
***
Keesokan harinya....
Sepasang tubuh segar terlihat masuk ke sebuah perpustakaan kecil yang tidak jauh dari hotel, hanya perlu 43 langkah kaki untuk sampai ke ruko kuno yang sedikit terlupakan. Tidak perlu susah-susah mengeluarkan jerih payah untuk mencari buku di tempat itu. Pasalnya buku disana hanya sedikit, apalagi buku fantasi yang hanya terus ditertawakan kaum dewasa.
Dengan mata jeli bersemangat mereka setelah istirahat yang cukup memuaskan, waktu banyak tidak dibutuhkan untuk mencari sebuah buku yang telah pasti namanya.
Terlihat segera setelah mereka masuk, tidak lama kemudian telah keluar kembali dan melanjutkan mencari buku pintu keadilan itu di tempat perpustakaan lain.
Seharian itu hanya berlalu dengan kaki berdiri mencari buku berjudul itu. Keduanya memutuskan untuk mencarinya besok setelah menjalani beberapa perpustakaan.
"Bye!"
Tangan Baylor melambai ke arah Eleanor yang terlebih dahulu masuk akibat paksaan Baylor. Padahal Eleanor ingat melihat punggung Baylor masuk terlebih dahulu.
Namun, ketika dirasa Baylor sudah memasuki kamar hotelnya, Eleanor mengendap-endap keluar dan berjalan cepat keluar dari kamarnya dan juga dari hotel. Entah kemana dirinya pergi, padahal waktu sudah terlewat malam.
***
Kringg ... kringg ... kring....
Jam masih menunjuk angka 6 pagi. Apa yang dilakukan jam Eleanor sepagi itu?
Eleanor bergegas beranjak dari kasurnya dan membuka kantongan plastik yang masih terisi penuh. Ternyata barang-barang itu semua dibeli Eleanor larut malam kemarin.
Iya membuka resep membuat cake kukus dan mulai memasukkan bahan-bahan yang tertulis dan mengikuti seluruh arahan situs itu.
"Akhirnya, siap juga," gumam Eleanor saat hanya tertinggal langkah terakhir, mengkukus adonan itu.
Ia mengeluarkan panci yang disediakan pemilik hotel dan mulai menyalakan api listrik dengan panci berisi adonan kue di atasnya.
Ia minggat sebentar ke tepi kasur dan merebahkan dirinya. Tidak lupa ia juga mengatur alarm 30 menit dari sekarang agar membangunkan dirinya, jaga-jaga kalau ia tertidur.
Tidak butuh semenit Eleanor telah tidur terlelap dan mengeluarkan suara dengkuran keras yang menjadi pertanda ia kelelahan.
Tiga puluh menit berlalu, namun alarmnya tidak kedengaran dan bahkan tidak berbunyi. Bau gosong mulai tercium di seluruh ruangan, tetapi tidak diindra oleh hidungnya.
Tokk ... tokk ... tokk....
Pukul 7 saat itu, dimana merupakan perjanjian bertemu Eleanor dan Baylor. Tak kunjung mendapat balasan, Baylor mengetuk lebih keras lagi. Ketukannya terhenti ketika bau asap keluar dari kamar hotel Eleanor. Ia bergegas berlari ke tempat resepsionis dan meminta kunci kartu cadangan dengan alasan bau asap itu.
"Ele, Ele!" teriak Baylor sembari men-scan kartu itu. Segera ia berlari ke dalam dan menemukan Eleanor terbaring di atas kasurnya. Tidak terpikirkan olehnya ia tertidur, melainkan tidak sadarkan diri yang langsung menyusup ke otaknya.
__ADS_1
Dengan paniknya ia langsung menepuk-nepuk keras pipi Eleanor.
"Awww!!"
Hanya dengan sekali tamparan Eleanor telah terbangun kesakitan.
"Ele, kau tidak apa-apa? Mana yang sakit?" tanya Baylor sesaat setelah ia terbangun.
Eleanor tersentak ketika melihat Baylor dalam keadaan mata masih buram. Ia linglung dan mencium bau tidak enak. Sontak terpikirkan olehnya kue kukusnya. Ia langsung berlari ke dapur kecil hotel meninggalkan Baylor yang masih bingung dan mematikan kompor listriknya.
"Huhuuuuu," rengeknya kesal dengan kebodohannya sendiri. Alhasil kue itu gosong dan tidak bisa dimakan lagi.
"Ada apa, Ele?" tanya Baylor kebingungan melihat kegiatan membuat kue yang tidak seperti Eleanor biasanya.
Eleanor membuang muka dan berucap kecil, "Kamu kan ulang tahun."
Pipi Baylor seketika bulat akibat mulutnya yang tersenyum sangat lebar memamerkan deretan gigi putihnya yang telah disikat tadi. Ia mendekat ke arah Eleanor dan mencubit pipinya.
"Manisnyaa. Woooo," sahut Baylor dengan kepalanya yang digelengkan-gelengkan mengikuti tangannya yang masih mencubit lucu pipi Eleanor.
"Udah, udah, jangan cemberut lagi, nanti jelek loh," lanjutnya lagi gemas.
Muka Eleanor malah semakin cemberut mendengar perkataan Baylor.
