
***
Seorang pria berbadan tegap yang tengah terbaring di tempat tidur luas empuk itu membuka matanya perlahan-lahan, sesekali mengedipkan matanya karena sinar terang putih yang dipancarkan dari bola lampu sangat terang hingga menusuk matanya yang baru saja terbuka lemah. Berbanding terbalik sekali dengan hatinya yang dihinggapi oleh cahaya kegelapan, membuatnya gundah sekali.
Setelah sepasang matanya yang sudah terbuka sempurna mendapati dua pasang mata tengah memelolotinya bersamaan, sontak membuatnya terkejut dan langsung meloncat bebas di tempat tidur serta nyaris terjatuh.
"Hei, hei, tenang, Vid," ucap Baylor mencoba menenangkan Favid yang masih syok.
"Jangan mendekat!" bentak Favid meregangkan sebelah tangannya ke arah keduanya, melarang mereka untuk menyentuhnya.
"Favid, tenangkan dirimu dulu," ujar Eleanor lembut, perlahan-lahan menuntun Favid untuk duduk kembali di tepi tempat tidur.
Setelah beberapa saat telah ia habiskan untuk menenangkan diri, Favid mulai bersuara kembali. "Okay, sekarang coba jelaskan dari awal," katanya dengan mata tertutup masih berusaha meyeimbangkan nafasnya.
"Kau yakin kau sudah siap?" tanya Baylor berhati-hati.
"Ya, aku sudah siap," ucap Favid pelan.
Baylor dan Eleanor mulai menceritakan dari awal hingga sekarang bagaimana dan sejak kapan Eleanor bisa berubah menjadi monster yang mana sampai sekarang belum diketahui jelas penyebab kutukannya.
"Bagaimana hal itu bisa terjadi?" tanya Favid yang belum mengerti sepenuhnya.
"Aku sendiri tak tahu bagaimana aku bisa terkutuk," ujar Eleanor pelan, air matanya mulai mengalir deras membasahi pipi tirusnya.
"Untuk itu sekarang kami sedang berusaha mencoba menghentikan kutukannya. Sekitar seminggu yang lalu kami pergi mencari seorang penyihir dan katanya jalan keluar satu-satunya hanyalah buku itu," ucap Baylor kemudian menunjuk ke arah buku yang terbuka baru beberapa halaman.
"Maksud kalian menghentikan yang mana? Monster atau tubuh hilang?" tanya Favid terbata-bata.
"Keduanya," ujar Eleanor dan Baylor kompak.
"Favid, apa kau janji kau akan merahasiakan ini semua? Apa kau takut padaku?" tanya Eleanor dengan nada sendu, menahan tangis terlalu rumit dan susah baginya meskipun berkali-kali Baylor sudah mencoba menenangkannya.
"Ya, aku janji aku akan merahasiakannya dengan seluruh usahaku. Aku takut, tapi ini bukan saatnya untuk itu. Aku juga tahu kau akan tetap baik meski menjadi monster. Sekarang katakan padaku, apa yang bisa kubantu," ucap Favid sembari menggenggam tangan Eleanor.
__ADS_1
Hal itu bukan saja membuat Eleanor tak nyaman, namun juga membuat Baylor membelalakkan matanya lebar sekali. Untung saja Baylor mencoba memahami situasi kini dan bersikap dewasa, tidak ingin membuatnya semakin genting, kalau tidak maka Favid akan dihajarnya hingga babak belur hingga menyerupai belut.
"Kita harus bisa masuk ke dalam sebuah permainan melalui buku itu. Namun, aku dan Baylor masih tak paham bagaimana caranya dan apa yang harus dilakukan," ucap Eleanor seraya menarik tangannya keluar dari genggaman Favid.
Ia kemudian menyeka sendiri air matanya, berusaha agar tidak membiarkan air matanya tumpah lebih banyak lagi ke dalam wadah hidupnya.
"Kuncinya ada pada buku itu dan kami sedang membacanya. Begitu kami menemukan kuncinya lalu masuk dan memenangkannya, maka Eleanor akan bebas," ucap Baylor sembari berjalan mengambil bukunya.
"Baiklah, sebaiknya kita mulai membacanya. Tapi, bagaimana bisa 3 orang membaca 1 buku?" tanya Favid, sepertinya sifatnya yang humoris kembali hadir pada dirinya.
"Kau ini," ucap Eleanor sambil menggelengkan kepalanya pelan dan senyum mulai meraih wajahnya.
"Teknologi kan sudah maju. Kalo nggak dimanfaatin dengan baik kan kasihan peneliti dan penemunya," ucap Baylor.
Kemudian Favid pun menarik ponselnya keluar dari sakunya setelah mendengar usul Baylor dan mengambil gambar satu per satu halaman buku itu dengan ponsel canggihnya.
Sedangkan Eleanor dan Baylor membacanya bersama hingga wajah mereka hampir menempel, membuat Favid iri dengan kedekatan mereka. Namun, apa daya Favid, ia sudah bertekad dan berjanji kalau ia akan membantu Eleanor dan Baylor, dan akan mengesampingkan perasaannya terlebih dahulu.
