The CURSE : Deadly Game

The CURSE : Deadly Game
● NINETEEN ●


__ADS_3

***


"Maaf kalau saya lancang, Mas, Mba. Boleh saya mengajukan satu pertanyaan?" ucap supir taksi yang mengantar Eleanor dan Baylor menuju perpustakaan pertama sebelum akhirnya melajukan kemudinya.


"Boleh. Apa Pak?" ujar Eleanor sambil menatap ke arah depan dan juga spion, memperhatikan wajah sang pengemudi dengan seksama.


"Itu, Mas, Mba. Itu kok banyak luka-luka di wajah sama tubuh kalian, ya," ucap pak supir, sesekali melihat ke arah mereka melalui spion.


"Oh, nggak apa-apa, Mas. Itu atuh, kemarin kita main ke kebun tebu, bantuin kakek-nenek cabutin daun tebu kering, kan tajam tuh, Pak. Ya, jadi kena gores. Sama kemarin, kami dikejar sama binatang buas, makanya kami langsung lari aja melewati tebu-tebu kering itu. Alhasil jadi luka-luka gini deh, Pak," bohong Baylor sembari tersenyum kikuk.


Mereka tak menyangka kalau pertanyaan semacam itu yang akan dilontarkan oleh pak supir.


"Oh, tadi saya pikir ada apa ini. Maaf, maaf," ucap supir taksi itu sambil tersenyum canggung, sepertinya ia malu karena telah berprasangka buruk pada Eleanor dan Baylor.


"Kalian cocok, Mas, Mba. Saya doain kalian langgeng, ya," ucapnya lagi.


Ucapan supir taksi itu membuat Eleanor dan Baylor tertegun sesaat, kemudian saling bertatap-tatapan sebentar. 


"Oh, maaf Pak. Sepertinya Bapak sudah salah paham, nih. Kami itu sahabatan, bukan pacaran. Hehe," jelas Eleanor kemudian tersipu malu mendengar ucapan yang sebenarnya juga menyenangkan telinganya.


"Oh, maaf, maaf. Aduh, saya kok jadi salah terus, sih, hari ini. Maaf banget, Mba, Mas," ucap pak supir dengan nada menyesal.


Setelah percakapan yang satu itu berakhir, tak ada lagi yang membuka suara, membiarkan keheningan menyelimuti sisa perjalanan mereka menuju perpustakaan pertama yang telah menjadi pilihan Eleanor maupun Baylor.


"Sudah sampai, Mas, Mba," ucap pak supir itu setelah beberapa saat suasana dikuasai tenangnya keheningan, membuyarkan lamunan dari keduanya.


"Oh, sudah sampai, ya. Makasih, ya, Pak. Emm, ini bayarannya, Pak. Sisanya simpan aja," tutur Baylor lalu menyerahkan sejumlah uang lebih pada supir taksi itu.


"Wah, makasih ya. Semoga Tuhan memberkati kalian selalu," ucap supir itu yang hanya dibalas oleh anggukan dan senyuman dari kedua sahabat itu.

__ADS_1


Baylor lalu menuntun Eleanor untuk turun dari mobil taksi dan mengambil koper mereka yang diletakkan di bagasi taksi, lalu berdiri sejenak, ternganga melihat luasnya dan megahnya perpustakaan pertama yang akan mereka jelajahi itu. Luasnya setara dengan satu hotel, bahkan perpustakaan sebelumnya bukan tandingannya.


"Kau yakin kita bisa menyusuri perpustakaan ini?" ucap Eleanor sambil menelan salivanya.


"Sama-sama pasti bisa. Kalau hari ini belum siap, kita lanjut lagi besok," ujar Baylor, menyemangati Eleanor dan juga dirinya sendiri.


Mereka kemudian melangkahkan kakinya menaiki anak tangga yang tak terhitung jumlahnya satu per satu, langkah per langkah sambil menguatkan batin mereka untuk tidak menyerah di tengah jalan.


Dengan kondisi tubuh yang masih capek ditambah dengan teriknya matahari siang, mereka akhirnya mencapai puncak tangga dan bergegas memasuki gerbang megah perpustakaan.


"Permisi, Mas, Mba. Kopernya bisa diletakkin di sini aja. Ada security kami yang menjaganya selama kalian di sini," tegur seorang resepsionis perpustakaan.


"Baik, maaf, Mba. Emmm, sekalian Mba, mau nanya, apa di sini ada buku yang berjudul 'The CURSE : Deadly Game'?" ucap Eleanor dengan sigap.


"Mohon tunggu sebentar ya, Mba. Coba saya cari dulu," ucap resepsionis itu sembari mengutak-atik komputer di sebelahnya.


Eleanor dan Baylor hanya mengangguk seraya menitipkan koper mereka kepada satpam yang berdiri tegak di sana.


"Oh, baiklah kalau begitu. Tidak masalah," ucap Baylor sambil tersenyum tipis.


