aku harus mati supaya kamu selamat," ucap Eleanor kemudian menepis kasar tangan Baylor dan berusaha melakukan aksi bunuh diri lagi.


"Eleanor Devacio! Hentikan ini semua! Kau pernah bercerita saat kau mencoba bunuh diri kau malah bertambah parah, Ele. Kunci keberhasilan adalah saling mengingatkan. Aku tak mendengar suara sama sekali, Ele. Jangan terkecoh dengan tipuannya!" ucap Baylor sambil menahan wajah Eleanor, memaksa sahabatnya itu untuk menatapnya dan kembali tenang.


"Ya, kau benar, Lor," lirih Eleanor terengah-engah.


"Tantangan berhasil!" Lagi-lagi suara tak dikenal itu kembali muncul.


Mereka menatap satu sama lain, berbahagia sejenak sambil beristirahat. Matahari sudah kembali normal dan kolam kecil itu sudah menghilang. Mereka akhirnya menyadari kalau itu semua hanyalah tipuan dan berdiri kembali, bersiap memulai misi mereka.


Baru saja beberapa langkah, mereka mulai melihat wanita-wanita di depan rumah mereka yang menatap Eleanor dan Baylor dengan tatapan yang mengerikan, lalu menghilang begitu saja.


Perumahan itu sungguh gelap, tidak ada lampu. Terlebih lagi wanita-wanita itu berpakaian serba hitam dan rumah mereka juga tampak tidak berwarna.


Eleanor hanya fokus kepada jalannya dan menatap ke bawah sembari mengeratkan genggamannya yang semakin lama semakin kuat pada Baylor. Sama juga seperti Eleanor, tetapi Baylor mencoba lebih berani demi sahabatnya dan mulai mencari jalan Boster.


Beberapa jalan kecil telah mereka lewati, hanya beberapa jalan lagi ke depan yang bakal mengakhiri perumahan di kota itu.

__ADS_1


"Ele," sahut Baylor seraya tangannya naik menunjuk suatu jalan kecil, "Jalan Boster."


Keduanya langsung cepat-cepat belok ke jalan itu dan mencari nomor 04.


"Ketemu!" seru Eleanor.


Namun, rumah itu tidak jauh berbeda dengan rumah-rumah lain di kota itu. Rumahnya tidak berwarna, gelap, kumuh, tanamannya kelihatan susah untuk tetap hidup disana.


Baylor memberanikan diri jalan mendahului Eleanor.


Tokk ... tok ... tok....


Mereka menunggu jawaban dari pemilik rumah. Keduanya hanya berani menatap satu sama lain, terlalu mengerikan untuk melihat sekitar.


Tidak mendapat balasan. Baylor pun mengetuk lebih keras lagi berkali-kali.


Krekk....


"Siapa?" ujar seseorang dengan suara yang berat. Bahkan hanya suara pintu terbuka mampu membangkitkan jantung orang mati berdetak kembali.


Eleanor mengendalikan nafasnya yang sedikit ketakutan.


Wajah seorang wanita yang mungkin sekitar usia 40an muncul di hadapan mereka. Rambut panjang sedikit keriting wanita itu sedikit memberikan efek mengerikan layaknya hantu di film-film horror.


"Santi Miadami?" Suara pertama dibuka oleh Baylor. Eleanor tidak berani melihat wanita itu. Ia bersembunyi di balik tubuh Baylor.


"Saya sendiri. Ada perlu apa?" tanya wanita itu. Entah mengapa suaranya menghantarkan hawa dingin ke telinga Eleanor dan Baylor.


"Buku We (Mons---," ucapan Baylor terpotong. Wanita itu, Santi langsung menarik Eleanor dan Baylor masuk ke rumahnya dan menutup pintu rumahnya rapat-rapat setelah sesaat memastikan sekitarnya apakah ada yang mendengar perkataan Baylor.


