The CURSE : Deadly Game

The CURSE : Deadly Game
● FIVE ●


__ADS_3

"Nona!"


Giginya mulai terlihat tumbuh membesar di balik helaian tebal rambutnya, yang membatasi Eleanor dan seseorang yang terus memanggilnya.


Plokk!!!!


Akhirnyaa Eleanor berhasil masuk ke apartemennya.


"Emmmmmm," jeritnya sangat kesakitan dengan mulut terbungkam. Menghindari gerangan kesakitannya terdengar hingga ke luar apartemennya.


Kakinya berlari cepat menuju dapurnya yang terletak sedikit lebih jauh dari pintunya. Ia tidak bisa meringis kesakitan di ruang tamu ataupun kamarnya, mengingat jendela besar yang menjadi pembatas apartemennya dengan langit di luar belum dilapisi dengan gorden putihnya. 


Hanya kegelapanlah yang menjadi teman seperjuangannya melawan jejeran kesakitan.


***


Ting tong ... ting tong ... ting tong....


Suara bel kembali didengarnya setelah 2 hari yang lalu.


"Hoamm, siapa sihh," gerutunya.


Berbeda dengan terakhir kali. Kali ini Eleanor beranjak dari kasurnya hendak membukakan pintu. Mungkin karena masih pagi, sehingga sikap yang selalu dipaksanya, sikap dingin, berpura-pura tegar dilupakannya.


Krekk....


Eleanor hanya menatapnya, ia menyipitkan matanya melihat orang baru di hadapannya. Baru saja tangannya hendak menutup kembali pintu itu, sebuah tangan lain mendarat di bawah tangan Eleanor menghentikan gerakan pintu itu.


"Hai, saya tetangga baru, saya pikir perlu untuk menyapa," suara terlontar dari orang baru itu. Senyum sangat lebar terukir di bibir orang baru yang pendek itu.


"Oh, ya, sudah kan?" balasnya cuek sekali dengan wajah terlampau datar.


"Ini, ada nasi lemak yang baru saya beli. Memberi ke tetangga baru adalah tradisi keluarga saya. Saya harap anda bisa menerimanya." Tangannya terangkat berat karena isi bungkusan dalam plastik itu.


Eleanor hanya menatap aneh orang itu. Matanya dingin menatap tajam dari kaki hingga ke ubun-ubun pria pendek itu.


"Oh, dan ini, bunga ini, itu hadiah juga dariku," katanya seraya mengangkat keranjang bunga yang sudah terbengkalai semalaman.


"Ya, letakkan saja. Akan ku ambil nanti."


Tepat setelah perkataan itu melayang, langsung terdengar bunyi keras pintu yang tertutup.


"Huh...."

__ADS_1


Wajah itu tampak puas, senyum palsu mulai tergambar tipis lagi.


***


Eleanor mulai membasuh wajah mulusnya dengan air hangat lalu mengeringkannya lembut dengan handuk kering. Tangan halusnya meraih sikat gigi lalu menata rapi pasta gigi di atas rambut tegak batangan itu dan mulai menggosok giginya hingga putih cemerlang, bersinar terang, tidak seperti hidupnya yang hampa ini, tidak bersinar sama sekali, malah dipenuhi kegelapan dan penderitaan.


Ia kemudian membuka lemari pakaiannya dan diraihnya satu set baju kerja berwarna pink pastel muda yang telah lama menunggu melihat dunia luar bersama pemiliknya. Entah apa yang ada di benaknya hingga ia memutuskan untuk memilih warna merah muda untuk mengawali harinya, tidak seperti biasanya, warna hitam, putih, atau biru donker.


Ia lalu membuka bungkusan nasi lemaknya, mengamati isinya yang terdiri atas nasi, paha ayam, acar timun, kentang balado, telur balado, dan tidak lupa ditambah sedikit bawang goreng. Sungguh menggoda sekali! Mulutnya langsung melahap dan menelan semuanya hingga habis, tak bersisa, kecuali tulang ayamnya. (Hehe, meskipun ia monster, bukan berarti ia sama seperti anjing, memakan tulang.)


Setelah bersiap-siap, ia mengambil kunci mobilnya dan memasang heels hitam elegan di kedua kakinya. Dirinya keluar bersama semua keperluannya dan tidak lupa mengunci pintunya.


Ia tersentak melihat wajah aneh di depannya sesaat setelah membalikkan tubuhnya.


"Pagi! Kau mau berangkat kerja?" tanya seseorang yang mengejutkan Eleanor bukan main, namun dengan segera dapat ia kendalikan kembali ekspresinya dan hanya membalas ucapan tetangga barunya dengan anggukan kepala dan senyum kikuk.


***


"Pagi, Bu," sapa Eleanor.