"Hmmm, kalau begitu bisakah tolong memberitahu kami di mana letak buku-buku bergenre fantasy?" pinta Eleanor.


"Dengan senang hati akan kuberitahu. Maaf sebelumnya, Mas, Mba, lift kami sedang mengalami gangguan saat ini, sehingga sepertinya kalian harus naik melalui tangga," ucap resepsionis rapi itu dan menundukkan kepalanya dengan sopan.


"Kalian cukup berjalan ke lantai paling atas dan masuk ke jalur sebelah kiri. Di sanalah letak semua buku-buku bergenre fantasy," jelas resepsionis sambil menunjukkan arah-arah untuk memudahkannya menjelaskan.


"Oh, kami sudah mengerti, Mba. Makasih banyak, ya," ucap Baylor lalu langsung menarik Eleanor melewati anak tangga yang jauh lebih banyak daripada anak tangga yang harus mereka lewati saat masuk tadi.


Setelah beberapa saat, mereka akhirnya tiba di lantai paling atas. Namun, mereka sepertinya sudah tak sanggup mencari lagi dan memutuskan untuk duduk sejenak di bing bag, menenangkan diri dan mengatur napas mereka.

__ADS_1


"Lor, ayo!" ajak Eleanor setelah selesai mengatur napasnya dan tidak lagi ngos-ngosan.


Mereka kemudian berjalan menuju bagian kiri, dan melihat sebuah papan bercorak emas yang bertuliskan 'FANTASY'. Ya, akhirnya mereka menemukannya setelah begitu lama.


"Ayo, Ele. Kita mulai dari lorong ini. Ayo, berpencar! Kau dari ujung sini dan aku dari sana," perintah Baylor.


Eleanor pun hanya menuruti ucapan Baylor, tak membantah sepatah kata pun. Jemari dan mata mereka kemudian dengan lincahnya menelusuri buku-buku yang terdapat di sepanjang lorong, mencari buku itu.


Ketika Eleanor hendak menjinjit, mencari ke rak yang sulit untuk digapainya, tampak seorang pria dengan tubuh tinggi itu membantunya.


"Ini?" tanya pria dengan sebuah buku yang diambilnya mengikuti gerak jari Eleanor yang masih berusaha mencapai.


"Iya, terima kasih." Baru saja Eleanor hendak mengambilnya dari tangannya, pria itu menarik kembali.


"Eitss, siapa namamu nona cantik?" Pria itu terlihat menggodanya dengan menaik turunkan kedua mata sipitnya dan mendekat ke arah Eleanor. Tangannya ia letakkan di rak menghalangi Eleanor yang berusaha menjauh. "Aku tidak jahat, nona,"


Brukkkk!!


Sebuah kepalan tangan langsung melayang dan mencap 5 jari tertutup di wajah putih pucat pria tinggi itu. Suara benturan ubin dan tubuh pria itu menggemuruh di seluruh ruangan yang pada aturannya tidak boleh berisik.


"Hei!! Siapa kamu?" teriak pria itu yang masih terduduk di lantai. Namun tidak dijawab Baylor, ia terus menghajar tanpa henti wajahnya hingga luka-luka dan berdarah.


Dua penjaga terlihat lekas berlari cepat mendekati sumber kekerasan. Penjaga dengan baju sepadan itu langsung melerai keduanya. Masing-masing menahan satu orang. Para pengunjung yang awalnya fokus dan tenang ikut kepo mengerumuni TKP.


"Heii!! Siapa lo?" teriak pria itu yang sedari tadi terus menanyakan nama Baylor meski dalam tangkapan security. Namun, Baylor terus meronta-ronta ingin keluar untuk terus menghajar pria itu.


"Sabar, Lor," ucap Eleanor mencoba menenangkan dan menahan Baylor.


Kedua security itu berjalan dan menuruni tangga hingga tiba di lantai dasar yang diikuti Eleanor. Security itu melempar keduanya keluar dari gerbang.

__ADS_1


"Maaf, kalian tidak diizinkan memasuki perpustakaan lagi saat ini. Bereskan masalah kalian di luar, dan datanglah di lain hari," ucap salah satu security lalu berbalik kembali mengerjakan tugasnya.


Mau tak mau, Eleanor pun ikut keluar bersama Baylor, menyeret kembali koper mereka dan menunggu taksi untuk menjemput mereka ke hotel terdekat. Sebenarnya mereka ingin sekali pulang ke rumah dan menemui orang tua mereka untuk melepas rindu. Namun apa daya mereka, mereka tak ingin orang tua mereka melihat luka-luka lebam dan goresan di seluruh tubuh dan wajah mereka dan menjadi cemas. Mereka juga bersikeras untuk menyembunyikan semua hal ini dan baru bersedia menemui orang tua mereka setelah semuanya selesai dibereskan.


__ADS_2