***
"Ini tak bisa dibiarkan, kalau mereka sudah memenangkan permainan itu, maka monster kesayanganku akan musnah selamanya. Kita harus bisa menyita buku itu, lenyapkan dari muka bumi ini!" bentak Catoo setelah mendengar setiap rinci dan inci cerita penuhnya dengan nada penuh amarah yang menggelegar di ruangan petak yang tak begitu besar itu.
"Pikirkan caranya. Lakukan apa saja," bisik Catoo di telinga Sofia, membuat bulu kuduk Sofia berdiri tegak.
"Baik, Prof!"
***
Selama berjam-jam, mereka masih membaca buku itu.
Singkat cerita dari buku itu adalah sejarah terciptanya penyihir dan kutukan jahat. Kau ingin tahu kisahnya? Baiklah, akan kuceritakan padamu.
Berabad-abad yang lalu, lahir seorang putri yang menerangi sebuah kerajaan biasa. Putri itu tumbuh besar menjadi pribadi yang baik, dan tanpa disadarinya ternyata ia memiliki segenap kekuatan yang tidak terbendung dan tidak bisa dikendalikannya. Ia menggunakan kekuatan itu untuk membantu para tertua dan orang yang kesusahan di kerajaanya sehingga negeri itu berkecukupan dan damai sentosa.
__ADS_1
Hingga suatu saat putri tidak sengaja bertemu dengan seorang pemuda di sebuah festival tahunan. Mereka menjadi semakin dekat seiring umur mereka dan jatuh cinta satu sama lain. Suatu saat sang pemuda memberitahu fakta yang sebenarnya, bahwa ia adalah seorang pangeran yang menyamar dari kerajaan sebelah yang terkenal akan kekuasaannya. Kerajaan itu adalah yang terbesar dan terkaya.
Sang pangeran berkeinginan meminang sang putri dari kerajaan kecil dan biasa. Sang putri tidak segan langsung menerimanya dan meminta izin dan restu dari kedua orang tuanya. Tibalah saat keduanya ingin kembali ke kerajaan sang pangeran untuk meminta restu menikah.
Sesampainya disana, hanya berita buruk yang diterimanya, sampai hinaan kepada orang tua sang putri yang tidak bersalah pun terucap dari mulut kedua orang tua calon suaminya.
Sang putri tidak bisa menahan dirinya menerima umpatan tentang keluarganya. Amarahnya memecah hingga kekuatan besarnya yang hanya untuk membantu orang tidak dapat ditahannya dan berakhir mengutuk sang raja dan ratu dari kerajaan terkemuka.
Sejak saat itulah, sang putri melarikan diri dan mendirikan kerajaannya sendiri mengajarkan kutukan-kutukan dan ilmu hitam kepada para pengikutnya. Semua ini terjadi karena cintanya tidak pernah terwujud.
***
Beberapa jam sudah hingga akhirnya semua isi buku itu pun terkuak. Namun, halaman tengahnya sangat aneh. Bukan hanya halaman tengahnya, halaman terakhir dari buku itu pun sangat penuh misteri.
Halaman tengahnya terdapat sebuah lubang gelap tiada akhir, lalu di ujung kanan bawah terdapat tulisan 'chéri'.
"Apa artinya?" tanya Eleanor.
Kini ketiga pasang mata bertemu satu sama lain secara bergantian, tak mengerti maksud dan tujuan kata itu.
"Ele, bukankah kau dulu suka belajar bahasa asing? Coba kau ingat-ingat sedikit," ujar Baylor.
"Chéri, chéri, chéri," ucap Eleanor, terus-menerus sembari memusatkan perhatiannya pada satu kata, mencoba mengingat arti kata itu karena kata itu sebenarnya tak asing baginya.
"Kefáli, ómos, ta pódia, chéri. Tangan! Aku ingat sekarang. Chéri artinya tangan dari bahasa Yunani kalau aku tak salah ingat. Ya, tangan!" seru Eleanor, bahagia sekali sampai melompat kegirangan yang juga dibarengi senyum kedua orang di sampingnya.
Ia kemudian mencoba meletakkan tangannya di atas lubang hitam itu, mencoba semua posisi, tetapi tetap tidak membuahkan hasil. Hal itu terjadi bertolak-belakang sekali dengan yang mereka harapkan.
Mereka melompati halaman itu dulu, hingga ke ujung buku itu, terbitlah lagi misteri sang misteri. Pada halaman terakhirnya, tercetak dua gambar.
Gambar pertama terlihat seorang penyihir dengan topi hitam meruncing menghadap ke kanan, melihat sebuah kodok kecil berdiri di atas sebuah meja.
Sedangkan pada gambar kedua terlihat seorang penyihir lagi yang sama dengan yang pertama, semuanya sama hanya saja kodok itu membesar, bahkan tingginya melebihi sedikit penyihir itu.
__ADS_1
Lalu siap sudah perjalanan buku itu, bertuliskan 'THE END' pada akhir dari bukunya yang menyisakan ketanggungan berupa berbagai misteri tidak terpecahkan.
"Apa maksudnya?"