"Pagi, Nor. Wow! Tumben sekali kau bersemangat ," seru bu manajer.


Eleanor hanya menganggukkan kepalanya pelan lalu berjalan menuju meja kerjanya, melewati beberapa kursi kosong yang masih menunggu kehadiran pemiliknya untuk menghangatkan benda itu.


"Wow, kau tampak cantik, Ele," goda Baylor. Ia memainkan matanya sebagai tindak lanjut godaannya.


"Ya," ucap Eleanor sambil memutar pelan bola matanya, merasa jengkel dengan sikap kedua rekannya itu.


Jawaban Eleanor yang masih ternyiang dalam telinga Baylor dan Favid membuat keduanya menatap satu sama lain. Mengangkat bahu mereka dan tertawa pulas melihat sikapnya yang ternyata masih sama saja.


***


09:03 A.M.


"Bu, saya pamit, ya," ucap Eleanor kepada manajernya.


"Eh, nanti waktu kau balik, bisakah kau membantuku membeli sesuatu?" tanya manajernya sebelum Eleanor sempat berbalik.


"Hmm, ibu mau menitip apa?" tanya Eleanor, tumben ia baik, mungkin ia harus sekali-kali membalas kebaikan manajernya.


"Bisakah kau tolong singgah ke toko obat dan membelikanku obat sakit kepala? Akhir-akhir ini aku pusing sekali dengan masalah pekerjaan."


"Baik, Bu. Nanti akan kubelikan," tuturnya.

__ADS_1


***


09:42 A.M.


Eleanor menutup rapat pintu apartemennya dan membiarkan panggulnya untuk beristirahat sejenak dalam pelukan kursinya sambil melepaskan heels 5 cm miliknya.


Ia membiarkan dirinya beristirahat sejenak, melepas penatnya. Saking lelah dirinya, ia membiarkan rasa kantuk meyelimutinya dan tertidur pulas sebentar, sebelum akhirnya ia harus menerima kenyataan, dibangunkan oleh bunyi menyiksa alarm yang memperingatkannya api penderitaan akan segera melahap kehidupannya.


09:58 A.M.


Kringgg....


Suara yang tak pernah lelah itu membangunkannya dari tidur pulasnya.


Ia berlari ke kamarnya dan berlindung dalam selimut yang luas, mencegah orang luar melihatnya yang saat ini dalam kondisi ketidakhadiran gorden, yang masih menginap di laundry berjarak beberapa kilometer.


09:59:52 A.M.


8 detik berdetak begitu keras dan cepat.


"Sial! Aku lupa makan obatku," gumamnya pelan, yang baru sadar kalau perutnya belum terisi 1 pun pil obat penahan rasa sakit yang mungkin sedikit membantunya untuk menghadapi lubang api itu.


10:00 A.M.


Ia menarik napas pelan, merasakan gejala dan reaksi yang mungkin kalian pikir berlebihan itu.


"Arghhhhhh!!!!"


Sekujur tubuhnya mulai bercucuran cairan bening, keringat kepanasan. Ditambah lagi, tempatnya berlindung biasanya berfungsi menghangatkan tubuh orang kedinginan.


10:16 A.M.


Makhluk setengah monster itu terbaring sejenak di tempat tidurnya, membuang kain tebal yang menutup dirinya sebelumnya. Menunggu hingga burung-burung di atas kepalanya menghilang sembari mengatur nafasnya agar kembali normal.


"Kapan? Kapan ini semua akan berakhir, Tuhan? Apakah dosaku begitu besar hingga aku harus menanggung penderitaan seperti ini selamanya? Apa ada orang lain di dunia ini yang mengalami penderitaan yang sama sepertiku, Tuhan?" ngeluhnya pelan.


Tanpa ia sadari, air matanya telah sampai pada pipinya, bersiap membasahi ladang itu.


Ia pikir dirinya cukup tangguh untuk menghadapi ini semua, ia pikir mungkin suatu hari nanti ia akan terbiasa dengan semuanya, namun lagi-lagi ia salah. Ia akhirnya sadar kalau ia tidak akan pernah terbiasa dengan semua hal ini. Tidak pernah!!


Seorang paling kuat sekalipun tak akan pernah sanggup berada dalam kobaran magma yang meluap-luap yang membungkus dirinya.


Sementara itu....

__ADS_1


Sepasang sorot mata di balik sebuah teropong terlihat memanfaatkan kondisi kaca sang monster saat ini. Jauh di atas atap gedung tinggi itulah, sang #### berdiri bertumpu pada tumitnya.


"Hahaha, tunggu sebentar lagi. Aku akan datang menjemputmu, sayang," gumam orang itu disertai tawaan kejam.


__ADS_2