"Apa kalian gila?" tanya Santi dengan suara yang setengah berbisik. "Kalian tahu kota apa ini?" lanjutnya.


"Ya, kita sering dengar kota ini penuh misteri," kata Baylor dengan sedikit takut.


"Ini kota PENYIHIR!" seru Santi dengan tatapan mengerikan dan wajahnya yang sedikit maju sehingga memundurkan tubuh Baylor. Sedangkan Eleanor yang masih berdiri di balik Baylor memerhatikan dengan fokus ke seluruh ruangannya.


Rumah itu sangat angker, boneka-boneka menghiasi lemari. Hanya cahaya redup yang berasal dari beberapa lilin yang menyinari rumah itu.


"Pe--pe--penyihir?" tanya Eleanor terbata-bata dan memunculkan sedikit kepalanya dari belakang Baylor menghadap Santi Miadami.

__ADS_1


"Iya, ada perlu apa kalian kesini?" tanya Santi dan mempersilakan mereka berdua duduk di sofa hitamnya.


"Apakah kau juga salah satu dari mereka?" tanya Eleanor tiba-tiba.


Santi langsung berbalik ke arah Eleanor. "Iya," jawabnya dengan tatapan tajamnya.


Keduanya langsung ketakutan parah. Pernyataan apalagi yang lebih ngeri daripada ini.


"Benarkah kamu yang menulis buku itu?" tanya Baylor setelah duduk.


"Ya!" Santi menajamkan matanya melihat mereka berdua. "Hahh, Kau TERKUTUK!" Santi terlihat terkejut ketika melihat manik mata Eleanor hingga kedua matanya melebar sempurna. "Kau monster!" katanya lagi.


"Aku terkutuk?" tanya Eleanor dengan tangan menunjuk dirinya sendiri. "Apa maksudmu? Siapa yang mengutukku?!" Eleanor terlihat bingung dengan ucapan Santi.


"Ada seorang penyihir mengutukmu. Aku tidak tahu siapa dia," ujar Santi.


"Bisakah kau tolong sembuhkan dia? Aku tak keberatan harus membayarmu berapa pun juga," tutur Baylor langsung, segera setelah wanita itu menyelesaikan perkataannya.


"Tidak! Itu terlalu berat! Tidakkah kamu liat dalam bukuku? Aku tidak bisa, kalau bisa maka laki-laki itu telah sembuh sekarang,"


"Maksudmu? Itu cerita nyata?" tanya Eleanor tidak percaya apa yang didengarnya.


"Iya, itu nyata!" Kedua mata mereka membulat sebulat-bulatnya mendengar perkataan penyihir itu.


"Adakah solusinya? Kumohon," mohon Baylor dengan mengatupkan kedua tangannya. Eleanor tidak bisa membendung air matanya setelah mendengar pernyataan sedih itu.


"Ada, tapi sangat berbahaya, hampir mustahil rasanya," sahut Santi yang setidaknya memberi harapan pada Baylor dan Eleanor.


"Bagaimana? Aku tak keberatan untuk melakukannya," ucap Baylor alih-alih Eleanor.


"Kalian yakin bisa? Aku tidak main-main, nyawa kalian taruhannya," Perkataannya terus menyiang di telinga Eleanor. Ia takut, sangat takut.


"Ya, aku yakin. Apa itu?" tanya Baylor, lagi-lagi bukan Eleanor yang mengatakannya.


"Bagaimana denganmu? Nona monster?" tanya Santi dengan senyum menakutkannya merujuk ke arah Eleanor.


"A-apa itu? Aku mau tahu," balas Eleanor meskipun ia takut ia tetap penasaran dan ingin tahu.


"Buku," katanya singkat sekali. Tatapannya terlihat tajam dan menusuk ketika mengatakan kata itu.

__ADS_1


"Buku apa itu?" tanya Baylor dengan mata penasaran dan kepala memiring.


"The CURSE : Deadly Game."


__ADS_2