Eleanor dengan muka kesalnya langsung pergi dari tempatnya berdiri dan menghentakkan kakinya keras mengambil bajunya dan masuk ke toilet untuk mandi. Sedangkan Baylor masih senyum-senyum sendiri, tidak tahan dengan perilaku orang yang disayangnya.
***
Di lain tempat....
"Bagaimana dengan perkembangannya, Sofia?" tanya seorang pria bertubuh pendek kepada seorang pelacak handal.
Ya, tak usah ditanya lagi, ia adalah Catoo si pria bertubuh pendek itu, professor yang mencoba menculik Eleanor.
"Belum, Prof. Jejak terakhir mereka ditemukan di apartemen #### (tempat tinggal Eleanor dan Baylor). Namun, tampaknya mereka sudah meninggalkan kota ini sekitar 5 sampai 6 hari yang lalu," ujar Sofia.
"Kalau begitu lanjutkan pencariannya. Aku tak mau kehilangan mereka lagi," tutur Catoo dengan nada penuh ancaman sambil menggebrak meja, yang membuat Sofia tak berani berkata-kata dan langsung kembali fokus pada layar komputer dan jemarinya dengan lincah mengetik kata-kata aneh pada keyboard-nya.
***
"Ele! Kenapa hari ini lama sekali," ujar Baylor sambil mengetuk pintu kamar mandi Eleanor.
"Duduk saja dan kerjakan kesibukanmu. Aku akan keluar sebentar lagi," teriak Eleanor dari dalam kamar mandi.
__ADS_1
"Kau sungguh lamban seperti kura-kura, Ele. Bahkan kura-kura pun harusnya lebih cepat," omel Baylor.
Eleanor yang sedang tidak ingin berdebat dengan Baylor hanya mendiamkannya dan melanjutkan mandi sesukanya seakan tidak ada yang terjadi.
"Ele!!" teriak Baylor, geram dengan Eleanor.
"Bisakah kau sabar sedikit?" ujar Eleanor sambil membuka pintu kamar mandinya.
Baylor yang kini berdiri tepat di hadapannya terpatung di tempat, matanya tak mampu ia singkirkan dari Eleanor, bahkan tidak berkedip sekalipun. Ia terpana melihat kecantikan Eleanor dengan dress selutut berwarna biru dan rambut terurai gelombang.
"Hei, Lor!" seru Eleanor, membuyarkan tatapan Baylor.
"Hei! Sejak kapan aku punya sahabat secantik peri?" ucap Baylor sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Kau ini, Lor. Ayo jalan atau kita akan kehabisan waktu," ujar Eleanor seraya menumbuk pelan lengan Baylor.
"Auchh! Sakit, Ele. Hehe. Ayo, misi kita dimulai!" seru Baylor seraya menarik Eleanor keluar dari kamar mandi bernuansa klasik itu.
***
"Lor, berapa lama lagi kita harus mencari. Aku sudah lelah sekali. Sepertinya mustahil untuk menemukannya, Lor," gerutu Eleanor di saat Baylor sedang fokus mencari buku itu.
Waktu sudah menunjukkan pukul 4 sore saat mereka masih asyik mencari buku itu. Mereka sudah mengunjungi perpustakaan ketiga untuk hari ini, totalnya sudah tujuh perpustakaan yang mereka kunjungi.
"Ele, apa kau menemukannya?" tanya Baylor seraya menoleh ke arah Eleanor.
"Tidak. Kita sudah mencari di seluruh rak. Seharusnya di perpustakaan ini juga tidak ada buku itu," ucap Eleanor, ia tampak putus asa sekali.
"Baiklah, bagaimana kalau kita kembali ke hotel? Satu jam lagi kamu akan berubah," ujar Baylor.
"Ya, kurasa begitu. Besok saja baru kita lanjutkan pencarian kita," ucap Eleanor kemudian menarik lengan Baylor dan berjalan selangkah demi selangkah keluar dari perpustakaan.
"Lor, bagaimana kalau kita jalan kaki saja. Aku sudah lama tidak berjalan-jalan melihat kota ini," pinta Eleanor begitu keluar dari perpustakaan ketujuh.
Baylor pun menuruti kemauan Eleanor untuk berjalan kaki saja menuju hotel.
Tidak lama berjalan, langkah Eleanor terhenti, matanya tertuju pada seseorang spesial. Seseorang yang sangat ia kenali, seseorang yang sangat ia cintai, yang sudah ia nanti-nantikan untuk bertemu kembali dengannya.
"Papa?" gumam Eleanor, membuat Baylor menoleh ke arahnya dan keduanya pun terhenti.
Pria yang dikenal sebagai ayah Eleanor adalah seseorang yang sangat peka dengan sekitarnya. Ia yang sedang asyik berbincang-bincang dengan beberapa temannya sambil menikmati secangkir kopi hangatnya merasa bahwa ada yang sedang menatapnya dengan sengaja. Ia langsung menoleh ke arah tersebut. Ia mendadak terpatung, pikirannya mulai berputar, matanya tidak berkedip menatap sesosok itu.
"Minori?" gumam Jaydenn, ayah Eleanor dengan mata berkaca-kaca.
__ADS_1